
Bismillah happy reading all π
.
.
.
Rupanya pamorku sebagai istri camat, belum cukup terkenal. Buktinya tidak semua orang tau, bahwa aku sudah menikah. Termasuk para senior yang kurang akhlak itu.
Afrian sudah menungguku di parkiran,
"Sal, sudah dijemput ?!" tanya Alisha.
"Iya, tuh jemputan gue !" tunjukku ke arah mobil hitam, dengan Afrian si cowok keren versi gadis gadis di luar sana, yang baru saja keluar dari dalamnya.
"Oh oke, sampe besok ya !" pamit Lisha.
"Oke sha !" Malas sebenarnya, mengikuti kegiatan berkedok pengenalan lingkungan kampus namun faktanya hanya sebagai ajang perploncoan para senior pada juniornya, ingin rasanya aku meminta om Za melakukan pendekatannya sekali lagi pada Dekan agar bagian kegiatan ini di skip saja khusus untukku.
"Pulang sekarang?" tanya Afrian, pertanyaan yang membutuhkan jawaban, tak mungkin jika jawabannya tidak, mungkin saat ini juga om Za akan memesan tiket penerbangan ke Aceh hanya untuk menyeretku pulang. Wah ! sepertinya itu ide cemerlang dan patut kucoba, jika rasa rindu ini sudah tak tertolong lagi.
Tiba tiba Afrian menghentikan mobilnya, "wah, kayanya ban belakang kempes Sal !" ucapnya.
"Hah?!" ucapan Afrian membuyarkan lamunanku tentang om Za. Afrian keluar untuk mengecek, dan benar saja, terlihat ia mendengus kesal seraya menendang ban yang terlihat kempes. Cara menyalurkan amarah dan kesal yang berlebihan.
"Percuma ! mau loe tendang sampe Afrika juga tuh ban ga akan balik lagi bagus !" jawabku, melongokkan kepala ke luar jendela.
Baru hari pertama kuliah, sudah ada ada saja kejadiannya. "Gue cari dulu tempat tambal ban !" ujarnya. Aku mengangguk dan lebih memilih diam di dalam mobil seraya mata yang tak lepas menatap layar ponselku.
Afrian kembali, dan melajukan mobilnya dengan kepayahan sedikit demi sedikit, "ck bantuin napa Sal ! " pintanya. Yang benar saja, wanita kalem dengan pakaian panjang disuruh dorong dorong mobil yang beratnya berkali kali lipat. Muke gile !
"Besok besok cek dulu ! biar ga kaya gini lagi !" cebikku turun dari mobil, mana ada sejarahnya Salwa Zahratunissa mendorong mobil di tengah hari bolong begini, jika om Za tau, istri kesayangannya disuruh mendorong mobil begini, mungkin Afrian bukan lagi dipukul atau ditampolnya, namun om Za akan membuat Afrian menelan golok panas, layaknya debus.
"Dimana?? masih jauh ga sih? kapok gue ! mending sama om Mirza, ga ada ceritanya cewek cantik kaya gue disuruh dorong mobil !" omelanku mungkin menjadi musik kroncong untuk Afrian, ia tak terlalu menganggap, ia sudah terbiasa mendapatkan siraman rohani dariku, hanya perlu memasang telinga berkulit tebal seperti kulit badak. Maka aku akan berhenti dengan sendirinya, karena lelah.
Sebuah motor berhenti di dekat letak mobil yang sedang kudorong. Ia lalu turun, ikut membantu mendorong mobil.
"Saya bantu dorong, " ucapnya. Aku menaikkan alisku sebelah.
"Ga usah makasih !" jawabku lanjut mendorong walaupun kepayahan
"Ini bukan pekerjaan perempuan," tambahnya lagi memaksa. Ia kekeh membanguku mendorong mobil sampai ke tempat tambal ban.
"Eh, loe yang bantuin gue?" tanya Afrian, melihat ada orang lain di belakang mobil bersamaku.
