Love Me Please , Uncle Camat

Love Me Please , Uncle Camat
Tersesat ??


__ADS_3

Bismillah happy reading all 😘


.


.


.


.


.


.


.


"Rayyan !!" sentak bu Miranda pada anaknya itu.


Terlihat om Mirza dan ka Aisyah mengulum bibirnya menahan tawa.


"Beuh.. ini mah rivalnya Salwa nih," ucap om Mirza.


"Ck, ngajak ribut nih anak !" jawabku bergumam.


"Tante Salwa ikut juga ke kebun ?" tanya Rayyan berlari ke arahku sedangkan bu Miranda mengekor di belakang.


Aku memutar bola mata jengah,


"Engga! mau ke mall !" jawabku setengah bergumam.


"Dek," tegur om Za pelan.


"Abisnya Salwa sebel bang," omelku berbisik.


"Mari pak, sebaiknya sekarang saja takut kesorean ," ajak om Mirza mewakili om Za.


Sepanjang jalan om Mirza lah yang menjelaskan tentang perkebunan kopi milik om Za.


"Panas?" tanya om Za menutupi wajahku dari terpaan sinar matahari langsung, ia melepas topi yang dipakai lalu memakaikannya di kepalaku yang tertutup kerudung.


"Makasih, tapi nanti abang kepanasan," ucapku.


"Tidak apa," jawabnya.


Makin lope lope sama om camat satu ini. Mana badannya tegap bisa melindungi dan lengan kekarnya enak ku gelayuti.


Langkah kami memasuki kebun kopi yang luas, berhenti di tengah tengah para pekerja yang sedang memanen kopi. Untuk melihat kualitas hasil panen.


Kebun seluas ini bisa menghasilkan kopi berton ton, kira kira berapa penghasilan om Za sekali panen nya, belum lagi perkebunan lainnya. Mungkin bisa beli kerupuk dengan pabrik pabriknya sekalian.


Ditengah lamunan ku tentang pendapatan om Za, tiba tiba saja Rayyan mendekat dan menyodorkan sesuatu.


"Tante Salwa lihat deh ulatnya lucu ya?"


Sontak saja aku langsung tergelonjak kaget dan bersembunyi dibalik badan besar om Za.


"Aa...ulet ! geli !!!" gidikku memeluk om Za, om Za menarikku ke dalam pelukannya.


Bocah lelaki itu malah tertawa puas melihatku kegelian dan semakin mendekatkan ulatnya.


"Yahhh !! masa tante takut sih," ucap Rayyan.


Pak Jamal mendekati anaknya dan menjewer kupingnya.


"Papih bilang apa? jangan nakal..!!" kini pak Jamal tak bisa menahan amarah kekesalannya lagi pada sang anak. Wajahnya memerah padam, tak ada raut bersahabat lagi darinya. Rayyan langsung terdiam ia tak menyangka niat usilnya berakhir kemurkaan sang ayah, ia benar benar menyesal, ia berlari sambil menangis bukan ke arah ibunya tapi ke lain arah.


"Rayyan !!" pekik pak Jamal dan bu Miranda.

__ADS_1


"Biar Salwa aja yang kejar bang," melihatnya dimarahi sang ayah, membuatku jadi tak tega pada bocah itu, aku tau meskipun usil sebenarnya Rayyan baik, ia hanya membutuhkan teman bermain, mengingat dari cerita pak Jamal sendiri kemarin ia begitu sibuk bekerja dan bu Miranda sendiri memiliki butik.


"Tapi dek, apa tidak apa apa ? biar Ramli atau Mirza saja, nanti adek cape!" jawab om Za.


"Tidak apa bang, kan Rayyan nangis juga gara gara usilin Salwa!" jawabku.


"Kalo gitu hati hati," ucap Om Za.


