Love Me Please , Uncle Camat

Love Me Please , Uncle Camat
Umi Salwa membela diri


__ADS_3

Bismillah happy reading all 😘


.


.


.


.


Alisha mendekat ke arah salah seorang anggota senat, ia menanyakan identitas dan alamatnya, dengan penuh senyum ramah dan manis layaknya pegawai SPBU dan swalayan. Sedangkan aku mengekor di belakangnya mencatat semua informasi yang digali olehnya, terdengar jahat dan licik sih, tapi apa daya, mood ku sudah merosot karena melihat 2 senior yang lebih mirip dengan patrick dan spongebob, menjengkelkan dan mengganggu.


"Hey kamu !" ucap Zidan menunjukku,


Aku menghela nafas, "masalah !"


"Saya kak ?!" jawabku menunjuk diriku sendiri.


"Iya kamu, enak banget. Teman kamu yang usaha kamu hanya tinggal catat saja !" kakinya di selonjorkan di atas meja, layaknya anak raja, heran saja aku, mahasiswi baru bergelung berdesakan ingin mengetahui identitasnya buat apa cobak, jelas dibandingkan om Za ku ketampanannya tak ada se t@*i kukunya. Dan kutebak, hanya untuk apel malam minggu saja masih minta pada ibunya. Dasar munafik, bilang junior tak tau tata krama, tapi sendirinya tak tau cara duduk yang baik, ku do'akan besok besok pan*t@tnya hilang !


"Bukankah anggota senat banyak, bukan hanya dia saja !" ucapnya menunjuk teman senat lainnya, dimana aku sedang menulis identitas dirinya, maksudnya apa?? apakah maksudnya agar aku mewawancarai lelaki songong/ tak sopan ini, seperti petugas sensus. Ogah !!!! lebih baik aku dihukum saja, daripada harus so kepo dengan hidupnya.


"Iya ka !" aku mengiyakan saja, demi kesehatan jiwa dan mentalku. Aku mencari seseorang untuk kutanyai identitasnya. Aku mencari anggota senat yang tak terlalu di kerubuni mahasiswa, kaya donat lagi dilalerin. Dia hanya menyunggingkan senyumnya, melihatku kesal. Ia menepikan para mahasiswa baru yang berbaris di depannya, mirip seperti warga kecamatan yang lagi ngantri sembako karena ingin mengetahui identitasnya, dan berjalan mendekat. Tak sadar dari sudut kanannya, Cut Windu sedang menabuh genderang perang untukku. Sorotan matanya seperti laser buat khitanan.


"Nama Zidan, usia 21 tahun, zodiak pisces, tempat lahir Aceh no handphone..."


"Nih !! tulis aja sendiri !!" aku menyodorkan pulpen dan buku, daripada mendikteku, karena jujur aku tak peduli, lebih baik ia tulis sendiri.


"Zi !!" panggilnya, definisi an*jin6 herdernya, langsung bereaksi. Seakan memberitahu bahwa laki laki ini miliknya, no debat. Tanpa aba aba perempuan ini so kenal so deket, seakan ingin memberitahu seluruh dunia jika lelaki di sebelahnya ini be mine...


Tak ada waktu untukku melihat adegan si cabelita, aku pergi tanpa permisi.


"Idih ! ga sopan!" ucap Windu.


"Salwa !! " aku berhenti dan berbalik.


"Iya ka ?!" tanyaku.


"Sopankah jika seseorang tengah berbicara lalu kamu meninggalkannya ?!" tanya Zidan.


"Maaf ka, bukan saya tak sopan. Tapi bukankah kaka sudah selesai bicara? lagipula, ada ka Windu.. yang masih ada urusan dengan kaka. Urusan saya sudah selesai !" aku menunjukkan buku berisi data dirinya.


"Ga sopan banget !!! kamu !! hukum jalan bebek sampai ke kelasmu !!" titah nya. Aku menghela nafas jengah dengan keduanya, maunya apa cobak ! lakinya berduaan ga boleh, giliran ditinggal, gue yang malah kena hukuman.


.

__ADS_1


.


Aku mengusap peluhku, hari kedua di kampus, sudah beberapa kali kena hukuman, rekor !! sepertinya pertama kali dalam sejarah kampus ini, seorang mahasiswi baru sudah berurusan dengan hukuman.


"Hukuman lagi, Sal?" tany Alisha. Aku mengangguk, dan lebih si@lnya lagi bekal minumku habis.


"Sha, kantin yu !! aus !!" ajakku.


Tampak kantin lumayan ramai, mungkin karena ini jam istirahat sebelum berganti mata kuliah. Ataupun , yang sudah tak ada lagi kelas.


Aku dan Alisha duduk memesan jus, rasanya tenggorokanku sudah sangat kering. Tapi baru saja akan menerima jua pesanan, Cut Windu merebut jus itu.


"Opss !! sorry gue duluan ya aus !" ucapnya sengaja. Aku menatap kesal.


"Sal, minum punya gue aja..sambil nunggu jus pesananmu jadi lagi !" tawar Alisha. Sudah cukup, tak ada senior junior dalam hal ini. Ini sudah kelewatan. Ia malah tertawa cekikikan. Lihatlah gaya angkuhnya, seperti kampus dan kantin ini miliknya pribadi.


