
happy reading all π
.
.
.
.
.
"Ya allah, alhamdulillah wa syukurillah mantu umi tidak apa apa, apa ada yang sakit nak?" wajah teduhnya terlihat sangat mencemaskanku juga bayi yang ada di kandunganku.
"Alhamdulillah umi, abi. Salwa tidak apa apa," Jawabku, umi menangkup wajahku lalu memelukku.
"Alhamdulillah , Za apa pelakunya sudah ditangkap?"tanya abi.
"Alhamdulillah sudah abi, sedang ditangani polisi!" jawab om Za menaruh jaketnya.
"Dek, bukankah kamu lapar?" tanya om Za membuatku malu saja di depan umi dan abi ia malah membuka pernyataan random begini.
"Ya allah jadi mantu sama calon cucu umi tidak diberi makan? Za bilang sama polisi hukum saja seberat beratnya," geram umi.
"Ya sudah nak, makan dulu yu!" ajak umi ke meja makan
.
.
Om Za meneliti setiap jengkal tubuhku,
"Salwa ga apa apa bang, ga ada yang lecet atau apapun !" ucapku berulang kali tapi tetap saja pria matang ini tak percaya.
"Bang, emang bener pak Ryan itu mau bangun hiburan malam? udah gila kali ya ?" tanyaku.
"Iya, abang hanya menjalankan tugas sesuai PERDA dan aturan agama," jawabnya, seperti biasa kini kembali aku kalah dari laptop, laptop terus yang dipegang pegang dan dipijit apa kabar dengan istri cantik nan menggemaskan yang ada di sampingnya apa dianggap hanya pajangan.
"Abang lagi cari apa sih?" tanyaku.
"Dek, jika nanti kamu kuliah setelah melahirkan saja, bagaimana? abang akan berusaha mencarikan universitas negeri ataupun swasta untukmu tentunya sesuai dengan kemampuan adek."
Ternyata sedari tadi laki laki ini sedang berfikir dan mencari cari kampus untukku. sudah sejauh ini dia berfikir sedangkan aku saja yang akan menjalaninya masih anteng anteng saja makan buah.
"Terserah abang saja, yang penting Salwa bisa kuliah," jawabku. Memang aku tipe gadis yang tak pernah ambil pusing perihal apapun termasuk pendidikan.
"Oh iya bagaimana dengan seminar abang? jika abang disini berarti abang gagal ikut seminar?" tanyaku. Om za menaruh laptopnya menghadap kearahku.
"Tidak ada apapun yang lebih penting dari istri dan calon anak abang!"jawabnya. Tuh kan pipiku mateng kaya tomat yang mateng di pohonnya.
Akhir akhir ini hobby si om om pria matang di depanku ini adalah menaruh gula di dalam kata katanya, mendadak jin gombal merasuki tubuhnya, ini kenapa jadinya aku yang mati kutu di depannya. Tak ada sejarahnya seorang Salwa kalah dalam perang.
"Belajar darimana ? google ya?" kekehku.
"Masa iya gombalin istri harus belajar dari orang lain," mukanya kembali datar.
Umi dan abi sudah masuk kamar dari tadi setelah acara yang ditonton berakhir.
"Apa hari ini ada perlu ke sekolah lagi?"tanyanya, namun tangan kekar nya tak mau diam, dengan nakalnya ia masuk menyusup ke dalam kaos yang kupakai menyusuri kulit lembutku dan berakhir tepat di salah satu kembar sintalku.
"Abang !" mataku menajam sambil berdecak. Bukannya melepaskan tapi laki laki ini malah semakin membuatku meremang.
"Kenapa sayang ?" tanya nya menyeringai dengan suara yang sudah serak. Jika sudah begini aku tau akan berakhir seperti apa. Apalah aku gadis nuda yang juga sudah candu dengan sentuhan sentuhannya.
"Sudah lama dek," jawabnya.
