Love Me Please , Uncle Camat

Love Me Please , Uncle Camat
Salwa vs Rayyan part 1


__ADS_3

bismillah happy reading all 😘


.


.


.


.


.


.


Om Za meregangkan pelukannya, ia membungkuk dan mengecup perutku yang sudah mulai membentuk balon walaupun masih kecil.


"Bang kalo Salwa nanti badannya ngembang kaya abis direndem di air minyak, Salwa ga mau !!" jawabku, terlalu banyak membaca yang tidak perlu sebelum waktunya membuatku jadi parno.


Ia terkekeh dan menjiwir hidungku, " makanya jangan terlalu banyak membaca yang belum tentu itu terjadi, bikin kamu parno duluan," ucapnya.


"Pak, maaf ada tamu," ucap salah seorang asisten. Om Za menoleh dan mengangguk.


"Assalamualaikum, sepada !! everybody home!!" tamu tak tau sopan santun yang begini, tak lain dan tak bukan om Mirza dan ka Aisyah.


"Waalaikumsalam,"


"Ihh tamunya ga tau waktu!" keluhku.


"Nih, Sal..bela belain datang kesini buat temenin Salwa !" ucap om Mirza, sedangkan ka Aisyah tersenyum. Ka Aisyah pun mengakui jika suaminya ini memang unik.


"Langka loh Sal tamu kaya abang..!" jawab om Mirza duduk di sofa. Sedangkan aku duduk di tempat favoritku dimana lagi kalau bukan pangkuan om Za.


"Iya langka, langka banget istrinya diem suaminya malu maluin, mestinya om Mir dimasukkin museum!" jawabku. Ka Aisyah hanya tertawa mendengar kelakarku, begini kalau aku dan om Mirza bertemu untung saja pasangan kami masing masing tidak memiliki sifat yang sama.


"Dihh, Sal ! kaya ga ada sofa lagi aja. Tuh sofa masih luas kali, Sal !" decih om Mirza dikekehi ka Aisyah.


"Sirik tanda tak mampu !" jawabku nyaman nyaman saja dengan posisiku. Toh yang kududuki saja anteng dan kalem ko.


"Bukan masalah tidak mampu, mata abang sakit liat kalian pangku pangkuan gitu !!" jawabnya.


"Ka, Salwa tunjukkin kamarnya buat istirahat yu !" ajakku pada ka Aisyah.


"Boleh Sal, kaka ingin berganti pakaian," jawabnya.


"Pake lingerie ya sayang, tunjukkin tuh bocah biar bisa hot di depan suaminya!" kata om Mirza.


"Sayang !!" ka Aisyah membulatkan matanya.


"Dihhh !! om Mirza fulgar banget ngomongnya, apaan kaya begituan kaya pake jaring ikan, masuk angin om !!" pekikku ditertawai om Mirza sedangkan kaki om Za sudah menendang kaki om Mirza.


Setelah meninggalkan ka Aisyah di kamarnya untuk berganti pakaian, langkahku terhenti melihat Afrian sedang merokok sendirian di halaman belakang, sambil menatap nyalang ke arah taman sambil merasai angin malam. Aku mendekat,


"Lagi ngapain??" tanyaku membuatnya sontak menoleh ia segera mematikan api rokoknya.


"Gue ga lagi ngapa ngapain !" jawabnya.


"Meningan loe masuk, udara malem ga baik buat ibu hamil !" jawabnya, wajahnya tidak seperti biasanya kini terlihat tak ada raut ingin bercanda.

__ADS_1


"Lagi ada masalah? ga baik disimpen sendiri, jangan pelit jadi orang sampe masalah aja ga mau dibagi bagi !!" ucapku, malah duduk di samping Afrian.


"Gue suruh balik ke Jakarta ngurusin bisnis papah," tiba tiba ia berucap, tak kusangka Afrian adalah laki laki yang terbuka bisa langsung bercerita begitu saja.


"Terus apa masalahnya?" tanyaku.


"Bisnis bukan passion gue."