"Pak, bu biar Salwa saja yang kejar," ucapku. Mereka mengangguk. Wajah pak Jamal terlihat sendu, ia menunduk, " maaf, ya dik Salwa. Rayyan selalu berbuat ulah, insyaallah segala kerugian akan saya tanggung. Apa dik Salwa ada yang terluka?" tanya pak Jamal.


"Ah, tidak apa pak," aku segera berjalan ke mana arah Rayyan pergi, sambil sesekali berteriak memanggil manggil Rayyan.


Hofffff !!! anak itu usil tapi baperan !! gumamku mendumel.Langkahku semakin menjauh masuk ke dalam kebun kopi.


"Rayyan !!!" pekikku beberapa kali, tapi tak ada jawaban dari bocah kecil itu, yang ada hanya suara daun kopi yang tersapu angin. Aku melirik jam tanganku,


"Ya allah hampir mau ashar !!" aku mempercepat langkahku mencari Rayyan, sambil sesekali mengusap peluh. Kaki ku sudah pegal rasanya untuk berjalan.


"Om bayi, maafin umi ya, om bayi ga apa apa kan?" tanyaku mengusap perutku lembut.


Aku menajamkan pendengaran, mendengarkan suara sesenggukan kecil dari balik pohon kopi. Senyumku terbit melihat kaki kecilnya terlihat timbul dari balik batang pohon kopi yang kecil.


"Hey !" aku menolehkan kepala melongok Rayyan.


"Ko nangis??" tanyaku mencoba merayu.


"Tante Salwa??!" ia sesenggukan. Mataku menyendu, melihat wajah sedihnya membuatku semakin tak tega, amarah yang membuncah tiba tiba hilang tergerus rasa sendu dan iba.


Aku memetik beberapa lembar daun kopi dan menaruhnya di bawah untuk ku duduki.


"Anak cowok ga boleh nangis lohh!! kalo kata temen tante kaya ban*ci !!" ucapku,


"Ban*ci apa tante?" aku lupa jika Rayyan adalah anak 3 tahun lebih, belum genap 4 tahun.


"Emmhhhh ban*ci itu laki laki tapi kaya perempuan. Rayyan ga mau kan di ejekin kaya perempuan? nanti disuruh pake rok !" ucapku lagi. Meskipun petuahku antimainstream tapi cukup ampuh membuat Rayyan terdiam dan menurut.


Anak itu menghapus jejak air mata dengan punggung tangannya. Ia ikut berjongkok menyender di batang kayu.


"Padahal di dalem perut tante ada adek bayi, tapi Rayyan nakut nakutin tante, apa adek bayi juga takut?" tanyanya khawatir sedikit cadel di bagian huruf R nya.


"Adek bayi berani ko, dia kan laki laki kaya Rayyan, kaya abi nya." jawabku.


"Mungkin papih Rayyan kesel karena takut Rayyan nakutin adek bayi,Rayyan kan udah gede jadi harusnya Rayyan jagain adek bayi.." ucapku lagi.


"Apa papih ga benci Rayyan, tante ? Rayyan pingin punya temen main tante, Rayyan ga benci sama tante. Justru Rayyan seneng karena Rayyan punya temen main kaya tante." jujurnya membuat hatiku terenyuh.


Ayolah air mata, jangan meleleh di saat begini..!!


"Papih Rayyan ga benci Rayyan malah sayaaanggg banget, jadi sekarang kita pulang ya, kita kan teman??" tanyaku mengulurkan jari kelingking pada Rayyan yang di sambut ceria oleh Rayyan.


"Good boy !!" aku mengacak rambut hitamnya.


"Ayo tante, udah sore juga kasian adek bayi kecapean !!" jawabnya segera bangun.


"Oke abang Rayyan," aku pun segera berdiri kembali dan menepuk nepuk celanaku.


Namun aku baru tersadar lupa akan arah jalan pulang, karena terlalu sibuk mencari Rayyan aku jadi lupa memberi tanda arah jalan pulang.