__ADS_1
"Tapi ga disini juga bang, kalo tiba tiba umi atau abi keluar kamar gimana?"geramku membayangkan terciduk begitu berasa malunya setinggi langit diangkasa, walauoun tidak mungkin nantinya akan diarak keliling kampung.
"Kalo gitu pindah kamar," jawabnya. Aku memutar bola mata malas.Tanpa aba aba dengan sekali hentakan tubuhku sudah terangkat di gendongannya.
"Kamu sudah mulai berat dek," bisiknya. Tak taukah laki laki ini pembicaraan tentang berat badan sangatlah sensitif untuk perempuan.
"Terus kalo nanti Salwa gendut kaya bakpao apa abang bakal cari lagi istri?" tanyaku, ia malah tertawa kecil.
"Kalau adek kaya bakpao abang lahap setiap hari, tak mungkin lah abang sia sia kan," jawabnya membuatku benar benar menunduk karena blushing pabrik gula beserta kamus gombalan sudah tertelan oleh suamiku ini.
.
.
Aku masih bergelung dalam selimut, udara subuh membuatku kedinginan ditambah tubuh toples ku yang tidak tertutup benang sehelai pun, jika begini tiap malam bisa bisa aku menyetok obat masuk angin di rumah beserta pabrik pabriknya sekalian. Memang om Za di usianya ini sedang prima primanya, ditambah ia sering berolahraga.
"Bang," colekku di pipinya. Ia menjawab dengan gumaman.
"Sudah subuh,"
Ia membuka matanya,dan menyarangkan kecupannya di kening dan bibirku
"Morning kiss" ucapnya.
Kukira jika orangnya adalah om Zaky, ia tak akan tau apa itu morning kiss pasalnya selama ini om Za adalah orang yang kaku, tak kusangka orang kaku ternyata menyimpan sikap romantis di dalamnya ternyata luar nya aja yang keras dalemnya sweet.
"Bang, Salwa mau ikut abang ke kantor," pintaku ia malah mengeratkan pelukannya menarikku semakin menempel.
"Mau apa? sebaiknya adek tunggu saja di rumah, istirahat," jawabnya dengan suara yang masih parau khas orang baru bangun tidur.
"Salwa bosen di rumah bang, pengen hirup udara luar," jawabku, tapi lagi lagi sekali menyebalkan tetap menyebalkan.
"Kalau hanya sekedar hirup udara luar di halaman juga bisa," jawabnya. Cihh dasar otak batu, bibirku mengerucut.
"Ya sudah adek boleh ikut," Om Za bangun dan menarik selimut yang menutupi tubuh toplesku dan tubuhnya, membuatku terkejut.
.
.
Mataku mendelik tajam menatap om om pria matang yang sedang duduk manis di meja makan, dengan stelan khas safarinya, dia tersenyum geli melihatku yang manyun.
"Dasar suami mesum ,ditaktor, penjajah !!" dumelku pada om Za, yang tertawa puas.
"Daripada ngomel ngomel lebih baik adek bikinin abang kopi," jawabnya sambil masih terkekeh.
Walaupun dengan mulut yang masih komat kamit tapi aku tetap menjalankan perintah suami sang pemilik alam. Memang benar kata orang melakukan sesuatu harus dengan keikhlasan karena terlalu tergesa gesa dan sibuk mengumpat atas kejadian kamar mandi yang membuatku kembali melenguh tanganku terkena cipratan air panas untuk seduhan kopi.
" Awww....."pekikku.
prangggg.....
Om Za dan umi sampai bergegas ke dapur .
"Astaga, pecah !" gumamku sambil tetap mengibas ngibaskan tangan yang terkena air panas.
"Uhh panas !!" gumamku.
"Astagfirullah Salwa !!" umi segera melihat tanganku begitupun om Za.
"Maaf umi, Salwa ga sengaja nyenggol gelas, tadi tangan Salwa kena cipratan air panas," jawabku.
"Tak apa nak, apa tangan mu tidak apa apa ?" tanya umi. Aku menggeleng.
"Biar bibi saja nanti yang bereskan abang tidak mau nanti malah tanganmu jadi korban lagi karena kecerobohanmu !" ucapnya.
