Love Me Please , Uncle Camat

Love Me Please , Uncle Camat
Terkejut


__ADS_3

Bismillah happy reading all 😘


.


.


.


.


.


Aku duduk melantai selonjoran di pinggiran jalan, menyeka peluhku. Ibu camat yang down to earth masih melekat di dada. Aku bukan gadis manja yang duduk saja harus di kursi, saat capek..dimana saja oke ! untuk duduk.


Sebotol air mineral dingin berada di depan wajahku. Membuat tenggorokanku menelan salivanya berat. Embunnya saja sampai mengucur, menandakan bahwa air minum itu segar dan dingin.


Aku mendongak, namun tak langsung menyambar botol itu.


"Ga perlu makasih, saya bekal minum !" tunjukku meraih tumbler minum di sampingku. Bukan aku pelit ataupun so ngirit, memang sudah menjadi kebiasaan semenjak menikah dengan om Za, aku selalu membawa bekal minum dan makan kemanapun.


"Saya kira, kamu ga terima karena takut saya kasih racun !" bicara baik baik padanya, bukan berarti aku ingin berteman dengannya. Dengan so kenalnya lelaki ini mengambil duduk di sampingku, membuatku menggeser dudukku.


"Bisa cari tempat lain kan?" tanyaku.


"Kamu kenapa sih, kayanya liat saya kaya liat virus?" tanya nya.


"Kamu ga liat apa mata pacarmu udah kaya mau cincang saya ?! " aku meneguk air minum lalu berdiri dan pergi meninggalkannya, lebih baik cari aman saja, menurut om Za..aku tak perlu teman laki laki, cukup ia saja yang menjadi teman, sahabat, gebetan, dan pendamping laki laki ku. Sebenarnya lidahku gatal ingin menyebut bahasa bar barku, loe gue, kamvrettt, njir, b@ng*sat..tapi aku sudah mulai mengurangi bahkan menghilangkannya. Jika tidak mau si ganteng kalemku ngamuk, auto bibirku di cium sampai jontor, jika kata kata itu kembali keluar.


Zidan menyunggingkan senyumannya, sementara Windu sudah mengepalkan tangannya dan menghentak hentak bumi, kepalanya sudah berasap, cocok ! tinggal di taruh ikan di atasnya.


Aku berkeliling melihat kampung sekitar, ternyata.. masih banyak warga dengan kondisi yang dibawah kata layak. Aku mendekati salah seorang anak yang sedang memegang perutnya.


"Dek, kenapa?" tanya ku.


"Sakit perut kak !" jawabnya meringis.


"Sudah makan?" tanyaku, ia menggeleng. Aku mengedarkan pandangan, mencari warung makan.


"Sebentar ya, " aku berjalan menuju salah satu warung makan dan membungkus beberapa makanan. Lalu kembali ke tempat tadi.


"Nih, dimakan dulu ! ini sudah siang !" aku menyodorkan bungkusan nasi itu.


"Ya allah ini kebanyakan ka?!" tanya nya.


"Ga apa apa, kalo kebanyakan bagiin aja buat yang lain atau keluarga."


Hatiku tersentuh, bagaimana jika Al Fath ada di posisi anak ini.


"Adek dimana rumahnya?" tanyaku duduk di bahu jalan bersama anak itu.


"Kampung samping perempatan itu kak !" tunjuknya yang mulai sibuk makan. Aku melihat arah telunjuknya, itu arah perkampungan yang memang sedang kusambangi bersama teman teman kampus.


"Oh ! " anak itu makan dengan lahapnya.

__ADS_1


"Kaka ga makan ?" tanya nya. Aku menggeleng, "udah."


"Sal ! loe dipanggil senat !" ucap seorang teman kampus, ia terlihat ngos ngosan, sepertinya ia berlari untuk menyusulku.


"Ahh iya, "


"Kaka tinggal ya ! assalamualaikum," pamitku.


.


.


Sudah dipastikan si nene lampir ini yang menyuruh, ia bersidekap melipat kedua tangannya di dada. Layaknya mandor bangunan, yang sebentar lagi harus deadline.


"Ga usah nyusahin orang deh, kalo ditinggal atau ilang malah nyusahin orang !!" ucapnya pedas.


"Saya ga nyuruh ko ! lagian dari sini aja keliatan ko saya disana !" jawabku membela diri.


"Udah salah malah ngelawan lagi !" ia terkekeh merendahkan.


" Lain kali bilang dulu Sal, biar pada tau," jawab Zidan.


"Iya sorry, tadi cuma bantuin doang anak itu," jawabku.


"Mau jadi so pahlawan sendiri, biar dipuji orang !" ucapnya menyebalkan, seakan itu hinaan. Di tengah hari terik begini ucapannya menambah panas cuaca.


