
Bismillah happy reading all π
.
.
.
.
.
Aku menyuruh Rayyan diam, telunjuk mungil itu menunjuk beberapa ekor luwak yang baru keluar untuk mencari makanan, ukurannya cukup besar membuatku dan Rayyan takut dibuatnya. Jika tidak sedang hamil dan membawa anak kecil mungkin aku sudah memakai jurus seribu langkahku lalu naik ke atas pohon, aku baru ingat jika kopi memang makanan luwak dan ini sudah sore hari. Luwak memanglah hewan nocturnal.
"Tante, apa hewan itu galak? apa namanya?" tanya Rayyan. Aku segera mengajak Rayyan bersembunyi, tidak mungkin kan kusebut itu emaknya tikus pada Rayyan, aku kurang tau hewan tersebut menyerang manusia atau tidak tapi setauku jika hewan merasa dirinya terancam maka dapat dipastikan kuku panjang dan gigi giginya siap mencakar dan menggigit ku dan Rayyan.
"Suttth ! Rayyan jangan berisik sebaiknya kita ngumpet dulu sampai dia benar benar pergi !" setelah lulus nanti aku akan memilih jurusan yang bersangkutan tentang perhewanan atau akan mengikuti kegiatan MAPALA agar nanti jika menghadapi hal semacam ini aku sudah tau juga berpengalaman.
Aku dan Rayyan segera berjongkok di antara pepohonan kopi. Memantau situasi apakah si luwak luwak itu sudah pergi atau belum. Pasalnya luwak itu lebih dari satu, seperti mereka sudah janjian untuk keluar bersama dalam mencari makan. Kenapa ga sekalian saja ke kantin, decihku dalam hati.
"Tante, Rayyan takut !" bisiknya bergumam. Jangankan dia, aku pun takut apalagi hari sudah makin gelap, aku tak memegang satu pun alat penerangan.
Di tengah tengah ketakutan dan pengharapanku terdengar sayup sayup teriakan beberapa orang memanggil namaku dan nama Rayyan.
"Tante, itu om Zaky !!!" seru Rayyan.Hanya saja aku bingung jarak ku dan orang orang yang mencariku terhalang luwak luwak itu. Ingin berteriak membalas tapi aku takut nantinya luwak luwak itu berbalik mengejarku.
"Om Za, Salwa disini !!!" batinku menjerit.
Sebuah ide terlintas di otakku, aku memungut beberapa batu dan mematahkan ranting yang tidak terlalu alot sebagai senjata ku .
"Rayyan, ambil beberapa buah kopi dan batu untuk membuat mereka pergi menjauh lalu Rayyan berlari sekencangnya menuju om Zaky !" pintaku.
Setidaknya Rayyan bisa berlari dahulu.
"Terus tante dan dede bayi bagaimana?" jawabnya dengan mata beningnya.
" Insyaallah tante akan baik baik saja tante menyusul di belakang," jawabku. Rayyan mengangguk. Kami berdiri lalu melemparkan beberapa buah kopi dan batu sebisa kami. Alhamdulillah para luwak itu sedikit menjauh memberi kami jalan.
"Rayyan lari ! go..!"dengan segera anak itu lari sambil berteriak.
"Om Zaky !!!!" pekiknya, om Za berbalik dan menoleh ke arah Rayyan. Sedangkan aku mengekor dari belakang sambil kupukul pukulkan ranting ke tanah sebagai bentuk pertahanan diri dari para luwak yang beberapanya sudah berlarian kabur.Lucu saja aku takut mereka, begitupun mereka yang takut manusia.
Kaki ku terlalu lelah untuk berlari. Sepertinya bagian jempolku mulai lecet.
Om Za segera berlari menuju Rayyan, lalu melihat semua inci tubuh Rayyan.
"Alhandulillah!!" lirih om Za.
"Rayyan tak apa apa om, sebaiknya om lihat tante Salwa sama dede bayi, kasian kecapean !" ucap bocah kecil itu kepayahan. Om Za mengacak rambut Rayyan
"Mir, bawa Rayyan," pinta om Za diiyakan om Mirza.
