
Bismillah happy reading all π
.
.
.
.
.
Perutku semakin membuncit, terkadang aku ngeri sendiri melihatnya. Seperti balon yang terus ditiup lama lama akan pecah. Tinggal ditusuk jarum.
" Greuppp !!"
Badanku saja dirasa semakin berat, belum lagi om om satu ini hobby nya memelukku dari belakang dan nemplok begitu saja, seperti bayi gorilla.
"Bang, engap !" omelku.
"Dek, om bayi gerak gerak terus, katanya mau ditengokin abinya !!" ucap om Za. Aku menoleh tak lama mendorong pelan jidat om Za yang menempel di pipiku.
"Ga usah ngada ngada !!" jawabku lalu melepaskan pelukannya, jalanku sedikit melambat karena langkahku yang sudah mulai sulit. Auto kalah kalo lagi balapan lari atau dikejar guguk.
Rencananya hari ini om Za akan menemaniku berbelanja perlengkapan bayi, 2 hari yang lalu aku bertolak ke Medan, memang sengaja ingin menghabiskan waktu weekend disini, selain itu ingin mengecek cafe juga. Om Za sudah siap dengan pakaian casual nya.Wajahku cemberut,
"Ibu hamil ga boleh ditekuk mukanya !" lirih om Za, terang saja wajahku tertekuk masam, lecek kaya uang kembalian, melihat om om ini tampak hot dengan pakaian casualnya sedangkan aku dress balon panjang dan jilbab demgan perut membuncit bak badut ultah.
"Abang jangan ganteng ganteng dong, masa iya ntar dikira abang lagi nganter istri tetangga !!" sarkasku. Hormon kehamilan masih bersarang di perasaanku, jadinya hal apapun selalu bawa perasaan alias baper.
"Ya Allah, masa istri tetangga? ya istri abang lah !" jawabnya.
"Nanti di mall, abang ga boleh lirik kanan kiri !!" ucapku sambil masuk ke dalam mobil dengan sebelah tangan yang berada di perut.
"Iya !!" jawabnya.
Memang susah memiliki istri cerewet bin bawel, demi kesehatan jiwa dan raganya, om Za lebih memilih mengalah, mengalah bukan berarti kalah, tapi mengalah berarti tentram dan damai.
Memang sudah biasa, bukan hanya laki laki saja, mata wanita juga bisa jelalatan dan keranjang, tak tau keranjang buah atau keranjang parcel. Yang jelas tak bisa lihat ada yang bening dikit kaya air gunung pasti noleh dan ga lepas.
Aku dan om Za masuk ke dalam store pakaian bayi, memilih ini dan itu. Karena saking asyiknya memilih barang barang lucu, tak terasa kaki ku terasa lelah dan pegal.
"Pegel ya?" tanya nya, aku mengangguk.
Sebenarnya aku tak mau berlama lama disini dan membiarkan wajah tampan lelakiku menjadi konsumsi bersama secara cuma cuma.
"Tunggu disini, abang keluar sebentar !" jawabnya meninggalkanku.
Dari belakang terdengar suara suara pujian dari para karyawan toko " aduhhh pengen juga dong diperhatiin !!" ucap mereka.
"Rela gue kalo jadi selingkuhannya atau dimadu !!" jawab satunya.
"Loe rela dimadu, gue racunin juga loe !!" batinku meracau mengibarkan bendera perang.
Om Za membawakan sebotol air mineral dan membukanya, menyodorkannya padaku. Tangannya terulur mengusap keringat yang menempel di keningku.
"Apa masih ada yang mau dibeli?" tanya nya.
__ADS_1
"Engga bang," jawabku.
"Adek tunggu disini,biar abang yang bayar," iamembawa barang belanjaan ke kasir dan membayarnya.
Semua barang belanjaan dibawa menuju parkiran mobil, dengan dua orang karyawan toko membantunya.
"Terimakasih !!" dengan menyodorkan uang tips, om Za menutup bagasi mobil.
"Makasih banyak pak,,"
"Setelah ini kita melihat cafe," ucap om Za.
"Oke pak!!" jawabku.
.
.
"Hari ini jadi nonton?" tanyaku, melongokkan kepala melihat lelaki kesayanganku yang sedang berkutat dengan laptopnya sejak pagi.
"Ini masih siang dek, "
"Emangnya nonton mesti malem terus ya?" tanyaku.
Sebisa mungkin om Za ingin mengabulkan permintaanku, menurut dokter jika si ibu merasa bahagia dan senang, maka akan membuat persalinannya mudah. Om Za tau resiko melahirkan di usia muda sepertiku ini.
Bulan ini adalah sudah masuk bulannya, mungkin memang aku akan melahirkan disini saja, agar memudahkan akses kemana mana. Umi dan abi pun segera menyusul kesini.
"Ya sudah, ganti pakaian mu, abang sudah selesai."
"Abang nurutin kemauan Salwa, kaya Salwa udah mau mati aja !" ucapku.
"Astagfirullah dek, ngomong apa sih kamu ??!" jawabnya marah.
"Ya sudah tidak usah jadi menonton, diam saja di rumah !!" jawabnya ngegas kaya dipakein cola cola.
"Ihh iya iya !! jangan marah,maksud Salwa aneh aja !" segera aku meralat ucapanku.
