Love Me Please , Uncle Camat

Love Me Please , Uncle Camat
Pamer laki


__ADS_3

Bismillah happy reading all 😘


.


.


.


.


.


Mataku terbuka, belum sempurna. Tapi cukup untuk melihat seseorang tampan, yang tengah memperhatikanku dengan asyiknya.


"Isya sudah dari tadi dek, " ucapnya. Jika dulu, suara sexy milik Sehun Exo adalah suara terindah untukku. Kini suara laki laki inilah, yang menurutku suara paling membuatku berteriak. Sampai sampai ingin segera melemparkan seluruh pakaian ke atas lantai.


"Iya bang,"


"Cup !!"


Keningku dikecupnya, seperti biasa tanpa ijin tanpa permisi.


"Maaf ya, saat saat paling sulit abang tidak disini, tidak ada menemani adek!" entah sudah ke berapa kali, lelaki ini bicara begitu. Jika sampai sekali lagi ia bicara tentang ini lagi, aku akan memberinya hadiah satu lusin gelas belimbing.


"Abang ngomongin itu terus, bosen ! sekali lagi abang ngomong, Salwa kasih gelas, piring !" jawabku.


"Abang ga janji akan selalu di samping, tapi abang usahakan untuk selalu ada buat Salwa dan Al !" ucapnya.


"Iya, " aku iyakan saja lah biar cepat.


"Abang ga usah jadi puitis gitu, kesannya lebay. Kaya anak abg baru netes, " ujarku. Pasalnya aneh saja jika ia puitis, rasanya suamiku sudah bertukar jiwa dengan pujangga.


"Ya sudah, cepat ke kamar mandi. Shalat dulu !" titahnya.


"Gendong !!!" rengekku, pada om Za. Ia pasrah saja melayani manjanya aku. Buatnya, itung itung olahraga angkat beban.


"Abang gendong, tapi abang ikut masuk ! enak saja, sudah dapet gendongan gratis ke kamar mandi, sekarang mau kemana mana saja mesti pake ongkos, " ucapnya meraih badanku dan menggendongnya menuju kamar mandi.


"Dih perhitungan banget ! Mau ngapain? Salwa ga perlu dibantuin. Abang ga perlu masuk, kalo abang masuk yang ada Salwa ga jadi isya nya !" ketusku, tau otak mesum om om pria matang ini.


Malam ini hanya kami habiskan dengan tidur saling berpelukan, tak ada adegan ranjang panas, ataupun suara suara syaitan bagi Al. Semuanya tenang dan damai, kaya di kuburan. Hanya ingin membiarkan tubuh lelah, yang terbalut kerinduan ini menemukan obatnya.


"Hari ini abang antar adek ke kampus, " ucapnya.


"Emang ga laporan dulu ?" tanyaku.


"Nanti sepulang dari kampus ! biar Afrian bisa langsung saja pergi ke kampusnya."


Om Za sudah dengan stelan safarinya. Bersiap berangkat untuk laporan, jika pelatihannya sudah selesai, dan siap untuk serah terima jabatan, meneruskan masa jabatannya sebagai camat.


"Jadi camat doang udah kaya jadi menteri aja !" gerutuku, yang kini pagi pagi sudah sibuk sekali.


"Katanya ikhlas, ridho..suaminya jadi camat lagi?"


"Iya sii, cuma ribet aja ! prosesinya udah kaya mau jadi presiden aja !" omelku.


"Amanah sekecil apapun harus melewati prosedur yang berlaku dek, " jawabnya, heran??? jangan di tanya ! dari dulu sejak pertama mengenal om Za, aku heran.. wajah bak penghuni surga, tubuh bak model susu pria dewasa, tajir bak sultan Brunei begini, masih mau cape cape, panas panasan jadi camat. Belum lagi kebanyakan makan hati. Tapi balik lagi.. visi, misi, dan kadar kedermawanan seorang om Zaky, tak bisa disama ratakan denganku. Loyalitasnya sebagai warga negara yang cinta tanah air, tanah kelahiran tak bisa di sandingkan denganku. Yang malah suka dsngan produk luar. Jangankan untuk mengabdi, disuruh upacara dan pembacaan UUD 1945 saja, harus sampai di razia dulu.

__ADS_1


"Sudah !!!! abang keren pake baju safari !!" senyumku lebar.


"Keren mana, sama jas pengusaha?" tanya nya, saat aku di hadapannya, tinggiku yang hanya se dadanya membuatku mendongak.


"Kerenan abang yang tel@n*jang !" kekehku.


"Gadis nakal tau saja yang menggugah selera !" ia menjiwir hidungku.


"Salwa udah bukan gadis bang, lupa apa? kalo Salwa dah brojolin bibit abang ?!" tanyaku.


Ia tertawa renyah, "istri kecil nakalnya pak camat !" ralat om Za.


"Apa di kampus kamu mendapat teman? atau justru orang yang kamu siram pake jus bertambah lagi?" tanya om Za, seketika membuatku merengut, manyun.


"Engga lah ! sekarang justru temen temen kampus kaya yang segan sama Salwa," jawabku. Ia mengangkat alisnya sebelah, "kenapa?"


