
Bismillah happy reading all π
.
.
.
.
.
.
Flashback
"Assalamualaikum pak Zaky, selamat pagi," ucap partner bisnis om Za yang datang bersama sekertarisnya.
Om Za dan om Mirza terkejut melihat sekertaris partner bisnis mereka.
"Zaky, Mirza !!" sapanya.
"Susan ??" gumam keduanya.
" Kalian sudah saling mengenal?" tanya pak Ilham.
"Iya pak, pak Zaky dan pak Mirza adalah teman kampus saya dulu semasa di Jakarta."
Keduanya dipersilahkan masuk.
"Untung Salwa belum pulang, kalo Salwa ada mampossss loe Za!!" gumam om Mirza.
Keempatnya berbincang di ruang kerja om Za, sejauh ini pembicaraan seputar pekerjaan. Meskipun Susan sudah mencuri curi pandang pada om Za tapi tidak dengan lelaki ini. Bahkan dengan jelas foto figura kecil di depan meja kerja om Za adalah fotoku.
"Za, gue kebelet.." bisik om Mirza. Diangguki oleh om Za.
"Permisi sebentar," ijinnya pada yang lain.
"Wahhh saya rasa perkebunan anda cukup luas pak Zaky !" ucap pak Ilham.
"Itu semua bukan milik saya sepenuhnya, lagipula harta hanya titipan semata pak Ilham," jawab om Zaky.
"Apa itu denah perkebunan kopi anda ?" tanya pak Ilham yang menunjuk satu pajangan besar denah perkebunan beserta gudang di balik pintu.
"Apa boleh saya melihatnya ?" tanya pak Ilham.
"Silahkan pak !"
Susan yang berada di depan om Za menatap lekat lelaki yang pernah disukainya, sampai saat ini pun ia belum bisa move on darinya.
Satu lagi perempuan gagal move on ada disekitar om om hot abinya om bayi. Pesona om Za sebanding dengan pesona Indonesia.
Kakiku menginjakkan lantai rumah perkebunan, segera kuarahkan menuju ruang tengah, yang kudapati adalah asisten rumah tangga.
"Bu, abang dimana?" tanyaku.
"Pak Zaky di ruang kerja, bu sedang ada tamu, bapak minta jangan diganggu !" jawabnya . Aku mengangguk.
Dari dalam terdengar suara perempuan yang terdengar terkejut.
__ADS_1
Susan yang ceroboh ingin meraih gelas namun ia malah menyenggolnya hingga gelas itu jatuh,serpihan gelas mengenai kakinya, om Za yang berada di dekatnya refleks mendekat.
"Awsshhh !!" pekiknya
"Susan, hati hati !"
"Argghh berdarah Za," jawabnya. Om Za membantu menyingkirkan serpihan kaca.
Pak Ilham yang melihat kotak P3k yang ada disebelah denah perkebunan segera mengambil kotak itu.
Aku membuka pintu setengahnya, yang kulihat om Za sedang berlutut di depan wanita yang dipanggil Susan, mengkhawatirkan Susan.
" Apakah sakit ?" tanya om Za.
Terlanjur terkejut, apakah ini Susan temaan kampusnya itu.
"Abang !!" gumamku
"Dek !!" Om Za langsung beranjak.
"Jadi ini yang disebut jangan diganggu !" gumamku.
"Maaf pak Ilham, Susan bisa saya tinggal sebentar. Istri saya datang," jelas om Za.
"Silahkan pak, biar Susan saya yang obati."
Om Za ikut keluar untuk mengejarku, " Za itu Salwa !" ucap om Mirza.
"Gue tau, Mir tolong minta bibi bersihkan bekas pecahan gelas di ruang kerja !!" pinta om Za tergesa gesa mengejarku, yang sudah terlanjur salah paham.
Flashback off
"Ian, gue mau pulang !!" jawabku dengan nafas yang terengah engah karena hati yang sudah panas.
"Dek !! tunggu dulu, abang bisa jelaskan !!" ucapnya. Om Za meraih tanganku.
Afrian yang kebingungan merasa menjadi serba salah dan bingung.
"Ian !!! ayo balik !!" bentakku.
"Ian, kamu masuk sajan biarkan abang dan Salwa menyelesaikan kesalahpahaman yang terjadi !!" jelas om Za terlihat serius.
Aku melotot pada Afrian, mengancamnya agar tidak pergi.
"Ian, jika kamu tidak masuk, dengan mudah abang akan mengambil perusahaan ayahmu !!" tatapan tajam om Za tentulah membuat Afrian takut.
"Iya ahhh elah, pake ngancam segala !!" Afrian masuk ke dalam rumah.
"Dek, abang bisa jelaskan. Dengar dulu !!" ucap om Za dengan bentakan karena aku yang terus berontak.
"Abang sudah berani membentak Salwa sekarang? mau jelasin apa? apa abang mau bilang lagi reunian sama alumni hati??" tanyaku sewot. Air mataku sudah siap untuk meluncur, tapi kutahan. Tidak akan semudah itu. Aku tidaklah selemah itu.
"Bukan begitu, adek tau kan antara abang dan Susan tidak pernah ada hubungan apa apa. Bahkan kita sudah membahasnya dulu. Apa adek tidak percaya sama abang? apa selama ini tidak ada kepercayaan adek untuk abang? dan ini apa adek pulang tanpa memberitahukan abang, ponsel pun adek matikan, apa adek tau abang sudah seperti orang gila menanti kabar dari istri abang," cerocosnya seakan membludakkan isi hati.
