
Bismillah happy reading all π
.
.
.
"Dek,jadi anak baik ya sayang ! umi pusing pingin tiduran !" ucapku, sepertinya kepalaku ingin pecah saja.
Aku menghembuskan hawa nafasku di telapak tangan, terasa panas. Tapi badanku menggigil seperti sedang berada di ruangan frezzer daging. Al Fath kubawa berbaring di sampingku, menyu*sui nya cara paling ampuh untuk membuat si gembulku diam. Dan benar saja, setelah mandi lalu menghisap cemilan sorenya, baby Al dengan mudahnya terlelap.
"Masyaallah anak umi sholehnya !" ucapku mengusap kening Al dan menyelimutinya. Aku meringis saat pandangan semakin berputar.
"Abang ko belum pulang ?" aku menarik selimut yang hanya ada satu saja selimut besar disini, kalo kata om Za biar romantis satu selimut berdua. Apa bukan karena dia yang pelit, atau modus ?
Lama kelamaan aku terlelap.
"Assalamualaikum !" ia membuka pintu tapi tak ada jawaban, keadaan rumah pun sedikit gelap, om Za terpaksa harus pulang telat, karena di kantor memang sedang ada acara syukuran ulang tahun salah satu peserta pelatihan.
"Ko pintu tidak dikunci? ini rumah ko gelap !" ucapnya menyalakan lampu di ruang depan.
"Dek, Al !!" panggil om Za. Ia melongokkan kepalanya ke dalam kamar, ternyata dua kesayangannya tengah bergelung dengan selimut, ada senyuman yang terlukis disana.
"Tumben jam segini ikut tidur !" om Za membuka seragamnya dan menyambar handuk. Lantas ia membersihkan diri dan kembali ke kamar untuk berpakaian.
"Dek, sudah maghrib !" om Za mennguncang badanku, tapi tak ada respon dariku.
"Tumben banget kamu selimutan jam segini, udah maghrib ini !" ucapnya membuka kan selimut, tangannya menyentuh permukaan kulitku.
"Ya Allah dek, ko kamu panas??" tanya nya. Suara om Za membangunkanku.
"Abang, sudah pulang?" aku mencoba bangun tapi rasanya kepalaku berputar hebat, ulu hatiku terasa sakit dan sesak.
"Dek,kamu sakit?" tanya om Za, menyentuh setiap inci kulitku.
"Cuma pusing bang, kalo mau makan angetin aja temen nasinya ya bang, Salwa pingin rebahan bentar !" jawabku tak melihat jam.
"Ini sudah masuk waktu maghrib dek, badanmu panas !" jawab om Za khawatir.
"Kita ke dokter setelah magrib !" ucap om Za.
"Engga usah bang, beli aja obat warung, nanti Al sama siapa??" tanyaku.
"Al kita titip bersama bu Surti !" jawabnya. Aku menggeleng, "ga enak bang, dari tadi siang Al dititip terus," jawabku.
Perutku terasa dikocok, seketika aku mengumpulkan kekuatan untuk berlari ke kamar mandi,memuntahkan isi perut yang belum dimasuki apapun, tak ada apa apa hanya ada air. Om Za mengekor dan memijit tengkukku.
"Sudah makan? apa kamu salah makan?" tanya om Za.
Aku menggeleng, jangankan salah makan, perutku saja kosong. Tak mungkin aku ngidam juga, minggu lepas baru saja aku kedatangan tamu bulanan, ditambah aku ber kb.
"Kita ke dokter sekarang !" titahnya tak ingin dibantah.
Ia pergi keluar sebentar setelah membantuku tidur lagi di kasur.
Tok..tok..tok..
"Bu, assalamualaikum !"
"Waalaikumsalam, eh ada pak Zaky. Ada apa pak?" tanya bu Surti yang baru selesai shalat magrib.
"Bu, saya bisa minta tolong!" ucapnya panik.
__ADS_1
"Ada apa ya pak?" tanya nya.
"Salwa sakit, saya akan membawanya ke dokter. Dan Al tidak ada yang menunggu, sekarang sedang tidur !" jelas om Za.
"Ya Allah, apa sakitnya sama seperti mbak Siska tadi siang?" tanya bu Surti terburu buru membuka mukenanya dan memakai jilbab.
"Memangnya mbak Siska kenapa bu?" tanya om Za.
"Tadi siangan setelah kepulangan mbak Salwa, karena tak kunjung membaik akhirnya bu Rt membawa mbak Siska ke RS ternyata mbak Siska DBD, rencananya rumahnya akan di fogging besok, atas saran dari kelurahan !" jelas bu Surti.
"Astaga, semoga saja tidak ya bu !" jawab om Za.
Bu Surti memanggil manggil anaknya yang besar.
"Le !!! ibu ke kontrakan mbak Salwa sebentar, titip Wahyu, bapak masih di masjid !" pekiknya,
"Nggeh buk, " ucap anaknya.
"Ayo pak !" ajaknya, sibuk memakai sandal jepitnya.
Om Za datang bersama bu Surti.
"Ya Allah mbak ! " ucap bu Surti heboh.
Om Za menelfon jemputan sewaannya selama berada disini. Ia memakai jaket, dan juga mencari swetterku, memasangkannya dengan telaten.
Tak lama terdengar klakson mobil di depan,
"Bu, maaf saya selalu merepotkan. Titip Al sebentar ya !" ucap om Za, "nggeh pak, tak apa apa ! yang penting mbak Salwa bisa cepat diobati," jawab bu Surti.
Om Za segera menggendongku, "tahan sayang, kita akan segera ke dokter !" ucapnya mengecup keningku sayang, tampak gurat ke khawatiran dan kepanikan dari om Za.
"Bang, Al gimana?" tanyaku lemah, hanya Al lah yang ada di pikiranku saat ini, bagaimana kalau ia menangis karena haus dan lapar.
"Abang sudah makan?" tanyaku.
"Sudah, tadi teman di kantor ada yang syukuran ulang tahun, seharusnya tadi abang cepat pulang," ucapnya ada segaris penyesalan di wajahnya.
"Ga usah ngerut gitu keningnya, keliatan tua !" kekehku, om Za malah semakin mengeratkan pelukannya.
"Salwa ga apa apa bang, Salwa perempuan kuat !" jawabku.
Sesampainya di dokter, ternyata dokter menyuruhku melakukan cek lab.
"Bang, Salwa ga mau kalo sampe di rawat !" rajukku.
"Kalau memang harus mau gimana lagi, tidak mendengar baruan dokter bilang apa ?" jawabnya.
Aku menggeleng kuat, lalu bagaimana dengan Al.
"Al nanti bagaimana bang??" aku memohon, tapi lelaki ini seakan tak bisa dirayu.
"Masalah Al, biar abang yang urus ," jawabnya.
Benar saja apa yang kutakutkan, aku terserang DBD, dan harus rawat inap, ternyata penyakit itu sedang mewabah dan menjadi pandemi di beberapa kota di Indonesia, dokter merujukku ke RS umum , om Za menggelengkan kepalanya, mendengar ruangan yang penuh. Om Za menelfon kenalannya disini.
.
.
Badanku sudah sangat lemas, saat suster memasangkan infusan saja rasa tusukan jarumnya tak sampai terasa sakit. Karena tngnku sudsh terasa kebas, mungkin efek dari trombosit darah yang rendah.
"Bang, Salwa ga mau !!" jawabku menangis.
__ADS_1
"Salwa mau pulang aja !" di RS sendirian tanpa ada keluarga, belum lagi Al yang hanya dititip di rumah tetangga menjadi beban fikiran. Walaupun tak mungkin bu Surti seperti kebanyakan berita viral saat ini menegakkan miras atau sekedar obat tidur pada Al.
"Adek harus di rawat inap sampai sembuh, abang mohon dengarkan abang !" ucapnya memohon.
Ranjang RS yang membawaku masuk ke dalam ruang VVIP, om Za terlihat sibuk menelfon om Mirza dan om Ramli.
Om Za mendekat setelah menyelesaikan panggilannya. Ia mendekat dan duduk di kursi samping ranjangku. Tiba tiba lelaki itu mencium punggung tanganku yang dipasangi infusan.
"Adek perempuan kuat !"
Dikecupnya tanganku lagi, "adek istri abang yang kuat !"
Dan ketiga kalinya, "adek ibu Al Fath yang hebat !" ucapnya. Auto sembuh kalo gini.
"Ga usah ngerayu ! Salwa lagi ga bisa bercanda bang !" jawabku.
"Bunda sedang berada di penerbangan dari Jakarta kesini, " ucapnya.
"Bunda?" tanyaku, wanita yang saat ini kurindukan. Jika sakit begini biasanya pelukan bundalah yang kucari.
"Iya, biar nanti Al di titip bunda di rumah," jawabnya.
30 menit sebelumnya
"Assalamualaikum, "
"Wa'alaikumsalam, Za. Apa kabar?? Salwa dan Al?" tanya bunda.
"Alhamdulillah bun, tapi Salwa saat ini masuk RS bun, harus rawat inap !"
"Ya Allah ! terus cucu bunda??"
"Al masih di rumah bersama tetangga bun,"
"Kalau begitu biar bunda yang kesana !"
"Alhamdulillah makasih bun, maafin Zaky sudah merepotkan bunda,"
"Jangan bilang begitu, Salwa dan Zaky anak bunda, Al Fath cucu bunda."
"Kalau begitu Zaky segera pesankan tiket pesawat ! nanti Zaky suruh jemputan Zaky menjemput bunda di bandara ke rumah !" jawabnya.
****************
"Tapi bunda ga bisa kasih ASI buat Al, bang !"
"Untuk sementara Al mungkin akan diberi susu formula, selama adek disini," jawabnya.
"Cepat sembuh sayang, " kecupnya di keningku.
"Bu Salwa saatnya minum obat, tapi makan dulu ya !" suster mengulum bibirnya kikuk, saat bibir om Zaky masih menempel di keningku dan mencium bibirku singkat. Ia hanya bisa merengut dalam hati, jiwa jomblo nya meronta ronta melihat pemandangan di depannya. Kisah cinta se manis di novel ternyata nyata ada di depannya.
Pelaku utama hanya bersikap tenang tanpa merasa malu, ia bersikap seolah tak melakukan apa apa. Tak tau saja karena ulahnya, kini suster itu jadi kepengen nikah.
"Terimakasih sus, " jawab om Za menerima nampan berisi makanan rumah sakit, menurutku makanan yang bisa membuat lidahku berubah jadi kelu karena rasa dan teksturnya. Kenapa tidak ada bakso di dalam menunya sih atau minuman ber boba gitu.
"Sama sama pak !" ia kemudian keluar.
"Huhhh, sabar sabar. Jomblo mah nepi !" gumamnya pelan saat keluar dari ruanganku. Aku tertawa kecil, "ga tau malu, ini RS bang bukan warung remang remang ! jangan cium cium seenak jidat !" jawabku.
.
.
__ADS_1
.