Love Me Please , Uncle Camat

Love Me Please , Uncle Camat
Nasib wanita cantik


__ADS_3

Bismillah happy reading all 😘


.


.


.


.


Hari ini hari pertamaku, membuka lembaran baru sebagai seorang mahasiswa, semua kebutuhan kuliah sudah diurus om Za lewat om Mirza.


Hanya tinggal menambahkan sentuhan jilbab, aku siap untuk turun ke bawah. Karena hampir semua mahasiswi disini berjilbab, begitu aturannya. Maka aku wajib mengikutinya. Tempo hari pun aku sudah bilang pada om Za, memantapkan untuk berjilbab, meskipun masih tutup buka seperti warung jika di dalam rumah.


Cekrek !


Aku mengirimkan potret diriku pada om Za.


"Istri sholeha pamit kuliah, bang !" kebiasaan lama tak bisa dihilangkan, laporan jika ingin pergi ataupun sedang melakukan apa. Apalagi laporan kali ini harus dilengkapi dengan laporan jagoannya. Aku membawa Al ke bawah,


"Sini sayang pamit dulu, do'ain umi lancar belajarnya ya !" ucapku pada Al yang asyik memainkan ujung jilbabku.


"Sini sayang sama ummah, " Umi memgambil Al dan memangkunya.


"ASI buat Al udah Salwa taro di frezzer ko mi," jawabku menyendok nasi goreng. Ini enaknya tinggal bareng umi, aku terkadang tak usah repot repot memasak. Hanya saja pikirannku terbang, bagaimana nasib lelakiku disana, udah kaya lagu dangdut, masak cuci sendiri.


"Iya nak, jangan lupa bekalnya !" jawab umi, senyuman menenangkan ini membuatku nyaman, beruntung sekali aku menjadi menantu, mertua sebaik dan se the best umi. Tak pernah banyak menuntut aku harus seperti apa.


"Pasti umi !" jawabku meraih kotak makan dan memasukkan roti diolesi selai.


Ting ! pesan balasan dari om Za.


"Masyaallah cantiknya istri abang, hati hati sayang !"


"Pagi !!" Afrian duduk di meja, sejak om Za menyuruhnya menjadi pengawalku, Afrian memang tinggal disini.


"lama amat dandannya, kaya anak perawan !" ucapku.


"Kaya yang engga aja !" jawabnya.


.


.


"Acha apa kabar ?" tanyaku.


"Baik, "


"Berarti loe sama Ica LDR dong ?!" tanyaku lagi


"Yap !" jawab Afrian, mobil melaju masuk ke sebuah universitas yang cukup besar. Universitas ini yang dipilih oleh om Za, untuk tempatku menimba ilmu.


"Kenapa ga satu kampus sama gue aja si?" tanyaku.


"Loe sama gue beda angkatan Sal, gue senior loe !" jawabnya.


"Kenapa abang ga masukkin gue ke kampus loe ! kan jadi bisa bareng !" jawabku.

__ADS_1


"Ga tau juga, abang orangnya teguh pada pendirian Sal, kalo udah itu ya itu !" jawab Afrian.


Aku turun dari mobil, Afrian ikut turun.


"Loe mau kemana?" tanyaku.


"Nganterin loe lah ! pesen abang kan gitu, nganterin loe sampe ke dalem. Biar istrinya ini ga banyak belok !" jawab Afrian.


"Cih, masih aja !" jawabku kesal dengan sikap posesif om Za.


"Huss sana !! udah balik !! " usirku saat sudah berada di lapang.


"Ya udah gue balik ! nanti gue jemput balik ngampus !" jawabnya, Afrian kembali memakai kacamata hitamnya, beberapa mahasiswi kampus baruku, melirik laki laki yang ada turunan tampannya dari om Za, mungkin satu keluarga satu tipe, namun beda sikap.


"Hey, kamu ! masuk ke barisan !" tegur seseorang membuyarkan pandanganku.


"Iya ka !" jawabku cepat, masuk ke dalam barisan mahasiswa baru. Tak tau apa yang ketua senat itu bicarakan, yang jelas bagiku seperti obat tidur saja. Jika di rumah aku sudah ambil bantal dan rebahan bareng jagoanku.


"Kamu mahasiswi baru ?!" ucapnya songong. Seorang perempuan berjilbab memakai almamater.


"Iya ka, " jawabku.


"Kalo mahasiswi baru ga usah banyak gaya, mau fashion show bukan disini tempatnya !" ucapnya sontak aku mengernyitkan dahi. Barusan itu ungkapan sirik, nasihat, atau perintah??


"Memang ada yang salah ka?" tanyaku tak terima.


"Pake nanya lagi !! ga usah bertingkah dan kepengen jadi pusat perhatian !!" jawabnya. Aku semakin dibuat bingung.


"Ga usah di dengerin, itu dia Cut Windu !" ucap seorang mahasiswi lainnya dari arah belakangku. Kenapa orang dengan nama Cut di sekitarku selalu memiliki masalah denganku.