Senyumku mengembang dari kejauhan, sosok lelaki tegap dan kekar yang kurindukan, menyongsongku berlari.
"Dek," ia dengan tubuh besarnya membawaku ke pelukannya. Menciumi kepalaku yang sudah bau matahari dan peluh.
"Bang, Salwa bau lah !" jawabku yang sedikit sesak karena dekapannya. Ku kira hari ini aku akan bermalam di kebun kopi. Tapi ternyata Allah masih sayang padaku, tidak membiarkan makhluk cantik dan langka sepertiku digigiti nyamuk malam ini berteman angin malam.
"Adek tidak apa apa kan? apa ada yang terluka?" tanyanya merenggangkan pelukannya dan meneliti semua bagian tubuhku.
"Salwa ga apa apa bang, om bayi juga ga apa apa. Kita berdua cuma laper dan cape !" keluhku.
"Ya Allah, alhamdulillah...." ucapnya kembali menciumi pucuk kepalaku.
__ADS_1
Dengan sekali gerakan saja, om Za menggendongku ala bridal style, membuatku melingkarkan tanganku di lehernya.
"Bang, malu !!" cicitku,
"Masih punya malu ternyata?"kekehnya.
"Ihhh abang apa sih, kalo Salwa udah ga punya malu, mungkin sekarang Salwa telan*jang!" ucapku.
"Sal, alhamdulillah !!" ucap om Mirza, melihatku.
"Pak, sebaiknya kita kembali. Terimakasih sudah membantu kami," ucap om Za pada beberapa pegawainya yang membantu mencariku dan Rayyan.
.
.
.
"Rayyan !!" pekik bu Miranda sambil menangis tersedu sedu dan memeluk Rayyan seraya meneliti anak itu dari ujung rambut sampai ujung kaki. Ia sangat menyesal membiarkan kejadian ini sampai terjadi.
"Alhamdulillah, maafkan papih Rayyan," ucap pak Jamal.
"Pak Zaky, dik Salwa!!" lirih pak Jamal.
"Ya Allah, apa dik Salwa terluka?" tanya pak Jamal terkejut melihatku di gendong om Zaky.
"Ah, tidak pak istri saya hanya kelelahan saja," jawab om Za menyelaku, aku hanya mengulas senyuman saja. Kelelahan katanya tapi pertanyaan orang pun harus ia yang menjawab.
"Kalau begitu kita kembali ke rumah, bapak bapak sekalian terimakasih sudah merepotkan dan sudah membantu saya," ucap om Za.
"Sama sama pak, bukan apa apa ko pak, kami senang bisa membantu !" jawab salah satu karyawan kopi, tentu saja mereka betah dengan bos yang satu ini, om Za sangat mensejahterakan pegawai pegawainya.
"Mir, catat saja nama nama beliau, berikan sedikit rasa terimakasih saya untuk mereka!" ucap om Za diangguki om Mirza.
"Tidak apa pak, insyaallah kami ikhlas !" tolak mereka.
"Insyaallah saya pun ikhlas, hanya rasa terimakasih saja sedikit ! saya pamit pulang bapak bapak sekalian. Sekali lagi terimakasih, assalamualaikum," om Za membawaku kembali ke rumah dengan yang lain mengekor.
Om Za menaruhku di sofa,
"Bu, bisa minta air putih hangat !" pintanya pada asisten rumah tangga.
"Dik Salwa saya dan istri mengucapkan banyak banyak terimakasih dan mohon maaf sebesar besarnya. Sudah merepotkan sampai harus ada kejadian seperti ini," ucap pak Jamal, terlihat sekali ia begitu menyesal dan malu.
"Tidak apa apa pak, yang penting saya dan Rayyan tidak apa apa !"jawabku. Aku hanya ingin mempercepat obrolan ini dan segera mandi juga makan, karena jujur perutku sudah tidak bisa diajak kompromi lagi. Sudah menabuh genderang perangnya.
"Tante, maafin Rayyan dan makasih banyak !" ucap tulus bocah di depanku ini.
"Sini peluk tante," aku merentangkan tanganku, Rayyan menyambutnya.