"Abisnya ada ibu ibu yang nunjuk Salwa, waktu pas baksos...bu camat???!" tiruku.


"Bapak apa kabar ??!" ucapku lagi.


"Siapa?" tanya nya.


"Itu loh, ibu ibu yang dulu kampungnya pernah abang datengin pas sama Salwa !" jawabku.


"Ummm, biarkan saja. Yang penting bukan kamu yang mengaku ngaku. Abaikan saja !"


"Abaikan gimana, kalo jadinya Salwa dituduh macam macam. Masa Salwa dikata gadis gila harta yang mau jual diri sama om om macam abang !" jawabku mengingat tuduhan Zidan dan Windu.


Kan, seketika emosiku naik..kembali mengingat kelakuan se*tan mereka.


"Zidan??" kenapa hanya nama laki laki saja yang diucapkan.


"Siapa Zidan? apa dia suka Salwa?" tanya om Za. Aku menyipitkan mata, bau baunya aku mencium aroma terbakar disini.


"Ga usah mikir macem macem, Salwa ga ada hubungan apa apa sama orang lain ! mereka aja yang kerajinan gangguin kehidupan tenang Salwa yang tanpa polusi !" jawabku memasang peniti di jilbabku.


"Awas saja kalo berani !" ancamnya memasang jam tangan.


"Mana ada gue berani, baru mendengar nama laki laki saja, tanduknya sudah keluar, seperti banteng yang ingin menyeruduk," batinku.


.


.


.


"Bye sayang nya umi, kiss basah !! muah..muah..muah !!!" pamitku pada jagoan kecil yang semakin hari semakin membaik.


"Assalamualaikum !"


"Waalaikumsalam, ASI masih ada di frezzer kan Sal??" tanya umi.


"Masih umi, malahan masih anget, fresh hasil meres bapaknya Al !" pekikku mendapat decakan kesal om Za.


"Oyyy ! ahhh, Sal..! ada bujangan nih ! kuping gue masih suci !" omel Afrian.


.

__ADS_1


.


"Bagaimana mau meres ASI buat Al, kamunya saja tidur seperti beruang hibernasi !" ucapnya di mobil menggerutu. Sedangkan aku tertawa melihat wajah malu om Za di depan umi, abi dan Afrian.


"Sebagai gantinya, nanti malam...kamu tak boleh kabur keluar kamar, singa jantan ingin mengasah kemampuannya !" ucapnya, terdengar sedikit menakutkan berikut seringaiannya.


"Ga usah ngaco ! Salwa capek banget akhir akhir ini !" aku mengusap wajahnya lembut. Tapi saat jemariku sampai di mulutnya, ia malah menggigit jemariku.


"Asshh !! abang sejak kapan suka makan sesama ?!" tanyaku.


"Sejak kecanduan kamu ! " kekehnya.


"Ihh, abang makin kesini makin nyeremin !" gidikku. Ia malah tertawa.


Om Za menghentikkan mobilnya di parkiran, ia tak lantas masuk kembali.


"Salwa masuk dulu !" ucapku, tapi belum meninggalkan tempat.


"Iya, hati hati..belajarlah yang bener !" ia malah tetap berdiri di tempatnya.


"Loh, ko abang ga cepetan berangkat?" tanyaku.


"Kenapa memangnya??" tanya nya.


"Bukannya ini udah telat ya?"


"Abang mau memastikan kamu berjalan sendiri sampai kelas !" jawabnya.


Astaga benar saja, mode pencemburunya sudah recharge kembali.


"Ya udah, terserah abang aja. Salwa masuk, assalamualaikum !" aku meraih tangan om Za dan mengecupnya, tapi om Za malah menarikku dan mengecup pucuk kepalaku lembut. Adegan uwu layaknya Aisyah dan Rasul.


"Waalaikumsalam," jawabnya. Udah punya anak juga malah makin cemburuan, apa emang laki laki diatas umur 30 tahun begini? ck, kaya abg aja.


Sampai aku benar benar masuk ke kelas, om Za benar benar memantauku.


"Kenapa, Sal?" tanya Alisha.


"Engga, itu laki gue kebangetan..gue di pelototin kaya dadu ludo, tau nggak?!" omelku. Pagi pagi sudah mengomel, jangan sampai air pel an yang dibawa office boy di depan ku guyurkan juga ke badanku, saking kesalnya.


"Hah??! laki loe ada kesini? mana??!" tanya Alisha bersemangat melihat keluar ruangan.


"Ga ada lah, udah cabut barusan !" jawabku.


"Yaaa.. gagal dong liat cowok mateng keren !" jawabnya, tak sadar jika sampingnya ini adalah istrinya. Anehnya pun, kata kata Alisha sama sekali tidak membuatku cemburu, beda jika yang mengucapkannya mbak Siska atau tante Cut Fitri.


"Nanti pulang dia jemput lagi ko, " jawabku.


"Beneran??!" tanya nya.


"Yoi, sambil gue pamer sama yang lain, kalo gue udah punya laki !" jawabku.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2