Love Me Please , Uncle Camat

Love Me Please , Uncle Camat
Saat harus mandiri


__ADS_3

Bismillah happy reading all 😘


.


.


.


.


Mulutku memang sekasar tembok rengginang, tapi hatiku selembut sutra. Jiwa kemanusiaanku masih menggema dengan lantang. Sisi kiri hatiku berkata, ngadain wayang semalam suntuk untuk merayakan kekalahan mbak Siska, membalas dan membuka semua aibnya di hadapan semua orang mungkin akan sukses membuatnya malu setengah mati. Tapi sisi kanan hatiku berkata untuk menjenguknya, sesama tetangga seharusnya saling membantu, mungkin ajaran pria matang yang hidupnya selurus plafon rumah sudah meresap ke pori pori dan dagingku.


"Ck, argghhhhh !!! tengok aja lah !" gumamku menggerutu.


Jalanku sedikit berjinjit saat lewat depan rumahnya seperti seorang yang ingin maling jemuran tetangga, tampak sepi. Aku melongokkan melihat kaca rumahnya, kali aja orangnya pingsan.


"Aduh sepi, masih idup ga ya ??" gumamku. Aku menghembuskan nafasku kasar, membawa rambutku ke belakang telinga.


"Mbak Siska !!" aku mengetuk beberapa kali pintu rumahnya seraya memanggil manggilnya, tapi tak ada jawaban darinya. Sesekali aku menempelkan wajah menghadap jendela rumahnya, gelap. Rumah gelap nan sepi, mirip rumah hantu yang ada di film film. Kebanyakan nonton film horor jadinya tersugesti.


"Mbak Siska !!! masih idup kan ??!!" pekikku. Tetap tak ada jawaban.


Aku memberanikan diri membuka pintu rumahnya, sedikit ragu, takutnya nanti aku dikira orang tak tau diri main nyelonong tanpa ijin. Tau kan mulut mbak Siska seperti apa ? salah salah ia akan minta ganti rugi pada om Za, keenakan. Ahh tidak akan kubiarkan.


ceklek...


"Mbak Siska!!" panggilku.


Aku mengedarkan pandangan ke setiap sudut, waspada. Tidak lucu kan kalau nanti mbak Siska tiba tiba datang mencekikku saking kesalnya padaku. Atau menusukkan pisau dapur berkarat.


"Ya Allah mbak Siska !!!" pekikku, melihat sosok yang kucari ternyata sedang berbaring di kasur tipisnya di kamar, berbalut selimut hunga bunga dan jaket cardigan. Ia tampak lemah dan pucat.


Aku segera duduk, "mbak, mbak lagi sakit??" aku meraba permukaan badannya.


"Mbak badannya panas !!" seruku.


"Mbak Salwa !" ucapnya lemah.


Aku segera membenarkan posisi mbak Siska yang terlihat tak enak. Membuka jendela kamar dan gorden rumahnya, agar cahaya matahari bisa masuk ke dalam rumah.


"Mbak sudah makan?? sudah makan obat??" tanyaku. Ia malah menggeleng, "astaga ! sejak kapan? " aku segera berjalan menuju dapur, mencari gelas dan termos air, membuatkan teh hangat untuknya.


"Mbak minum dulu !"


"Kenapa ga telfon atau panggil tetangga ! kan bisa minta tolong !!" aku segera membuka bungkusan yang kubawa, memang hanya buah tangan seadanya hanya yang ada di warung.


Kucari lagi, di atas meja makan, dan membuka tudung saji, tapi tak ada nasi sebutir pun apalagi teman temannya.

__ADS_1


"Mbak makan dulu ini saja, tunggu sebentar saya cari obat dulu buat penurun panas, siapa tau bu Surti punya !" ucapku membukakan bungkusan roti dan mendekatkan gelas teh hangat, sementara aku kembali.


Aku berjalan cepat, kembali menuju rumah bu Surti. Mengesampingkan rasa dendam dan kesal yang sudah menggunung, melihat keadaan mbak Siska semua racun hati itu menguap ke udara begitu saja. Yang ada saat ini aku kasihan melihat keadaanya.


.


.


"Mbak Salwa, darimana? ko ngos ngosan ?" tanya ibu ibu. Aku masuk ke dalam rumah, "bu anak saya mana ya?" tanyaku mencari Al.


"Al tadi tertidur mbak di kamar Wahyu, tapi anteng ko !" jawab bu Surti.


"Bu Surti, bisa minta tolong ! ibu punya obat penurun panas !" padahal kepalaku juga sudah mulai pening.


"Ada mbak, siapa yang sakit?" tanya bu Surti. Kulirik baby Al sedang terlelap di kamar Wahyu.


"Maafin umi ya dek, sebentar aja umi bantuin tetangga !"


"Mbak Siska sakit bu, tadi saya penasaran, nyamperin ke rumahnya !" jawabku.


"Oalah begitu, sebentar saya ambilkan !" bu Surti membawa kotak P3K lalu merogoh obat penurun panas dari dalam kotak.