__ADS_1
"Iya biar umi atau bibi saja nak, obati saja lukamu dulu!" ucap umi.
Om Za menarikku dan mendudukkanku di kursi " makanya kalo disuruh yang ikhlas jangan ngomel ngomel itulah karmanya kalo disuruh suami ga ikhlas" kekeh om Za.
"Iya," jawabku malas malas. "apa perlu abang belikan gelas satu lusin lagi buat kamu pecahkan jika kesal ?" tanya nya lagi menggodaku. Aku memukul pundaknya geram.
"Cihhh boleh biar nanti Salwa lempar lagi ke abang kalo abang menyebalkan," jawabku. Senang sekali pria ini menggodaku.
.
.
Katakanlah aku istri yang posesif, mungkin itu sekarang yang ada di pikiran para karyawan kecamatan, ikut kemanapun bapak camatnya ini pergi termasuk ngantor.
"Assalamualaikum bu," sapa bang Risky.
"Waalaikumsalam, bang Risky!" seruku.
Tampang tegas nan hangat berubah bak guguk herder jika diluar. Seperti aku adalah sesuatu yang sedang dijaga, apalagi jika ada lelaki yang mendekat mode warningnya langsung saja berbunyi.
"Dek, masuk ke dalam saja duluan abang akan menyidak semua karyawan dulu!" ucapnya, wajah garangnya ini membuat bang Risky sedikit menciut, salahnya yang ingin terus mendekat dan bertegur sapa denganku.
"Ky, ga usah cari penyakit ! ga liat tuh bodyguard disampingnya udah kaya anj*ing galak depan rumah sebelah," goda om Mirza terkikik melihat wajah sahabatnya menatap tajam Risky si pegawai muda nan tampan juga ramah sudah seperti bersiap akan menerkamnya.
"Iya pak,"
"Bang, mukanya ga usah galak gitu!" tegurku.
"Ya sudah adek masuk saja ke ruangan abang," om Za mengelus kepalaku.
"Cihhh bucin!" ledek om Mirza.
"Om Mirza bang Risky, Salwa masuk dulu ya ," pamitku mereka mengangguk.
.
.
Sudah hampir beberapa jam aku hanya mondar mandir di dalam ruangan om Za, terkadang tanganku gatal memindah mindahkan barang mengatur ulang ruangan kerja suamiku yang terkesan biasa biasa saja menurutku.
" Ga kepengen gitu bang, nih cat ruangan diubah jadi warna ungu atau pink gitu ?" tanyaku duduk begitu saja di oangkuan om Za yang sedang membaca sebuah dokumen.
"Pink?" tanyanya menautkan alis tebalnya.
"Iya biar suasananya hidup gitu, masa putih doang kaya rumah sakit ," jawabku apalagi isinya orang kaku, dan dingin rasanya sudah seperti kamar mayat saja. Yang benar saja pikirnya yang ada dia ditertawakan oleh karyawan ataupun tamu yang datang, seorang yang dikenal dingin, tegas dan gentle tapi saat masuk ruangannya bernuansa gadis berumur 5 tahun. Kenapa tak dijadikan saja playgroup disini.
"Tidak usah dek, seperti ini saja sudah cukup " jawabnya tidak mau memperpanjang urusan jika mengeluarkan kata kata menolak beserta alasan jujurnya.
"Bang, Salwa ingin ngemil lah !" pintaku.
"Ya sudah abang panggilkan Risky untuk membelikan adek makanan!" ia merogoh ponselnya, namun aku menahannya.
"Biar Salwa aja yang beli ditemani bang Risky jika abang sedang sibuk!" jawabku.
"Tapi dek,"
"Ga usah mulai deh bang posesifnya lagian bang Riski juga ga akan berani macam macam ko liat abang tadi pagi saja dia sudah ciut,"
" Abang memang percaya Risky tapi abang tidak yakin denganmu, dek !" batinnya.
.
.
.
__ADS_1
.