Love Me Please , Uncle Camat

Love Me Please , Uncle Camat
Tak disangka


__ADS_3

Bismillah happy reading all 😘


.


.


.


.


.


Air mata yang mengalir, seakan tidak takut kehabisan stoknya. Om Za sudah bersiap siap akan kembali ke Aceh lagi.Benar kata bang Anang separuh jiwaku pergi...


"Abang !!!!" merengek seperti anak kecil yang ditinggal ibunya, baru semalam aku so kuat dan tegar, tapi rasanya aneh jika om Za tak ada dalam radarku.


Om Za terkekeh dengan sikapku yang gampang sekali berubah ubah, ia suka dengan sikap manjaku ini. Katanya menggemaskan dan bikin kangen.


"Abang kalau disana jangan lupa kabari Salwa, jangan terlalu sibuk. Abang suka lupain Salwa lah. Salwa udah kaya istri yang ga dianggap !!" cerocosku dengan memainkan jaketnya.


"Sudah jangan menangis, malu sama bunda !!" ucap om Za mengusap usap kepalaku.


"Belum juga pergi sudah ditangisin !" goda bunda.


"Dulu aja ogah ogahan buat dijodohin, sekarang Zaky pulang saja berasa ditinggal nikah lagi !!" goda ayah.


"Ihh ayah ucapan adalah do'a !!" sewotku.


"Adek jangan nakal, dengar ucapan ayah dan bunda. Harus inget di dalem perut itu ada om bayi."


"Iya, bang."


"Abang jalan dulu, nanti kalau sudah mau pulang abang jemput !" jawabnya kembali mengusap lembut pipi yang banjir oleh air mata.


Dengan diantar sopir ayah, om Za pergi menuju bandara. Jika rasa maluku tidaklah sebesar gunung Gede, mungkin aku sudah menangis berguling guling di tanah.


Rasanya bawang merah sekilo sudah ada di depan mataku dan digosokkan secara merata. Lebay sekali diriku sekarang. Efek terlalu sering menonton drama yang menguras emosi, entah efek terlalu cinta om om pria matang.


"Ihh lebay, bucin...!" sarkas Yusuf.


"Biarin daripada jomblo akut !" jawabku membalas.


"Makanya jangan kebanyakan makan micin jadinya kan drama queen, laki cari nafkah ditangisin," ucapan laki laki memang tidak se peka wanita malah terbilang cuek. Ingin rasanya kutampol saja mulut adikku ini yang malah meledekku disaat aku galau, namun aku masih mengingat mitos ktmata orangtua dulu jangan membenci jika tidak nantinya anakku mirip dengannya.


Aku menelfon Acha yang sudah tau jika aku akan datang ke Jakarta, ia begitu senang aku datang kesini. Sudah sejak sepuluh menit yang lalu Acha akan datang ke rumahku, dan kini ia sedang on the way ke rumah. Nge mall dan jajan bareng rasanya akan mengobati rasa kangenku.


"Kaka mau kemana?" tanya bunda.

__ADS_1


"Mau hang out sambil temu kangen sama Acha bun," jawabku yang sedang bersiap siap menunggu Acha di ruang tamu.


"Apa bang Zaky tau?" tanya bunda.


"Tau ko bun, tadi sebelum pergi kaka bilang dulu takutnya pas kaka pergi abang lagi di pesawat," jawabku lagi.


"Baru sampai kemarin sore sudah mau pergi saja !!" keluh bunda,


"Kangen, kaka suntuk bun... kangen jajan dan nge mall bareng Acha !! di Aceh kan ga ada mall."


Bell rumah berbunyi


"Assalamualaikum !!" suara bak toa masjid yang kabelnya konslet. Ini dia si cerewet kesayanganku. Sudah lama aku tidak berjumpa dengannya.


"Waalaikumsalam !!"


"Salwa !!!!" pekiknya memelukku erat, aku menepuk punggungnya keras.


"Sakit be*go !! anak gue kepencet !!" jawabku.


"Astaga dragon gue lupa, OMG !! ga caya gue kalo loe dah bunting aja. Kecebong om Za tokcer benerr !!" ucapnya, seperti biasa mulut Acha no filter, entah saringannya dipakai untuk menyaring ampas teh oleh ibunya di rumah. Semua kamus kata kata absurd dan memalukan tersimpan rapi di mulutnya.


"Wahhh wahhh.. ibu camat, montok sekarang ya. Dulu waktu masih tinggal disini badan loe kurus Sal, kaya orang yang mengidap gizi buruk !!" ucapnya berkelakar.


"Kurang aj*ar loe !!" jawabku kecut.


"Bar bar nama tengah gue, kaya yang loe udah insyaf aja !!"


"Ehh, ada Acha !!" sapa bunda.


"Eh, iya bun...apa kabar ?" salam Acha.