"Kenalkan namaku Alisha !" jawabnya.


"Kayanya dia cuma sirik, liat kamu dilirik banyak mahasiswa, termasuk banyak senior. Belum lagi tadi datang bareng cowok ganteng. Dia pacar kamu ya ?!" tanya Alisha menyamakan langkahnya denganku.


"Oh bukan, dia sepupu gue ! bisa dibilang adik ipar !" jawabku. Alisha terkejut, "haaa??! adik ipar ? maksudnya, kamu??"


"Iya, gue dah nikah, udah punya anak juga, " jawabku meyakinkan.


"Wah, ga nyangka aku kira kamu masih...ga keliatan soalnya !" jawabnya terkekeh.


Sambutan yang cukup menyebalkan dari senior, aku masuk ke kelas bersama Alisha, teman baruku.


"Salwa Zahratunissa !" panggil mahasiswa bernama Zidan.


"Iya, "


"Dipanggil ke ruang dekan !" jawabnya.


Aku melirik Alisha, dan Alisha menggeleng. Aku segera mengekor lelaki ini.


"Jadi namamu Salwa Zahratunissa?" tanya nya.


"Bisa baca kan?" tanyaku, sudah jelas tadi dia yang memanggil. Ia malah terkekeh.


"Aku Zidan, ketua senat disini !" ia menyodorkan tangannya, tapi tidak kubalas.


"Oke, " jawabku.

__ADS_1


Ia kembali menarik tangannya, "oke mungkin tangan ku terlalu kotor buatmu ! gumamnga.


"Sorry, bukan muhrim !" jawabku.


"Kalo ada butuh sesuatu disini, atau belum tau semua ruangannya bisa tanya aku !" tawarnya.


"Iya, makasih !" jawabku. Aku masuk ke dalam ruangan Dekan,


"Salwa? silahkan duduk !" pintanya.


"Ada apa pak?" tanyaku.


"Apa kabar pak Zaky??" tanya nya. Aku membeo, "Yah?!"


"Bapak kenal abang?!" tanyaku.


"Tentu saja, Zaky adalah kawan lama saya, dia juga sering menjadi donatur jika kampus ini sedang mengadakan acara, " aku tau alasan om Za menguliahkanku di kampus ini. Ternyata masih berada dalam pengawasannya. Pantas saja ia bisa sesantai ini mengurus kuliahku.


"Ahh, baik pak ! abang baik baik saja !" jawabku.


"Semoga dek Salwa nyaman berkuliah disini !" serunya ramah, nyaman saking nyamannya sambutan awalnya saja aku sudah di bully oleh senior.


"Insyaallah makasih pak, saya harap, bapak bisa memperlakukan saya, seperti mahasiswa lainnya. Tanpa melihat abang, " jawabku.


"Ah, tentu saja. Zaky pun berkata seperti itu !" jawabnya.


"Kalau tidak ada yang mau dibicarakan lagi, saya undur diri, " pamitku.


"Iya, silahkan !" jawabnya.


Aku berjalan melewati koridor untuk kembali ke ruang kelas, "pantes aja, ini semua the power of abang !" gumamku.


"Salwa !!" pekiknya, perempuan ini lagi, aku berbalik.


" Kamu udah punya pacar kan? sebaiknya ga usah gangguin lagi lelaki lain ! ga usah kegenitan, tebar tebar pesona !" ucapnya.


Alisku bertaut, baru juga pertama kali masuk, sudah disebut sebagai cewek kegenitan. Memangnya aku melakukan keselahan apa?? laki laki mana yang sudah kugoda?


"Maaf ka, kalau mau menegur. Sebaiknya buktikan dulu, dimana letak kesalahan saya, karena saya tidak merasa melakukan seperti apa yang dituduhkan kaka pada saya !" jawabku.


"Ga usah so belaga naif, lalu tadi apa ?? so so akrab pada Zidan padahal jelas jelas tadi pagi kamu diantar pacarmu sampai lapang ?!" jawabnya.


Aku mengerti disini, sudah sering kejadian, mulai dari Fenti sewaktu di Jakarta, lalu beralih ke Vita yang tergila gila pada Wisnu dan sekarang, perempuan di depanku. Apa di dunia ini laki laki hanya ada mereka saja?


"Kaka pacarnya ka Zidan?" tanyaku, ia gelagapan karena antara dirinya dan Zidan belum bisa dikatakan berpacaran.


"Oh, kayanya bukan ya ?!" tebakku.


"Saya dekat dengan Zidan !" jawabnya angkuh.


"Ohhh baru dekat !" jawabku.


"Kenapa?? mau ngeledek?" tanya nya.


"Engga, cuma mau ngasih tau..hati hati saya tukang rebut gebetan orang !" bisikku, mendekatkan mulutku ke telinganya. Lalu aku berbalik sambil tertawa meninggalkannya di belakang dengan wajah yang sudah kesal, sepertinya akan ada nene lampir lagi disini, dimanapun kakiku berpijak, disitu pula nene lampir berada. Nasib cewek cantik semengenaskan ini.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2