Love Me Please , Uncle Camat

Love Me Please , Uncle Camat
Toxic hati dan pikiran


__ADS_3

Bismillah happy reading all.😘


.


.


.


.


Bukannya tertidur, tapi malah berguling guling tak nyaman, saat saat seperti ini aku membutuhkan belaian om Za, udah kaya jab*lai, jarang dibelai...


Tengah malam aku terbangun, memperhatikan wajah lelah Al, yang sesekali terusik karena rasa tak enak badan.


Yang menjadi tantanganku adalah menenangkan Al saat ia rewel. Al terbangun dan mulai rewel,. padahal besok tugas kuliah sudah menanti. Al menangis sampai sampai umi terbangun.


"Tok..tok..tok !"


"Umi boleh masuk ?!" tanya umi.


"Masuk aja umi, " aku sedang menggendong Al, mendekapnya penuh kasih sayang.


"Maaf ya mi, Al berisik ya?!" tanyaku meringis.


"Engga apa apa nak, umi sudah biasa, dulu..abang pun sama begini. Malah kalo abang hampir tiap beberapa bulan sekali, sakit !" jawab umi.


"Apa Salwa mau bergantian dengan umi? besok Salwa masih harus kuliah," lanjutnya mencoba membantu. Melihatku yang terlihat kacau, dengan lingkaran mata panda dan rambut yang tergulung dengan helaian rambut yang mencuat keluar, membuatnya kasihan.


"Salwa kacau banget ya, mi ! " tanyaku.


"Sudah seperti vampir perawan !" jawab umi menggoda.


"Ga apa apa mi, umi istirahat saja..nanti kalau Salwa sudah mengantuk, Salwa titip Al." Umi tersenyum mengangguk, ada raut bangga di wajahnya.


Al Fath sudah terlelap dalam dekapanku, tapi saat di baringkan dia akan menangis kembali, seakan yang ia butuhkan hanyalah dekapanku, akhirnya dengan posisi mendekap jagoanku, aku tertidur di kursi.


Umi mengguncang guncangkan bahuku.


"Sini biar umi yang gendong Al, "ucapnya.


"Salwa istirahat saja sekarang, berangkat ngampus butuh istirahat nak !" ucapnya.


"Makasih, mi. Kalo gitu Salwa mau meremin mata dulu sebentar! " jawabku, umi memang mertua terbaik. Aku memberikan Al dengan perlahan.


Aku segera menjatuhkan badanku ke ranjang, dan menikmati waktu yang sedikit untuk istirahat, sebelum kuliah.


Aku sedikit kelelahan, karena semalam begadang menjaga Al.


"Ngantuk ya Sal?!" tanya Afrian, melihatku beberapa kali ketiduran di mobil.


"Banget ! dulu waktu masih sekolah gue jagonya tidur Ian, " jawabku.


"Salut deh sama loe !" jawan Afrian.


"Semalam abang ada telfon?" tanya Afrian. Aku mengangguk, "ada."


"Rencananya, abang pulang besok kan Sal?!" tanya Afrian, mataku yang asalnya susah sekali untuk terbuka, mendadak segar dan cerah.


"Apa??! ko semalem abang ga ada bilang sama gue ?!" pekikku.

__ADS_1


"Kemaren sih waktu sebelum teleconference bilangnya gitu ! tapi mungkin karena belum pasti makanya abang ga bilang dulu sama loe!" jawab Afrian, apa apaan lelaki itu, ada rencana mau pulang tapi tak bilang, atau ia akan memberikan sebuah kejutan?


.


.


"Chat aja kalo dah pulang !" titah Afrian, saat mobil sudah masuk ke area kampus.


"Oke " jawabku seraya turun.


Beberapa pasang mata menatap meneliti ke arahku, ternyata memang jika gosip itu cepat tersebar layaknya virus.


"Pagi bu camat !" kekeh Alisha menyapa.


"Njirrr ! ga usah so so ramah deh sha, percuma juga. Loe tetep antri kalo mau bikin ktp !" jawabku. Alisha tergelak, dengan Alisha aku bisa menemukan sosok Acha, meskipun tak se bar bar Acha, dengannya aku bisa menjadi aku apa adanya, Alisha pun, ternyata pindahan dari Jakarta, ia ikut bersama ayahnya yang dipindah tugaskan disini.


