
Bismillah happy reading all π
.
.
.
.
.
.
Berasa gue yang mau melakukan tindakan pel*eceha*n terhadap anak bocah, aku ikut masuk ke dalam karena permintaan Rayyan.
Kalau bukan anak kecil sudah kuajak duel pistol saja,layaknya koboi. Apalagi dia anak rekan bisnis suamiku, membuatku jadi serba salah dibuatnya.
"Tante jangan liat, aku masih kecil...masih suci !" ucapnya, mataku membola mendengar ucapan si bocah ini.
" Tengil juga nih bocah, " benakku.
Cihh ! siapa juga yang kepengen liat, kepedean tingkat dewa nih bocil.
"Tante ga tertarik sama punya kamu, tante punya yang lebih hot dan lebih menantang dari milikmu !!" ucapku jumawa.
Anak itu menyiram bekas air kotornya. Lalu segera merapikan celananya dan berbalik ke arahku yang membelakanginya sambil bersidekap kesal, ingin sekali kutenggelamkan anak ini. Melihatnya aku jadi ingat Afrian, kemana dia??
"Memangnya tante punya juga?? hot itu apa tante?" tanyanya terheran.
Mampossss ! salah kan aku bicara seperti itu, jadinya Rayyan malah jadi penasaran.
"Ahhh sudah lupakan !!" jawabku meraih tangannya dan mengajaknya kembali masuk ke ruang tengah.
" Wahhh !! sepertinya dek Salwa sudah benar benar siap untuk memiliki anak, sudah cocok !" seru bu Miranda.
"Mamih !!" pekik Rayyan berlari pada ibunya.
"Bilang apa sama tante Salwa, nak?" tanya bu Miranda.
"Makasih tante!" katanya sedikit memekik dan tersenyum lebar menunjukkan gigi gigi susunya yang masih berjejer rapi.
"Sama sama," jawabku tersenyum kecut. Asal jangan lagi ! jerit batinku, aku duduk kembali di samping om Za.
"Mih, masa kata tante cantik katanya dia punya yang kaya punya Rayyan tapi katanya lebih hot dan menantang, hot apa sih mih, menantang itu apa?" tiba tiba saja cicit kecil Rayyan pada ibunya, bahasa dan cara ucap yg masih cadel terdengar lucu ketika kepayahan mengucapkannya.
"Uhhukkkk....!!!" aku langsung saja terbatuk mendengar ucapan Rayyan, astaga ! ungkapan anak anak memang makhluk yang jujur itu benar adanya, entah jujur entah memang sifat Rayyan yang terlampau ember bocor. Bu Miranda dan pak Jamal mengulum bibirnya begitupun om Mirza dan ka Aisyah. Sedangkan aku, yang sudah mati kutu dibuat oleh se*tan kecil ini hanya bisa diam mematung. Lain kali pesan orangtua harus benar benar ku amalkan, tidak boleh berbicara masalah private di depan anak kecil.
"Maksud tante celana nya Rayyan !" jawabku tergugup, kentara sekali aku sedang berbohong.
gleukkk, matiiii aku !
"Tante punya celana kaya Rayyan yang lebih hot dan menantang pendeknya !!" jawabku mengada ngada. Hilang sudah muka ku disini. Aku takut kecerobohanku ini akan mempengaruhi pekerjaan dan penilaian pak Jamal.
"Oohhh bilang dong tante, jadinya kan otak Rayyan kemana mana, takut tante ngintip punya Rayyan yang masih suci !" jelasnya
"Kamvreett ni bocah " batinku merutuk.
Pak Jamal dan bu Miranda tertawa kecil,
"Kalau begitu Ramli tolong antarkan pak Jamal dan keluarga ke kamar yang sudah disiapkan !" pinta om Za.
"Baik pak," jawab om Ramli.
"Ah, terimakasih pak. Kalau begitu pak Zaky dan semuanya kami ijin istirahat sejenak," pamit pak Jamal dan bu Miranda.
Arah mataku mengikuti gerakan keempat orang itu yang berlalu dari ruang tamu.
"Ahahahaha, hot dan menantang ya Sal?"kekeh om Mirza. Aku sudah mati gaya dibuatnya. Dasar anak bocah.
"Apa sih ! Rayyan aja ngaco ngomongnya,lagian otak om jangan travelling ! lagian kalo iya pun ada masalah?? mau dibandingin sama punya om Mirza??" ucapku berkilah, lalu pergi. Padahal sebenarnya sungguh aku malu.
"Bini loe tuh Za," om Mirza masih tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Sayang !!" sikut ka Aisyah.
__ADS_1
"Jadi? punya abang hot dan menantang?" ia memelukku dari belakang san menunpukkan dagunya di pundakku.
Aku berdecih dan menggedikan pundak "abang apa sih?!" ia malah tertawa terkikik."Rayyan ngaco ngomongnya,"kataku.