"Besok besok kalo lagi marah jangan lari, soalnya tante ga akan ada di samping Rayyan," jawabku, anak itu mengangguk.
"Dedek bayi mau maafin abang Rayyan kan, tante??" tanya nya belepotan.
"Pasti dong ! kita kan friend !!" seruku menyodorkan tangan mengajaknya bertos ria. Ia tersenyum dan kembali memelukku.
"Eh..eh....perutnya ada yang gerak, tante !!" seru Rayyan, aku pun begitu.
"Tante mau bersih bersih dulu, Rayyan juga mandi. Karena seharian kita udah berpetualang !" ucapku pada Rayyan.
"Oke, tante !" anak itu mengajak ibunya ke kamar untuk bersih bersih diri.
"Apa iya dek, om bayi bergerak ?" tanya om Za ikut penasaran.
__ADS_1
"Kayanya sih bang," jawabku tak yakin karena pergerakannya maaih sangatlah lemah.
"Sal, sebaiknya kamu mandi, shalat setelah itu kita makan sama sama,"ucap ka Aisyah.
"Iya ka, makasih!" jawabku.
"Syah, saya bawa Salwa ke kamar dulu," ucap om Za.
"Iya Za, suruh Salwa makan dan istirahat. Biar urusan pekerjaan abang Mir dan Ramli saja yang urus !" ucap ka Aisyah.
.
.
Om Za membuka sepatu yang membalut kakiku,
" Ya Allah dek, kakimu lecet!" serunya.
"Iya bang," aku sedikit meringis.
"Kamu mandi dulu deh, abang siapkan airnya,"
Begitu telatennya ia seperti babysitter saja, jabatan bos dan camatnya ia tanggalkan di depanku. Sifat arogan dan wibawanya ia tinggalkan jika bersamaku, yang sekarang ada bersamaku adalah om Za suami hangat yang sayang istri.
"Abang mau ngapain, ikut masuk ?" tanyaku mengerutkan dahi saat om Za ikut memenuhi ruang kamar mandi.
"Mau bantu kamu mandi lah apalagi?"tanyanya. Astaga dragon aku hanya hilang selama beberapa jam saja, kelelahan dan lecet saja di bagian jempol juga kelingking kakiku saja, bukan orang yang habis kecelakaan parah.
"Ga usah lebay bang, Salwa cuman lecet doang bukan abis kena tragedi parah !" sewotku, bilang saja modus.
"Apa adek yakin tak apa apa mandi sendiri ?" tanya nya.
" 100 persen yakin, i'm oke. Dah sana abang keluar !" usirku.
Butuh beberapa puluh menit untukku di kamar mandi, lalu keluar dengan jubah mandi dan juga dalam keadaan yang sudah segar. Aku segera memakai pakaian sebelum om om dengan mode mesumnya kembali ke kamar.
"ceklek"
Om Za masuk dengan membawa nampan berisi makanan juga kotak obat yang di tentengnya dalam tas kecil.
Ia segera mendudukan diriku di tepian ranjang, menarik kakiku ke pahanya, ia meraih botol kecil obat merah dan meneteskannya pada luka lecetku.
"Dek, jangan pernah seperti itu lagi," ucapnya tiba tiba dengan muka datarnya.
"Salwa cuma niat nolongin bang, ehh malah lupa jalan pulang akhirnya kesesat deh !" jawabku menengok kakiku yang sedang diobati oleh lelaki dingin itu.
"Abang tidak mau kejadian ini sampai terulang kembali, tidak tau kah kamu seberapa khawatirnya abang?" ucapnya.
"Iya bang, maaf namanya juga orang panik kan, ya kali orang panik nginget nginget bawa kompas!" gumamku menjawab.
"Ya sudah adek makan dulu, kasian anak abang kelaparan di dalam sana," lirihnya mengambil posisi duduk di sampingku.
"Abang sudah makan?" tanyaku.
"Jangankan makan untuk duduk saja abang tidak nyaman, mengingat kamu yang tidak tau dimana ," jawabnya.
"Kalo gitu kita makan barengan," aku meraih sendok yang ada ditangan om Za lalu balik menyuapinya.
.
.
.
__ADS_1
.