"Gue ga nyangka, loh Sal...bar bar gini ternyata bu camat !" ia tertawa.


"Ga usah ketawa, kenapa?? belum nemu bu camat se cantik dan semuda gue?" tanyaku samnil berjalan di koridor kampus.


"Salah satunya ! tapi yang jelas ga ada bu camat se bar bar loe " kikiknya.


"Gue sempet tau sih rumor pak Zaky, tapi sampai sekarang gue ga tau yang mana orangnya secara langsung. Cuma lewat Ig doang !!" jelasnya lagi.


"Nanti loe bakal ketemu ko, soalnya bentar lagi dia mau balik, " jawabku.


"Loe kenapa Sal? kayanya cape banget? loe ga tidur apa sakit?" tanya Alisha, aku memutuskan duduk di dekat taman, ingin menghirup udara luar kelas dulu, sebelum dipusingkan dengan mata kuliah.


"Gue begadang sha, anak gue sakit ! " jawabku.


"Oh ya?? kasian, sekarang gimana?" tanya Lisha.


"Salwa bisa kita bicara sebentar ?!" tanya nya.


"Ngomong aja, " jawabku tak terlalu memperdulikannya.


" Bisa kita bicara 4 mata?!" tanya nya membuat Alisha tak nyaman dan ingin beranjak.


"Elah ribet amat sih, toh disini cuman ada Alisha ko..mau ngomong apa sih, so penting !" jawabku ngegas, tak tau apa..jika sekarang aku sedang dalam mode tak ingin diganggu. Jangan ganggu emak emak yang lagi mode lelah dengan dunia, kalau tak ingin dunia hancur.


"Sal, gue pergi dulu deh !" ucap Alisha beranjak.


"Ya udah buruan, saya sibuk !! abis ini saya mau tiduran bentar di kelas, " jawabku sarkas. Laki laki itu duduk di tempat Alisha, membuatku bergeser memberi jarak.


"Ga usah mepet mepet, bukan lagi di bus !" ucapku.


"Kamu ga serius dah nikah kan? masa depan kamu masih panjang ! " cerocosnya, aku mengangkat sebelah alisku.


"Kamu waras kan?" tanyaku.


"Apa urusannya sama kamu ??! mau saya sudah menikah ataupun belum, itu urusan pribadi saya ! lagipula saya tidak meminta uang resepsi pada orang lain, terutama kamu !! " aku berdiri, menatap tajam lelaki yang sudah berani beraninya menghardikku tanpa tau kebenarannya.


"Apalagi yang kamu nikahi pria berumur, apa semua ini kamu lakukan demi uang, seperti kebanyakan perempuan?" tanya nya tak sopan.


"Saya rasa, pertanyaan kamu tak perlu saya jawab ! karena tak ada hubungannya dengan kamu. Sebaiknya kamu berhenti urusi urusan saya ! urusi saja urusanmu sendiri, " jawabku ingin pergi.


"Dan ingat satu hal, saya tidak serendah yang kamu pikirkan, kalau pikiran kamu sama seperti orang lain, menganggap saya menikah karena uang, sebaiknya cuci otak kamu di laundry !!" aku pergi dengan segudang kekesalan. Kalau perlu..sudah ku siram dan kurendam kepalaku di dalam air es, saking panas dan berasapnya.


Bukannya mereda, masalah malah datang bertubi tubi. Orang orang sirik selalu ada dimana mana

__ADS_1


"Heh, sugar baby !! gue yakin, dia ngelakuin ini gara gara duit !" ini lagi mertuanya marimar, minta di gigit si bulgoso.


"Argghhh !!" aku memekik dalam hati, sudah puyeng karena kurang istirahat, ditambah di kampus harus menghadapi masyarakat dengan modelan jeng kelin tingkat dewa, selalu ingin tau dan mencampuri urusan orang, juga menjudge orang tanpa tau kebenarannya.


"Loe datengin gue cape cape, cuma mau nyinyirin gue apa gimana? " tanyaku sudah tak peduli kosa kata KBBI.


"Heh " ia mendengus merendahkan.


