
Bismillah happy reading all π
.
.
.
Aku mengetuk ngetuk daguku, apa yang akan dibawa sebagai buah tangan pada bu Fatima. Bertanya pada hot papa di sampingku ini hanya bisa bilang terserah, itu artinya dia tidak mau ikut pusing, masuk ke dalam pusara emak emak.
"Apa saja, mentahnya pun jadi !" ucapnya sambil bermain dengan Al. Memang laki laki tidak mau seribet itu.
Akhirnya pilihanku jatuh pada kepraktisan masa kini, membeli online di toko dan memintanya mengantarkan barangnya ke rumah. Jaman sudah canggih, jangan mempersulit diri sendiri.
.
.
Aku mematut penampilanku di cermin, sedikit ku poles wajahku agar tak terlalu kelihatan pucat, kebetulan baby Al tertidur dan om Za juga pulang lebih awal, kesempatanku untuk bisa pergi sekalian menyatu dengan para tetangga. Siapa tau pulang nanti membawa ilmu bukan hanya bahan ghibahan saja.
Om Za terlihat cemberut, "dek, ga usah berlebihan, cuma mau nengok orang baru lahiran aja harus pake dandan segala !" baru kali ini protes itu melayang dari mulut yang biasanya irit bicara itu.
Lucu sekali, bibirnya manyun seperti orang habis makan keong sawah. "Ini ga berlebihan ko bang, cuma bedakan biar ga keliatan terlalu pucat !" jawabku tinggal menambahkan sentuhan akhir saja. Om Za berdiri di belakangku, menatapku dari cermin.
"Hapus dek, lipstick mu terlalu tebal. Mau jenguk apa mau godain kaum Adam?" tuduhnya padahal jelas jelas liptin ini berwarna nude, atau warna warna natural bibir dan soft. Aku berbalik memicingkan mata.
"Abang suka suudzon, ngapain juga godain laki laki lain kalo di rumah aja udah ada cowok paket komplit !" jawabku, menyamakannya dengan menu hidangan di rumah makan. Rupanya jika pria pria matang sedang cemburu nyebelin juga,
Ia meraih pinggang rampingku, menempelkannya dengan tubuhnya, "mau hapus sendiri apa abang yang hapus?" tanya nya mengancam. Aku menaikkan alis sebelah, "abang ga usah nyebelin deh, Salwa lagi buru buru ! nanti ditinggal ibu ibu yang lain !" omelku. Tapi pelukan itu bukannya melonggar malah semakin mengerat.
"Lagian Salwa cuman nambahin make up sewajarnya aja, ga kaya mbak Siska waktu mau manggung !" protesku.
"Ga usah pake make up, pake aja bedak Al saja cukup.. abang ga mau adek keluar kaya gini, " ucapnya berlebihan, seperti aku keluar dengan hanya memakai bikini saja, yang benar saja disuruh pake bedak bayi.
Kesal aku menginjak kakinya keras saja, "Salwa ga mau !!" jawabku menolak, ia meringis tapi tak lama merasa tertantang om Za menyeringai.
"Kalo gitu jangan salahin abang, kalo abang hapus pake cara abang sendiri !!" jawabnya, hanya sepersekian detik, tengkukku ditariknya. Bibir nya dan milikku menyatu, di l^um@tnya benda kenyalku beberapa saat. Aku hanya bisa melotot dan menerima kelakuan mesum pak Camat yang tak tau waktu ini.
Setelah nafasku hampir saja memburu, aku menepuk nepuk dadanya. Pertanda pasokan udaraku tersendat dan mulai habis, om Za lalu melepaskan pagu^tannya. Makin kesini abinya Al Fath semakin mesum.
"Done, " ucapnya.
"Ihh, ga ada waktu lain apa !! Salwa udah telat ini !!" omelku tapi ia malah tertawa melihat pipiku yang mengembung seperti ikan kembung. Kuraih dompet dan membawa hadiah itu keluar tanpa ba bi bu lagi.
__ADS_1
"Salwa pergi, assalamualaikum !!" kesalku. Lelaki memang se mesum itu,
"Mbak Salwa !!" pekik bu Surti, dan bu Rt, aku melambai. Melihatku sedikit repot keduanya menghampiri untuk membantu.
"Bu, yang lain mana?" tanyaku mendongak. Keduanya bengong lalu mengulum bibirnya menahan tawa.
"Masih dipanggilin mbak, " kekeh bi Surti.
"Kenapa bu?? ada yang lucu?" tanyaku.
"Maaf mbak, apa tadi disini ada gempa?" tanya bu Rt.
"Hah??!" aku membeo. Rasanya bumi masih anteng anteng saja, meskipun makin hari makin berat bebannya. Hari ini sang inti masih dalam posisinya dan tidak berpindah.
"Engga deh kayanya bu, " jawabku polos.
"Tapi itu...maaf, anu bibirnya !!" jawab bu Rt.
