Love Me Please , Uncle Camat

Love Me Please , