Love Me Please , Uncle Camat

Love Me Please , Uncle Camat
museum tsunami.


__ADS_3

bismillah happy reading all 😘


.


.


.


.


.


.


.


.


Wajahku merengut yang harusnya besok aku dan om Za ke Medan malah harus diundur karena urusan pekerjaan.Mendadak om Za dipanggil oleh Walikota untuk menemani tamu penting dari luar kota dan anggota anggota DPR dalam rangka kunjungan untuk memajukan daerah wisata.


" ga bisa apa mereka milih camat camat lain !" sewotku tak terima sambil menghentak hentakkan kakiku, seperti tidak ada camat lain saja di Aceh ini.Kenapa juga harus om Za ...rencana yang sudah dibuat seperti biasa hancur begitu saja.Moodku sudah hancur sehancur hancurnya, baru juga mekar sudah harus kuncup lagi bahkan gugur ...boleh gue bom ga sih tuh orang ??


Aku membanting pintu kamar membiarkan om Za berbicara sendiri di luar , biar saja sampai mulutnya berbusa pun aku sudah tidak peduli.Disebut istri kurang asem dan cuka pun tak apa , sekali kali om Za merasakan tidur di luar bareng nyamuk nyamuk nakal .


" maafin abang, dik...." ucapnya dari balik pintu.


" om Za tega banget sama gue..." gumamku sambil meneteskan air mata dan menonjok nonjok bantal , entah kenapa aku jadi gampang melow belsksngan ini.Dikit dikit nih air mata keluar, sebanyak apa pasokannya di dalem sana.Ga bisa apa walikota biarin gue buat manja manja ria bareng om Za.


" ga tau apa kalo gue kecewa , yang istrinya itu gue apa pak walikota sih , perasaan ko gue tersisihkan sih !" gila saja aku cemburu pada atasan om Za.


" dik...sayang...!!" om Za masih berusaha membujukku.Tapi seakan membatu aku diam tak berniat membuka pintu kamar, pendengaranku seakan menuli seketika tak mau mendengar penjelasannya malahan kini aku tidur dengan sebuah bantal kupakai menutup kepalaku .


" Jangan sampai abang dobrak pintunya !!" pekik om Za dari arah balik pintu.Meskipun ditutup bantal suara om Za masih saja terdengar.


" dobrak aja rusak rusak deh , bukan punya gue juga, " gumamku menjawabnya.Sekalian saja ancurkan temboknya biar puas ...


" dik..denger abang kan ? abang mohon Salwa mengerti ," ucapnya mencoba membuka handle pintu yang terkunci.


" ganti hari saja ya , insyaallah abang penuhi," ucapnya lagi.Tak terdengar suara dari dalam om Za mengambil kunci serep dari laci di ruangan kerjanya ,


ceklek


Pintu terbuka , mataku membola sebesar globe


" ko bisa " gumamku tanpa bersuara dari balik bantal.


" dik..abang minta maaf , bisa dengarkan penjelasan abang dulu ?" ucapnya tepat duduk di sampingku dan menyentuh lenganku , tapi tak ku gubris .


" abang tau Salwa kecewa , tapi abang tak bisa menolak .Abang harap Salwa mengerti prioritas abang bukan hanya Salwa," kenapa sakit ya saat om Za mengucapkan kalimat itu , pantas saja dilan memilih tidak mau menjadi presiden yang harus mencintai rakyatnya , karena ia pasti akan menomor sejutakan Milea.


" istri seorang abdi masyarakat harus bisa bersikap dewasa dan bijak , mau jika harus dinomor duakan .Abang harap dik bisa belajar itu ..." jelasnya lagi.


" bukan berarti abang tidak menyayangi Salwa," jengkel tak ada respon dariku om Za menarik bantal dengan paksa dan menampilkan wajah semrawutku yang berurai air mata .Ingat siapa dia , suami pemaksa yang tak mau di bantah .


" ya allah , dik maafkan abang ," ucapnya ingin menarikku ke dalam pelukannya namun aku berontak.


" abang ga sayang Salwa..." ucapku


" abang sayang Salwa , tolong dik mengertilah ," mohonnya.

__ADS_1


" Yang istri abang tuh Salwa apa tamu dan anggota DPR sih mesti pake disambut dan ditemenin segala , datang ya datang aja lebay banget pengen ditemenin ga sekalian minta kencan?apa ga ada camat lain apa ? kenapa? apa alasannya karena abang good looking ??emang camat lain ga ada yang good looking apa ??" dumelku sambil sesenggukan.


Tangannya hendak menyentuh lenganku tapi aku menahannya .


"ga usah pegang pegang !! abang tidur di luar , Salwa ga pengen tidur bareng abang dulu !" usirku.Om Za akhirnya lebih memilih mengalah.


.


.


.


Mataku mengerjap beberapa kali , terasa berat.. rupanya mataku memang sembab bekas menangis semalam , aku turun ke lantai bawah .Memang terasa sepi umi dan abi sudah kembali ke rumah perkebunan.Walaupun sedang marah namun aku masih ingat kewajiban menyiapkan sarapan dan kopi favorit om Za yang tak tau kenapa sampai sekarang di lubang hidungku baunya seperti bau gumoh bayi membuatku eneg.


Terdengar om Za yang bangun dan keluar dari kamar abi dan umi , rupanya om om pria matang itu tidur disana tak ada drama drama tidur di luar seperti kebanyakan adegan film atau cerita novel.


Rambutnya sudah basah dan juga wangi shampo menandakan ia yang sudah mandi .