"Ini loh mbak !" tunjuk bu Surti memberikan cermin kecil padaku. Betapa terkejut sekaligus malu, rasanya tadi rapi dan tidak sebelepotan ini, bukannya tampak segar malah terkesan seperti badut, atau tidak orang kurang waras. Padahal liptinku waterproff, apa jangan jangan liptin ini kw.
Mataku memicing. Sudah pasti ini pekerjaan pria matang itu, aku segera masuk kedalam dan menyerahkan cermin itu pada bu Surti, "maaf bu kalian duluan saja, nanti saya menyusul, oh iya jika tidak keberatan bisa minta tolong kado punya saya dibawain??" tanyaku, wajahku memerah sudah malu.
"Oh boleh mbak, monggo. Nanti menyusul saja kalau kami tinggal !" jawab bu Rt, aku mengangguk dan masuk ke dalam rumah.
"Sudah bu, kemarin bu Surti yang kasih tau !!" pekikku masuk ke dalam.
Mataku menyipit melihat sasaran sedang membaca buku yang tulisannya bagai prajurit rayap mau tawuran.
"Abang !!" kesalku, lelaki ini dengan santainya menoleh, dan bertanya, "kenapa? ko sudah pulang, memangnya tidak jadi?"
"Ga usah pura pura ninja, malu maluin tau ngga!! Salwa sampe diketawain sama bu rt dan bu Surti !! dikiranya pake lipstik belepotan !!" geruruku.
"Bilang saja pake lipstiknya sambil makan gorengan !" jawabnya santai.
"Bukankah sudah telat? sudah cepat bersihkan saja lalu pergi, adek cantik meskipun tidak bermake up !" jawabnya, aku menghentak hentak kaki sambil berjalan ke toilet. Menggerutu tak jelas layaknya tokoh kartun si burung yang suka marah marah dan musuh si b@bi hijau.
"Udah dandan rapi rapi juga, masa iya di cuci lagi, cuman buang buang bedak sama lipstik !!" gerutuku. Aku bercermin seraya merapikan yang sudah berantakan akibat ulah lelaki kaku itu.
"Abi nya Al Fath mengesalkan !!!" pekikku dari kamar mandi. Om Za hanya tertawa renyah seraya membaca kembali buku.
.
.
__ADS_1
"Untung rumahnya deket !! kalo jauh musti naik helikopter alamat gagal !!" gerutuku sepanjang jalan. Sudah terlihat rumah dengan cat berwarna hijau. Dilihat dari banyaknya sendal yang berserakan, benar itu rumahnya bu Fatima.
"Assalamualaikum !"
"Waalaikumsalam !"
"Eh mbak Salwa, mari masuk !!"
Terlihat bu Fatima yang tengah duduk memakai jarik sambil menggendong anak yang baru dilahirkannya.
"Maaf, bu ibu, bu Fatima ada sedikit masalah tadi," ringisku ikut duduk melantai.
"Sudah mbak ?" senyuman menggoda bu Surti sambil berbisik, aku mengangguk.
"Ahh tak apa apa mbak, ibu ibu juga baru datang !" jawab bu Fatima.
"Monggo di cicip bu kue dan minumnya !" tawarnya.
Tak mau ketinggalan, mbak Siska selalu terdepan, matanya memicing sinis menabuh genderang persaingan padahal aku tak pernah mengusiknya.
"Maaf ya bu saya belum bisa ngasih kado yang lebih, daripada tidak membawa apa apa !!" matanya mendelik tajam padaku, pertanda sedang menyindirku, seraya ia menyerahkan sebuah bingkisan pada bu Fatima ddngan jumawanya.
Bu rt menyerahkan hasil patungan uang warga yang dikumpulkan dalam sebuah amplop.
"Ahh iya, bu...hebatnya bu Rt kita, menjadi panutan warga, seroyal itu sama warga !!" ucap penjilat tingkat dewa ini.
"Kenapa mbak Siska?"
"Itu hadiah besar dari bu Rt kan ?" tanya nya melihat sebuah stroller bayi merk ternama, terbungkus rapi dengan sebuah pita pink melekat padanya, kado paling besar yang ada disini.
"Astagfirullah saya sampai lupa !" bu Rt menepuk jidatnya.
"Ini titipan hadiah dari mbak Salwa !!" ibu ibu tercekat langsung melirikku.
"Astaga mbak'e saya kira dari bu Rt dan bu Surti ?" tanya bu Lia.
"Wah,mbak Salwa sultan to !!" ujar bu Lia, membuatku meringis malu dan tentunya mbak Siska semakin meradang karena kalah saing.
"Ahh bukan bu, masa iya sultan tinggalnya dikontrakan, hanya ada rejeki berlebih saja, habisnya saya bingung. Tak pernah menjenguk orang lahiran, kalau sewaktu Al Fath lahir ya itu salah satu yang diberikan oleh rekan bisn..bukan maksudnya rekan kerja abang !" jawabku.
Wajah mbak Siska memerah, ia meraih kue dan memakannya rakus.
.
__ADS_1
.