Pantas saja Afrian dibiarkan begitu saja oleh kedua orangtuanya untuk berada bersama om Za, selain Afrian yang merasa nyaman berada disini karena ia juga merasa dianggap seorang keluarga oleh umi, abi dan om Za. Ia pun memang sedang belajar bisnis dari om om camat gemes. Aku juga tak menyangka jika om Za adalah pengusaha, kukira ia hanya murni seorang camat. Sampai ku kira dulu jika hidupku akan susah bahkan mungkin untuk membeli kuota biar bisa nonton youkiub saja harus awal bulan nungguin gajihan om Za. Apalagi untuk nonton konser boyband Korea mungkin harus nabung bertahun tahun sampe jamuran, baru bisa berangkat.


"Udah coba obrolin baik baik sama ortu loe?" tanyaku.


"Percuma Sal, mereka ga kan ngerti," jawabnya.


"Coba deh ikhlas Ian, segalanya bakal terasa mudah buat loe kalo loe ikhlas, ga ada salahnya di coba buat jadi pebisnis tanpa harus menghilangkan passion hidup loe !" jawabku so bijak tak tau benar apa tidak, yang jelas setidaknya itulah yang akan kulakukan jika jadi Afrian, persis sepertiku dulu sewaktu tau dijodohkan dengan om Za.


"Apa dulu loe juga seperti gue, Sal? dilema?" tanyanya. Kini aku yang menatap nyalang ke depan flashback rasa rasa yang dulu pernah kurasakan, jika kujabarkan rasanya seperti ingin bunuh diri saja.


"Bahkan gue sempet kabur Ian," jawabku.


"Gue ga mau dijodohin, umur gue masih muda. Masih banyak cita cita dan keinginan gue. Planning gue terlalu indah untuk dihancurkan oleh sebuah perjodohan!" jawabku. Kini tatapanku beralih ke arah perutku.


Senyum kembali terlukis, "Tapi setelah gue pikir pikir lagi, memang inilah jalan takdir gue Ian, manusia hanya bisa berencana dan so..malah gue bersyukur, bang Zaky tidak seperti awal kelihatannya."


"Dulu tuh rasanya liat dia aja nyebelin pengen banget gue jorokin ke air terjun Niagara ! udah galak, kaya Hittler dikttor belum lagi ngejajahnya kaya Belanda plus sepaket muka datar dan dinginnya. Tapi sekarang pengennya nempel terus kaya prangko" kekehku.


"Tapi gue mencoba ikhlas dan belajar membuka hati karena Allah, apalagi sumber pahalanya gue adalah om Za , kalo kata abang itu apa sih ..." aku mengetuk ngetuk kepalaku.


"Uhibbuki Fillah !" suara tegas dari arah belakang kami membuatku dan Afrian serentak menegang.


"Eh.." serakku.


Aku segera berdiri dan menyambut tangan om Za " abang sejak kapan disitu?" cengirku.


"Sejak adek bilang pengen jorokin abang ke air terjun Niagara!" jawabnya, aku yang tercekat sedangkan Afrian terbahak melihatku yang mati kutu ketauan ghibahin suami sendiri.


"Itu kan dulu bang," aku menggelayuti lengannya manja, hanya tinggal menunggu bom meledak saja aku tinggal pasang bendera putih.


"Gue masuk duluan deh, Sal. Selamat muter otak buat rayu Hittler !" Afrian menepuk nepuk pundakku namun segera menarik lagi tangannya setelah om Za menatap tajam.


"Hoammmm !! masuk yu bang, Salwa sama om bayi juga ngantuk !" aku berbalik namun om Za dengan sekali hentakan menggendongku ala bridal style.


"Mau liat Belanda ngejajah lagi ga malam ini ?" tanyanya berbisik, aku tau itu bukan sesuatu yang baik. Jangan sampai nanti suara terkutuk dari mulutku dan om Za terdengar syahdu bagi penghuni rumah, memalukkan.


Sekitar pukul 8 pagi sebuah mobil masuk ke dalam pekarangan rumah bersama mobil om Ramli. Om Za dan om Mirza menyambut kedatangan sepasang suami istri beserta satu anak kecil laki laki sekitar usia 3 tahun.


