Love Me Please , Uncle Camat

Love Me Please , Uncle Camat
Obrolan ranjang


__ADS_3

Bismillah happy reading all 😘


.


.


.


.


Bibirku mengerucut 5 centi, terbuat dari apa sih lelaki di depanku ini, terkadang sikap dingin dan masa b*odohnya ini harus kusumbangkan pada om Mirza dan laki laki lainnya yang tingkat berlebihannya melebihi ambang batas.


"Abang seneng ya ga ada Salwa disini !! kita LDR an lama loh nanti, kalo Salwa minta dikelonin gimana??" tanyaku terang terangan.


"Bisa video call !" jawabnya santai, rupanya buah buahan di depan lebih menarik untuk dijamah.


"Kalo Salwa disana butuh sesuatu gimana?" tanyaku lagi.


"Abang sudah suruh Afrian untuk menjaga adek," jawabnya lagi, seperti semua sudah pada tempatnya.


"Kenapa Afrian sih ?!" omelku tak terima.


"Karena Afrian yang bisa abang percaya, dan yang jelas free !" jawabnya.


"Bisa ga sih yang gantengan dikit pengawalnya !!" pintaku menawar seperti sedang memilih barang dagangan di pasar.


"Siapa?? jangan harap !" jawabnya. Dingin dingin namun posesifnya kebangetan.


"Abang disini ga akan macem macem kan??" tanyaku, inilah yang paling kutakutkan. Om Za yang tak bisa menolak keras para ulat bulu, yang sering kegatelan nemplok padanya.


"Adek meragukan abang?" tanya nya, rasanya munafik jika bilang tidak.


"Kan banyak tuh yang sering tebar tebar pesona sama abang, abang juga jadi orang jangan kebaikan. Jadinya orang orang kesenengan kaya mbak Siska !!" akhirnya uneg uneg ku keluar juga.


Om Za menyelesaikan potongan buahnya dan membawanya ke dalam mulutku.


"Makan dulu biar otakmu jernih, ga selalu berprasangka buruk terus !" jawabnya.


"Bukan prasangka buruk bang, tapi ketakutan dan kekhawatiran !! " jawabku sambil mengunyah tiap suapan buah yang diberikan. Meskipun makan membuat ulu hatiku masih sakit.


"Tapi ketakutanmu berlebih, ga baik !" jawabnya.


Licik sekali lelaki ini, ia seperti komandan peleton di batalion, bertindak seenak jidat dengan menyuruh nyuruh Afrian mengawalku, layaknya aku terdakwa kasus sianida tanpa persetujuanku, sedangkan dia sendiri disini bebas.


"Kalau nanti Salwa kangen abang ??!" tanyaku memegang tangannya dan menciumi punggung tangannya, membawa tangan itu ke pipiku rasanya hangat dan menenangkan.


Ia menghela nafas, mendekatkan jaraknya. "Apa adek tau, saat ini hati abang sedang gundah ?" tanya nya. Dari tadi hanya diam tanpa ekspresi, hanya menjawab singkat singkat kata.


Mataku mengerjap bening memandangnya.


"Abang tidak tau siap atau tidak, tanpamu dan Al..tapi abang tidak bisa egois dengan selalu menunda nunda kuliahmu, apa adek tau akan serindu apa nanti abang pada kalian? akan sedingin apa hidup abang tanpa adek yang selalu hangatkan hari hari abang??" tanya nya.


"Jangan tanyakan rasa rindu, karena sudah pasti jawaban abang akan sangat merindukanmu melebih rasa rindumu !" tambahnya. Belum ditinggalkan saja, ia sudah segalau ini.


"Abang tidak mau kamu terus menunda hak dan impianmu untuk berkuliah hanya karena kewajibanmu, menghabiskan masa mudamu menjadi istri saja sudah cukup, abang bangga !" ia menepuk nepuk pucuk kepalaku dan beralih mengelus pipiku.


"Terimakasih, " ia mengecup tangan yang terpasangi infusan, tak tau sudah ke berapa kalinya ia mengecupi.


Berita gembira datang dari dokter yang sudah mengijinkanku untuk pulang besok hari.


"Alhamdulillah, udah kangen sama Al Fath ! " ucapku.


.


.


.

__ADS_1


"Pelan pelan saja, " ucapnya membantuku turun dari ranjang untuk duduk di kursi roda. Demi apapun aku sudah tak apa apa. Hanya saja om Za yang memperlakukanku seperti pasien struk parah saja.


"Apa setelah ini abang ke kantor?" tanyaku. Ia menggeleng, "abang ijin hanya setengah hari, lagipula hari ini hanya tes saja, abang sudah menyelesaikannya!" jawabnya.


.


.


Senyumku terbit, sudah tak sabar ingin segera turun. Melihat si gemoy Al bersama bunda sudah menungguku di luar rumah, 5 hari di RS apa membuat gemoy ku ini jadi lupa uminya? ku harap tidak.