"Iya !" jawab lelaki ini. Matanya tak lepas melihatku, minta di granat om Za, sedangkan aku sudah mengalihkan pandangan sejak tadi. Bukan aku tak tau malu dan tak tau terimakasih, hanya saja aku tak ingin memberikan celah untuk lelaki manapun dekat dekat denganku. Yang ada nene lampir itu mengira aku adalah orang ketiga, drama queen be basi, merasa terdzolimi, seperti sinetron karma akan terjadi setelah ini. Ditambah nanti, si pengawal ini ngadu macam macam, ujung ujungnya aku yang diinterogasi dan kena amukan sang penguasa alam raya.
"Thanks bro !" lirih Afrian.
"Sama sama," jawab Zidan.
" Thanks ! Udah kan, mending loe pergi deh ! " jawabku, salah bila ia mengharap kata terimakasih sepaket dengan senyuman manis dariku, biarlah ia menganggapku gadis kurang aj*@r. Biar dia pergi dari hidupku.
__ADS_1
"Eh, loe kenal Sal?" tanya Afrian.
"Saya senior Salwa di kampus," jawabnya.
"Bangga !" gumamku kecut.
Bukannya pergi dan marah, ia malah terkekeh.
"Bentar Sal, gue ngomong dulu sama montirnya !" ijin Afrian.
"Nih, " ia menyodorkan sebotol air mineral dingin, tenggorokanku memang haus, di tengah hari yang panasnya membakar kulit ditambah dorong mobil, memang enaknya tenggorokan disiram pake air dingin.
"Ga, makasih. Mending buat loe aja ! loe kan yang dorong mobil lebih jauh !" jawabku menolak mentah mentah.
"Saya tau kamu haus ! " ia menyimpan botol air mineral di dekatku, mendekati gadis dengan tipe tipe sibga betina macamku, memang tak mudah pikirnya. Masih tak ingin pergi juga, apa maunya lelaki ini.
"Loe ngapain masih disini? mau nambal ban juga, atau nambal mata loe yang dari tadi liatin gue?!" tanyaku risih dipandangnya.
"Untuk ukuran gadis yang abis ditolongin, loe cukup tak tau terimakasih, loe juga gadis terjutek yang pernah gue kenal," jawabnya, aku mengernyitkan dahi, sudah tau aku semenyebalkan ini, masih tetap datang dan menggangguku.
"Terimakasih pujiannya, terus maunya loe gimana? gue kasih penghargaan? ucapan makasih udah kan?" jawabku. Aku memang tipe gadis yang tak bisa bermanis manis manja di depan orang lain, Afrian yang tadinya sedang berbicara dengan montir melihatku masih dengan Zidan.
"Sorry, kirain dah pergi ?!" tanya Afrian.
"Oh, atau ini !" Afrian merogoh dompet hendak memberikan uang pada Zidan, tapi Zidan menolak dan memilih memakai helmnya lagi.
"Gue kira dia nungguin duit, Sal !" ucap Afrian, aku menatap lelaki itu tajam. Dari awal masuk saja lelaki ini sudah menyebalkan. Awal masuk sudah membentakku di kampus, dan sekarang apa?? so so an jadi pahlawan kesiangan.
"Kalo besok kaya gini lagi, gue ga mau dianter jemput loe ! ck, nyusahin !" decakku duduk.
"Sorry, mana gue tau ni ban bakalan bocor !" kekeh Afrian.
"Buruan !!! Al Fath udah nungguin, kasian udah masuk waktu makan siang !" ucapku.
"Iya ahh, ibu ibu galak amat !" jawabnya.
.
.
"Assalamualaikum !!" seruku,
"Waalaikumsalam !!"
Ternyata jagoan om Za dan aku tengah di atas bouncernya dengan umi yang mengajaknya bermain.
"Assalamualaikum jagoannya umi sama abi !! maaf telat ya, "
"Iya, kenapa sore?" tanya umi.