"Baik, Acha sendiri? sejak Salwa ke tinggal di Aceh udah ga pernah kesini lagi,"


"Iya bun, sibuk sekolah.. sekarang ngurusin buat persiapan kuliah !" jawabnya.


"Kalian mau kemana?" tanya bunda duduk di sofa.


"Ke mall bun," jawabku memakai sepatu flatshoes. Om Za menyarankan memakai pakaian dan sepatu yang nyaman dan tidak membahayakan.


"Oke deh baik baik, apa perlu bunda suruh Yusuf ikut?" tanya bunda. Bunda jadi ketularan om Za, posesif...


"Engga usah bun, ada Acha sama pacarnya ko !" jawabku. Bukannya refreshing yang asa aku malah makin stress jika bersama Yusuf.


"Pacar?? sejak kapan Acha punya pacar?" tanya bunda menggoda,


"Ihh bunda, "

__ADS_1


"Ya udah bun, kaka sama Acha pamit dulu !"


Seperti menemukan hidupku yang sudah lama hilang. Aku bersama Acha naik taksi menuju mall.


"Beda ya udah jadi bu bos, naik taksi aja ga lirikin argonya terus !!" ledek Acha. Ingat saja kebiasaanku dulu yang selalu melirik tarif argo setiap detik, bahkan pernah aku turun di ujung komplek sana agar argonya tidak tambah mahal.


" Udah engga dong," kekehku.


"Gue jadi penasaran cowok gila mana sih yang mau maunya sama temen gue yang sengklek nya ga ketulungan ini, yang mulutnya udah mirip toa nya tukang tahu bulat !!" tawaku renyah, menggoda Acha seperti memberi semangat untukku, seperti beban lepas dari pikiran. Tak bisa sebebas ini jika orangnya bukan Acha.


" Njirrrr, toa tahu bulat katanya !! gue mah sabar aja lah, ga apa apa takut kualat gue sama bumil, puas puasin Sal...hina gue biar kangen loe terobati !!" jawabnya pasrah.


"Cowok gue ganteng kok, loe udah kenal juga !" senyumnya begitu mencurigakan.


" Senyum loe nyeremin sekarang Cha !" jawabku mendesis seperti ular yang siap menelan mangsa.


Aku dan Acha berjalan bersama menuju sebuah resto makanan siap saji, favorit kami berdua sejak dulu. Jika om Za tau sudah dipastikan indra pendengaranku akan bengkak dibuatnya, mendengar siraman rohani seputar makanan 4 sehat 5 sempurna.


"Pacar loe mana sih, bukannya jemput pacarnya malah pergi sendiri sendiri, ga romantis !! kalian beneran pacaran ga sih?" tanyaku sewot mempertanyakan kebenaran status Acha.


"Dihh sewot banget emak emak," jawab Acha mulai kesal.


"Cowok gue itu calon businnesman, jadi sibuk. Lagian dia abis ikut meeting katanya bareng omnya teleconference gitu !!" kembali Acha menjelaskan.


Aku dan Acha duduk di salah satu meja di pojokan. Lalu memilih milih menu, setahun bersama om Za membuatku merindukan junkfood. Aku berjanji hari ini aku akan memanjakan lidahku dengan makanan yang menurut om Za adalah makanan yang bisa membuat perut membuncit tak sehat.


"Gue mau mesen burger, chicken, spagetti, pizza, sama kentang goreng !!" jawabku. Acha mengatupkan mulutnya.


"Loe berapa hari belum makan sih Sal? masa iya om Za ga kasih loe makan?" tanya Acha melongo.


"Gue kangen junkfood Cha, lidah gue rasanya gatel kepengem gigit burger !!" jawabku.


"Loe emang hamil Sal, tapi ga gini gini amat..loe hamil apa kerasukan jin?" tanya Acha.


"Kemasukan kecebongnya om Za !" jawabku tanpa dosa, baru sejam bersama Acha virus no filter Acha sudah hinggap di otakku.


"Astagfirullah Sal, mulut loe ! gue jepret pake karet bekas gado gado ya. Disini ada gadis ting ting ucapan loe 18 plus !" jawabnya membalikkan, sepertinya harus kupukul pakai palu thor kepala Acha, awalnya kata kata ini kan meluncur bebas dari mulutnya.


"Umur loe kan udah lewat dari angka 18 Cha,"


Aku dan Acha yang sedang mendebatkan hal tak penting yang unfaedah dikejutkan dengan kedatangan seseorang.


"Hay,dah lama nunggunya?" tanya nya. Mataku membuka lebar selebar dunia.


"Afryan !! ngapain disini ??" tanyaku dengan mulut penuh pizza.


"Sal, kenalin cowok gue !!" ucap Acha.

__ADS_1


"Uhuukk...uhuuk...!!"


__ADS_2