
Bismillah happy reading all π
.
.
.
.
.
.
Om Za masuk ke dalam kamar, wajahku sudah harap harap cemas, apakah om Za akan bilang masalah ini secepatnya atau masih mau menunggu waktu yang tepat untuknya berbicara.
Tapi, bukan Salwa namanya jika hanya bisa menunggu seorang om Za mengatakan sesuatu sesuai keinginannya.
"Bang, mau dipijitin ngga?" tanyaku sambil menarik om Za dan mendudukannya di kasur, menarik kakinya ke atas pangkuanku, mencoba mencari moment untuk bicara dari hati ke hati diselingi dengan pijatan pijatan lembut agar om Za tetap relaks dan tak mengamuk.
Om Za menyipitkan matanya, melihatku yang mencurigakan, tidak biasanya seperti ini. Jika si bulus sudah keluar maka ada sesuatu yang diinginkan atau disampaikan oleh istri magicnya ini.
"Ihhh otot kaki abang liat banget !!" pujiku mencari cari kelebihan kakinya. Walaupun jatuhnya terdengar garing.
"Abang sering lari ya bang?" tanyaku bersikap manis seperti seseorang yang ingin meminjam uang, sangat manis sampai bikin kelilipan, tapi ada maunya di ujung.
Om Za menahan tanganku yang sedang memijit kakinya, akhirnya lelaki ini peka, apakah aku harus buat syukuran? karena kepekaannya mengalahkan kepekaan daun putri malu.
Ia menatapku seraya tangannya yang menggenggam tanganku, tatapannya melemahkanku, tau saja kalau istri kecilnya ini tak bisa tahan jika dipandang begini. Pasti gugup dan merasa terlucuti.
"Apa yang adek mau?" ucapnya.
Damnn !!!! benar kan yang kukatakan, lelaki ini pasti tau. Ia sangat paham dengan sifatku. Tak mungkin istrinya ini tiba tiba baik, memanjakan dan memijat kaki om Za layaknya pegawai salon.
"Ketauan ya ? keliatan banget ya bang?" aku nyengir kuda.
"Jika ada yang mau disampaikan, sampaikan saja. Memangnya segarang itu kah abang?" tanya nya.
Ga sadar nih om om hot, apa perlu ku cium dulu sampai sesek biar sadar.
"Abang, ada yang mau diobrolin sama Salwa kah?" tanyaku hati hati, sebenarnya aku takut, takut jika om Za marah karena aku yang sudah lancang membuka email dan mendengarkan pembicaraanmya bersama om Mirza, jangan sampai nanti ada berita viral suami yang merebus istrinya karena kepo urusan suami.
"Apa adek sudah tau?" tanya om Za.
"Maafin Salwa bang, Salwa sudah lancang buka email abang, Salwa juga ga sengaja dengerin obrolan abang sama om Mirza," jaeabku menunduk memainkan jari.
"Lalu bagaimana keputusan abang?" tanya ku mulai mendongak, setelah tak ada jawaban dari om Za.
__ADS_1
"Kalau abang terpilih kembali menjadi camat, melanjutkan masa jabatan, apa adek akan setuju ?" tanya nya, menatap mataku lekat, seperti meminta persetujuan dariku.
"Jika memang itu bisa bikin abang senang, insyaallah Salwa dukung, Salwa dampingi," jawabku mencoba belajar dewasa. Aku tau bukan pasal uang, tapi semua tentang passion hidup, mungkin dengan menjadi camat bisa membuat om Za lebih banyak bersyukur mengenal dan dekat dengan orang orang sekitar, mengabdi pada tanah kelahirannya bisa membuatnya senang.
"Alhamdulillah, makasih dek. Adek sudah dewasa dan bijak sekarang." Om Za memelukku.
"Berarti abang akan pergi selama 3 bulan ke Jatim?" tanyaku yang mulai sendu, suara yang bergetar menahan tangisan yang ingin lolos.
"Iya, tapi abang tidak bisa meninggalkan istri dan anak abang !" jawabnya melonggarkan pelukan.
"Ralat ! bukan abang tak bisa meninggalkan, tapi abang yang tak bisa tanpa ada anak dan istri abang di samping abang," jawabnya lagi.
"Kuliah mu tetap disini, mungkin setelah kepulangan kita nanti dari Jatim, adek bisa berkuliah disini !"
Cukup selama mengharapkan perjodohan denganku saja ia jauh denganku, untuk seterusnya om Za tak mau melepaskanku, apalagi kehadiran Al Fath membuat om Za selalu ingin ada di samping anaknya.
"Jadi kapan habis masa jabatan abang yang sekarang?" tanyaku.
