Love Me Please , Uncle Camat

Love Me Please , Uncle Camat
Ok, let's drive baby !


__ADS_3

Bismillah happy reading all 😘


.


.


.


.


laptop om Za sampai berguncang dibuatnya, seketika meja ini terjadi gempa dadakan.


"Abang ahhh..!!" saat om Za semakin menghujamkan dengan cepat.


"Dek...ahhh !!" racaunya.


"Salwa keluar bang..." ucapku bersusah payah di tengah dada yang ngos ngosan seperti habis balap lari,


"Tahan, abang sebentar lagi..." ia menghujam dengan ritme yang cepat, membuatku mengeratkan cengkramanku punggungnya.


Permainan dengan gaya baru, dan tempat yang tak biasa. Om Za menyeka keringat di keningku, lalu mengecup keningku sayang.


"Mandi bareng ? kaya sunnah rasul?" tanya nya tersenyum.


"Yang ada Salwa k.o bang !" om Za kembali memasangkan semua penutup badanku. Seperti ayah yang sedang memakaikan anaknya baju.


"Kamu duluan saja tidur, abang menyusul. Masih ada pekerjaan, ditambah besok abang sibuk..ada beberapa petugas kesehatan yang akan datang dari dinas !" ucapnya, aku mengangguk.


"Gendong !!" rengekku merentangkan kedua tanganku.


"Uminya Al masih muda, tapi minta gendong kaya nene nene, " ucap om Za, namun tak urung menggendongku dengan gaya pengantin baru.


"Beda bang, kalo itu karena rasa kemanusiaan, kalo yang ini karena keharusan !" jawabku.


"Kenapa sebuah keharusan?" tanya om Za mengangkat sebelah alisnya.


"Harus dong, kalo engga abang tidur di luar, susu fresh langsung dari pabriknya, Salwa segel ! biar abang ga dapet nutrisi lagi, " jawabku menyilangkan kedua tanganku di dada.


Om Za menaruhku di ranjang, lalu mengecup bibirku sekilas, "sweet dream bu camat, " ucapnya.


********************


Suasana ngampus yang tenang tidak bertahan lama, Zidan yang tetap tak percaya jika aku dan om Za adalah pasangan bucin yang sudah halal, selalu menginterogasiku dengan segudang pertanyaan basinya. Belum lagi Windu, yang menganggapku jadi sugar baby nya om Za, selalu mempunyai cara untuk menghancurkan moodku dan membawanya jalan jalan hingga ke kerak bumi. Kuliah saat ini, benar benar suatu ujian yang sesuatu banget, untukku ! saat cobaan datang bukan dari Al Fath dan semua yang kumiliki, cobaan itu malah datang dari orang luar seperti mereka, om Za bilang selama mereka masih dalam batas wajar, biarkan saja ! ia yakin seorang Salwa bisa melahap kerikil macam mereka. Difikir aku ayam, makan kerikil !


"Hari ini cuma satu mata kuliah kan Sha?!" tanyaku semangat.


"Iya, kenapa emangnya Sal?" Alisha memasukkan buku catatannya ke dalam tas.


"Gue mau ngemisi dulu, misi kemanusiaan !" jawabku, biar keliatan keren.


"Cih, gaya nya ! "


"Mau bantu bantu, di kantor kecamatan kan lagi sibuk sama musibah banjir kemaren, lagi ada penyaluran bantuan, ditambah ada dokter juga yang dikirim dari dinas !" jawabku.


"Ih jadi ceritanya ibu camat kita mau turun langsung?!" tanya Alisha, meragukan fungsiku sebagai pendamping pemimpin. Walaupun bar bar begini, tapi hatiku setulus putri salju.


"Iya, ga caya? "


"Mau bantu apa mau kangen kangenan sama pak camat?!" tanya Alisha langsung kena sasaran.


"Cih, tau aja, itu salah satunya !" tawaku.


"Tipe tipe kaya loe tuh udah ketebak !" jawab Alisha.


"Dih, pake tipe..emang gue tipe wanita apaan ?!"

__ADS_1


"Loe tuh tipe cewek sweet talk ! manis banget padahal punya maksud lain !" jawab Alisha.


"Bilang aja tipe omongan buaya !" jawabku ketus, Alisha malah tertawa.


**********


Mobil Afrian sampai di kantor kecamatan, dari depan saja sudah terlihat jika gedung ini memang sedang sibuk dan penuh.


"Sal, kalo abang marah, loe tanggung jawab !" ucap Afrian. Aku mendengus, muka boleh rambo, hatinya bimbo.


"Ga nyangka aja cowok se sangar dan seberandal loe takut sama pria kaku kaya abang !" jawabku.


"Laki loe serem, dia juga gurunya berandal, dulu..sekarang lebih parah, maenannya kalo orang bisnis kaya mafia !" kekeh Afrian.


Aku masuk ke dalam, senyumku mengembang, saat melihat si tampan kalem sedang berbincang dengan dua orang dokter dari dinas, disitu pula ada om Mirza. Aku tak langsung masuk, karena takut mengganggu.


"Sal, " ucap ka Aisyah di meja bang Riski. Rupanya bumil ini, tengah asyik makan rujak.


"Ka Aisyah, ada disini juga ?!" tanyaku menghampiri.


"Iya, mau?" tawarnya, aku menggeleng.


"Duduk dek Salwa !" bang Riski memberikan kursi, Afrian mengekor di belakangku dan duduk di kursi sampingku.


"Iya dek, kaka ikut abang Mirza, di rumah sendirian bosan !" jawabnya mencolek kembali buah di bumbu rujaknya.


