Love Me Please , Uncle Camat

Love Me Please , Uncle Camat
Stalkernya om Za


__ADS_3

Bismillah happy reading all 😘


.


.


.


.


.


Posisiku berbalik membelakangi om Za, setelah kena omel gara gara aku yang berulah mengunci sekertaris pak Jamal di kamar mandi, aku berakhir dengan dalil sehari semalam tentang manusia berakhlak mulia. Memang kalau punya suami yang lurusnya kebangetan itu bikin kuping panas. Om Ramli si muka lempeng versi 2 hanya diam dengan sesekali melirik ke arah spion, mendapat tatapan tajamku, ia mengulum bibirnya. Halah ! muka lempeng tapi hatinya belok, aku tau apa yang ada dalam hati dan pikiran om Ramli.


"Adek mengerti kan?" tanya om Za memecah kediamanku.


"Ngerti bang," ku iyakan saja biar cepet ! masalah mengerti atau tidaknya biar itu jadi urusan belakangan.


"Apa yang adek mengerti?" tanya om Za.


"Hah??!!!"


Mamposssss !!! barusan tuh om Za ceramah apa??? senyum om Ramli seperti sedang meledekku. Mungkin baginya yang selama 28 tahun hidup dan separuhnya ia habiskan dengan kehidupan monoton om Za, kedatanganku menjadi sebuah hiburan dan warna baru. Tidak kehabisan akal, seakan kamus otakku selalu full.


"Ngerti caranya mencintaimu, saranghaeo abang !!" aku menautkan jari berbentuk love ala korea pada om Za.


"Pffftt !!" om Ramli benar benar tidak bisa menahan tawanya,sepertinya sebentar lagi bosnya ini akan membutuhkan dokter pribadi karena tensian darahnya meninggi.


"Astagfirullah ya salam !!" om Za memijit pangkal hidungnya.


"Iya ahh !! Salwa paham bang, meskipun kesal marah dan benci tidak boleh membalas, keburukan akan terbuka saat sudah waktunya nanti, biar Allah saja yang menghukum hambanya !! elahhh hatam bang, sekali kali ga apa apa kali jadi hamba yang ngeyel !!! namanya juga netizen, kebawa emosi!!" jawabku.


Aku memang bandel, tapi setiap perkataan om Za selalu ku copy paste dengan baik, ingatanku kuat bahkan kembalian hari kemarin kurang seribu saja aku pasti ingat.


"Ga usah serius serius banget dong abang sayang, relaks biar ga cepet tua !!" aku mencubit pipi om Za. Om Za sudah gemas sekali denganku,


"Om Ramli kalo mau ketawa mah ketawa aja, jangan ditahan ga akan disuruh bayar ko. Om Ramli juga kalo cari istri tuh yang kaya Salwa biar hidupnya bisa ketawa, biar ga lempeng kaya jalan tol !!! jalan gang sempit aja ada polisi tidurnya !!" jawabku.


Om Ramli mengangkat kedua alisnya, hidupnya dibandingkan dengan jalan tol. Bukannya senang karena tertawa, yang ada hidupnya akan selalu dibayang bayangi oleh keluhan orang orang betapa bandel istrinya. Membuat pusing tujuh keliling dengan sifat ajaibnya.


"Besok abang free kan?" tanyaku tersenyum mengharapkan jawaban iya darinya.


"Abang besok mau meeting bersama pak Ilham !" jawabnya.


Di hari weekend begitu masih saja ia bekerja, senyumku langsung pudar. Padahal aku kangen sekali dengan rumah di Medan, apa wajahku yang suntuk ini tak cukup memberitahu om Za jika aku kurang piknik.


"Memangnya adek mau kemana?" tanya om Za.


"Salwa lagi pengen ke Medan," jawabku. Kehamilan yang sudah cukup nyaman membuatku jadi ingin beraktivitas seperti biasanya. Usia kandungan yang memasuki 5 bulan sudah tidak merasakan mual lagi.


"Maaf ya, abang masih punya pekerjaan," jawabnya menyesal, di tengah kehamilanku ia malah sibuk bekerja. Aku mengangguk mengerti.


Tapi tunggu, jika bersama pak Ilham itu artinya ada Susan disana, "memangnya dimana?" tanyaku.


"Di kawasan xxxxxx !" jawabnya. Aku berohria, kembali aku mendapatkan sebuah ide.


Pagi pagi seperti biasa, kegiatanku adalah mengurus bayi besarku. Mulai dari pakaian hingga asupan nutrisi tubuhnya dan nutrisi kesehatan mentalnya.