"Bang, kontrakan kemaren kemaren di fogging tidak sih?" tanyaku turun.


"Iya dek, semua rumah warga disini di fogging ! sepertinya ini sudah masuk pandemi nasional, abang juga jadi khawatir dengan keadaan Aceh, apakah sama?? biasanya pemerintah kota langsung bertindak, agar tidak terjadi pandemi !" jawabnya, jiwa kepemimpinannya keluar.


"Apa setelah kembali ke Aceh, abang akan sibuk kembali?" tanyaku. Lalu kapan waktunya bersamaku dan Al.


"Iya dek, abang usahakan akan selalu ada waktu untuk kalian !" jawabnya tersenyum,


"Bunda !!!"


"Eh itu uminya Al, "


"Alhamdulillah anak bunda sehat lagi, masuk ! bunda sudah siapkan makanan kesukaan kamu!" ucap bunda.


"Bunda, Salwa kangen !! bunda kapan kesini ?" tanyaku menggelayuti lengan bunda. Om Za membawa tas ke dalam lalu bersih bersih dan menggendong Al.


Tidak bertemu dengan bunda selama hampir 4 bulan membuatku nempel terus seperti prangko.


"Sudah punya suami dan anak masih nyempilin ketek bunda," om Za hanya melihat dan membiarkanku, lalu kembali bermain dengan Al.


"Kapan kamu kembali ke Aceh ?" tanya bunda.


"Setelah pulih bun, " bukan aku yang menjawab namun pria matang itu.


"Hati hati, saat suamimu tidak ada kaka harus bisa menjaga kehormatannya. Kaka harus bisa menjaga diri dan Al," ucap bunda, kami duduk melantai di ruang depan.


"Maaf mungkin bunda tak bisa lama disini, ayah dan Yusuf tak ada yang mengurus," jawab bunda, aku sedikit merengut, namun aku tau bunda memiliki kewajiban sebagai seorang istri, setidaknya kehadiran bunda ini bisa mengobati rasa rindu.


"Iya bun, makasih," ucapku memeluk bunda.


"Jangan ditinggal terlalu lama istrimu ini Za, bahaya kalo cari pelukan di luar, ga mau lepas !" kekeh bunda. Om Za tersenyum mendengarnya.


"Insyaallah bun, Zaky tidak akan lama..kalo butuh pelukan ada umi disana !" jawab om Za.


"Kirain kalo abang ga ada disana Salwa suruh meluk laki orang ??!" kekehku yang langsung dijewer bunda.


"Peluk aja gedebong pisang !!" jawab bunda.


"Kalau kamu peluk laki orang, besoknya kamu akan mendengar orang yang kamu peluk sudah nyungseb di sungai !" jawab om Za, jika bunda tau itu hanya candaan. Beda denganku yang tau om Za akan melakukan apa.


"Sadis banget nyungsebin laki orang ke sungai?!!" jawabku.


.


.


Bunda tidur bersamaku dan Al Fath di kamar, sedangkan om Za berbaring di karpet ruang tengah.


"Ka, apa kaka hidup bahagia bersama Zaky?" tanya bunda, sepertinya bunda belum mau memejamkan matanya. Bunda dan aku biasa seperti ini dulu sebelum aku menikah, jika bukan aku maka bundalah yang masuk ke kamarku. Ujung ujungnya ayah tidur sendiri sampai subuh. Menurut bunda obrolan begini diperlukan untuk seorang anak dan ibu, ini adalah cara paling ampuh menjaga ikatan kedekatan antara anak dan orangtua.


Aku mengangguk, "dulu kaka ga mau bunda jodohin, langit berasa runtuh buat kaka. Apalagi bunda dengan teganya jodohin kaka sama makhluk modelan bang Zaky, Salwa juga masih sekolah, Salwa kan masih kepengen nikmatin masa muda Salwa, pergi kuliah, maen sama temen temen. Tapi sekarang kaka baru sadar, menikah tidak membuat bang Zaky menjajah dan mengambil semua hak kaka, malah ia selalu berusaha memberikan hak hak itu bahkan terkesan lebih istimewa, ya meskipun sifat dinginnya itu ga ketulungan tapi kaka suka. Sekarang kaka cuma mau bilang makasih sama bunda sama ayah karena sudah menerima pinangan bang Zaky," aku berbalik dan mencium pipi bunda seraya memeluknya.


"Hemmm, manjanya ga ilang ilang, Zaky mungkin akan pusing menghadapi istri manjanya," kekeh bunda.


"Ihh bunda, gini gini istri manja ini bisa ngurus anak sama suami, " jawabku tak terima.


"Bunda sama ayah tau Zaky memang laki laki yang tepat buat Salwa, justru bunda takut Zaky akan menyerah menghadapi kaka yang selalu bertingkah magic ini !" aku mengerucutkan bibir.

__ADS_1


"Bunda, kaka jadi penasaran dulu abang meminta kaka kaya gimana??" tanyaku usil.