"Ka, yang di dalem siapa?" tanyaku.


"Dokter yang dikirim dari dinas, " jawabnya, aku berohria. Namun ikut mengintip, penasaran dengan dokter yang dikirim.


"Sutth oyy ! emak emak kerjaannya kalo ga nguping ya ngintip !" ujar Afrian.


"Ck, bisa diem ga !" sarkasku berbisik.


Mata dokter perempuan itu terlihat intens menatap om Za, bukan karena om Za yang sedang menjadi lawan bicaranya, tapi lebih kepada tatapan kagum.


"Ck, ulet !" keasyikan ngintip, sampai sampai aku tak sadar jika pintu dibuka dari dalam.


"Gubrak !!" aku terjatuh sampai berjongkok di ambang pintu. Jangankan orang orang yang berada disana, aku sendiri pun sampai terkejut.


"Salwa !" ucap om Mirza di depanku.


"Pfftt !!" Afrian dan bang Riski mengulum bibirnya.


"Haha, sedang apa bu ?!" om Mirza menunduk.


"Anu..ini cari peniti !" jawabku dengan wajah memerah, ketauan sedang mengintip itu, rasanya sungguh terlalu ! seperti terciduk sedang melakukan kejahatan paling memalukan. Bagaimanapun, harga diri orang nomer wahid disini harus segera diselamatkan.


"Dek, sejak kapan disitu ?!" tanya om Zaky, mendekat, lalu aku berdiri.


"Barusan ko, maaf..silahkan dilanjut lagi rapatnya !" jawabku kikuk.


Kedua dokter itu melihatku dan tersenyum.


"Abang rapat aja lagi, Salwa di meja bang Riski sama ka Aisyah !" jawabku seraya berbalik. Om Mirza yang ikut keluar, mengecek istri gembulnya.


"Hahahahaha !" tawa Afrian dan bang Riski pecah,


"Ihh nyebelin !!" aku memukul pundak Afrian dan bang Riski.


"Om Mirza ngapain sih buka pintu ! kan jadinya Salwa jatoh, ilang deh harga diri !" ucapku, ka Aisyah sudah mengulum bibirnya. Wajahku memerah malu, mendadak rasa percaya diriku menguap ke angkasa dan ditiup angin, sungguh memalukan. Kesan pertama bertemu orang baru malah seburuk ini.


"Loh, ko abang yang disalahin ? mana abang tau kalo Salwa lagi di situ ?!" jawab om Mirza terkekeh.


"Ga usah nyalahin orang, orang jahat tuh suka kena getahnya Sal, dibilangin juga ga usah ngintip ngintip ! ketauan kan, malu deh !" ucap Afrian mencibir.

__ADS_1


"Suttt !! berisik !" jawabku melotot.


"Ohhhh lagi ngintip !" om Mirza berohria.


"Sayang, masih ada yang dimau lagi?" tanya om Mirza pada ka Aisyah.


"Engga, udah ko !"


"Ya sudah, abang masuk lagi ke dalam ya !" ijinnya.


"Udah??! cuma ngecek gitu doang?!" tanyaku sewot.


"Salwa sampe jatoh harga diri cuma gara gara om Mirza mau nanyain ka Aisyah mau beli apa??! om Mirza masuk deh, ga usah keluar keluar lagi !" dorongku padanya yang tertawa.


"Cie ada yang ngintip !!" ledeknya,


"Rese !!" decakku mendorongnya dan menutup pintunya kembali.


Ka Aisyah beranjak, ia ingin ke toilet.


"Rese banget sih kalian !!" gerutuku kesal pada kedua makhluk di depanku, yang masih tertawa puas.


"Gue sumpahin, loe berdua jomblo seumur hidup !" ucapku.


"Blughh !!!"


"Aawww !!"


"Ka Aisyah !!!" pekikku dan kedua lainnya, aku dan kedua lelaki ini berhamburan menuju toilet. Begitupun pegawai kantor lainnya.


"Ya Allah !!" ucapku menutup mulutku.


Ka Aisyah sudah terduduk di lantai kamar mandi.


"Sakit Sal, perut kaka sakit !!" rintihnya.


"Ya Allah ka Aisyah, itu berd4r4h !!" tunjuk bang Riski.


Semua panik, Afrian dan bang Riski mengangkat ka Aisyah yang merintih kesakitan.


"Mobil Ian, buruan !!" ucapku berlari menyusul.


"Sal, kunci di saku kemeja !" Afrian menunjukkan dada sebelah kirinya, aku merogoh kunci mobil dan membuka mobilnya, Afrian dan bang Riski memasukkan ka Aisyah kedalamnya. Melihat kedua lelaki ini yang kesulitan, aku masuk ke bangku pengemudi.


Beberapa karyawan mengekor khawatir.


"Pak tolong bilang pak Zaky dan pak Mirza, kita ke RS !" ucapku, ia mengangguk dan segera masuk kedalam.


"Tok..tok..tok..!"


Ketukan keras dan cepat mengganggu obrolan mereka.


"Assalamualaikum, pak ! maaf mengganggu, tapi ibu Aisyah tadi jatuh di kamar mandi, lalu penda*rahan sedang dibawa ke RS oleh bu Salwa !" jawabnya, Om Mirza segera berlari begitupun om Za.


"Ya Allah, Aisyah !" ucapnya.


"Za, kunci mobil !" pekik Mirza ingin menyusul.


"Oke let's drive baby !!" ucapku menarik tuas..


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2