Aku hanya merasa bingung, yang salah om Za yang membentakku om Za tapi kenapa aku yang disudutkan.
"Abang yang salah lalu abang yang membentak, tapi Salwa yang disudutkan, sungguh hebat abang ini !!" kembali jawabku.
"Oke abang minta maaf, abang terlalu emosi melihat adek tiba tiba hadir setelah tak ada kabar dan melihat kesalahpahaman barusan," jelasnya.
__ADS_1
Aku diam, tidak ingin mendebat lagi.
"Ayo masuk, kita bicarakan ini di dalam !" om Za merangkulku dari samping membawaku masuk ke dalam. Kelemahanku yang tak bisa marah lama lama padanya.
Mataku memicing melihat Susan, rupanya ini Susan yang dulu pernah menyukai om Za. Cukup oke !! tubuhnya bak gitar spanyol sedangkan aku?? seperti ukulele karena jelas sekali perbedaan tingginya, ditambah perutku yang buncit karena ada nyawa di dalamnya, membuatku tidak pede. Tubuhku memang sedang dalam masa subur suburnya untuk berkembang, berkembang ke samping, depan dan belakang, seperti bemo.
Om Za membawaku masuk dan duduk di sofa di ruang kerjanya.
"Perkenalkan pak Ilham, Susan.. ini istri saya Salwa Zahratunissa !" ucap om Za. Susan tersenyum getir melihatku, bagaimana bisa dirinya yang berparas cantik dan dewasa juga bertubuh perfect kalah hanya oleh seorang gadis muda sepertiku. Bahkan kini sedang mengandung anak om Za.
Ingin kucolok rasanya mata wanita itu. Melihatku dari atas ke bawah.
"Saya Ilham, dan ini sekertaris saya Susan !" jawab pak Ilham.
Aku mengatupkan kedua tanganku "Salwa," jawabku.
"Tadi Susan menjatuhkan gelas dek, pak Ilham juga menyaksikannya karena beliau ada di dalam juga !" jelas om Za.
"Maaf dek Salwa," ucap Susan.
"Panggil bu Zaky !!" jawabku.
"Yaaa??" melongonya. Om Mirza hanya mengulum bibirnya, mendengar bibir mungil nan pedasku sedang mengeluarkan ultimatumnya. Akhirnya Susan merasakan ospek istri Zaky. Pasti setelah ini ia akan merasa kapok.
"Iya bu Zaky," lidahnya terasa gatal mengucapkan kalimat itu, rasanya ia sedang diolok olok oleh anak kecil.
"Kalau begitu maaf sudah mengganggu rapat bapak dan tante Susan bersama suami saya, silahkan dilanjut saja," jawabku.
"Abang kesayangan Salwa, Salwa tunggu abang di luar saja !!" jawabku sengaja membuat kuping Susan merasa terbakar, kalau bisa hangus sekalian. Tak lupa kububuhi bumbu kecupan di pipi om Za. Om Za sebenarnya sudah merasa tak enak hati, tapi ia pun ingin tertawa tergelak melihat tingkah konyolku.
Ucapan pedas yang dibalut semanis mungkin, apa cabai dalam mulutku direndam di dalam larutan gula? sehingga manis dalam bertutur kata namun menusuk dan pedas dalam penyampaian maksudnya.
Aku melenggang keluar ruangan, menuju kamarku.
Langkahku mondar mandir tak karuan, penasaran apa yang sedang dibicarakan, apa mereka akan membicarakan masa lalu mereka??
Bukan tidak mungkin mereka akan kembali dekat jika kerjasama itu berjalan. Dan Susan akan berusaha mendekati om Za. Seorang ustadz pun tak sedikit yang berpoligami, iman yang begitu kuat pun tak mampu menahan godaan wanita wanita cantik di luar sana, apalagi om Za?? tante Cut saja dengan terang terangan rela jadi maduku.
Aku berdiri di dekat jendela melihat betapa teriknya siang ini.
Ceklek
Pintu terbuka, Om Za mengendurkan dasinya dan membuka jas nya.
"Jadi, apa adek mau menjelaskan apa yang sudah adek lakukan terhadap abang?" tanya nya mendekat, aku hanya menoleh. Masih terasa kesal, bayangan om Za yang sedang berlutut, walaupun hanya sekedar menyingkirkan pecahan beling, agar tidak melukai siapapun membuatku tak bisa untuk tidak merasa cemburu. Kenapa harus seperhatian itu pada Susan, kalau aku jadi om Za sudah kubiarkan beling itu berserakan biar Susan menginjaknya. Siapa tau ia kebal seperti debus dan kuda lumping.
"Engga ada apa apa, sengaja aja biar abang kesel !!" jawabku ketus.
Ia menarikku ke dalam dekapannya "assalamualaikum om bayi? apa umi mu nakal selama di Jakarta sana?" tanya nya mencium perutku.
"Bilang sama umi mu, percaya sama abi," usapnya.
"Kenapa mendadak pulang?" tanya nya.
"Mau liat abang lagi berduaan sama Susan !" jawabku lagi, om Za menghela nafasnya lelah, harus seperti apa lagi menjelaskannya.
"Apa yang harus abang lakukan agar adek percaya?" tanya nya.
Aku menaikkan alisku sebelah " apa abang bakal nurutin keinginan Salwa, kalo Salwa pengen beli permen kapas sama abang abangnya sekalian??" tanyaku menantang. Kena kan om Za tak mungkin bisa memenuhi permintaanku yang terkesan seperti seorang Roro Jonggrang pada Bandung Bondowoso.
__ADS_1