Love Me Please , Uncle Camat

Love Me Please , Uncle Camat
Ditinggal seminar


__ADS_3

bismillah happy reading all😘


.


.


.


.


.


.


.


"Pffttt !" om Za mengulum bibirnya, menahan tawa melihat bibir manyunku,


"Seneng bener pak, liat istrinya manyun!"ledekku.


" Ga usah ditutup dek, umi, bunda, ayah dan abi pasti ngerti ko ," om Za merapikan rambutku ke belakang dan mengelusnya sampai ujung rambut.


" Umi nya om bayi jangan manyun terus kalo ga mau abang gigit lagi!" godanya.


"Lagian abang jahat banget sih, masa leher Salwa udah kaya macan tutul, NAFSUAN!!" sarkasku.Ia malah tergelak menjiwir hidungku.


" Bukan nafsuan dek, tepatnya bersemangat nengokin calon anak," kilahnya memeluk pinggangku meneliti wajah sampai rambutku.


"Udah pinter ngeles kaya bemo!"jawabku.


" Turun, kita makan dulu !" ajak om Za merangkul bahuku.


.


.


" Za, lusa jadi seminar?" tanya abi, makan malam ini adalah makan malam terakhir bersama bunda dan ayah, karena besok bunda dan ayah akan pulang.


"Iya bi, insyaallah jika tidak ada halangan, titip Salwa..." Ada rasa ingin ikut dan tak rela ditinggal tapi tentu saja itu tidak mungkin.


"Besok Ramli akan menjemput dan mengantar sampai ke Jakarta yah," ucap om Zaky.


"Tidak perlu repot Za, ayah dan bunda cukup diantar sampai bandara saja." jawab ayah diangguki bunda.


" Jangan menolak dik, demi keselamatan," sanggah umi pada ayah dan bunda.


Om Za benar benar menjaga keselamatan kedua mertuanya terlebih ia seorang bussinessman banyak saingan bisnis yang bisa saja menjadikan orang orang terdekatnya jadi sasaran kejahatan.


"Elah ...ayah, bunda ga apa apa itung itung latihan jadi calon sultan dikawal kemana mana," kataku membuat abi tertawa.


"Cihh, nih anak nyebelinnya, Za maafin ya kalo Salwa sering membuat kesal," bunda menyipitkan matanya.


"Yang ngeselin kaya gini tuh ngangenin bun," jawabku jumawa.


"Kapan Salwa periksa kandungan?" tanya umi.


"Besok mi," jawab cepat om Za. Mulut Salwa kapan pindah kesitu.


"Dihh Salwa ya?" tunjukku pada om Za membuat para orangtua tertawa kecil.


" Abang hanya bantu jawab dek,"sanggahnya.


.


.


"Assalamualaikum kesayangan!" sapaku dari belakang, laki laki kesayanganku ini sedang asyik mengaduk susu.

__ADS_1


"Waalaikumsalam,"


Tanganku melingkar di perut machonya,


"Grekk !!"


"Auch..!! dek kamu apa apaan sih pake gigit segala kaya vampir," protesnya sedangkan aku sang tersangka hanya cekikikan setelah cetakan gigiku tercetak jelas dikaos bagian punggungnya.


"Salwa gemas sama abang !" jawabku " abang lagi apa sih anteng banget sampe istrinya dicuekin!" penyakit manjaku mulai kambuh.


"Tunggu di kamar, abang buatkan susu hangat buat istri dan calon anak abang, husss!!" usirnya seperti mengusir seekor kucing.


.


.


Segelas susu hangat tersaji di depanku


"Diminum dulu !" pintanya.


"Makasih abang!" aku langsung menyambar gelas susu dan meminumnya sampai habis.


"Dek, selama abang pergi nanti ada yang menjagamu, kemanapun adek ingin pergi akan diantar olehnya," om Za duduk di ranjang sampingku dan meraih gelas susu yang sudah kosong.


"Kenapa sih bang ? biasanya juga sendiri ," protesku.


"Mulai hari ini kalau bukan Ramli ada Afrian yang akan menjaga dan mengantarmu kemanapun," jawabnya semakin membuatku mengernyitkan dahi.


"Afrian !!" pekikku. Bisa bisanya om Za percaya pada si ulet keket versi laki laki.


"Iya Afrian, abang yakin Afrian sudah berubah," jawabnya. Jika mengingat waktu di RS aku pun mengakui perubahannya.


"Bang, apa jam tangan itu sudah abang berikan lagi?" tanyaku.


"Sudah!" jawabnya singkat padat dan jelas.


.


.


"Bunda , ga bisa lebih lama lagi ya disini ?" rengekku memeluk bunda.


"Ga usah lebay, lagian disini kan sudah ada umi kasian adikmu Yusuf sudah 3 hari ditinggalkan," jawab bunda.


"Yusuf udah gede bun," jawabku tak berkaca diri.


"Lalu perempuan yang sedang memeluk bunda ini harus disebut apa? masih kecil kah padahal udah mau punya anak kecil," kekeh bunda.


"Ram..jaga baik baik mertua saya!" pinta om Za.


" Insyaallah pak," jawab om Ramli.


" Hati hati di jalan dik," ucap abi dan umi.