"Ya lamar kaya orang orang biasanya lah, terus maunya gimana?? lompat dari pesawat sambil bilang mau meminang anak mu?? atau joget joget ga jelas depan kompleks sambil bawa cincin??" aku tertawa. Tidak mungkin om Za seperti itu, mana mau ja bersusah susah.


"Datang ke rumah dan meminta Salwa untuk jadi istrinya," jawab bunda.


"Terus bunda sama ayah kasih gitu aja?? bunda sama ayah ga takut gitu kalo abang ped*ofil atau gimana?" tanyaku.


"Husss ! ngaco !!" sarkas bunda mencubit pelan pipiku.


"Ya kali aja bun, gampang banget ngasih anaknya, ini anak gadis loh bun yang diminta bukan beras ! jawabku.


"Bunda dan ayah sudah mengenal Zaky dan keluarganya sangat lama,"


"Bunda hanya takut dengan pergaulan anak jaman sekarang, kaka jadi terbawa arus. Bunda yakin Zaky bisa membawa Salwa menjadi pribadi lebih baik lagi, membimbing Salwa.." mata bunda berkaca kaca.


.


.


Aku terbangun sangat pagi, bahkan bunda pun belum terlihat membukakan matanya. Aku mencoba beranjak tanpa mengganggu bunda dan Al yang masih terlelap. Dengan mengendap endap dan sangat hati hati. Seorang pria tengah berbaring menyamping menggunakan sarung di atas karpet, masih terlelap. Meskipun, hanya beralaskan karpet tipis di atas lantai, padahal biasanya ranjang empuk bak raja yang ia tempati. Aku mendekat, melihatnya lebih dekat, wajah penghuni surga begitu melekat di sini, rahang tegas, hidung mancung, dan alis tebalnya membuat siapa saja ingin menjelajahinya. Saat tengah asyik memperhatikan tiba tiba sebuah tangan merangkul pinggangku dan menarikku.


"Eh !" aku jatuh ke dalam pelukannya.


"Abang udah bangun??!" tanyaku menautkan alisku.


"Abang masih tidur, tapi karena diliatin cewek cantik yang menggoda iman jadinya bangun," jawabnya dengan mata yang masih tertutup.


"Bang lepas, nanti bunda liat ga enak," jawabku mencoba melepaskan diri.


"Kenapa harus ga enak? bunda pasti mengerti ko, bunda saja semalam dipeluk peluk. Sekarang bagian abang yang dipeluk peluk !" jawabnya tak mau kalah.


"Udah pagi, ga usah mulai nyebelin bang !"


"Abang dingin, butuh meluk kamu," aku memandangi wajah ini, yang 3 hari lagi akan kutinggalkan.


"Abang baik baik disini, jangan nakal !" ucapku, om Za membuka matanya.


"Iya dek, untuk sementara abang akan tahan hanya memeluk guling," jawabnya membuatku terkekeh. Om Za mengeratkan pelukannya dan menyesap aromaku rakus.


"Abang pasti kangen istri abang ini, biarlah abang merasakan rindu yang teramat. Biar waktu ketemu, kamu tidak akan abang lepaskan walaupun hanya keluar kamar !" jawabnya.


"Serem amat, ya udah Salwa pun gitu...terkadang jauh itu diperlukan kan?? biar kangennya berlipat, kalau nanti udah ketemu lagi Salwa bakalan nempelin abang kemanapun sekalipun ke toilet !" jawabku, om Za tertawa.


"Abang ga pegel pegel gitu??" tanyaku. Ia menggeleng.


"Tidur cuma dialasin karpet, apa kabar pengusaha sukses tidurnya kaya gembel??" tanyaku, om Za memanglah pengusaha tapi ia tak semanja itu.


" Yang penting Allah masih ngasih kenikmatan tidur, bukankah nanti saat nyawa dicabut dari raga pun kita tidur hanya beralaskan tanah??" jawabnya.


"Ga usah ngomongin mati, serem amat. Jangan mentang mentang dah tua !!" aku menepuk dadanya pelan. Ia terkekeh dan memelukku erat, menenggelamkan wajahnya di ceruk leherku, membuatku meremang. Hawa nafasnya menyapu permukaan kulitku.


"Abang jangan gini, geli...!" jawabku.


"Abang kangen dek, " jawabnya. Jangan sampai lelaki ini on fire sekarang, gila saja jika iya.


"Awww, abang ihhh !!" leherku di sesap dan diberikan tanda stempel miliknya.


"Ga bisa liat situasi dan kondisi !!" ia terkekeh.


"Manusiawi dek, ya sudah, abang ke kamar mandi duluan. Abang yang akan siapkan air hangat untukmu mandi. Hari ini biar abang yang siapkan sarapan. Mungkin adek belum kuat sepenuhnya." ucapnya, lelaki ini langsung terbangun menuju kamar mandi.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2