Sekali lagi menonton berdua dengan om Za di bioskop, sebelum seorang malaikat kecil hadir dan membuat kami susah untuk pacaran lagi.
Sebenarnya dari tadi pagi perutku ini bermasalah, terasa sakit, namun masih bisa kutahan. Mungkin kupikir hanya masuk angin saja, penyakit kebanyakan orang Indonesia.
Langkah kakiku semakin tak nyaman saat memasuki mall.
"Dek, kenapa?" tanya om Za melihatku khawatir.
"Sakit bang, " cicitku.
"Bukannya hpl masih seminggu lagi?" tanya om Za yang sama sama kebingungan, ia menangkupku dan menyuruhku duduk di kursi yang tersedia di ruang tunggu bioskop.
Aku memegang perutku, makin lama makin sakit. Keringat sebesar biji jagung keluar dari pori pori.
"Bang, kayanya kita ga jadi nonton deh ! perut Salwa dah mules !" ringisku. Seperti di pelintir dan di aduk aduk bagian perut bawahku. Om Za yang sudah membeli tiket, mendekat dan mengusap peluhku.
"Sebaiknya kita ke Rumah Sakit sekarang," Om Za menggendongku ala bridal style, sontak menjadi perhatian semua pengunjung mall disini, betapa so sweetnya lelaki yang satu ini, dan betapa malunya aku.
"Bang Salwa malu, awsshhh !!" masih sempat sempatnya malu di tengah kesakitanku.
__ADS_1
"Tahan ya sayang, insyaallah Rumah Sakit tidak jauh !!" ucap om Za.
Tanganku meremas t - shirt om Za menahan rasa sakit, om Za menggendongku sampai ke parkiran. Lalu ia merogoh ponselnya dan melakukan panggilan. Ia menyuruh om Ramli menyusul kami ke RS dengan membawa satu tas perlengkapan yang sudah jauh hari disiapkan.
Badanku sudah lemas, beginilah perjuangan seorang ibu melahirkan anaknya, seketika aku rindu bunda di Jakarta, juga merindukan umi di rumah.
"Sabar sayang, sebentar lagi sampai, om bayi tahan sebentar ya nak, " tangannya terulur mengusap usap perutku, dengan sebelah lainnya memegang kemudi.
Mobil sudah terparkir di rumah sakit, om Za membawaku ke dalam, om Za sudah membuat janji dengan dokter kandungan yang menanganiku.
"Sakit? mana yang sakit dek?" tanya nya, meskipun tenang tapi begitu tampak raut panik dan khawatir di wajahnya.
" Bagilah rasa sakitmu pada abang dek," ucapnya memegangi tanganku yang mengepal tangannya kuat.
"Adek mau apa dek, bilang pada abang," jawabnya mengecup keningku berkali kali.
Dokter datang dan kembali memeriksaku, ia meminta suster membawaku ke ruang bersalin.
"Pak, sudah waktunya. Semuanya sudah siap, pembukaannya pun sudah sempurna !" ucap dokter berjilbab itu pada om Za.
Om Za mengekor, sedetik pun ia tak pernah meninggalkanku, seperti janjinya.
"Ibu, jika saya bilang mengejan baru mengejan ya !" pinta dokter yang bertutur kata lembut itu, membuatku merasa nyaman, namun tidak dengan rasa sakit ini. Aku mengumpulkan kekuatan dengan menarik dan membuang nafas.
"Push !!" ucapnya, dorongan pertama gagal, aku menggelengkan kepala, tidak semudah seperti yang terlihat, apalagi dengan rasa sakit seperti akan meregang nyawa. Sampai sampai tenagaku cukup terkuras. Sorot lampu setersng ini pun terasa remang remang dimataku.
"Sakit bang, Salwa ga kuat !!" aku menggeleng dengan tangisan dan peluh yang membanjiri badan.
"Adek pasti kuat, ayo sayang. Uminya om bayi pasti kuat."
Om Za ikut berkeringat, jemari yang tersemat cincin nikah, tak pernah lepas menggenggam jariku. Dorongan kedua pun gagal, nafasku sudah hampir habis.
"Ayo bu, ibu kuat, apa yang dirasakan?? apa merasa sesak?" tanya dokter, aku mengangguk. Suster memasangkan selang oksigen di hidungku.
Dokter menginstruksikan om Za agar membantuku mendorong dari belakang. Om Za mengangkat badsn bagian atasku sedikit , kini posisinya seperti om Za yang sedang memelukku dari belakang.
"Siap bu, push !!" pinta dokter.
"Ayo sayang, adek pasti bisa. Demi abang, demi om bayi. Bukankah adek ingin melihat om bayi segera lahir??" ucap om Za.
"Ayok dek, dorong sayang !!" pintanya.
Sakit yang luar biasa dirasakan saat kepala mungil itu mulai keluar.
"Bang, Salwa mau nyerah aja. Salwa ga kuat !!" gumamku.
"Ayo dek, abang mohon !!" matanya mulai berair, baru kali ini aku melihat lelaki ini menangis.
.
.
.
.
Hay guys, maaf beribu maaf membuat menunggu lama, mimin habis vaksin jadi sedikit tak enak badan. Insyaallah kita lanjut ya, ππ
__ADS_1