Love Me Please , Uncle Camat

Love Me Please , Uncle Camat
Perkelahian dasyat sepanjang sejarah


__ADS_3

Bismillah happy reading all 😘


.


.


.


Kresek hitam kuikat dan kugantung di pagar, sampah dapur yang sudah hampir memenuhi tempat sampah, kebetulan hari ini memang jadwalnya tukang sampah lewat. Mataku memicing melihat seorang perempuan sedari tadi melihat ke arah rumahku, mungkin sosok yang sedang diamatinya sedang sibuk membetulkan selang air di dapur. Apa perlu kulempar kresek ini biar matanya ga jelalatan cariin suami orang? Matanya selalu condong dan melirik lirik ke samping ke arah rumahku, tak mungmin kan matanya juling.


Bibir merah menyala kaya mobil pemadam kebakaran, dan pipi yang terlampau merona kaya abis digebukin. Menjadi ciri khas mbak Siska. Tak tau kursus make up darimana sampai rasanya orang yang melihat nya saja berasa geli.


"Cari siapa mbak?" tanyaku.


Matanya mulai memicing, "engga," ia melengos lalu pergi dengan sinisnya. Aku menggelengkan kepala, kelakuan manusia semakin hari ssmakin menggila, dunia memang sudah tua, apakah ini ciri ciri akhir jaman.


.


.


"Assalamualaikum !!" Bu Surti dan bu Lia sedang duduk di teras depan, siang siang begini kalau tidak rujakan buah ya saling membantu seraya bersantai.


"Waalaikumsalam !!"


"Mbak Salwa, sini mbak !!" ajak bu Surti.


"Gimana mbak sudah ketemu sendalnya?" tanya bu Surti.


"Sudah bu," Aku duduk melantai seraya mengajak Al bermain.


Tangan bu Lia yang mengurai setiap helai rambut bu Surti cekatan mencabut setiap rambut yang keputihan. Aktivitas favorit kaum emak emak kaum receh, tak perlu bermodal, hanya perlu keikhlasan sang tetangga lah untuk mau mencabuti uban.


"Lah memang sendalnya hilang to ?" tanya bu Lia.


"Iya, bu. Mungkin diumpetin entah di bawa karena kepingin !" jawab bu Surti.


"Tapi akhirnya ketemu kan?"


"Ketemu bu, alhamdulillah di bantu Roni !"


"Alhamdulillah, "


Bu Surti mendongak dan merapikan rambutnya, lalu beralih menggendong Al, sudah seperti ibu asuh buat Al.


Wanita yang sepertinya menghabiskan lipstiknya 1 dalam sebulan ini lewat, memang hidupnya di dedikasikan untuk membuat hidup orang lain terusik dan tak nyaman.

__ADS_1


"Mbak Salwa, ada baiknya jika sudah memiliki suami itu dilarang berduaan dengan laki laki yang bukan muhrimnya !" celetuknya, bak dipantik korek, emosiku naik ke ubun ubun, perempuan seperti dia memang tak bisa dibiarkan saja, malah keenakan. Mulutnya itu, kaya pabrik petasan korek. Sontak saja bu Lia dan bu Surti melirik ke arahku, seolah disini aku tersangka utama kasus istri yang menyeleweng. Jangankan selingkuh, kenal dengan laki laki pun tak diijinkan pria blasteran malaikat yang ada di rumah. Hanya berdekatan dengan jarak 5 meter saja ia sudah angkat senjata, apalagi kalau aku mencoba mendua mungkin besok aku akan menjadi target tembaknya. Ingat saja aku yang di kurung di kamar seharian karena Adam, Uni dan yang lainnya datang ke rumah tanpa seijinnya.


"Mbak Salwa??" tanya bu Surti meminta penjelasan.


"Mbak Siska alangkah baiknya seorang perempuan bisa menjaga sikap dsn ucapan, apalagi sampai menggoda goda suami orang dan menuduh istrinya !" jawabku tak kalah pedas. Ia membulatkan matanya, merasa tertantang oleh bocah kemarin sepertiku, ia sepaket dengan mulut nyinyirnya mendekat. Hanya tinggal menonjoknya, ia tak perlu lagi menggunakan gincu merah dan alat untuk menebalkan bibir selama seminggu.


"Maksudnya apa?? siapa yang menggoda siapa?" dengan tidak sopannya ia mendorong bahuku.


"Jangan mentang mentang mbak Siska warga lama kampung sini, dan usianya sudah tua terus bisa seenaknya !!" aku balik mendorong bahunya balik.


"Kamu !!" tunjuknya.


"Apa?? malu ?? karena ketauan lagi nyatronin rumah saya tiap pagi, berharap abang keluar !! malu karena setiap ada kesempatan ketemu abang selalu kaya cacing kepanasan !! sini saya kipasin !!" aku mengambil sendal jepit karet milik Wahyu lalu mengipasi wajah perempuan gillakk ini.


"Wesss kurang aj*ar !!! bocah saja sudah berani melawan yang lebih tua !!" ia berdecih, bu Surti memundurkan langkahnya agar pertikaian ini tidak mengenai Al, bu Lia melerai aku dan mbak Siska.


"Sudah, sudah mbak Salwa ga usah dilayani !" gumam bu Lia.


"Ga bisa bu, ini orang lama lama nyebelin kaya mukanya minta digaruk pake garpu rumput !!" jawabku berkacak pinggang dan mendongak jumawa. Tingginya sama denganku, makan juga sama sama makan nasi, apa yang harus kutakutkan.


