
bismillah happy reading all π
.
.
.
.
.
"Jadi kita ke sekolah dulu ?" tanya Afrian, tanpa mengalihkan pandangannya dari depan.
"Yup !" jawabku, aku sudah ijin pada om Za karena aku memang ada keperluan untuk datang ke sekolah.
"Ian, kenapa loe mutusin buat pindah ke Aceh?" tanyaku membuka obrolan random.
"Soulmate gue ada disini,"
"Emmhh....kenapa ya?" ia mengetuk ngetuk keningnya.
"Cihhh ! so mikir.." decihku.
"Karena orang orang yang selama ini menerima gue ada disini," jawabnya menyendu.
"Maksud loe umi dan abi? abang Za?" tanyaku mulai penasaran dengan kehidupan Afrian.
"Iya, umi dan abi sudah kuanggap seperti ayah ibuku sendiri, sedangkan ayah ibu kandungku mereka terlalu sibuk dengan kehidupan masing masing."
Aku memang tak pernah merasakan apa yang dirasakan oleh Afrian, tapi yang jelas sepertinya tak asik jika kita diacuhkan keluarga sendiri.
"Itu temen temen loe kan?" tunjuk Afrian pada segerombolan siswa teman temanku. Aku mengangguk.
"Gue cuman mau denger pengumuman aja Ian, jadi tunggu aja di mobil, jangan keluar !" ucapku.
Memang sudah sifat alaminya penentang, bandel, disuruh menunggu tapi ia malah ikutan keluar.
"Sutt! Sal, siapa tuh?" senggol Nur dan Uni. Seperti biasa sikap mereka jika melihat laki laki tampan terlebih lagi Afrian masih sangat muda seusia denganku dengan gaya bad boy nya.
"Adek sepupu abang," jawabku mendelik pada Afrian.
"Dibilangin disuruh nunggu di mobil juga !" kesalku.
"Boleh kali Sal, dikenalin!" Uni cekikikan.
"Boleh tapi awas dia gigit!" jawabku, Afrian terkekeh.
"Cie!! ga boleh nih gue kenalan sama temen temen loe ? cemburu ya?" godanya, aku membawa Afrian sedikit menjauh dari mereka.
"Ihhh ga ada ya ! gue cuma ga mau nantinya temen temen gue nyesel kenalan sama loe, gue ga mau otak polos mereka terkontaminasi sama otak bandel loe!" sarkasku membuat Afrian menyipitkan mata.
"Tapi gue laper Sal, kalo nunggu di mobil ga ada cemilan," keluhnya. Aku menepuk jidatku.
__ADS_1
"Oke tunggu sebentar gue beliin cemilan di kantin, tapi loe tunggu di mobil!" pintaku diokei Afrian.
Tak berapa lama aku membawa satu bungkus penuh camilan lalu kembali masuk kelas, kepala sekolah memberikan pengumuman beberapa kegiatan ke depannya sebelum menyambut UAS termasuk mengadakannya try out dan pemantapan yang masih akan berlanjut.
"Sal, yang di mobil adiknya pak Camat ya?" bisik Pian.
"Huum," jawabku mengangguk.
"Beda banget Sal, dia lebih urakan!" Pian berpendapat hal yang sama dengan Uni dan Nur.
"Emangnya kalo satu keluarga mesti sama semua ya?" jawabku dengan pertanyaan.
"Ya engga sih," ia menggaruk kupingnya tak gatal.
Satu jam lebih aku baru kembali, kulihat cowok itu masih anteng dengan beberapa bungkus camilan yang tersisa dan ponselnya.
"Hallo bang.."
(..)
"Siap laksanakan bos,Salwa lagi di aula mungkin bentar lagi keluar," jawabnya.
Rupanya ada yang sedang laporan.Kebiasaan om Za memang tak berubah dari dulu, jika dulu aku diminta langsung sekarang dia lebih bertanya pada Afrian.
"Ekhemmm," dehemanku membuat Afrian menoleh.
"Laporan mas bro?" tanyaku. Ia terkekeh, "Laki loe Sal, ga cukup apa nanya sama loe, mesti nanya gue juga!" keluhnya.
"Mau kemana kita setelah ini?" tanya Afrian.
"Oke deh!"jawabnya.
Baru saja aku dan Afrian keluar dari gerbang sekolah, Afrian memicingkan matanya melihat spion mobil dalam.
"Shitttt! mau main main sama gue !" ucapnya menambahkan kecepatan mobilnya.
