
happy reading all π
.
.
.
.
.
bismillah
.
.
.
.
aku menggeliat lalu mengerjapkan mata beberapa kali ternyata pipiku sedang menempel di bahu kekar seseorang ,aku memeriksa pipi ku.
" aman...!!" usapku di dada , untung saja tidur ku kalem tak pernah membuat pulau baru , kalau tidak apa kata dunia cewek cantik bikin pulau waktu tidur auto negara Indonesia harus mengesahkan kembali UUD 45 dan peta Indonesia karena pulaunya bertambah.
aku melirik jam sudah hampir dua jam aku tertidur ,itu artinya pesawat sebentar lagi akan landing,aku mendongak pada si pemilik bahu yang sudah terjaga ,entah memang dia tak tidur..
" ehh maaf ya Om,pegel ya...maaf ya.. perasaan tadi Salwa nyender ke kursi ko..." ucapku nyengir hingga menunjukan gingsulku.
Om Za hanya mengangkat alisnya ,jawaban apa itu
" tidak apa-apa...kita sudah masuk kota Jakarta..." ucapnya ,aku membenarkan posisiku lalu melihat sekilas ke jendela pesawat ,langit kota Jakarta begitu cerah hari ini padahal hatiku sedikit mendung ,pandanganku beralih pada gelang yang diberikan oleh Om Za ucapan Om Za berputar bak putaran kaset klise....
.
.
.
.
.
.
"assalamualaikum....."
home sweet home....tak ada tempat indah dan nyaman selain rumah ,cepat atau lambat label sweet home ku akan berpindah .
" wa'alaikumsalam....kaka !!!" pekik bunda yang langsung memelukku .
" baru ditinggal seminggu juga udah kangen aja..." gumamku yang membalas pelukan bunda.
" gimana nak betah disana ???" tanya nya ,aku duduk di sofa bersama Om Za yang disambut hangat oleh ayah.
" betah ga betah sih..." kekehku nyengir
" ko gitu ?? betah ya betah engga ya engga !" jawab bunda yang masuk ke dapur menyiapkan minuman untuk om Za
" biar kaka aja bun..." aku mengambil alih cangkir kopi dan nampan nya,bunda tersenyum
__ADS_1
" anak bunda udah dewasa..." gumamnya mengusap lembut rambutku.
" silahkan bapa bapa diminum , Salwa tinggal dulu ke kamar..." ucapku meninggalkan ayah dan Om Za beserta bunda di ruang tengah.
jemariku terampil mengetik dan menscroll pesan pada Acha,teman yang selalu kurindukan...
beberapa saat Acha dan aku terlibat dalam sambungan telfon ,yang ujungnya kami berdua merencanakan hang out bareng esok , sepulang sekolah karena memang besok sudah mulai masuk tahun ajaran baru.
kupingku sudah sedikit panas ,terang saja aku mengobrol dengan Acha hampir sejam sebelum kupingku terbakar aku menyudahi sambungan telfonku ,dan segera turun kebawah.
" kaka.. abis ngapain sih ,suaminya ditinggalin di bawah malah asyik sendiri."
aku terkekeh" eh iya bun ,tadi Acha telfon..." jawabku melirik Om Za yang memasang wajah datarnya,aku menghela nafas spons cuci piring mode on.....
.
.
.
" baik baik disini...jangan boros boros...sekolah yang pinter,jangan kebanyaka main..." Om Za mengusap lembut rambutku ,sedangkan aku ...??? tanganku masih setia melingkar di pinggang nya sambil menatapnya dengan wajah jelek..mulut yang cemberut mata yang sendu jangan lupakan air mata kadal imut... untuk kali ini kadal imut ini benar benar merasa sedih karena sugar daddy nya mau pulang , terbiasa dengan kehadiran Om Za si wajah triplek langit langit kamar alias datar...membuatku merasa kehilangan..
" Om ..kalo Salwa kangen gimana ???" tanyaku parau , kesampingkan dulu si cewek yang menjunjung tinggi harga diri dan gengsi ,faktanya kadal imut ini sudah semurah itu mengikrarkan bahwa dirinya merasa rindu.... kutarik kata kata ku yang sudah mengatakan kalau aku tak akan jatuh cinta pada bibit si datuk maringgih ini..karena kenyataannya sekarang cengeng dan manja pada Om Za adalah nama tengahku...
" kan bisa telfon..bisa chat..."
aku mengangkat alisku sebelah ,apa dia sampai sekarang belum sadar ,kalau selama ini dia selalu cuek,jarang telfon kecuali kalau aku berulah,no chat selain aku yang laporan itupun jawabannya yes or no udah kaya kuis ala ala who wants to be a millionaire...
" om jarang telfon Salwa..." jawabku tambah memajukan bibirku ,inilah resikonya memiliki istri seperti pet...alias sugar baby.
ia menghela nafasnya " kalau abang tidak telfon , Salwa yang telfon..." jawabnya menjiwir hidungku.
aku meraih tangannya menyelapkan jari jariku yang jelas sekali perbedaan nya dengan jari jari om Za, mengisi ruang kosong diantaranya,
ceritanya lagi ngerayu nih...aku hanya mengangguk sekali " iya..."
" ya sudah abang sudah harus ke bandara,nanti takut ketinggalan pesawat..." ia melirik arlojinya
apakah hanya aku sendiri yang merasakan rindu ,benar kata dilan kalau rindu itu berat,tapi kenapa Om Za tidak bilang biar aku saja...
" Om ga kaya dilan ihhh...." ketusku ,jujur saja karena aku yang anak rumahan dan tak pernah tau pergaulan di luar ini makanya kerjaan ku kalau tidak nonton drakor ya film remaja dalam negri ,makanya aku merupakan salah satu korban keganasan film film drama queen...
