Love Me Please , Uncle Camat

Love Me Please , Uncle Camat
Mencintaimu karena Allah


__ADS_3

Salwa bergerak resah kesana kesini, duduk salah, berdiri pun salah.


"Sal ?! loe kenapa ?!" tanya Windu. Iya Windu, setelah mengalami beberapa kejadian ke belakang dan magfirah dari Allah, Windu dan Salwa akhirnya berteman. Keduanya sedang berada di luar antara ruang senat dan kantin, Salwa menemani Windu menunggu Zidan, sekalian Salwa yang ingin pergi ke kantin, kebetulan kantin memang berada di samping ruang senat.


"Loe ga apa apa Sal ?" tanya Alisha. Keringat sebesar butiran biji jagung mengintip dan langsung lolos dari jilbab warna mint Salwa.


"Perut gue sakit Sha, ka Windu..tapi ga apa apa, udah ilang lagi ko." Salwa yang awalnya meringis kini kembali biasa kembali.


"Bukannya masih 2 minggu lagi kan HPL nya?" tanya Alisha. Windu sudah menyerahkan sebotol air putih.


"Diminum dulu, " pinta Windu.


"Makasih, "


"Kayanya gue nunggu Zidan sendiri aja deh, atau loe mau kita anter Sal?!" tanya Windu.


"Gue masih bisa nyetir sendiri ko," jawab Salwa.


"Pak Zaky ga jemput ? ko loe dikasih nyetir mobil sendiri ?" tanya Alisha mengusap usap perut Salwa.


"Sal, ini perut loe tegang loh ! sumpah, pegang deh ka Windu !" Alisha terkejut mendapati perut Salwa yang kencang.


"Ah masa ?!" Windu menempelkan telapak tangannya di perut yang terlapisi dress dan cardigan.


"Eh, iya ini !" seru Windu.


"Abang ga tau gue bawa mobil, tadinya nyuruh supir buat anter, tapi gue..." Salwa nyengir.


"Ck, bumil bandel !" decak Alisha kesal.


Windu memaksa masuk ke dalam ruang senat.


"Zi, udahan kan ? katanya rapatnya besok ?!" Zidan yang sedang mengobrol bersama wakilnya menoleh.


"Kenapa emangnya ?" tanya Zidan.


"Ini kayanya aku mau anter Salwa pulang, dia kaya mau lahiran !" bisik Windu.


"Hah ?! lahiran ? ko bisa, bukannya kalo mau lahiran harusnya cuti ngampus dulu ?" Zidan segera keluar dari ruangan. Tidak bisa ia pungkiri rasa itu masih ada, meskipun kini hanya bisa ia realisasikan menjadi rasa sayangnya seorang teman.


"Sal ?! kamu bawa mobil sendiri?" tanya Zidan berjongkok di depan Salwa, uminya Al ini kembali merasakan rasa sakit di perutnya saat kulit perutnya kembali mengencang. Salwa mengangguk sambil meringis.


"Gue mau pulang aja deh kayanya, " ucap Salwa berusaha berdiri.


"Eh, bisa ngga ? kita anter Sal ?!" jawab Alisha.


"Bentar, gue nyari dulu tenaga buat jalan," jawab Salwa, Windu sudah mengambil lembaran tissue dari plastik dan mengusap menghapus peluh Salwa.


"Kita anter Sal, ga usah ngeyel.." dengus Zidan.


Ponsel Salwa berbunyi, nama om Za di sana.


"Assalamualaikum abang, " jawab Salwa.


"Adek dimana ? masih di kampus? kenapa pak Pandi disuruh jadi supir abi ? adek bawa mobil sendiri?" cerocos om Za dari sana khawatir.


"Satu satu dulu nanya nya, ini Salwa mules bang, " jawab Salwa, ia mulai berjalan ditemani teman temannya menuju parkiran.


"Hah?! tunggu disitu kalo gitu ! abang jemput sekarang !"


"Emangnya udah beres acaranya?" tanya Salwa ditengah kesusahannya berusaha berjalan dan bernafas.


"Udah, tunggu !! jangan kemana mana, " pesan om Za.

__ADS_1


"Gimana Sal kata pak Zaky ?" tanya Windu.


"Dia mau datang kesini buat jemput, gue disuruh tunggu, " jawab Salwa.


"Ya udah mending duduk aja disini," jawab Alisha.


Tanpa di duga, Salwa semakin merasakan sakit yang mendera dan lebih sering juga lama.


"Aduhh,,, sshhhhh!"


