
Bismillah happy reading all π
.
.
.
.
.
.
.
.
Hofff...hofff...
Berulang kali, aku meniup atas kerudungku menguarkan angin segar pada keningku yang mulai berkeringat. Menunggu adalah sesuatu yang menyebalkan. Hampir 30 menit aku menunggu om Mirza di sini, di depan masjid besar Baitturahman tanpa om Za.
"Sal, sudah lama?" tanya om Mirza tiba tiba saja sudah ada di depanku.
"Huuu ! ga liat apa Salwa udah ijo dilumutin, lama banget udah kaya nunggu anak raja aja!" dumelku.
"Sekali kali ngerjain bu camat ga apa apa kali, Sal?"kekehnya.
"Menyebalkan, mau balas dendam ceritanya nih??!" wajahku yang sudah seperti bapau baru keluar dari dalam dandang.
"Cari tempat makan om, Salwa aus, laper !!" sebelumnya aku sudah meminta ijin pada om Za, dan bila sudah mau pulang ia akan menjemputku.
Setelah menemukan sebuah kedai makan, aku dan om Mirza memesan makanan.
"Bayar masing masing !!" ucapku.
"Ihh aturan orang yang ngajak yang bayarin !" jawabnya. Selain usil om Mirza juga mr. gratisan.
"Salwa kan cuma pelajar, uang saku Salwa ga sebanyak gaji om Mirza ! yang ada om Mirza yang traktir Salwa," om Mirza masih ingat kan kalau aku Salwa gadis pandai mendebat.
"Tapi uang sakumu pastinya lebih besar dari uang gaji pns ku, Sal !" jawabnya lagi.
"Gaji pns om emang kecil tapi gaji sebagai asisten abang pasti besar ," senyum lebarku terbit mau sampai ujung manapun om Mirza tidak akan menang melawanku, karena aku tau berapa nominal gaji om Mirza setiap bulannya.
"Cihh, gadis ini ...!" decihnya.
"Bukan gadis ini tapi bu bos !!" ralatku membuat om Mirza semakin keki.
"Jadi kita kesini mau ngomongin gaji atau mau ngomongin Susan?" tanyaku.
"Oke, makanya kalo nguping tuh sampe selesai jangan setengah setengah jadinya salah paham !" ucap om Mirza sambil menyuapkan makanan yang dipesannya.
"Makanya punya mulut jangan ember, jadinya orang tuh kepo !" kembali kami berdebat masalah yang tak penting. Belum juga aku menelfon minta di jemput, pria dengan segudang cintanya sudah datang dan masuk ke kedai tempatku dan om Mirza berada.
"Loh ! ko abang kesini ? kan Salwa belum minta dijemput?" tanyaku keheranan, om Za duduk di kursi sampingku.
"Kangen om bayi, ga boleh?" baliknya bertanya. Senyuman tersungging dari mulut om Mirza.
"Bilang saja takut gue bilang macem macem sama Salwa !" sela om Mirza.
"Lanjut, cerita aja !!" ucapku tanpa memperdulikan om Za yang kini tengah duduk di sampingku ikut menyimak.
Selanjutnya, om Mirza menceritakan semuanya. Jika Susan adalah teman kampus mereka sewaktu di Jakarta, ia menyukai om Zaky bahkan sampai mengaku ngaku menjadi kekasih om Za di kampus, tiada hari tanpa menempelinya. Layaknya tante Cut yang sering bersama on Za, Susan dengan sejuta alasan dan triknya agar bisa selalu bersama om Za.
Mataku memicing ke samping menatap wajah datar dan kalem suami dinginku ini, apakah tidak ada ekspresi lain di hidupnya.
"Sekarang apa adek percaya ?" tanyanya menghadapku. Kini seperti aku yang sedang ditodong oleh keduanya.
"Oke Salwa percaya sama abang, jangan pernah rahasiakan apapun lagi dari Salwa !" jawabku.
__ADS_1
.
.
Hari hari berlalu begitu cepat menurutku, sampai tak terasa lingkar perutku semakin hari semakin membesar, untung saja seragamku tertutup dan muslimah ditambah sebentar lagi aku akan lulus dari sekolah.
Aku mematung di depan cermin, terhitung sudah memasuki bulan keempat kehamilanku UAS pun sudah di depan mata.
"Apa adek sudah tidak mual mual lagi?" tanya om Za.
