
Bismillah happy reading all π
.
.
.
.
.
Pagi pagi aku sudah terbangun, perpindahan dari kasur besar ke kasur busa yang lebih kecil memerlukan adaptasi, belum lagi ruang gerak yang susah membuatku terbangun dan tak bisa tidur lagi.
"Udah jam 4 juga !" gumamku, menjauhkan gorilla yang nemplok bebas menutupi badanku bukanlah perkara mudah.
"Bang, minggir tangannya, Salwa mau bangun !" bisikku. Tapi lelaki ini seperti sengaja, tak mendengar.
Tak ada cara lain, aku mengarahkan benda kenyal milikku menyentuh milik om Za,
cup !!!
"Morning kiss !!" ucapku, ia tersenyum, itu berarti dia memang mendengar tapi pura pura tuli.
"Kurang dek," jawabnya parau.
"Mandi dulu, baru boleh sun !!" jawabku mengiming imingi agar bisa lepas dari jerat om om yang kerennya kebangetan ini.
Tapi tangan nakalnya malah menahan ku agar tidak segera beranjak, ia malah menyentuh dua kembar sintal,
"Ga mau apa bikin kesan pertama kita di Jatim?" tanya nya, pagi pagi otaknya sudah ngeres minta di siram pake air satu bak.
"Ga usah ngadi ngadi deh bang, minggir !! atau Salwa jorokin ke lantai !!" ancamku.
Bukannya takut ia malah semakin menempelkan bibirnya dan m3lum@t milikku. Alhasil pagi pagi sudah olahraga.
Jangan harap ada shower air hangat, bahkan untuk persediaan air pun harus menyalakannya bergantian dengan tetangga.
"Bu Surti bilang bagian kita itu pagi pagi pukul 5, dek. Masih 10 menit lagi untuk menyalakan mesin pompa air !" ucap om Za.
"Oh oke!" aku mencoba beradaptasi dan legowo, belajar mandiri dari nol seperti stasiun pengisian bahan bakar.
Jika bukan dengan si om om keren ini tak tau apa jadinya.
Untuk mandi saja kami mengantri bergantian,
"Adek saja dulu yang mandi, sudah abang nyalakan kran airnya !" ucap om Za. Aku mengangguk, lebih beruntung dibanding harus mengambil airnya melalui sumur dan ditimba.
__ADS_1
Akhirnya bisa mandi juga, selagi om Za masih mandi, aku menghangatkan makanan semalam yang diberi bu Surti.
.
.
Setidaknya Surabaya cukup ramai untukku, pagi pagi saja sudah ramai, layaknya di Jakarta, emak emak berdaster sudah mengerubungi pedagang sayur keliling.
"Abang pergi dulu dek, jaga diri dan Al Fath, kalau ada apa apa hubungi saja !" ucap om Za.
"Iya, abang juga hati hati !" taksi online yang dipesan sudah datang. Disini aku benar benar sendiri, hanya berdua bersama Al Fath.
Mataku mengarah pada om Za yang memasuki taksi online di pinggir jalan sana. Sudah bukan kejutan lagi jika om om milikku ini menjadi pusat perhatian kaum ibu ibu dimanapun mereka berada, termasuk disini. Para ibu ibu yang tengah berkumpul mengerumuni pedagang sayur ini mengagumi ciptaan Tuhan paling sexy, apalagi om Za tersenyum ramah pada mereka.
....
"Udah kaya jaman batu, ga ada tv ga ada radio !" gumamku saat kembali ke dalam rumah.
Aku keluar lagi dengan membawa baby Al, hanya untuk sekedar menyapa tetangga. Tidak mungkin selama 3 bulan aku akan hidup sendirian. Yang ada nanti dikira tetangga baru yang sombong, mulut netizen kan sepedas sambal matah.
"Ehhh ada mbak Salwa !" sapa bu Surti yang ikut nimbrung disana, bisa dibilang orang yang memiliki vokal diantara semuanya. Aku tersenyum ramah, ini daerah orang, maka aku harus bersikap menjadi gadis yang baik.
"Iya bu, assalamualaikum ibu ibu !" sapaku.
"Waalaikumsalam !" jawab mereka.
"Pak Zaky ? lelaki tampan barusan?" tanya salah seorang ibu. Bu Surti mengangguk.
"Salam kenal ibu ibu saya Salwa," ucapku. Mereka menjawab, namun seperti biasa tatapan mereka sudah tak mengejutkan lagi buatku. Tatapan tatapan mempertanyakan usiaku yang bersanding dsngan pria sematang om Za. Mungkin pikir mereka aku hamil duluan jadi terpaksa menikah. Sudah makanan sehari hariku. Tau tau mungkin setelah ini akulah yang akan menjadi bahan gosipan baru untuk mereka.
