Love Me Please , Uncle Camat

Love Me Please , Uncle Camat
ORANG TUA


__ADS_3

Bismillah happy reading all 😘


.


.


.


.


.


Melihatku yang sudah seperti uang kembalian ikan asin, alias lepek, kucel, dekil mana basah karena hujan, om Za tersenyum, lalu terulur memelukku.


"Kamu ujan ujanan?" tanya om Za. Ingin aku meneriakinya, bukan ! abis disiram orang, udah tau nanya !!!!


"Abang jahat banget sih !!" aku memukul dadanya.


"Makasih adek sudah mengkhawatirkan abang, alhamdulillah, abang tidak apa apa dek, "


"Bisa ga sih sekali kali ga usah jadi pahlawan kesiangan, bisa ga sih sekali aja abang egois buat Salwa sama Al !!" aku mengatakannya sambil sesenggukan, kesal sekali dengan lelaki ini. Jangan sampai kusedot air banjir ini dan menyemburkannya di kepala om Za.


Om Za semakin mempererat pelukannya, "maaf, "


"Maaf, maaf aja terus ! terus diulangi lagi !!" jawabku, seakan belum habis stok kesal yang sudah menumpuk bak gunung. Ia malah terkekeh,


"Za, ups ! sorry, gue kira ga lagi adegan 18+ !" om Mirza mengurungkan niatannya masuk.


"Kenapa Mir?" tanya om Za melepaskan pelukannya.


"Ini ada warga yang pengen ketemu !" om Za berjalan keluar ruangan. Ternyata si nene yang tadi ditolong olehnya.


"Assalamualaikum pak camat, makasih banyak sudah menolong, kalo bukan karena bapak, mungkin saya sekarang sudah tinggal namanya saja !" ucap si nene itu.


"Sama sama bu, sebagai seorang yang bertanggung jawab memang sudah menjadi tugas saya, "


******************


Om Za akhirnya pamit undur diri dari lokasi, setelah saling bertegur sapa dengan warga, dan mendengar keluh kesahnya, aku membawa pakaian basahnya.


"Ian, biar Salwa pulang dengan abang saja !" ucap om Za menyugar rambutnya.


"Iya dengan abang saja ! ogah gue bareng Salwa lagi !" aku sudah melotot ke arah Afrian agar tak bilang, tapi sepertinya Afrian malah sengaja mengadu.


"Kenapa?" tanya om Za.


"Tuh tanya istri nakal abang !" tunjuk Afrian. Sontak saja om Za melirik ke arahku.


"Ada apa dek?"


"Engga ada apa apa bang, Afrian saja yang lebay ! yu pulang ! Salwa udah dekil kaya uang kertas seribuan kembalian trasi !" jawabku.


"Iya nyetir mobil kaya orang kes3*tanan !" gumam Afrian.


"Apa?!" beo om Za, begitupun om Mirza dan bang Riski.


"Iya nyetir, abang ga tau ?!" tanya Afrian, mulai detik ini namanya sudah bukan Afrian lagi, tapi ember bocor. Minta ditambal rupanya mulutnya.


"Dek, kamu bisa ngendarain mobil?" tanya om Za.

__ADS_1


"Bisa bang, dulu diajarin ayah..terus sering curi curi kalo mau bolos sekolah, bareng Acha !" jawabku jujur, sebelum nantinya om Za sendiri yang mencari tau.


Om Mirza sudah tergelak.


"Ko abang tak tau ?!" tanya nya.


"Salwa ga pernah bilang juga ko !" jawabku.


"Pulang yu, Salwa lelah !!" ujarku buru buru masuk ke dalam mobil, sebelum om Za bertanya lebih jauh lagi.


******************


"Sakit?" tanyaku.


"Sedikit, " jawabnya, aku mengoleskan salep pada permukaan kulit yang lebam.


"Ko bisa gini?"


"Abang terbawa arus luapan sungai, terbanting menabrak tiang, dinding rumah yang memang tidak terlihat karena air."


"Terus kerjanya relawan disana ngapain ? kalo tetep harus abang yang ikut terjun langsung? selfie selfie doang??!" tanyaku suudzon, bahkan salep yang dioleskan lembut saja berubah jadi kasar dengan ditekan, membuat om Za meringis kesakitan.


"Dek, pelan pelan !" ucapnya.


"Eh..eh..maaf maaf bang, ga sengaja ! abisnya kesel !" jawabku.


"Abang hanya berusaha menolong sebisanya, toh sisanya juga mereka yang lakukan, lagipula abang turun bukan tanpa persiapan, abang memakai pelampung, abang juga sudah tau resikonya ! makanya jangan dengar informasi sepotong sepotong !" jawab om Za.