.


.


.


Sudah lama kami berjalan tapi tetap tidak menemui arah ke dekat tempat awal,


"Tante !! Rayyan cape !!" keluhnya. Jangankan Rayyan aku pun sudah lelah ditambah haus dan lapar. Bagian perut bawahku juga terasa ngilu. Jangan sampai sesuatu terjadi di dalam sana.

__ADS_1


"Kita duduk sebentar deh Rayyan,adek bayi capek !" jawabku langsung terduduk di tanah sambil mengipasi wajah yang sudah merah.


"Tante, Rayyan haus ! Rayyan laper !" keluhnya.


"Rayyan duduk dulu disini, ya !" pintaku. Ia menjadi anak penurut sekarang padaku.


"Tante kayanya ini udah mau sore ya? pasti film favorit Rayyan udah mau mulai deh !" jawabnya.


"Iya kayanya," jawabku. Mendadak aku jadi rindu om Za, apakah sekarang mereka sedang mencariku dan Rayyan.


Di tempat lain, Sebuah bangunan singgah dekat kebun kopi, dimana biasanya para pekerja kopi beristirahat, beberapa orang tengah bergerak khawatir.


"Salwa sepertinya lupa arah pulang, Za !" ucap om Mirza memberikan ssbotol air mineral pada om Za.


"Ram, panggil para pegawai untuk menyisir area kebun kopi !" sebut om Za. Ia pun gusar mengingat diriku yang sedang hamil. Maklum lah tidak terbiasa dengan kebun kopi yang luas membuatku lupa arah jalan.


"Salwa, dimana kamu sayang ," gumamnya.


"Ram, saya ikut!" jawab om Za.


"Za, sebaiknya kamu disini saja bersama pak Jamal dan bu Miranda ! biar kami yang mencari," pinta om Mirza.


"Maafkan saya pak, berkali kali saya sudah menyisahkan bapak dan istri, sampai membuat bu Salwa ikut tersesat ," sesal pak Jamal.


"Insyaallah istri saya dan anak bapak bisa ditemukan pak, karyawan disini sudah hafal betul area kebun !" jawab om Za masih tetap tenang.


"Saya tetap ikut Mir," kekeh om Za.


"Oke kalo begitu, sayang kamu tunggu disini dengan pak Jamal dan bu Miranda. Jika Salwa sudah duluan disini hubungi kami secepatnya !!" ucap om Mirza pada ka Aisyah.


..........


"Rayyan kita ga boleh putus asa, yuu kita jalan lagi! udah kan istirahatnya? semangat dong !!!" ucapku kembali, ketimbang kebun kopi doang mah kecil toh bukan hutan belantara Amazone kan. Hitung hitung aku sedang menelusuri dan mengelilingi perkebunan milik keluarga suamiku.


Rayyan kembali berdiri, baju dan kerudungku sudah basah oleh peluh, fix setelah pulang ke rumah aku ingin segera berendam dan mandi lalu makan sepuasnya.


.


.


Langit sudah mulai meredup, pertanda hari sudah memasuki waktu senja, gawat saja kalau sampai lewat malam, aku dan Rayyan masih berada di kebun, aku melirik jam di pergelangan tanganku, sudah pukul setengah enam sore. Ditambah Rayyan yang sering mengeluh dan merengek. Semakin membuatku tak tenang.


Kresekkk...


kresekkk...


Langkah kaki ku dan Rayyan terhenti mendengar suara berisik dedaunan yang terinjak dan bergerak gerak.


"Tante itu apa ??" tanya Rayyan.


deg...


deg...


deg...


"Tante juga ga tau Rayyan, tapi hari udah mulai sore sebaiknya kita tidak boleh berhenti !" jawabku setengah berbisik.


Kresekk...


Kresekkk..


"Tante liat itu !!!" Rayyan menarik narik tanganku yang saling bergenggaman dengan tangannya.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2