"Kamu tau budaya mengantri kan?" tanyaku menghampiri mejanya.


"Sal, udah !!" bisik Alisha menarik narik bajuku.


"Bukankah sebagai seorang senior harusnya mengajarkan sesuatu yang baik dan patut di contoh !" tanyaku lagi, kekesalan ku sudah berada di ubun ubun menghadapi wanita satu ini. Jangan sampai jiwa bar bar ku berkobar lagi disini, Ia malah berdiri menantang.


"Kalau saya ga mau ?? masalah??! saya cuma mau mengajarkan sama kamu, bahwa merebut sesuatu yang sangat diinginkan tuh ga enak ! ga enak kan?!" baliknya menantangku.


"Minum tuh jus jeruk !! sekalian pake keramasan, biar otak loe segeran dikit !!!" selesai mengguyur aku pergi begitu saja dengan Alisha yang mengekor, bergidik ngeri. Sedangkan tatapan tatapan terkejut, tergambar dari mata mata mahasiswa pengunjung kantin lainnya.


"Salwa !!!" pekiknya memanggil namaku geram.


.


.


Dan akhirnya disinilah aku, ruangan konseling. Dengan pihak kampus yang langsung menelfon si ganteng kalemku. Alhasil kupingku harus bengkak nanti, mendengarkan ocehan om Za, untung saja lelaki itu tak ada disini, bisa bisa aku habis dimakannya jika ia disini.


"Hahahahah !!!" Afrian tergelak puas.


"Loe siram pake jus jeruk, Sal?" tanya nya memastikan bahwa laporan Windu tak salah.


"Iyalah, biar otak dia dingin, bisa berfikir jernih dan bijak ! apa perlu gue siram yang lebih ekstrem biar dia tau dan sadar kesalahannya apa?? senior ga harus menjadikan dia layaknya raja yang berhak bertindak seenaknya pada junior !!" jelasku melipat kedua tanganku di dada sambil cemberut.


"Gue kira bang Zaky, di telfon pihak kampus gara gara loe pingsan atau berantem di arena tinju !! ternyata nyiram senior loe !!" Afrian kembali tertawa.


"Lebay ! toh gue siram ga bikin dia berdarah darah juga kan ?!" jawabku membela diri.


Setelah ini si tampan nan kaku itu pasti akan menelfonku, dan bicara panjang lebar. Bersyukurlah kamu Sal...setidaknya dengan begini om Za bisa nelfon lamaan dikit, dengan topik obrolan yang lain dari biasanya.

__ADS_1


Benar saja, malamnya selepas isya, nama suami memanggilku, untung saja Al Fath sudah tertidur. Aku melangkah menuju balkon kamar.


"Assalamualaikum, sayang !!!" seruku.


"Waalaikumsalam, apa yang terjadi di kampus ?!" tanya nya to the point, memang lelaki ini tak pernah ada mukadimah ataupun basa basi, selalu langsung pada intinya.


"Salwa hanya membela diri, " jawabku cemberut.


"Membela diri bukan berarti harus sampai lepas kontrol begitu, dek "


"Jadi abang telfon cuma pengen interogasi sama marahin Salwa doang? mending ga usah telfon sekalian !" jawabku kesal.


"Bukan begitu dek, " ia menarik nafas panjang. Pihak kampus sudah menjelaskannya tadi siang, saat ia tengah berada di ruangan rapat, sebuah panggilan dari pihak kampus tertera di ponselnya. Mengabarkan jika aku mengguyur salah satu teman kampus dengan jus jeruk.


"Apa perlu abang terbang ke Aceh sekarang juga, agar kamu tidak berulah ?!" tanya nya, tentu saja aku mengangguk cepat.


"Kalo emang itu bisa bikin abang pulang lebih cepet, kenapa engga ?!" jawabku.


"Abang sedang sibuk sibuknya dek, insyaallah do'akan saja dalam waktu cepat abang pulang. Abang sedang mengejar materi agar cepat selesai. Dan menerima sertifikat kepelatihan !" jawabnya. Senyumku mengembang.


"Aamiin,Salwa do'ain. Salwa sama Al Fath kangen abang !


"Suara abang ko serak gitu? abang sakit?" tanyaku mengernyitkan dahi.


"Engga dek, abang hanya sedikit tidak enak badan saja !" jawab om Za, mendadak aku jadi merasa bersalah.


"Ya Allah, suami Salwa... maaf ya bang, Salwa ga disana buat rawat abang,"


"Tak apa dek, insyaallah besok juga pulih. Mungkin memang sedang musimnya orang flu !"


"Abang jangan telat makan, jangan lupa istirahat, jangan kecapean, minumnya air hangat !" jujur hatiku resah. Disana om Za hanya sendirian.


"Iya sayang, abang akan jaga diri sendiri."


"Bagaimana Al, apakah dia rewel? apakah sekarang sudah tidur?" tanya nya, tersengar dari suaranya pria ku ini merindukan anaknya.


"Alhamdulillah, Al anak yang baik bang, dia tak pernah rewel, mengerti uminya yang harus kuliah, Al juga sudah tidur !"


"Alhamdulillah, adek jaga diri disana, baik baik di kampus," ucap om Za.


"Iya bang, abang juga cepet sembuh, jaga diri disana, cepet pulang !"


.


.

__ADS_1


__ADS_2