Mau tak mau aku melepas pelukanku pada bunda " udah lepas, nanti bunda dan ayah ketinggalan pesawat," ucap bunda.


"Suamimu sudah cemburu istrinya peluk peluk orang lama lama," goda bunda.


"Biarin aja, abang emang cemburuan ko bun," aku ku namun om Za terlihat biasa saja, memang image nya di depan orang lain adalah orang yang santai dan kalem.


.


.


Baru saja kemarin ditinggal ayah dan bunda pulang ke Jakarta, sekarang ditinggal om Za pula. Aku membawa koper om Za yang isinya ada pakaian dan alat alat mandi juga.


"Bang, jangan lama lama," air mata seorang istri camat yang lebay tak bisa kubendung.Rasanya nih mata kaya diolesin bawang merah sekilo,

__ADS_1


" Adek sekarang cengeng," jawabnya mengacak rambutku. Akupun bingung sendiri dengan diriku ini padahal dulu jika om Za pergi aku teramat senang bisa lepas dari salah satu titisan Hitler ini bisa menghirup udara kebebasan, seperti kuda yang baru lepas dari kandang, malahan jika perlu aku sudah merayakannya dengan pesta kembang api.


"Pokonya abang jangan banyak lirik sana sini, kalo ada yang lebih cantik dari Salwa abang pura pura buta aja, kalo ada yang godain abang pura pura ga denger."


" Bagi abang cuma adek yang paling cantik," jawabnya. Wajahnya yang datar membuatku malah semakin tidak percaya.


"Abang janji dulu sama Salwa!" pintaku.


"Astagfirullahaladzim, janji apa dek?"tanyanya lelah.


"Janji kalau abang ga akan banyak lirik lirik cewek," aku menunjukkan jari kelingkingku.


"Ehh, apa harus ?" tanya nya, memang inilah resikonya menikah dengan gadis kecil sepertiku.


"Harus !!" seruku.


"Insyaallah ," bukannya menautkan jari kelingkingnya ia malah menggenggam tanganku dan mengecupnya tak lupa mengecup keningku juga.


"Selama abang pergi adek harus bisa jaga diri dan kehormatan, selalu bilang pada orang rumah dan Afrian ataupun Ramli," ucapnya sarat akan peringatan.


" Dan yang paling penting hubungi abang jika adek akan melakukan sesuatu, termasuk mandi," kekehnya.


"Ihh mesum!!" gumamku menatapnya tajam.


"Abang akan segera pulang setelah seminar selesai."


Kutarik kembali kata kataku menikah dengan orang yang kaku akan terasa menyebalkan, kutarik kata kataku jika om Za akan berlaku dingin padaku, aku keliru tentang itu ia begitu sangat menjagaku dan sangat hangat tidak seperti casing luarnya, memang benar kata orang don't judge the book from the cover.


Om Za pergi ditemani om Mirza, tak lama Afrian datang ke rumah.


" Assalamualaikum umi, abi.." pekik makhluk terusuh, jika ada Afrian ini rumah berasa seperti banyak orang karena pembawaanya yang tak bisa kalem beda dengan om Za yang damai.


"Waalaikumsalam, yan. Sudah makan nak?" tanya umi.


"Alhamdulillah umi,"


"Abi titip Salwa ya yan, jaga kaka iparmu ini," pinta abi.


"Iya abi," jawab Afrian.


"Hay Sal...apa kabar? selamat ya udah jadi calon ibu!" serunya yang langsung duduk di sofa dan mencomot kue di depannya menaikkan kakinya ke atas sofa layaknya di warteg.


"Kasih congratsnya sih udah bagus, tapi kaki loe turunin!!" kakiku menyenggol kaki Afrian hingga ke bawah kursi.


" heheheh, maaf Sal..kebiasaan ! oke jadi kaka ipar gue ini mau kemana gue temenin," tawarnya.


Lumayan dapat bodyguard gratis, kapan lagi seorang the most di Jakarta sana mau jadi pengawalku, kalo bukan om Zaky si penguasa kehidupan lah yang memintanya.


"Hari ini gue ada perlu ke sekolah bentar abis itu pengen jalan jalan, sumpek abis UN otak perlu penyegaran," jawabku.


"Kebetulan, gue pun sama abis UN otak gue butek yoo jalan jalan!" ajaknya.


"Bentar, gue siap siap dulu!" jawabku yang langsung menuju kamar.


" Nih tangkap !" seruku, Afrian langsung menangkap kunci mobil milik om Za.


"Kata abang pake aja mobil punya doi," ucapku yang langsung mendapat mandat langsung dari suami tercinta.


"Tumben banget, saking cinta istri mobil kesayangan pun akhirnya bisa dipinjem orang," dumel Afrian jika mengingat selama ia hidup tak pernah sekalipun orang lain diberikan pinjam mobil miliknya ini.


"Umi, abi, Salwa sama Afrian keluar sebentar, assalamualaikum" pamitku.


" Iya hati hati nak ,waalaikumsalam,"


.


.

__ADS_1


"Mereka sudah mulai keluar, bos.." 3 pasang mata dari celah mobil mengawasiku dan Afrian.


__ADS_2