"Engga bang," jawabku menggeleng sambil mematut badan di depan cermin.
"Temen temen pasti curiga," ucapku melihat bentukan perutku yang mulai membuncit.
"Insyaallah tidak terlalu kelihatan, jawab saja lagi masuk angin!" lirih om Za.
"Masa iya masuk angin kaya orang ga buang air lebih dari seminggu !" omelku.
"Adek makin sexy," jawabnya membuatku mengernyit lalu menyipitkan mata memang jika dilihat lagi bentukan beberapa aset wanita milikku bertambah volumenya membuatku semakin yahud saja menjadi wanita seutuhnya selain karena hormon kehamilanku ini tidak lain tidak bukan ulah om Za juga.
.
.
"Salwa sama om bayi masuk dulu," aku meraih punggung tangannya dan mengecupnya.
"Nanti abang jemput ya sayang," ucapnya.
Ih..ih...apa itu ko muka gue langsung anget sih?? padahal sering om Za mengatakan kata sayang tapi masih saja aku merasakan blushing.
"Iya bang, Salwa masuk dulu. Assalamualaikum!"
.
.
"Ga tau lah Nur, mungkin aku bakal rehat dulu untuk tahun ini, entah semester depannya aku baru masuk !" jawabku menatap nyalang ke depan ke arah teman temanku yang sedang sibuk menikmati waktu istirahat.
"Loh ko gitu?" tanya Nur, tapi detik selanjutnya Nur mulai menyadari perubahan dari tubuhku. Ia segera menutup mulutnya yang menganga.
"Tunggu Sal, apa jangan jangan kamu.....??" ia memetakan tangannya seperti orang hamil di depan perutnya. Aku mengangguk sambil nyengir.
" Kyaaaaaa!!!" pekiknya saking senangnya namun sesaat ia menutup mulutnya sadar akan mengundang perhatian siswa lainnya.
"Selamat Salwa !!" ia memelukku erat.
"Aku bakal jadi aunty dong!!" lirihnya semangat.
"Tapi please be quiet ya!" jawabku berbisik.
"Apanya yang be quiet??" tanya Uni mengejutkan kami berdua dari belakang.
"Uni, astagfirullahaladzim!!" seru kami sambil mengelus dada.
"Jadi mau maen rahasia rahasiaan nih??" tanyanya bersidekap dada.
Aku mengangguk yakin jika Uni dan Nur bisa kupercaya. Setelah mendapatkan anggukan dariku Nur berbisik pada Uni, ekspresi dan respon yang sama ditunjukkan dari Uni.
"Ya allah Sal, selamat ya...tapi berarti nanti kita ga bisa satu kampus bareng dong," sendunya.
"Aku mungkin nyusul semester depan," jawabku, bukan aku tak mau masuk berbarengan dengan mereka, hanya saja ijin dari om Za yang tak kukantongi. Ia tidak mau ambil resiko aku yang tengah mengandung harus berkuliah.
"Panggil aku aunty Uni!!" seru Uni membuat kami tergelak.
"Kalo kalian ada waktu main main lah ke rumah !" ucapku lirih, jujur di rumah hanya ada umi dan bu Inah saja di kota ini juga aku tak memiliki teman selain mereka, om Za sendiri adalah anak tunggal.
.
.
__ADS_1
Laki laki ....
Itu ucapan dokter saat usg, gender anak kami diperkirakan pejantan tangguh. Firasat seorang ibu memang tidak pernah salah, ungkapan itu mungkin cocok untuk calon ibu muda yang sedang melakukan pemeriksaan kehamilan bersama suaminya dan itulah aku. Nama sapaan om bayi memanglah tepat untuk calon anakku.
"Dek, sepertinya untuk 2 hari ke depan kita pulang ke rumah perkebunan dulu," ucap om Za sepulang dari dokter.
"Kenapa?" tidak bisa langsung mengiyakan, aku selalu saja ingin tau alasannya apa. Ciri ciri orang dengan IQ diatas rata rata, entah aku nya yang kelewat kepoan.
"Abang akan kedatangan partner bisnis dari Jakarta, tender besar dek !" jawabnya, tangannya tak lepas dari kemudi stir. Sebuah tender dari satu brand ternama sampai sampai pak Ryan saja menculikku demi mendapatkan tender ini.