Fix, ini adalah acara piknik dan holiday.


Aku ikut menyambut bersama ka Aisyah,


"Assalamualaikum !" ucap mereka.


"Waalaikumssalam, pak Jamal ! bagaimana perjalanannya ?" tanya om Za.


"Alhamdulillah, pak Zaky!"


"Mari masuk pak, bu..." ajaknya.

__ADS_1


"Kenalkan pak ini istri saya Miranda, dan ini anak saya Rayyan.." usia laki laki ini lebih tua dari om Za itu terlihat dari beberapa uban yang mencuat di helaian rambutnya sedangkan si istrinya satu usia dengan ka Aisyah. Si anak terlihat sangat aktif.


"Hay Rayyan, assalamualaikum...! tante mau kenalan dong sama anak ganteng boleh kan??" ucapku mencoba mengambil hati anak itu, walaupun sebenarnya aku tidak terlalu suka anak kecil karena menurutku mereka menyebalkan, usil dan sering membuat risih seperti adik adik sepupuku di Jakarta.


"Waalaikumsalam tante cantik, aku Rayyan..!" mataku membola disebut cantik. Sedangkan kedua orangtuanya memberikan peringatan pada anaknya. Om Za hanya tersenyum menggelengkan kepalanya.


"Kenalkan ini istri saya Salwa," jawab om Za. Aku mengatupkan tangan di dada sedangkan dengan bu Mira aku bersalaman.


"Wah ! terlihat masih muda ya pak!" om Zaky mengangguk.


"Apa ibu sedang mengandung?" tanya bu Miranda. Memang kentara sekali perbedaannya?? hingga ia dapat melihat.


"Alhamdulillah bu, minta do'anya saja semoga dilancarkan," jawab om Za lagi.


"Dan ini pasti pak Mirza , dan ini istrinya !" tunjuk pak Jamal.


Begitulah perkenalan singkat di meja tamu, sampai kami sarapan bersama.


"Mamih, Rayyan kebelet pipis !!" ucap si anak.


"Oh oke nak, sebentar..pah mamah antar Rayyan ke belakang dulu sebentar !" ucap bu Miranda.


"Biar diantar bibi saja untuk menunjukkan arah toliet, bu.." ucap om Mirza.


Tapi di tengah tengah pembicaraan Rayyan tiba tiba menarik baju ibunya "Rayyan ga mau sama bibi, Rayyan mau diantar sama tante cantik !!" ucapnya


"Rayyan, tidak boleh seperti itu nak!" jawab bu Miranda sontak saja semuanya jadi terdiam dan memusatkan perhatian pada anak itu.


"Rayyan tidak boleh seperti itu" ucap pak Jamal.


Hah !!! gue ??? ga salah?? masa iya gue nganter anak bujang orang ke toilet buat pipis, tuh anak kecil kecil dah tau aja mana yang cantik. Turun derajat ini namanya dari sekelas om Za kini bocil.


Aku menghela nafas, sepertinya dua hari kedepan kesabaranku akan diuji.


"Hah? saya ? Rayyan mau dianter tante?" tanyaku sambil melihat om Za seraya meringis.


Anak itu mengangguk, apa yang membuat anak itu berfikir jika aku adalah ibu peri jelas jelas aku adalah ibu tiri Cinderrella.


Mau tidak mau aku akhirnya mengantar anak itu ke toilet, "Ayo deh let's go..!!" aku mengajak Rayyan mengarah ke kamar mandi.


Ia menggandeng tanganku "Awww..." pekikku tak sengaja kakiku terinjak oleh Rayyan, helaan nafasku yang pertama.


"Maaf, tante Rayyan ga sengaja !" ucapnya nyengir.


Pintu kamar mandi sudah terbuka. Aku membiarkan Rayyan menyelesaikan hajatnya. Tapi tanpa diduga ia malah menarik narik bajuku.


" Kenapa Yan?" tanyaku.


"Tante, Rayyan boleh minta tante masuk ga?? Rayyan takut !!" ucapnya.


" What??!!!!"


Kira kira kunciin anak orang di kamar mandi dosa tidak ya?


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2