"Aduh aku bingung kalo gini, aku belum pernah ngadepin orang mau lahiran !" jawab Zidan ikut panik.


"Sama lah !" jawab Alisha.


"Gue tiba tiba ikut mules !" tambah Alisha.


"Tenangin aja Sal, tau cara ambil dan buang nafas biar tenang ?" tanya Windu, Salwa mengangguk.


"Mendingan cabut sekarang deh kayanya, biar aku bawa mobil ! ga tega aku liatnya !" ringis Zidan. Zidan meminta persetujuan Windu dan Alisha, keduanya mengangguk.


"Sha, telfon aja pak Zaky, kalo kita bawa Salwa ke RS, " pinta Zidan.


"Oke, "


"Sal, ke RS sekarang yu, takut telat kalo nunggu pak Zaky, biar kita hubungi pak Zaky. Masa loe mau lahiran di kampus, kan ga lucu, seorang Salwa lahiran di kampus, " seloroh Zidan berhasil membuat Salwa melayangkan pukulannya di bahu pemuda ini.


"Yu," Windu dan Zidan memapah Salwa menuju mobilnya.


"Motor kamu gimana Zi ?" tanya Windu.


"Biar ditinggal aja dulu, biar nanti kutitipkan sama penjaga kampus, " jawab Zidan.


Salwa tidak berteriak teriak seperti ibu lahiran pada umumnya, dibalik sifatnya yang manja dan bar bar, membuat teman temannya kagum padanya. Tak tau karena pengalamannya pernah melahirkan Al Fath.


Salwa dimasukkan di jok belakang bersama Windu dan Alisha. Sementara Zidan mengemudikan di depan.


Alisha tadi menelfon Zaky memberitahukan jika mereka membawa Salwa ke RS.


"Mir, saya duluan ! Salwa udah ngerasain mules katanya di kampus, " pamitnya membereskan barang barangnya.


"Oh Salwa udah mau lahiran Za? loh ko masih di kampus, dikirain udah dikasih cuti ?" ujar Mirza menyamakan langkah untuk mengantar atasannya ini ke pintu depan.


"Memang HPL nya masih 2 minggu lagi, dan minggu besok baru cuti, dulu waktu Al Fath juga begitu, meleset dan lebih cepat dari perkiraan," om Za masuk ke dalam mobilnya dan melesat menuju RS.


Om Za menghubungi ponsel Salwa,


"Iya bang, " suaranya sedikit lemah dan meringis.


"Adek sabar ya, apa kata dokter? abang baru saja pulang ambil perlengkapan dulu," ucapnya.


"Iya, barusan kata dokter baru pembukaan 4 bang, disini masih ada Windu, Alisha sama Zidan, " jawabnya pelan.


"Ya sudah, telfonnya abang tutup ya, abang sudah setengah jalan, assalamualaikum. "


"Sakit ya Sal ?!" Alisha ikut meringis melihat Salwa yang menahan rasa sakit dan mengusap usap punggung sampai pinggang Salwa atas saran dokter.


Windu dan Zidan pun ada disana. Zidan hanya bisa terkagum salut terutama pada perempuan, sebegitunya rasa sakit yang mendera, jika laki laki tak tau akan kuat atau tidak terkhusus dirinya.


"Aku cari makan dulu buat kamu sama Alisha ya, udah waktu makan siang !" Zidan pamit pada Windu.


Zidan sudah keluar, "Sal, jilbabnya mau dibuka dulu ? Ka Zidan sudah keluar ko, itu keringet kamu bikin basah jilbab, " tawar Alisha, Salwa mengangguk pasrah.


Rambut hitam legam, ikal diujung kini tak memunculkan mahkota keindahan secara sembarang, ia akan terburai indah hanya di depan Zaky suaminya. Salwa bersyukur, menikah dengan Zaky membuatnya belajar untuk dewasa, bijak meskipun Zaky tak pernah secara gamblang memintanya untuk berubah. Salwa berubah dan bermetamorfosis dengan sendirinya tanpa paksaan dari siapapun. Salwa yang manja, bar bar, kekanakan kini sudah menjadi ibu dari anak anak Zaky yang dapat menjaga kehormatan suami dimanapun dia berada.

__ADS_1


Zaky datang dan masuk ke ruang rawat, menemukan istrinya yang sedang berdiri menumpukkan siku di ranjang pasien dengan Alisha dan Windu yang mengusap usap pinggangnya.