"Mbak Salwa mau kembali ke rumah mbak Siska ?? sebaiknya ajak ibu ibu yang lain. Al biar saya yang jaga !" jawab bu Surti, aku mengangguk.


"Bu ibu, mbak Siska sakit !" ucap bu Surti pada ibu ibu yang masih ada beberapa.


"Bu, saya mau ke rumah mbak Siska, ada yang mau ikut ?" tanyaku.


"Biar sama saya saja dan bu Lia !" jawab bu Rt. Akhirnya kami bertiga menuju rumah mbak Siska.


Bu Rt dan bu Lia ikut membantu, mereka memasakkan nasi untuk mbak Siska, sedangkan aku membantunya makan, tadi aku mampir ke rumah untuk membawa nasi dan lauknya.


"Mbak dimakan dulu, biar ada penghantar buat obat !" ucapku, ia menggeleng namun selanjutnya memaksa dia untuk makan, lidahnya terasa pahit katanya. Apa perlu kutaburi garam biar lidahnya asin, semua orang sakit memang seperti itu.


"Saya kira mbak Siska kemana to !" ucap bu Lia.


"Taunya sakit, kenapa ndak minta tolong ! untung ada mbak Salwa !" tambah bu Lia.


Akhirnya setelah makanan hampir habis dan obat sudah ia makan, mbak Siska terlihat berkeringat. Ia pun sudah tak terlalu pucat. Demamnya pun sudsh mereda.


"Makasih mbak Salwa ! "jawabnya menunduk.


Bu Rt dan bu Lia saling pandang.


"Mbak Siska jangan sungkan untuk meminta tolong, kita hidup bertetangga !" ucap bu Rt


"Iya bu, terimakasih bu Rt, bu Lia."

__ADS_1


"Mbak Salwa, saya mau minta maaf, atas semua kelakuan buruk saya !" ucapnya berkaca kaca. Aku sebenarnya paling malas dengan adegan melow melow macam sinetron begini. Ku kira adegan begini hanya ada di ftv saja. Tapi ternyata kini aku mengalaminya.


"Iya mbak, sama sama saya juga minta maaf kalau selama ini banyak salah !" jawabku.


Seiring dengan mbak Siska yang berkeringat akupun ikut berkeringat, tapi keringatku berasa keringat dingin.


"Bu, kalau masih mau disini. Saya mau duluan pamit, takut Al nangis !" pamitku.


"Iya mbak Salwa, " ucap bu Lia, tapi ia mengerutkan dahinya jadi beberapa lipatan.


"Mbak Salwa ga apa apa kan??" tanya nya. Tangan bu Lia terulur ke keningku.


"Ya Allah mbak, sepertinya mbak Salwa pun sakit !" seru bu Lia.


"Mungkin saya cuma capek aja bu, lagipula cuaca memang panas kan !" jawabku, ingin segera merebahkan badanku di kasur.


"Kalau begitu saya pamit bu Rt, bu Lia, mbak Siska !"


"Iya mbak,hati hati..jika memang terasa sakit minta tolong saja !" pesan bu Rt.


Sepanjang jalan, jalanan terlihat berputar layaknya komedi putar. Ini jalannya yang jadi kaya odong odong atau memang otakku yang sedang oleng.


"Bu, assalamualaikum !!" ucapku. Rupanya baby Al sudah bangun, ia sedang di momong oleh Wahyu sambil cekikikan.


"Waalaikumsalam !!"


"Hay sayang, lagi main sama mas Wahyu ya??"


"Dedeknya nakal engga, mas??" tanyaku pada anak bungsu bu Surti. Ia menggeleng malu malu, menyembunyikan badannya di balik badan gemuk ibunya.


"Kalau gitu dedeknya pulang dulu ya mas, soalnya udah mau sore, nanti abinya pulang dedek masih bau acemmm !!" ucapku bermonolog pada kedua anak berbeda usia yang tak terlalu jauh ini.


"Mbak, apa mbak Salwa sakit juga??!" tanya bu Surti.


"Engga bu, kayanya cuma capek sama efek cuaca panas aja !" jawabku. Padahal di Aceh pun lebih panas, tapi aku sudah terbiasa.


Langkahku sudah lemas, dengan menggendong bayi gembul seperti Al terasa berat, padahal hanya beberapa langkah jaraknya menuju rumah kontrakan yang kutempati. Kepalaku pusing, badanku menggigil. Jika bersama umi atau bunda, mungkin aku sedang rebahan sekaligus makan sup hangat saat ini, hemmm rasa rindu menyergapku. Tapi ini di tanah orang, hanya ada aku, om Za dan baby Al. Aku tidak boleh manja, sakit sedikit saja sudah mengeluh.


Aku memutar kunci lalu membuka pintu.


Rasanya sudah tak sanggup, tapi mengurus baby Al adalah tanggung jawabku. Aku masih sanggup menyalakan kompor untuk memasak air, biarlah untuk teman nasi nanti om Za yang menghangatkannya sendiri.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2