Love Me Please , Uncle Camat

Love Me Please , Uncle Camat
Makasih sayang !


__ADS_3

Bismillah happy reading all😘


.


.


.


Jika ada do'a yang mujarab selain do'a ibu, do'a istri, do'a anak yatim dan hamba sahaya, maka aku akan melakukannya. Melihat wajah tenang Al yang tengah tertidur, semakin membuatku sesenggukan, mengingat wajah Al mirip om Za.


Aku turun meraih tas selempang, tak lupa memakai jilbab sesuai permintaan om Za, walaupun belum sepenuhnya, setidaknya saat di luar rumah, maka wajib untukku menutup semua bagian auratku. Menjaga kehormatan suami.


"Abi, umi..Salwa ga bisa cuma diem aja di rumah, sambil nunggu kabar dari om Mirza sama om Ramli ! Salwa mau ke bandara !" ucapku.


"Sebaiknya Salwa di rumah saja, temani Al Fath nak, " jawab abi.


"Tapi Salwa ga bisa diem aja, nunggu sesuatu yang ga pasti bi.." jawabku sudah berurai air mata. Aku yakin jika ini terjadi padaku atau Al Fath, maka om Za tak akan hanya duduk saja dan menyuruh bawahannya untuk mencariku. Sudah dipastikan laki laki itu akan turun tangan.


"Tunggu saja Zaky di rumah Sal.." jawab abi dan umi. Ini sudah hampir maghrib, tapi om Za belum juga pulang.


"Gimana kalo sesuatu terjadi sama abang..mi, abang dimana pun, Salwa ga tau ! Gimana kalo sesuatu terjadi sama abang, atau disana abang..." aku menjeda ucapanku,


"Disana abang kenapa, dek?" suara seseorang dari arah belakangku, suara yang memang ingin kudengar. Suara laki laki yang sudah membuatku menangis seharian ini.


"Assalamualaikum !" ucapnya. Aku berbalik, lalu berlari memeluk lelaki ini, benar harum om Za ku, benar senyaman dan sehangat om Za ku. Aku mendongak, melihat wajah teduhnya yang sedikit terlihat lelah. Tanganku terulur mencubit pipinya keras, hingga ia mengaduh.


"Astagfirullah, dek ! sakit !" jawabnya.


"Suami datang bukannya disuguhin minum, malah dicubit sama ditangisin," keluhnya. Aku memeluk lelaki yang sedang mengomel ini, Tak peduli jika disana ada orang lain selain kami berdua. Kuanggap dunia hanya milliku dsn om Za seotang, yang lain hanya penonton.


"Hmm, yang ditinggal...gimana kalo ditinggal ke Arab ?!" lirih om Mirza.


"Abang manusia kan?? abang bukan hantu kan ?" tanyaku memastikan.


"Apa selama tak ada abang kamu mabuk mabukan?" tanya nya. Om Mirza dan om Ramli ikut tertawa bersama Afrian, abi dan umi. Sedangkan aku?? sudah pasti cemberut, namun dibalik bibir cemberut ini ada rasa bahagia yang tak terkira, ternyata Allah masih sayang aku dan Al. Hingga ia masih membiarkan malaikat satu ini untuk tetap menjagaku dan Al.


"Apa abang akan ditahan di ambang pintu ? abang sudah hampir seharian di bandara, lelah dek." jawabnya.


"Ah iya ! Salwa ambilin minum !" jawabku segera ke dapur. Masih merasa tak percaya, aku sampai bingung apa yang akan kuambil.


"Alhamdulillah kamu pulang, sudah banyak pikiran negatif di otak umi, Za ! " umi menepuk nepuk bahu putranya.

__ADS_1


"Alhamdulillah umi, untung saja mesin pesawat rusak, saat pesawat dekat dengan bandara. Jadi, masih bisa melakukan pendaratan darurat, tapi harus menunggu pesawat berikutnya. Batre handphone lupa Za cas, apalagi pesawatnya delay."


"Temui dulu Salwa, dari pagi istrimu menangis, " ucap abi.


Om Za berdiri dari sofa, mendekatiku yang sedang membuat minum. Seperti kebiasaanya, laki laki ini selalu memelukku dari belakang.


"Abang rindu sama Salwa," ucapnya. Setetes air mata lolos dari mataku. Aku menaruh sendok yang kupakai untuk mengaduk kopi, dan berbalik.


"Pikiran Salwa sudah kemana mana bang, abang jangan tinggalin Salwa sama Al, " aku menangis di dada om Za. Ia mengusap kepalaku yang tertutup jilbab.


"Alhamdulillah adek berjilbab, abang tidak akan meninggalkan adek dan Al, do'a abang di pesawat hanya ingin bertemu kalian."


Ia mengecup lama keningku.