"Ternyata banyak banget ya, gadis dengan harga diri rendah, sampe rela dinikahin hanya karena harta, ga nyangka cewek bar bar yang menjunjung tinggi harga diri ternyata..." ia tak meneruskan kata katanya.


"Terus urusannya sama loe apa? toh gue nikah juga ga minta biaya resepsi sama loe kan?? gue juga ga ngerasa rugiin loe ! " jawabku, dimatanya mau aku membela diri dengan berbagai alibi pun tetap saja salah, karena pada dasarnya ia sudah tak suka padaku.


"Kalo loe dah nikah, jangan main serong di belakangnya, kasian gue sama pak Zaky, dapet istri modelan gini. Apa reaksi pak Zaky jika tau istrinya nyari yang seger di belakangnya ?!" tawanya meledek bersama temannya.


"Percuma juga, gue ngomong sama otak udang kaya loe ! bikin emosi jiwa ! lagipula cowoknya aja yang gilaaa, ngejar ngejar gue yang udah tau gue dah nikah ! gue juga kasian sama loe, kalah sama emak emak kaya gue !" jawabku, jika hanya disebut sebagai sugar baby ataupun istri istri kegenitan sudah biasa untukku.


Ia mengepalkan tangannya, "dasar wanita murahan , " gumamnya. Emosiku memuncak, saat ia bicara begitu.


"Plak !!!" aku menampar pipi gadis di depanku.


"Jaga mulut loe ! dan gue rasa mulut dan sikap loe lebih murahan dari gue ! sebelum menghakimi orang, ngaca dulu, punya kaca kan ?! atau perlu gue beliin?" Ia hendak membalas, tapi aku menangkap tangannya dan memelintir ke belakang.


"Aaaa...sakit !!" pekiknya.


"Ya Allah Salwa !!" Alisha berlari menghampiri mencoba melepaskan tangan Windu.


"Sal, udah Sal !!" ucapnya. Zidan yang belum jauh juga melihatnya dan berusaha melerai.


"Dasar perempuan ..." belum ia meneruskan aku kembali meraih jilbabnya dan menariknya.


"Jangan pernah berani menghina gue lagi !! kalo loe masih mau hidup tenang !" jawabku.


"Sal udah Sal...!" ucap Zidan. Tatapanku beralih pada Zidan.


"Nih tanya sama pujaan hati loe ini, apa pernah gue rayu rayu dia, kaya cewek kurang obat ! loe nya aja yang ga menarik..sampe sampe ga laku !!" sarkasku melepaskan jilbab Windu yang sudah kusut karena kutarik.


Aku menghempaskan pan*t@t di kursi, menghirup dan membuang nafas berkali kali. Ingin menjerit rasanya. Membuang ssgala toxic di dalam hati dan pikiran, apa perlu aku membeli sabun pembersih toilet, buat bersihin otak dan hati, biar bersih dan cling dari kuman dan bakteri.


"Minum dulu deh Sal," Alisha menyodorkan sebotol air mineral.


"Gue bekal ko sha!" aku meraih tumbler dan meneguk isinya, setidaknya bisa meredakan hatiku. Ku kira dengan ucapan si ibu kemarin, mereka bisa sadar diri, tapi ternyata hati orang syirik memang sudah kelabu, rasa cemburu dan syirik menutupi kewarasan mereka. Membuat mereka tak bisa berfikir bijak.


"Apa salahnya sih Sha ? toh gue juga ga jual diri gue sama abang ! murni karena saling sayang, emangnya kalo nikah beda usia selalu alasan menjual diri??!" kesalku, dadaku naik turun masih emosi.


"Engga Sal, loe ga salah ko. Mereka memang sudah melihatmu dengan mata cemburu dan suka.." jawab Alisha, aku menoleh mengernyitkan dahi.


"Loe ga liat apa, Zidan tuh suka sama loe Sal ?" tanya Alisha.


"Ga peduli gue !" jawabku acuh menggidikkan bahu.


"Hanya mereka yang kaya gitu sama loe Sal, yang lain engga ko..malah gue liat mereka segan sama loe, terutama sih sama pak Zaky !" jawab Lisha.


"Gue males ngurusin urusan orang Sha, gue ga peduli mau hidup mereka seancur apapun, asal mereka ga ngusik gue !"


.


.


..

__ADS_1


.


__ADS_2