" dik..." aku melengos tak perduli , ampuni aku ya allah tapi mau bagaimana lagi ego dan amarah lebih kuat daripada sikap patuhku kalo kata bang haji darah muda.Bahkan sampai masuk kamar dan bersiap siap saja aku tak ingin berada satu ruangan dengan om Za hanya menyiapkan pakaian dan kebutuhannya saja selebihnya aku lebih memilih keluar dari kamar.


" ceklek "


Pakaian rapi dan nampak gagah seperti biasanya masuk ke kamar saat aku sedang menyisir rambut


" abang pergi dulu , dik dirumah saja atau jika bosan dan ingin keluar bisa telfon Mirza" ucapnya.


" cup " om Za mengecup pucuk kepalaku , ada rasa ingin berlama lama tapi ingat jika aku sedang marah, murah banget loe Sal..kaya harga celana da*lam...dikecup aja luluh.


Sepeninggal om Za jujur saja aku bosan , jika di Jakarta mungkin aku sudah menelfon Acha dan mengajaknya hang out nah disini ???


Pas sekali , ponselku bergetar ramai oleh pesan di grup chat kelas.Mataku memicing senyumku tersungging saat kubaca bahwa mereka akan keluar jalan bareng , setidaknya bisa mengobati rasa penat dan kesalku.


" jangan " gumamku namun detik setelahnya aku meraih ponsel dan mengirimkan pesan pada om Za kalau aku akan pergi bersama teman teman yang lain .


" iya " jawabnya singkat ,


Segera aku memilih pakaian casual beserta kerudungnya yang simple saja , sejak berada disini sudah terbiasa untukku memakai jilbab keluar rumah terkecuali jika di rumah.


" bu Inah , Salwa jalan dulu ya " pamitku.


Aku menyetop bus yang isinya memang antara laki laki dan perempuan duduk terpisah.


" Salwa !!" pekik Nur dan Uni melambaikan tangan.Disana juga ada Adam , Pian dan yang lainnya.


Sekian lama aku berada di Aceh baru kali ini aku bisa masuk ke museum Tsunami saksi sejarah tentang kejadian kelam di tahun 2004 bencana yang berhasil meluluhlantakan kota Aceh.


" wahhhh udah mau setaun gue disini baru sekarang bisa masuk kesini.." gumamku.


" masa sih ,Sal ?" tanya Nur aku mengangguk cepat.Begitu besar dan mewahnya arsitektur bangunan yang mirip seperti kapal dengan tiang mercusuar berdiri diatasnya , bangunan 4 lantai dengan dekorasi hiasan bernuansa islam .


Tak hentinya aku berucap syukur dan memuji keindahan tempat ini , sampai di satu ruangan yang dindingnya berelief nama nama korban tsunami.


" Sal..liat deh ada nama kakek ku disini !" seru Uni...


" mana ni ??" seruku dan yang lain.


" hidihhh udah kaya pahlawan saja kakek Uni , namanya dikenang..." seru Pian.


" pengen juga ??? " tanya Nur.

__ADS_1


" kalo harus jadi korban dulu ga mau lahh !!" ujar Pian.


Ini hanya perasaanku saja atau memang tempat ini selalu ramai sekali.Orang orang sibuk mengerubuti tempat ini


" ehh...ada bapak walikota !!" seru salah seorang temanku.


" wahhh kebetulan banget kita disini pas walikota lagi ngunjungin ni tempat ," seru Uni dan Nur yang sudah siap sedia mengeluarkan ponsel untuk berswafoto tapi bukan hanya rombongan walikota saja yang bikin heboh , tapi karena di dalam rombongan itu ada si camat yang the most nya sampe ngalahin anak presiden kalo lagi ngevlog...


" Sal..ikutan liat yuu kapan lagi bisa foto bareng pak walikota !" ajak Nur.


" engga deh , kalian aja gue ga tertarik bukan lee min ho ini ," ucapku enteng , Adam menggeleng tertawa kecil mendengar pengakuanku.


" bener nih ??" tanya mereka.


" iya sana takut keduluan orang tuh pak walikota ..aku disini aja " jawabku .


" sendirian?" tanya Pian.


" mati juga sendirian , ian...lagian ini kan tempat umum ," jawabku lagi .


" biar aku saja yang temani Salwa " , kami menoleh pada Adam .


" ga usah dam , aku juga tau kamu pengen banget liat rombongan walikota , gih sana keburu pergi nanti nyesel.." ucapku .


" engga deh ga apa apa insyaallah kalo memang jodoh pasti ketemu lagi ," jawab Adam.


Pian tergelak " astaga masa jeruk makan jeruk , dam ...pak walikota udah tua masa iya mau berjodoh sama pak walikota " lirihnya .


" ya allah otak kamu ian,,, maksud Adam tuh ga gitu juga kali.." seru Nur .


" udah yu buruan !!" Uni menarik kerah belakang baju Pian.


.


.


" Sal...apa kabar ?" Adam memulai obrolan canggungnya setelah lama diam diaman.Hanya melihat lihat dan menyimak benda benda sejarah di depan.


" alhamdulillah , dam .. kamu sendiri ??"


" masih belum percaya kalau kamu sudah jadi istri orang ," jawabnya sambil tertawa kecil.


" ehh.. " aku menoleh.


" ahhh tidak apa apa , lupakan !" jawabnya .


Walaupun terkesan canggung namun kami akhirnya bisa mengobrol dan suasana pun mencair, memulai lagi memang tidak mudah...


" kamu belum pernah kesini kan , Sal..di sebelah sana lebih seru Sal..." ajak Adam aku mengangguk saja mengamini seperti seorang turis pada tour guide.


" yuu ! " ajaknya , aku mengulas senyuman pada Adam.


" Sayang ...." lirih seseorang saat aku dan Adam hendak beranjak.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2