"Malu ya?lagian kalo iya abang bangga !" ia memutar tubuhku, lalu mendongakkan kepalaku.
"Engga !" sarkasku. "Awas ! Salwa mau tidur siang !" tambahku menuju ranjang.
Baru 30 menit mataku terpejam, kini sudah terbuka kembali. Tidak lain dan tidak bukan oleh suara kikikkan anak kecil yang berlarian di halaman belakang, kebetulan tepat di samping kamarku. Aku mengerjapkan mataku beberapa kali, bangkit dan berjalan menuju jendela kamarku, menyingkapkan tirai. Mataku menyipit melihat beberapa orang tengah bermain bola bersama Rayyan. Senyumku mengembang
"Gemes juga kali ya, kalo itu om Za sama om bayi !" gumamku.
"Tante !" pekik anak itu. Aku melirik, melambaikan tangan.
Kembali kualihkan perhatian namun tak lama
"Sal awas !!" pekiknya.
"Bughhhh"
"Awww !"
Bola karet itu ditendang Rayyan tepat mendarat di jidatku.Aku mengusap usap jidatku yang terkena bola, ingin marah tapi kutahan.Aku segera keluar kamar ingin menghampiri mereka.
"Sal, tak apa apa kan?" tanya om Mirza dan ka Aisyah.
"Maafkan Rayyan ya dik Salwa," ucap bu Miranda meringis.
"Ahh, pasti tante ga apa apa lah, bolanya juga cuma bola karet !" seru Rayyan. Memang sungguh menyebalkan anak satu ini.
"Rayyan minta maaf sama tante Salwa !" pinta ibunya, sedangkan aku sudah menahan amarah dan kesal sedari tadi. Om Mirza yang duduk didepanku bersama ka Aisyah tersenyum geli melihatku, mereka tau jika aku sedang menahan kesal.
"Maaf," ucapnya singkat.
"Tidak apa apa bu," jawabku pasrah.
"Papah !" om Za yang baru keluar dari dalam ruangan kerja bersama pak Jamal bergabung bersama.
"Pah, sudah selesai kerjanya kah?" tanya Rayyan pada pak Jamal.
"Tumben hanya tidur sebentar?" tanya nya memegang tanganku.
Tidak mungkin juga kan kusebut karena gangguan suara se*tan kecil itu, mana baru bangun, nyawa yang masih melayang belum sempat terkumpul kembali ke wadahnya sudah harus terkena bola dibagian jidat.
"Engga apa apa," jawabku tak ingin memperpanjang.
"Pah, Rayyan mau main tembak tembakan pake pistol air !" seru Rayyan.
"Rayyan, ini kan di rumah om Zaky dan tante Salwa jadi Rayyan tidak boleh nakal !" ucap pak Jamal. Sontak anak itu merengut, malahan ia sudah mengeluarkan sebuah pistol mainan dari dalam tas yang dibawanya.
"Tak apa, pak! namanya juga anak kecil," jawab om Za.
"Hey kisanat, anda tak tau jika tadi saja istrimu ini sampai tertendang bola dan tak bisa melanjutkan mimpinya bersama para penghuni langit gara gara anak itu."
Ingin sekali kuteriakan aspirasiku ini, rasanya aku akan meminta pada Allah agar cepat cepat selesai dan terlaksana saja perjanjian bisnis keduanya, agar aku bisa cepat cepat terbebas dari si kecil menyebalkan ini.
........................
"Splashh...splasshhh !!"
Air membasahi baju dan wajahku, sontak aku melindungi wajahku.
"Aduhhh !!! Rayyan !!" pekikku. Ia malah tergelak seakan ini mengasyikan untuknya.
"Ck Rayyan ! baju tante basah semua ini," dumelku, semoga se*tan tidak lewat di sampingku dan mendengarkan permintaanku yang ingin mencekik leher kecil Rayyan.
"Ahahaha, tante lucu banget marahnya !" ucap Rayyan yang masih memegang pistol airnya.
Memang sengaja sekali anak ini memancing amarahku, sudah tidak ada lagi kesabaran untuknya, aku merebut pistol airnya lalu balik menembaknya, ia pun malah terkikik geli dan berlari menghindar. Seakan menemukan teman bermain.
"Ampun tante !!" pekiknya, mataku memicing pada sebuah benda yang kulewati saat mengejar Rayyan tak lama mataku membola,
"Rayyannn !!!!!"
Poster terbaru grup boyband Korea ori yang kudapat dari seorang teman sesama fans fanatik telah dicoret coret bollpoint hingga kini wajah tampan para idolaku itu tak berbentuk. Poster yang semalam dipaketkan langsung dari Jakarta. Salahku yang lupa menaruhnya setelah menerima panggilan dari teman temanku dan menaruhnya di meja depan kamar.