"Dek, " masih dengan pakaian seragam safarinya, berikut lencana yang menggantung di sakunya, Pemerintah Provinsi Aceh, di bahu dan nama yang diukir di name tag bertuliskan Teuku Zaky Ananta, S.E. hitam beraksen tulisan gold terpasang di dada, menenteng tas perlengkapan melahirkan.


"Abang, " pelannya, ada seulas senyuman getir di wajah Salwa. Windu dan Alisha memberikan ruang untuk Zaky dan Salwa.


Zaky tanpa sungkan dan malu mendekap Salwa ke dalam rengkuhannya.


"Abang, Salwa pengen pipis !" pintanya. Tanpa ragu Zaky membawa istri kecilnya itu ke kamar mandi, terdengar dari dalam kamar mandi tertutup itu ucapan keduanya.


"Sini abang bantu buka celananya, pegangan ke pundak, "


"Diganti ya celana nya udah banyak le ndir merahnya, "


Peristiwa itu tidak luput dari mata dan telinga Alisha dan Windu, keduanya tak menyangka seorang berwibawa dan berkharisma seperti Zaky, tapi tak merasa jijik ataupun sungkan untuk mengurusi Salwa yang akan melahirkan.


Ini sih definisi cowok keren, batin mereka saling memandang.


Zaky terlihat cekatan menenangkan dan membuat Salwa nyaman, ia mendekap dan mengusap pinggang Salwa, membacakan shalawat untuk Salwa.


Ketiga anak muda ini sampai specchless dibuatnya.


"Gue pengen deh, kalo nikah sama laki laki modelan pak Zaky, " ucap Alisha terenyuh.


Tak lama setelah Salwa cukup tenang, Zaky menghampiri ketiga anak muda ini.


"Saya ucapkan banyak terimakasih," ucap Om Za tulus.


"Sama sama pak, om, eh bang.." mereka bingung memanggil Zaky.


Zaky hanya tertawa kecil, bahkan tawa kecil saja terasa renyah dan indah untuk kedua perempuan ini, astaga ! jangan sampai mereka tergila gila dengan suami sahabatnya itu. Zaky memang benar benar laki laki yang masuk dalam list suami idaman.


"Panggil saja abang, jangan sungkan."


"Sama sama bang, lagipula Salwa teman kami," jawab Windu, Zaky tersenyum mendengarnya, rasa tak sukanya pada Salwa kini berubah jadi rasa pertemanan.


"Kalau begitu, kami pamit dulu bang, semoga persalinan Salwa lancar. Kabari kami, " jawab Zidan, om Za mengangguk.


Tepat setelah magrib, akhirnya Salwa melahirkan bayi laki laki keduanya. Dengan berat 3100 gram dan panjang 50 cm.


"Jagoan kita yang kedua, dek !" ucap om Za setelah mengadzaninya.


"Alhamdulillah, " jawab Salwa dengan badan yang sudah lemas memandangi bayi yang di tempelkan di dadanya, bayi yang sedang berusaha mencari sumber kehidupannya.


"Abang kabari dulu umi, dan abi."


"Sekalian bawa Al Fath bang, Salwa udah kangen sama si sulung," jawabnya sudah hampir seharian ia tak bertemu dengan putra pertamanya. Putra kedua mereka semakin melengkapi keluarga Salwa dan Zaky, mereka pernah berjanji untuk saling belajar mengenal, menyayangi dan mencintai tanpa ada embel embel dengan syarat, tak ada tua ataupun muda, tak tau siapa yang mencintai satu sama lain lebih dulu. Yang jelas sekarang mereka sudah kembali belajar, belajar untuk mencapai jannahnya Allah bersama kedua anaknya kelak.


"Terimakasih dek, sudah menjadi ibu dari anak anak abang tua ini, " tawanya seraya mencium kening Salwa dengan satu tangan lainnya mengusap usap kulit halus yang masih sangatlah rapuh milik putra kedua mereka.


"Terimakasih abang sudah memilih Salwa, memperjuangkan Salwa dan meminta Salwa. Abang jangan pernah lelah untuk membimbing dan menyayangi Salwa, " dengan air mata yang sudah jatuh.


"Insyaallah, Salwa juga jangan pernah lelah untuk mencintai abang, "


"Karena Allah, " ucap keduanya.


.


.


.


.

__ADS_1


Ko sedih ya, tak tau kapan lagi mimin kasih bonchap guys, Salwa dan om Za sudah ada di penghujung jalan, jika ingin melihat kisah cinta beda usia yuu mampir di karya baru mimin lainnya, barangkali suka.



__ADS_2