"Jadi yang tadi memakai seragam dinas itu suami mbaknya?" tanya seorang ibu yang mencepol rambutnya.
Aku mengangguk mantap, "iya,bu !"
Ibu ibu itu berohria,
"Mbak Salwa, lucu sekali anaknya ! berapa bulan ?" tanya salah seorang ibu ibu membuka obrolan denganku. Topik obrolan umum yang sejauh ini masih wajar.
"2 bulan bu," jawabku.
"Lucunya !!!" biar tak terlalu malu, aku membeli beberapa sayuran, padahal tak tau akan dimasak apa. Tak apa lah, biar tak disangka hanya numpang promo saja. Setelah om Za pulang baru aku akan memikirkannya. Biasanya hanya dengan alasan capek saja, maka jiwa chef yang tak ingin ada bahan makanan mubadzir om Za keluar.
Aku tak tau obrolan random apa yang menjadi topik pembicaraan mereka, fix.. bukan obrolan kategori usia gue berarti. Daripada hanya menjadi kambing be*go, aku lebih memilih kembali ke dalam rumah, sepertinya mendengarkan ocehan tak jelas baby Al lebih baik.
"Ibu ibu saya pamit duluan !" ucapku, diangguki mereka.
"Bu Surti, saya masuk dulu !!" ucapku.
__ADS_1
"Nggeh mbak Salwa, silahkan !" jawab bu Surti. Sudah biasa bagiku, mendengar ibu ibu bicara di belakang tentangku dan om Za, yang hanya berani cuap di belakang, berghibah dan bergosip ria, seperti minta di santet online. Terlepas dari apapun itu yang penting aku dan om Za bahagia dan tidak merugikan orang lain.
.
.
Seharian hanya menghabiskan waktu bersama bayi gendutku merasakan menjadi ibu sepenuhnya, tau rasanya mengurus seorang anak.
"Al, kalo udah gede jangan cari istri yang suka bergosip kaya ibu ibu itu ya, umi ga suka...pengen umi olesin sambel level se*tan kayanya !!" gumamku sambil mengenakan pakaian pada bayi gembulku, yang baru selesai mandi. Seakan tak mau mendengar ocehan keluhanku baby Al hanya tersenyum menggemaskan dan menggerakan anggota geraknya heboh.
"Siapa yang mau adek olesin sambel ??" tanya seseorang dari belakang.
"Abang ??!" lirihku. Sejak kapan ia pulang, aku melirik jam di ponselku yang menunjukkan pukul 4 sore.
"Siapa sih yang sudah bikin kesal uminya Al, sampai sampai abang ucap salam tidak mendengar, karena terlalu sibuk kesal ?" tanya om Za. Ia menyimpan tas laptopnya lalu melengos ke kamar mandi dan membersihkan diri.
Om Za kembali dengan wajah yang sudah basah dengan air.
Ia memelukku dari belakang kebiasaan favoritnya.
"Adek sudah mandi?" tanya nya.
"Belum !" jawabku ketus. Bukannya marah ia malah terkekeh gemas.
" Mau cerita?"
"Itu bang ibu ibu tetangga, niat Salwa kan baik nyapa. Tapi mereka malah gosipin di belakang !!" ketusku.
"Biarkan saja dek, mulut pun mulut mereka, biarkan mereka mau bilang apa. Yang penting kita tidak merugikan orang lain, jangan sama gilanya membalas atau menanggapi," ini dia lelaki kaku bin sholeh, definisi penghuni langit tingkat 7. Sudah tampan, kaya, sholeh pula.
" Tapi kuping Salwa panas bang!!"
"Cuppp !!" om Za mengecup daun telingaku.
"Masih panas?" tanya nya, bukan lagi panas tapi meleleh.
"Assalamualaikum anaknya abi!!" seru om Za menggendong anaknya, seketika rasa marah dan kesalku hilang melihat pemandangan di depanku.
"Hot daddy..!!" gumamku.
"Dek kamu mandi, biar Al..abang yang pegang, kita makan di luar."
"Ashiapp pak bos !!" aku langsung memyambar handuk dan berlari menuju kamar mandi.
.
.
__ADS_1
Maaf beribu maaf guys sudah membuat readers menunggu lama mimin update cerita ini, insyaallah mimin akan menyelesaikan cerita ini.