"Sal kencengin sabuk pengaman!" lirihnya. Sontak aku langsung gelagapan apa yang sedang terjadi.
"Kenapa Ian?" tanyaku menoleh noleh ke segala arah, rupanya sebuah mobil mini bus hitam sedang mengikuti kami dari arah belakang. Rasanya seperti film aksi saja main kejar kejaran.
"Ian, mereka siapa ? kenapa ngejar ngejar kita ? loe punya utang ya?" tanyaku memekik.
"Bukan Sal, ngapain gue ngutang ke orang bokap aja banyak duit," ucapnya jumawa.
"Terus mereka siapa?" tanyaku panik. Seperti adegan film bedanya ini nyata.
"Gue ga tau pasti cuman kalo loe kenapa napa nyawa gue taruhannya di sikat bang Zaky," ucapnya.
Jantungku seperti naik jet coster berdegup kencang up and down dulu jika ada adegan seperti ini kusebut keren tapi ini jangankan keren yang ada aku sawan, wajahku saja sudah pucat seperti ayam tiren, ditambah perutku yang mual karena rupanya om bayi tak bisa mengontrol hormon kehamilanku. Rupanya adegan ini nyata adanya bukan hanya di film saja.
Hingga sebuah mobil menghadang laju mobil kami dari depan. Mau tidak mau Afrian turun, " sat*bang !!"
"Ian," aku menahan tangan Afrian.
__ADS_1
"Loe hubungin bang Za !" pintanya sebelum menutup kembali pintu mobil. Dengan cepat aku meraih ponsel dan menscroll nomer om Za lalu menelfonnya.
Terlihat 3 orang turun dari mobil itu, 2 orang menyerang Afrian dan satu orang lagi ke arahku. Menyesal dulu aku tak meneruskan kursus taekwondoku, jika tidak mungkin akan seru rasanya seperti aku adalah Lara croft di film tomb raider.
Mungkin om Za sedang melaksanakan seminar jadi dia susah untuk mengangkat ponsel, kenapa harus di waktu genting begini sih seminar nya.
"Duk..duk..duk...!!" Kaca mobil di pukul.
Yah...si om tak tau saja jika si empunya mobil tau kaca mobilnya di pukul pukul begini auto suruh bayar ongkos ketok magic bahkan bisa sama pelaku pelakunya sekalian yang di ketok magic.
"Buka pintunya dan turun!" suaranya berat menggelegar, perawakan seperti tukang tinju menandakan ia memang rajin berolahraga. Di depan sana Afrian terlihat sibuk menendang, menangkis dan memukul kedua orang lainnya.
Ia memaksa maksa masuk sedangkan aku mengunci pintu mobil.Mataku terpejam mana kala ia mulai mengoyak agar pintu mobil terbuka.
" Hallo assalamualaikum dek,"
Akhirnya yang ditunggu tunggu menjawab.
"Abang!!!" pekikku.
"Abang, Salwa takut bang!!" histerisku.
"Kenapa dek?" tanyanya.
Belum aku menjawab seseorang meraih lenganku kasar dan menarikku, sempat aku berontak dengan kekuatan yang kupunya.
"Aaa.....!!!" pekikku ingin melawan namun tiba tiba semuanya menjadi gelap dan lemas.
"Sal !!" Afrian membrutal namun melawan kedua orang tadi namun semuanya berakhir ketika aku sudah dimasukkan ke dalam mobil mereka dan melaju.
"Breng*sek !!!" Afrian tak tinggal diam walaupun ia sudah lelah dengan luka lebam di beberapa bagian tubuhnya ia kembali melajukan mobil dan mengikuti mobil yang membawaku.
Dari tempat yang berbeda.
"Mir, bersiaplah untuk pulang, saya akan minta ijin pada panitia seminar" ucap om Za mengeratkan kepalan tangannya.
"Kenapa Za?" tanya om Mirza.
"Salwa dalam bahaya, sepertinya dia sudah bermain dengan cara kasar!" om Za segera keluar dari ruangan seminar menuju kamarnya bersama om Mirza.
"Permainan semakin seru Za,"senyum smirk om Mirza.
"Hubungi Aisyah apa ia baik baik saja?" pinta om Zaky.
"Insyaallah Aisyah baik baik saja, Za.." jawab om Mirza.
"Jika sampai ada apa apa dengan Salwa dan calon anakku, kupastikan mereka akan menyesal!" gumam om Za.
.
.
.
__ADS_1
.