"Kalo saya pahlawan, mungkin sekarang saya sudah memakai cawat di luar, menolong orang, bukan berarti saya menginginkan pujian, kalo memang saya mau pujian, nanti saya umumkan saja sekalian di masjid sambil bagi bagi duit !" jawabku sarkas melewatinya. Beberapa yang mendengar mengulum bibirnya, pasalnya sampai detik ini tak ada yang berani melawan Windu, selain ia terbilang cukup femes di kampus, ia juga anak horang kaya.


"Dasar cewek bar bar !!" pekiknya dari belakang. Kegiatan berlanjut dengan membagikan sembako. Dengan sengaja perempuan itu, membuatku capek dan membawa barang barang berat.


"Kamu bisa liat ga? kalo saya bawa kotak ?!" tanyaku lantang.


"Katanya mental mu mental baja ??! harusnya kuat dong kalo cuma segitu !!" jawabnya. Aku menghela nafas, sabar Salwa...orang sabar awet muda.


Tak banyak bicara, aku segera melangkah, hampir saja aku tersandung batu, tapi Zidan menangkap kotak kotak di tanganku.


"Eeh !!" seruku.


"Makanya ga usah maruk, bawa satu satu," ucapnya.


"Kamu bukan wonderwomen, kaya kata kamu !" tambahnya lagi.


"Thanks," aku melanjutkan aktivitasku, tanpa ingin membalas kata katanya.


Aku sudah benar benar lelah, kukipasi wajahku yang memerah bak kepiting rebus, tinggal di siram kuah, rasanya pasti lezat.


Hampir semuanya sudah selesai, semua warga senang dengan kedatangan dan kegiatan bakti sosial ini, meskipun tak seberapa.


"Sal, capek juga ya !" ucap Alisha tiba tiba menghampiri.


"Sha, gue kira loe ga ikut ?! ko baru liat?" tanyaku.


"Kan kalo yang cewek bagian ngepack barang sama nulis doang Sal, emangnya tadi loe kemana?" tanya Alisha. Aku semakin menandai perempuan bernama Windu itu.

__ADS_1


"Kurang aj*@r, gue dikerjain !" gumamku.


"Kenapa Sal?" tanya Alisha.


"Ada yang mau maen maen sama gue !" jawabku.


"Sal, sabar Sal...!!" Alisha mencoba menahanku, sebenarnya aku masih bisa menahan emosi tadi, tapi saat Alisha mengatakan itu, kesabaranku sudah hilang menguap ke atas awan.


"Windu ! maksudmu apa? nyuruh saya angkat angkat barang, sedangkan mahasiswi yang lain hanya bagian konsumsi dan pengepack an ??!" aku mendekati beberapa anggota senat dimana ada Windu dan Zidan.


"Lah? saya kira kamu memang mengajukan diri, Windu bilang kamu mengajukan diri untuk membantu?!" jawab Zidan yang tengah memakan nasi kotak.


"Sengaja, bukannya katamu menolong itu ga pengen pujian, menolong dalam bentuk apapun sama saja kan?" tanya Windu.


"Kalo gitu kenapa ga kamu aja yang ikutan ke lapangan? bukan cuma cekrek sana sini, kalo mau adain sesi pemotretan di studio !!" jawabku sudah kesal.


Windu terpancing emosi, suasana damai berubah menjadi tegang.


"Kamu juga mau jadi so pahlawan ga usah disini, lagian kalo ga nyumbang apa apa terima aja, setidaknya tenaga !!" jawabnya, meremehkanku. Tak tau saja, uang dalam amplop bertuliskan donatur yang kuberikan pada rektor adalah uang om Za, belum lagi pakaian dan sembako yang ikut ku sumbang mengatasnamakan hamba Allah.


"Jangan sombong hanya karena harta yang tidak seberapa ! kamu bangga hanya karena mobilmu yang mengangkut sembako dan anak anak mahasiswa? kamu bangga hanya dengan menyumbang uang tidak seberapa?" tantangku.


"Apa kamu bilang??!" ia mendekat namun ditahan anggota senat lainnya.


"Stop ! kalian berdua !!" lerai Zidan.


"Kamu saja tak tau diri !" jawab Windu. Di tengah perdebatan sengit kami, seorang ibu menghampiri.


Ia datang bersama anak yang tadi kuberi makan.


"Yang itu bu, " tunjuk anak tadi.


"Yang ini ?!" tanya nya menunjukku.


"Ada apa ya bu?!" tanya Zidan.


"Pasti dia bikin ulah Zi, hukum aja ! " sela Windu.


"Diam !" bentak Zidan, membuat Windu terdiam.


"Alhamdulillah, makasih banyak dek..semoga tergantikan dengan rejeki yang lebih lagi," ucap si ibu.


"Eh,, adek yang tadi siang kan?" tanyaku.


"Makasih ya kak, makanannya !" jawabnya.


"Tunggu sebentar !!" ucap si ibu, ia memegang tanganku dan menelitiku dari atas sampai bawah.


"Bu camat??!" tanya nya.


"Hah??! bu camat ??!" seru lainnya termasuk Zidan dan Windu.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2