__ADS_1
.
.
"Kami benar benar minta maaf pak Zaky, khususnya bu Salwa," ucap pak Jamal.
Setelah kejadian memekik tadi, kini kami semua sedang duduk di sofa ruang tengah. Si tersangka hanya diam dengan wajah tanpa dosanya. Licik sekali dia, hanya dengan menampilkan wajah menggemaskan layaknya angel from the heaven kesalahannya seperti hilang tertiup angin begitu saja tak berbekas.
"Tante, Rayyan minta maaf !" cicit kecilnya. Taukah jika saat ini aku ingin menangis meraung raung bergulingan di lantai, poster limited edition ku yang sudah susah payah kudapatkan, kini harus kurelakan menjadi sebuah kenangan tak berbentuk lagi.
"Dek," om Za memegang tanganku.
"Salwa tuh susah dapetnya, bang ! lama banget ! itu tuh limited edition!" omelku.
"Insyaallah dik Salwa nanti saya akan berusaha menggantinya!" ucap pak Jamal penuh sesal.
"Ah, tidak apa pak, biar nanti saya saja !" jawab om Za menyela. Sebenarnya ada rasa senang dari om Za, karena ia selalu kesal, jika aku lebih memilih memandangi wajah wajah lelaki lain hanya dari sebuah kertas saja, dan senyumku yang mengembang itulah rasa cemburunya selalu timbul.
Ka Aisyah yang membantu asisten rumah membuat makan malam memanggil untuk makan.
"Ayo pak, bu sebaiknya kita makan malam saja dulu," ajak om Za.
Saat mulai beranjak dan pergi di samping orangtuanya, Rayyan berbalik dan memeletkan lidahnya padaku,
"Arrggghhhhh ! fix ingin ku lenyapkan saja si little devil itu !"
"Ihhh nyebelin banget !!!" ucapku yang masih ada om Za disampingku, ia hanya tertawa melihatku yang sudah mencak mencak kesal.
"Sabar dek, semua anak anak begitu, abang yakin adek pasti bisa."
"Ada bagusnya juga Rayyan coret coret itu poster, biar kamu ga terus terusan mengagumi laki laki yg bukan makhrommu," ucap om Za membuat bibirku mengerucut.
"Salwa ga mau tau, abang harus ganti poster Salwa yang dirusak tuh bocil !!" omelku berapi api.
"Kenapa harus mereka sih dek. Apa makhrom mu ini kurang tampan?" tanya nya.
"Itu idola Salwa, bang !" rengekku.
"Insyaallah! abang tidak janji !" jawabnya.
"Abang kan bisa suruh om Ramli atau om Mirza untuk mencari, Salwa tau abang pasti selalu bisa," sewotku, karena setauku tak ada yang tak bisa dilakukan camat idola satu ini, tapi ia nya saja yang tak berniat mencari dan menggantinya.
"Abang memang bisa tapi sayangnya abang tidak minat ! lebih baik sekarang adek dan om bayi makan dulu, jangan cemberut terus malu sama om bayi. Masa umi nya ga makan cuma gara gara posternya di coret coret orang, anak kecil pula !" om Za tersenyum puas, tak perlu memakai tangannya langsung atau menyuruh anak buahnya mencuri posterku. Cukup terlihat oleh Rayyan saja, poster yang menampilkan laki laki cantik khas negri ginseng itu berhasil dirusak dan tak dapat ku pandangi lagi setiap waktu.
.
.
Hari ini rencananya pak Jamal akan dibawa tur berkeliling kebun kopi dan proses penyortiran.
"Abang!" rengekku "Salwa sama om bayi ikut, bang!"
"Apa tidak akan lelah?" tanya nya.
"Salwa kan bisa istirahat dulu kalo lelah," jawabku.
Om Za menunduk menghadap ke perutku " Jadi om bayi mau ikut abi?" tanya nya.
"Iya abi !" seruku.
"Om bayi atau umi nya ?" tanyanya merapikan rambutku membawanya ke belakang telinga.
"Dua duanya !" jawabku.
Senyumku sedikit kecut saat melihat ternyata bocil yang sudah berhasil membuatku malu kemarin pun ikut, entah kenapa ia senang sekali mengusikku. Belum lagi tingkahnya yang berlarian seharian di rumah membuatku pusing 7 keliling, dan yang paling membekas sampai membuatku menangis dan tak enak tidur adalah saat poster limitedku hancur di coret coret olehnya. Apa ini rasanya memiliki anak kecil? kuharap nanti anakku tidak semenyebalkan Rayyan. Atau nantibisa saja aku mati di usia muda.
"Tante cantik tapinya pemarah !!" sapa nya.
Apa ??!!!! panggilan apa itu ???
.
.
.
__ADS_1