"Abang berangkat, jangan kemana mana !!" titahnya sangatlah mutlak, tapi apalah daya. Aturan ada untuk dilanggar jadi buat apa ada hukuman jika tidak ada pelanggaran. Setelah om Za pergi bersama om Ramli, dengan secepat kilat aku berganti pakaian. Aku pergi menjadi seorang stalker. Aku bukan tidak percaya makhluk tuhan paling sexy itu, tapi aku tidak percaya dengan Susan.


Dengan diantar supir yang sudah disiapkan oleh om Za untukku dan orang rumah, aku melesat menembus jalanan kota menuju tempat dimana lokasi om Za berada.


"Stop pak !!" ucapku menyetop supir, aku melihat mobil om Za terparkir disana, di sebuah hotel.


"Bapak tunggu disini, saya masuk sebentar !" ucapku pada supir. Langkahku mengajakku masuk ke dalam, celingukan seperti maling sedang mencari mangsa. Otakku sudah travelling saja jika menyangkut hotel. Jangan jangan om Za janjian dengan Susan untuk ke hotel. Ucapan sekertaris pak Jamal selalu terngiang di otakku, mengusik ketentraman akal bersihku. Bukan tidak mungkin, pesona om Za memang susah dihindari oleh siapapun. Bikin perempuan gagal move on.

__ADS_1


Hanya do'a istri sholeha lah yang kuharap bisa memperkuat ketebalan iman om Za. Aku mencari cari keberadaan mereka. Hingga langkahku sampai di cafetaria hotel, mata kuedarkan tanpa ada sudut yang terlewat sampai lubang tikus pun kuperhatikan. Disana lah duduk 4 orang manusia yang sedang kucari.


"Bingo !!" gumamku.


Masih terlihat wajar, jalanku sudah seperti maling ayam, berbekal masker dan kacamata, aku menuju meja yang tidak terlalu dekat tapi pun tak jauh.


Sejauh ini tak ada obrolan pribadi, sampai saat pak Ilham ke toilet, Susan membuka obrolan dengan topik yang random.


"Salwa terlihat masih muda ya, Za !" ucap Susan.


"Iya, belum genap 19 tahun !" jawab om Zaky seperlunya.


"Sedang mengandung?"


"Alhamdulillah, Allah sudah mempercayai kami,"


"Za, apa tak bisa jangan bicara seformal itu, kamu membuatku tidak nyaman," ucap Susan.


"Maaf San, tapi alangkah baiknya kamu memang tidak perlu merasa nyaman dengan saya."


Senyumku tersungging, jangankan dekat..baru minta ngobrol saja sudah se ngeselin itu. Good job buat abinya om bayi. Sebaiknya aku bergegas pulang sebelum om Za pulang duluan, karena tak fokus akhirnya aku menabrak meja di depanku.


"Awsshhh !!"


"Maaf ..maaf...!!" ucapku pada beberapa orang, lalu setengah berlari.


Om Za dan om Ramli melihatnya, mata om Za menyipit


"Seperti Salwa," gumamnya.


"Ramli apa kamu melihatnya ?" tanya om Za.


"Iya pak, itu seperti ibu.." jawab om Ramli. Om Za menggelengkan kepalanya, tak tau harus bagaimana lagi memberikan pengertian padaku.


"Iya ! gelang yang perempuan itu pakai mirip dengan gelang Salwaku, sepatu flatshoes nya pun sama," jawab om Za. Om Za merogoh ponselnya dan menghubungi supir yang sedang mengantarku.


Ingin berbohong karena perintahku, tapi si supir lebih takut pada om Za.


"I...iya pak,"


"Ya sudah, jaga istri saya baik baik. Langsung pulang !" jawab om Za. Tak lama aku sampai di depan mobil


"Fiuhhhh !!! untung ga ketauan !!" aku membuka pintu mobil dan masuk.


"Pak, kita pulang ya !" ucapku.


.


.


Dari arah luar terdengar mobil om Za sudah masuk ke halaman, menandakan ia sudah pulang.


"Assalmualaikum !"


"Waalaikumsalam,"


"Udah Salwa siapin air anget buat mandi !" ucapku meraih tas laptopnya.


Om Za tak banyak bicara, ia langsung melenggang ke kamar dengan aku yang mengekor di belakangnya, sejauh ini masih aman...


Aku menyiapkan baju gantinya, " hari ini adek kemana?" tanya nya.


deg.... !!! jantungku berasa berhenti saat itu juga.


"Salwa...ga kemana mana !!!" jawabku masih tenang.

__ADS_1


"Jadi sudah berani berbohong ?" om Za menatapku lekat. Mata tegasnya mengintrogasi.