" siapa dilan???" tanya Om Za membuat alisnya hampir menyatu karena bingung dengan sosok dilan..
" tukang bubur....!!!!" sarkasku melepaskan pegangan ku karena kesal ,jangankan aku nene nene saja tau siapa itu dilan ,masa iya Om Za tidak tau ,padahal wajahnya selalu menghiasi layar kaca sampai layar tembok karena ia adalah bintang film dan iklan ternama.....
" ohhh ...." jawabnya singkat ,ia meraih jaket kulitnya lalu turun ke lantai bawah untuk berpamitan dengan ayah dan bunda.
" hati hati , Za...." ayah menepuk nepuk pundak laki laki yang kata ayah sudah menyabet gelar menantu idaman.
" jangan lupa kalau sudah sampai beri kabar ,jangan sampe bunda pusing karena ada yang galau ga dapet kabar dari suaminya..." goda bunda menyenggol bahuku,ada senyum tipis dari bibir Om Za.
" apa sih..bunda suka fitnah..." jawabku yang menahan malu.
aku meraih tangan Om Za dan mengecup punggung tangan nya sambil berkaca kaca, Om Za merengkuh pundakku lalu membawanya ke dalam pelukannya.
" insyaallah kalau ada waktu abang kesini buat jenguk Salwa..." ucapnya ,
" Om jangan nakal..dijaga hatinya buat Salwa seorang..." ucapku,ia mengangguk ,selalu ada rasa khawatir dalam hati manakala Om Za jauh dariku,tidak menutup kemungkinan Om Za bakal setia alias setiap tikungan ada....lelaki baik baik pun lama lama akan goyah bila godaannya terlalu berat,tidak dipungkiri juga aku yang selalu membandingkan diriku sendiri dengan wanita wanita di sekitar Om Za yang jelas jelas sudah siap menerkam Om Za merasa kerdil dan ciut nyali.
" abang pamit ya... assalamualaikum...."
__ADS_1
" wa'alaikumsalam...."
punggung bidang nya masuk ke dalam mobil ,diantar sopir ayah ke bandara.
.
.
.
.
wajahku sudah ku touch up dengan bedak tipis hanya tinggal mengoleskan liptin saja ,penampilan cetar ku sudah siap menggebrak sekolah... walaupun hatiku masih bimbang saja memikirkan pertanyaan dari ayah dan bunda,semalam ayah dan bunda mengadakan konferensi meja persegi dengan tema rumah tangga ,bukan lagi kuliah tujuh menit yang kuterima namun hampir satu jam.
flashback on
" bun...yah..." aku duduk di sofa samping kedua orangtuaku yang tengah asyik menonton acara kesukaan mereka mata Nana....
" kenapa???bang Za belum kasih kabar ???" aku menggeleng karena Om Za sudah berkabar dari tadi.
" ga apa-apa..." jawabku meraih cemilan yang ada di toples dan dengan seenaknya memindahkan channel TV ,aku memindah mindahkan dengan cepat namun pikiranku tak sekalipun fokus pada TV,mengingat permintaan Om Za yang memintaku meneruskan sekolah di Aceh dan tinggal bersamanya.
" dulu ayah sama bunda pernah LDR an ga sih ?? " tanyaku pada keduanya,mereka saling berpandangan,tak lama mereka menggeleng.
" bunda selalu ikut kemanapun ayah pergi..dimana ayah berada disitu bunda berpijak..." jawab bunda.
" ka.. LDR an memang ga mudah tapi insyaallah ayah yakin kaka sama Zaky bisa..." jawab ayah.
" yah..kaka mau tanya apa permintaan suami itu wajib hukumnya buat kita???" tanyaku hati hati.
" selama itu mampu kaka lakukan , insyaallah jadi ladang pahala..." jawab ayah.
" memangnya bang Zaky minta kaka buat ngapain??" pertanyaan bunda langsung kena sasaran.
aku melirik keduanya " bang Za minta Salwa melanjutkan kelas XII di Aceh,dan pindah kesana..." jawabku ,kalau dulu aku jelas menolaknya mentah-mentah tanpa harus berfikir,tapi sekarang susah rasanya...bunda dan ayah tersenyum
" kalau memang kaka mau, pindah saja,lagipula itu bentuk bakti kaka pada Zaky,mungkin Zaky ingin istrinya selalu ada disampingnya...." jawab ayah tersenyum seolah-olah memang sudah ikhlas bila anak gadisnya ini dibawa orang ...
" tapi..." raguku
" kenapa ??? bakal kangen sama bunda sama ayah,sama adek,sama Acha???" tanya bunda lagi,aku mengangguk.
" saat ini kaka sudah menjadi seorang istri,maka suaminya lah yang menjadi prioritas nya..kaka tidak kehilangan siapapun atau apapun kalau kaka memang pindah ke Aceh,tapi kalau kaka tetap disini kaka akan kehilangan kesempatan kaka untuk berbakti pada suami..." jawaban telak ayah pas di jantungku dan mengoyak sisi terdalam ku.
" iya yah..." jawabku menunduk .
" Zaky sudah bicara tadi...dia meminta ijin untuk membawa kaka pindah ke Aceh.." rupanya obrolan serius tadi inilah topik pembicaraa mereka.
" bagaimana pun kaka sudah menjadi hak dan tanggung jawab bang Zaky... walaupun semuanya terserah kaka ,bang Zaky tidak akan memaksa..." ucap bunda menguatkan dengan mengusap punggung ku.
" iya bun... insyaallah kaka mau..." jawabku
" kalo kangen kan bisa saling berkunjung..." bunda memelukku.
.
.
.
.
__ADS_1
.