"Dimana jagoan abang sekarang? abang sangat rindu, sudah hampir sebulan tidak bertemu ! " tanya nya, menanyakan Al.


"Al diatas, masih tidur bang, "


"Abang ingin menemuinya, bagaimana sekarang kondisinya?" tanya om Za.


"Alhamdulillah sudah mendingan," jawabku, om Za beranjak menuju lantai atas.


Aku masuk dan melihat om Za sedang menciumi seluruh permukaan wajah Al.


"Kayanya sebulan ga ketemu, Al sudah berpaling ayah !" jawabku menyimpan gelas kopi di meja. Ia mengangkat alisnya sebelah.


"Iya lah, kemana mana Al bareng Afrian ! " jawabku menggodanya.


"Kalo begitu, mulai sekarang abang akan sibuk lagi merebut perhatian Al. Apa perhatian uminya Al juga berpaling?" tanya nya membiarkan Al kembali tidur dengan nyaman.


"Minum dulu, terus abang bersih bersih !" jawabku menyodorkan cangkir. Ia duduk di tepian ranjang dan meminumnya.


"Hati Salwa masih terkunci disini !" tunjukku pada dada om Za.


"Hmm, minta dimakan ini !" om Za menyimpan gelasnya dan memelukku posesif.


"Adek semakin menggemaskan saat berjilbab," jawabnya mengecupi seluruh inci wajahku hingga aku terkekeh.


"Kalo jilbabnya dibuka, ga cantik gemesin gitu?" tanyaku.


"Kalo jilbabnya dibuka, bukan cantik tapi se*xy, bikin gerah !"jawab om Za, aku kembali tertawa.

__ADS_1


"Tawa inilah yang selalu jadi obat rindu abang.. tidak terbayang jika tawa ini bukan lagi untuk abang, " ucapnya menyendu, mengingat kejadian tadi sudah membuat jiwa tangguhnya menciut, di hadapan Tuhan, sekuat apapun manusia..tak akan mampu mengubah takdir Tuhan. Ia sangat bersyukur masih diberi kesempatan untuk bisa melihat tawa ini.


"Abang tak tau setakut apa Salwa tadi, saat mendengar pesawat yang membawa abang ada masalah? Salwa udah kaya raga ga bernyawa ! makasih sudah kembali untuk Salwa dan Al, " jawabku.


"Mulai sekarang, Salwa ga mau lepasin abang, kemanapun abang pergi Salwa ikut, kalo bisa ke kamar mandi pun Salwa ikutin !!" ucapku mengeratkan pelukanku di tubuh tegap ini.


"Sudah, jangan menangis terus, matamu sudah seperti zombie ! terimakasih sudah menjadi little mom nya Al, ibu yang kuat dan tangguh, istri yang dapat diandalkan," ia mengecup kedua mataku.


Aku memberikan pakaian ganti dan handuk untuk om Za,


"Abang ke bawah dulu, masih ada Mirza dan Ramli," ijin om Za, aku mengangguk. Membuka jilbabku dan berbaring di samping Al. Menangis seharian membuatku lelah, dan ikut terlelap.


Saking lelapnya, bahkan Al yang terbangun tak terdengar oleh telingaku. Untung saja, om Za masuk ke kamar.


"Assalamualaikum, anaknya abi !" Al terbengong melihat sosok laki laki yang menurutnya tak asing, Om Za menggendongnya, sedetik kemudian Al tersenyum lebar dan bersemangat menggerak gerakkan badannya, sosok laki laki yang sangat ia kenal, yang sudah sebulan ini tak berjumpa. Jangankan aku, Al saja merindukan abinya. Sampai sakit, dan datangnya om Za menjadi booster obat untuk Al.


"Maaf abi tidak bersama Al sebulan terakhir ya nak, tapi sekarang abi disini sama Al sama umi." Ia membawa Al turun ke bawah bersama umi dan abi, sedangkan Afrian sedang melepas rindu dengan Acha via telfon.


"Salwa kemana Za?" tanya umi.


"Salwa ketiduran mi, mungkin kecapean," jawab om Za menggigiti jemari anaknya lembut.


"Biarkanlah, jangan dulu melepas rindu. Sudah 3 hari ia kurang istirahat, " jawab umi.


"Iya mi, "


"Sini Al sama ummah dulu !!" umi mengambil Al yang seakan enggan untuk berpisah dengan abinya.


"Sebentar ya nak, abi bangunkan dulu umi mu untuk shalat isya !" ucap om Za, seakan mengerti Al akhirnya mau, tapi mungkin setelah ini Al dan aku akan berebut om Za.


Om Za membuka pintu kamar, melihatku masih terlelap. Melihat wajahku yang kuyu dan kelelahan, membuatnya mengusap pipiku lembut.


"Makasih, sayang.."


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2