Tetot !!!!! ini dia yang kutakutkan, tak mungkin lelaki di depanku ini tak tau, bahkan jumlah semut di dalam lubangnya saja ia tau. Harusnya aku tau, kemanapun aku pergi dan apapun yang kulakukan ia pasti akan tau.


Om Za menarik pinggangku untuk mendekat, walaupun tidak bisa rapat tapi memang sudah tak berjarak " abang tanya sekali lagi !! hari ini adek kemana?" tanya nya mulutnya yang tak mau diam mendekat mengecup si kenyal milikku lalu turun ke leher membuatku kegelian.


"Abang stop bang, geli !!!" pekikku, namun om Za menahan tanganku


"Jawab atau abang tidak akan berhenti !!" ia terus menjelajahi setiap inci leher jenjangku sampai ke tengkuk.


"Salwa cuma cari angin," jawabku singkat dengan nafas yang sudsh tersengal.


"Kemana?" tanya nya berhenti dan kembali menatapku penuh intimidasi.


"Jalan jalan doang bang, keliling alun alun," kembali bohongku. Om Za membawaku ke ranjang lalu mulai bergerilya lagi mencecap mengeksplore semuanya.


"Abang geli bang, " ucapku sedikit mendesah.


"Jujur pada abang, apa adek mengikuti abang??" tanya nya.


Hah ??! si@l dari mana om Za tau? kalo aku ngikutin doi??


"Engga bang !!" masih kekeh pada pendirianku. Om Za semakin ganas menjelajahi.


"Jawab jujur dek, abang tau semuanya !!!" kini mata om Za menatap tajam. Benar saja dugaanku om Za tau aku mengikutinya tadi siang.


"Maaf bang, iya," jawabku. Om Za menarik dirinya duduk bersila.


"Ampun bang, maafin Salwa bang !! Salwa percaya sama abang. Tapi Salwa tidak percaya Susan, Salwa parno kejadian pak Jamal, tidak dipungkiri..pak Jamal saja bisa laku keras, apalagi abang," aku menghambur memeluk perut om Za, meminta ampun padanya. Membandingkan om Za dan pak Jamal layaknya barang dagangan.


"Apa adek sudah tau jawabannya? apa adek sudah puas? masih tetap mau menjadi stalker?" tanya nya. Aku hanya mengangguk dan menggeleng sebagai jawaban.


"Jawab !!" bentaknya.


"Iya Salwa tau jawabannya, Salwa tidak akan mengulanginya lagi !" aku menunduk.


"Abang tau adek mengikuti abang, mau adek menutupi dengan cadar sekalipun abang tau itu kamu !!" jawabnya membuatku semakin merasa bersalah.


"Maaf bang," ucapku tulus, tak berani melihatnya, malah asyik memainkan jemari.


"Terus kenapa abang ga seret aja Salwa pulang tadi, kalo memang sudah tau itu Salwa ?" tanyaku pelan.


"Abang membiarkan kamu pulang, bukan karena abang tidak mau ! abang ingin sekali menangkap basah kamu dan membawamu pulang, tapi abang memilih membiarkanmu. Abang tidak mau menjatuhkan harga diri istri abang sendiri di depan umum, membuatnya malu, terlebih di depan Susan. Membiarkan orang lain mencap dirimu sebagai istri posesif dan sebagainya, yang paling penting...adek puas dengan jawaban yang sudah adek lihat, karena memang manusia tidak akan percaya hanya dengan lisan tanpa melihatnya sendiri !"


Beda halnya dengan laki laki lain yang akan langsung menarik istrinya pulang lalu memakinya, jawaban om Za sangat sangatlah menunjukkan jika pemikirannya memang sudah sedewasa itu.


"Maafin Salwa bang, " aku kembali memeluk om Za.


"Salwa terima apapun hukuman yang abang kasih buat Salwa, sebagai permintaan maaf !!" lirihku.


"Abang minta kamu berjanji, untuk percaya pada abang !!" jawabnya, dan aku mengangguk cepat.


"Salwa percaya !!"


"Apa adek serius mau menerima hukuman apa saja ?" tanya nya , mataku langsung membola.


Mamposssss !!! salah lagi aku bicara. Aku merutuki diri sendiri, mulutku ini tak pernah difikir dulu jika berbicara. Aku mendongak dan tersenyum lebar.


"Memangnya abang mau menghukum apa?" tanyaku. Ia menarik daguku lalu menyerang bibir merah muda segarku, hingga aku terhanyut. Dengan sendirinya, aku sudah mahir melakukan kewajibanku ini. Duduk diatas pangkuannya dan memulai aksi malam ini.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2