"Oke, jadi Salwa ikut?" tanyaku.
"Alangkah baiknya adek ikut saja karena beliau pun membawa istrinya, rencananya mereka akan menginap untuk satu malam."
"Tenang saja, abang akan meminta Aisyah ikut menemani karena Mirza juga ada," heran saja keperluan pekerjaan tapi membawa keluarga lebih pantas disebut acara piknik, menurutku.
Mobil sampai ke rumah perkebunan, asisten rumah tangga disana sudah menyiapkan segala kebutuhan, termasuk beberapa kamar untuk di tempati tamu.
Afrian terlihat sudah bugar kembali, ia keluar dengan hanya memakai pakaian casual.
"Bang, kenapa Afrian ada disini?" tanyaku.
"Rian membantu abang mengurus perkebunan juga, biarkan dia belajar bisnis nantinya dia akan memegang perusahaan Om dan tante di Jakarta."
"Hay Sal !" sapanya dengan senyuman yang tulus dan sengaja dibuatnya untuk menyambutku.
"Assalamualaikum, islam bukan sih?" sarkasku. Belum apa apa Afrian sudah kubuat mati kutu, begitupun om Za yang mengulum bibirnya menahan tawanya yang siap siap meledak. Setaunya adik sepupunya ini tak pernah membiarkan siapapun membuatnya malu seperti ini atau memarahinya.
"Tuh istri abang, tuh ! pedes banget mulutnya !" manyun Afrian menunjukku yang sudah nyelonong masuk karena sudsh tak kuat ingin ke toilet.
"Istri abang yang bikin kamu susah move on sampai sekarang kan?" pertanyaan itu lolos dari mulut om Za. Om Za bukanlah cenayang namun ia bisa tau dari tatapan dan sikap Afrian sampai saat ini, karena ia pun laki laki.
"Tidak usah dibahas bang, gue sedang berusaha melupakan Salwa. Atau justru abang ingin gue merebutnya?" kelakarnya menyenggol lengan om Za.
"Coba saja jika kamu memang ingin cari mati !" ucapnya berlalu masuk ke dalam rumah, memang tidak akan ada yang mengalahkan dinginnya sikap om Za, es batu saja minder.
"Yang satunya dingin nyeremin yang satunya galak plus jutek, pedes pula !" gumamnya sambil ikut masuk. Sungguh nasib, disatukan dengan pasangan aneh.
Rumah yang berada di atas perkebunan kopi yang snagat luas, di dekat rumah ada sebuah bangunan untuk kantor, di tengah tengah perkebunan, bangunan semi permanen untuk menyimpan kopi layaknya gudang. Untuk seterusnya kopi kopi itu akan dikirim ke pabrik pabrik kopi yang tersebar di seluruh penjuru Aceh dan nusantara.
Rumah ini tidak ada lantai dua namun cukup luas dan asri, aku senang diani terutama halaman belakangnya karena teranya langsung berhadapan dengan taman kecil ditambah ayunan ayunan dan kursi taman kecil cocok sekali untuk anak anak.Instagramable plus bikin relax. Cocoklah untuk disewakan jika ada sebuah project film atau sekedar untuk adegan india indiaan sambil nyanyi nyanyi.
"Greuuppp "
Sepasang tangan kekar memelukku dan mengelus perutku lembut, aku sendiri sudah langsung refleks menyandarkan kepalaku di dadanya.
"Bang, Salwa seneng deh disini adem !!" lembayung yang terlukis di langit menandakan jika matahari sudah mulai kembali ke peraduannya.
"Dimanapun abang akan senang selama ada kamu bersama abang," ucapnya.
"Bang, Salwa takut!" lirihku tiba tiba rasa takut menyergapku.
"Apa yang adek takutkan?" tanya nya memutar badanku.
"Salwa sering searching melahirkan di usia muda itu beresiko tinggi, kalo nanti Salwa tidak selamat...." ucapku terpotong.
"Yakinlah Allah bersama kita, abang akan selalu ada di sampingmu, kita berjuang bersama. Jangan memikirkan hal yang tidak tidak !!" matanya menatap penuh keyakinan seakan menyalurkan kekuatan lalu memelukku. Ada yang berbeda kali ini dalam pelukan kami.
"Bang !!"
"Hemmm??"
" Perutnya ganjel !!"
.
.
.
__ADS_1