" Terus apa namanya kalau bukan nyeleweng kalo asik asikan sama Roni, semua juga tau Roni anak muda berprestasi dengan pekerjaan yang lumayan, wajahnya pun ganteng. Masih muda pula !" aku nya.


" Yang berduaan sama Roni siapa?? jangan asal nuduh !!"


"Jangan beralasan karena mencari sendal, padahal buat menutupi modus kalian buat pacaran di belakang mas Zaky !!" Aku semakin melotot, ini orang nuduhnya kebangetan, tapi tunggu ! darimana ia tau kalau aku bersama Roni sedang mencari sendal.


"Apa jangan jangan kamu menikah dengan mas Zaky pun karena kamu bocah yang kegatelan ??!!" cerocosnya seolah mukut memang tak ada remnya, bukan karena kerasnya ia berteriak, tapi karena kata katanya itu, lidah memang tidak bertulang.


"Kalo iya, kamu mau apa ? itu tandanya gadis seperti saya lebih menggoda iman daripada wanita matang kaya kamu !!" jawabku.


"Sendal butut saja dicariin, sendal saya saja lebih bagus dari punya kamu !!! pasti itu chan*nel palsu !!" ujarnya. Satu bukti menyeruak dari mulutnya sendiri. Tanganku sudah gatal, lama tak bersua di dunia gulat, biasanya lawanku adalah Venty. Maafkan istri magic mu ini bang jika kali ini jiwa bar barku keluar.


"Jadi mbak Siska yang ngumpetin sendal saya??!!!" aku semakin memperpendek jarak, tangannya terulur menunjukku, namun kutangkap jarinya duluan. Lalu menamparnya,


"Plak !!!"


Ia balas menamparku sangat kencang, perih, panas dan sedikit membekas.


"Wanita ko kasar !!" pekiknya. Jangankan ia yang notabenenya hanya biduan kampung, atlet MMA sekalipun aku ajak berduel. Tak tau saja dulu semasa SMA aku selalu berkelahi dengan Venty.


Mbak Siska malah menarik rambutku agar aku melepaskan jemarinya yang masih kucengkram.


"Mbak Salwa sudah !! mbak Siska kamu bisa diam tidak !! jangan berbicara yang tidak tidak !!" bu Lia terlihat panik.


Aku balik menarik rambutnya yang tergerai, lalu memelintirnya, ia menjerit kesakitan.Aku semakin mencengkram tangan yang satunya hingga ia kesakitan, begitupun tanganku yang memelintir rambutnya, semakin ku ketatkan pelintirannya.

__ADS_1


"Mbak Salwa ya allah !!" bu Lia mencoba melerai.


"Iya memang saya yang ngumpetin sendal butut kamu, jangan so paling kaya disini. Hidup saja mengontrak !!" jawabnya di sela sela ringisannya. Rupanya seranganku tak membuat mulutnya diam.


"Tolongin saya bu Lia, perempuan ini bar bar !!" pekiknya meminta pertolongan.


"Makanya mulut mbak Siska dijaga, sudah k.o masih tetap nyinyir !!" bu Lia mencoba melepaskan cengkramanku. Amarah memang menguasai segalanya.


"Saya memang bar bar,makanya jangan cari gara gara sama saya !! harusnya udah tua tuh tobat, ngaji ke masjid bukannya goda godain suami orang terus nyinyirin tetangga !!" jawabku. Beberapa orang akhirnya datang, mereka melerai termasuk Roni yang kebetulan lewat.


"Astaga ibu ibu, jangan berkelahi, sudah seperti ring tinju saja !!" pekik bu Rt.


"Mbak Salwa, mbak Siska hentikan...malu !!" pak Rt menarik mbak Siska tapicengkramanku terlalu kuat.


"Aaa..pak Rt tolong saya, wanita ini memang kurang aj*ar !!" pekiknya.


"Ya Allah, Salwa !!!" Om Za masih dengan stelan dinas meraih dan melepaskan cengkramanku dari rambut mbak Siska. Di tanganku banyak helaian rambutnya yang rontok.


"Cukup !!!" ucapnya lantang.


"Kalian sudah dewasa, tak malu dilihat anak anak kecil macam Wahyu !! liat Al Fath sampe terbengong lihat ibunya berkelahi !! dan untuk kamu mbak Siska, istri saya tidak seperti apa yang dituduhkan !!" mata om Za menajam.


"Ada apa ini, apa tidak bisa dibicarakan baik baik !!" ucap pak Rt.


"Tanya saja bu Lia !!" jawabku.


Bu Lia menjelaskan semua yang terjadi di selingi sambaran mbak Siska.


"Apa kamu tidak diajarkan tata krama, orang lagi jelasin di potong potong, mulut kamu yang harusnya dipotong !!" ucapku,


"Ehhh, sini kamu !!" mbak Siska mencoba meraih ku lagi.


"Allahu, sudah sudah !!!"


"Bang, ini dia nih tersangka utama yang nyuri sendal Salwa !!! kenapa ?? bilang aja kepengen !!" ucapku.


"Hih, sorry sorry ya, saya mampu beli !!"


Mulutku rasanya sudah gatal, sudah lama mulutku ini pensiun buka buka aib orang. Sepertinya pertarungan ini akan menjadi perkelahian dahsyat sepanjang masa mengalahkan gladiator di Roma sana.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2