"Namanya juga panik ! mana bisa berfikir jernih. Bawaannya otak tuh keruh kaya air banjir tadi !" belaku sembari bersungut sungut.


"Kenapa sih, disuruh ngungsi doang bandel banget ! kan jadinya malah nyusahin banyak orang kalo gini !" omelku.


"Jadi lebih milih ikut hanyut kebawa air atau meninggal, ketimbang liat harta benda diambil orang ? astaga !!" kesalku.


"Terus mereka mau dengar abang?" tanyaku lagi.


"Iya, beberapa nya sudah lemas, karena belum makan, dan terjebak di dalam rumah !" jawab om Za.


"Terus nene yang tadi?" tanyaku makin penasaran.


"Abang gendong," jawabnya enteng.


"Hah??!!! coba bilang sekali lagi?" tanyaku memastikan pendengaranku tak salah, atau sepertinya aku harus pergi ke THT, biar telingaku clear, kuselipkan rambut ke belakang daun telingaku.


"Abang gendong, " jawabnya sekali lagi.


"Bukkk !!!"


"Abang tidur di luar !!!" guling melayang tepat menghantam dadanya.


"Astagfirullahaladzim, dek " ia langsung terbangun.


"Abang cuma nolong saja, "


"Salwa ga terima, abang gendong gendong perempuan lain !!!" rengekku. Om Za menautkan alisnya yang tebal.


"Terus mau abang suruh jalan sendiri? ketinggian air menenggelamkan si ibu, "


"Ya siapa kek, jangan abang ! tuh nene menang banyak di gendong abang !" omelku.

__ADS_1


"Lagipula abang juga ga ngapa ngapain, otak kamu harus di cuci, " jawabnya.


"Kenapa jadi Salwa ?!"


"Cemburu ga lihat tempat, ga lihat orangnya siapa, "


"Abang juga udah tua ! tapi nikahin Salwa ! jadi umur bukan masalah kan ?!" jawabku tak mau mengalah. Tak disangka, permasalahan sepele begini, jadi perdebatan panas di ranjang.


"Iya, abang memang ORANG TUA, " jawabnya bangkit dan mengambil laptopnya di meja.


"Bukan gitu maksud Salwa, ihhh ! kenapa jadi Salwa yang salah !" manyunku.


"Lagian jadi laki laki sensitif amat, ambekan !" jawabku lagi.


"Iya, abang sudah tua..ambekan pula !" jawabnya santai keluar dari kamar menuju ruang kerjanya.


"Ihhhh !!! abang !!" pekikku, alu menyusulnya. Sedangkan om Za terkikik sendiri, di dalam diamnya.


"Abang ! bukan gitu maksud Salwa, " rengekku ikut masuk ke dalam ruangan kerjanya. Tapi dia malah sibuk dengan laptopnya, ini dia si tutankhamun, Fir'aun jejadian dari tanah Aceh. Giliran dia salah jawabnya enteng, giliran orang lain salah berucap, dibuat mati kutu. Matanya menatap kearahku.


"Ya udah, malam ini kita pisah ranjang aja !" jawabku berbalik badan. Dia malah berdehem.


"Apa ??!!" tanyaku menantang.


"Mirza, blokir kartu atm uminya Al Fath !" ucapnya lirih.


"Mamposss ! " umpatku, kehidupan gue tuh !! benakku.


"Abang jahatttt !!!" aku menghampiri om Za dan memukul mukul pundaknya. Ia malah terkekeh dan menangkap kedua tanganku, menarikku untuk duduk di pangkuannya.


"Lebih enak gendong uminya Al," ucapnya.


"Dasar camat mesum !" dengusku.


"Mesum sama bu camat halal buat pak camat, " jawabnya.


"Abang sudah bercerita, sekarang gantian, abang ingin tau sejak kapan istri abang bisa menyetir ?!" tanya nya.


Aku langsung menegakkan punggungku.


"Sejak smp, dulu cuma iseng iseng aja !" jawabku.


"Kalau begitu, kapan kapan kita bisa test drive !" ucapnya.


"Iya, udah ahh Salwa ngantuk !" ucapku ingin beranjak, tapi om Za menahanku, mengusap tulang punggungku yang tertutup baju tidur tipis.


"Jangan mulai, kaki abang masih sakit !"


"Kaki abang ga apa apa, " jawabnya.


"Hoamm !! Salwa dah ngantuk ! besok kuliah pagi, " jawabku menguap dibuat buat.


"Ga usah pura pura, kamu ga pinter akting, " jawabnya lagi, mendudukkanku diatas meja kerjanya, hingga aku tersentak kaget. Tanpa aba aba tangannya sudah masuk ke dalam gaun tidurku dan membuka pengait bra ku. Menenggelamkan wajahnya di ransum makan malam Al. Membuatku m3n*d3sah.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2