" 3 bulan ke depan !" jawabnya.
"Memangnya abang sudah mencari universitas yang cocok untuk Salwa?" tanyaku lagi.
"Ada beberapa, nanti abang pikirkan juga. Harus sesuai dengan keinginan dan kemampuanmu!" ia bangkit dari duduknya meraih laptop dan menunjukkan beberapa artikel kampus.
Baru saja hadir si kecil Al Fath ditengah tengah kesepian dan sunyi nya rumah, umi dan abi sudah harus berpisah dalam waktu 3 bulan.
"Kalau Salwa dan Al disini, Za yang tak bisa tidur, mi !" jawab om Za. Mata bening Al menatap orang orang sekitarnya.
"Umi tidak akan kuat lah berjauhan dengan Al !" umi mengecup gemas baby Al.
"Berapa lama kalian disana?" tanya abi.
"3 bulan bi," jawab om Za.
"Lalu bagaimana dengan kuliah Salwa?" tanya abi sambil memindahkan saluran tv,
"Salwa kuliah saat sudah pulang lagi kesini, bi!" jawabku.
"Hati hati selama disana, Za. Bantulah Salwa untuk mengurus Al Fath !" pinta umi, mewanti wanti om Za.
.
.
.
Surat petisi sudah ditanda tangani, om Za pun sudah meraih kursi camat kembali dan melanjutkan masa jabatannya.
__ADS_1
Ini yang kubenci, memakai rok span panjang dan jilbab, di depan umum pula, jalanku berasa jadi putra putri keraton, kembali aku bertemu dengan ibu ibu bermulut nyinyir, ingin rasanya aku sumpal saja mulut mulut mereka pake daun.
"Bang, ini masih lama ya?" bisikku di upacara penerimaan periode jabatan,
"Cuma jadi camat doang ko ribetnya kaya mau jadi presiden aja !" sepanjang acara yang dihadiri walikota ini aku mengomel tanpa henti, di tambah Pa* yu *d@r@ ku yang sudah mulai tak nyaman karena sudah waktunya di pompa untuk Al Fath.
Lelaki ini anteng saja mendengar sambutan dan deretan pidato pidato yang menurutku lebih disebut obat tidur ini,
"Bang, takut rembes !" bisikku lagi.
"Apa sudah kembali full?" tanya nya berbisik.
Aku mengangguk, " iya, lagi penuh penuhnya !"
"Mau abang bantu buat kosongkan?" tanya nya tersenyum mesum.
"Ga usah ngajak berantem disini, kalo mau yu di kamar!" aku menahan tawa, begitu pun om Za, bukannya tidak berattitude aku hanya menjaga moodku yang mulai bosan dan suntuk.
Pan*tat ku rasanya mulai kesemutan dan panas.Tak salah memang om Za memilih pekerjaan ini, ia memang tampak keren dengan pakaian ini.
.
.
"Assalamualaikum !!" pekikku mengucap salam.
"Yuhuuuu, Baby Al anaknya umi !!!" seruku, sudah sangat rindu dengan bayi lucu ku.
Umi muncul dengan menggendong baby Al, senyumku terbit. Benar kata orang, rasa lelah dan penat akan hilang setelah melihat wajah anak.
"Uhhh anaknya umi, ganteng banget sih. ko umi cinta banget sih sama dedek !!!" gumamku mengajaknya mengobrol.
"Kalo sama abinya? cinta banget ga?" tanya om Za yang mengekor di belakang. Aku menoleh, cemburu tuh !
"Sayang dan cinta banget dong !" seruku, semoga jatah jajanku tetap aman,
"Kalo sayang dedek, umi sebaiknya ke kamar mandi dulu untuk bersih bersih, jangan sampai membawa polusi dan kuman dari luar !" titah om Za.
"Iya abang sayang, ini juga mau mandi dulu !" Umi tersenyum melihat kelakuan menantu serba bisanya ini, bisa bikin kesel bisa bikin ketawa.
"Ya sudah nak, Salwa mandi dulu baru boleh pegang pegang Al !" pinta umi.
Aku menanggalkan kerudung, dan baju kebesaranku, setidaknya aku harus mengimbangi om Za jika di foto ataupun rapat.
Pandanganku mengedar menatap beberapa koper yang sudah rapi beserta isinya, disana benar benar hanya ada om Za, aku dan baby Al. Tanpa ada umi dan abi ataupun ka Aisyah dan om Mirza, yang akan membantu kami.
Guys....mungkin beberapa episode ke depan cerita Salwa dan om Za sudah akan berakhir ya guys, tetep pantengin ya sampai selesai dan jangan lupa tetep dukung terus...ππ
__ADS_1