"Ban mobil bocor umi !" jawab Afrian berlalu menuju kamarnya.
"Bersih bersih dahulu nak, sebelum memegang Al Fath, lalu makan dulu !" pinta umi, aku mengiyakan.
__ADS_1
Om Za memang ada menelfonku, tapi obrolannya tak pernah sampai 10 menit, hanya sekedar menanyakan kabar, makan dan Al Fath, tidak seperti pasangan lainnya yang sampai berjam jam, hingga kuping panas dan tebal. Tak taukah ia, gadis manis ini sedang dilanda rindu.
.
.
Pagi ini Afrian telat bangun, alhasil aku sampai kesiangan. Melihat mahasiswa baru lainnya sudah digiring jalan layaknya bebek menuju lapang, membuatku bergidik. Apa apaan !
"Hey kamu !!!" bentaknya, aku menoleh, lelaki ini lagi, si laki laki menyebalkan yang kemarin.
"Sudah datang terlambat tak tau diri pula ! yang lain saja tak terlambat, jalan sambil berjongkok !" ucapnya, kemana sikap so manisnya yang kemarin?? apa dia memiliki kepribadian ganda?
"Iya elah, ribet !" jawabku mengomel. Ia malah menyunggingkan senyuman.
"Mau ngapain kamu?" tanya nya lagi, aku menghela nafas seperti dipermainkan.
"Tadi katanya suruh jalan bebek ! sekarang dilakuin malah nanya mau ngapain !" jawabku.
"Kamu lari dulu keliling lapangan 6 keliling !! itu hukuman karena kamu terlambat, baru setelah itu kamu jalan bebek berkumpul dengan yang lainnya !" titahnya.
"Astaga ! cuma telat 3 menit doang, masa iya 6 keliling lapangan yang luasnya kaya lapangan bola !!" jawabku tak terima.
"3 menit tetep aja telat ! Kamu mau lakuin atau saya tahan disini tak boleh masuk ke kampus ?!" tanya nya.
"Udah salah ngeyel lagi, perbaiki tata krama mu sebagai seorang junior !" tambahnya angkuh.
Aku mencebik kesal, dengan pakaian begini, sedikit membuatku kesulitan, "udah bawaan orok !" seraya melewatinya. 6 keliling, bukan masalah buatku, ingat akulah si istri magic om Za, hukuman makananku sehari hari sejak di SMA.
"Hmm, menarik !" gumamnya.
.
.
Peluh lumayan deras membanjiri jilbabku, baru masuk saja sambutannya sudah dengan hukuman. Well ! inilah hidup Salwa Zahratunisaa.
Aku duduk melantai di samping Alisha. Rasa rasanya lututku hampir copot, tapi tak apa ku anggap ini olahraga pagi, latihan rutin buat dapetin bentuk badan hot mommy.
"Darimana aja Sal?" tanya Alisha.
"Abis dangdutan ! dihukumlah, kesiangan gue !" jawabku.
Aku mengeluarkan tumblerku dan meneguk airnya untuk membasahi tenggorokanku yang kering.
Kali ini tugas absurd nan random yang dibebankan pada junior adalah mencatat semua identitas para anggota senat. Ck ! aku benci ini...apalagi jika harus berhadapan dengan dua orang menyebalkan yang sudah merusak hari hari indahku sebagai mahasiswa.
"Gue males lah sha ! apalagi kalo harus ketemu sama Cut Windu sama Zidan ! bawaannya pengen bakar aja nih kampus !" cebikku, Alisha tertawa.
"Sabar Sal ! bareng gue aja, loe diem nanti tinggal catet catet aja !" jawab Alisha. Aku mengekor di belakang Alisha. Baru berjalan menuju kumpulan senat saja, aura gelap sudah mengelilingiku.
Melihat di depanku saja, beberapa mahasiswa baru sudah banyak yang dianggap bahan candaan, yang kaya begini nih sistem kampus yang mesti disikat habis sampai akarnya.
.
__ADS_1
.
.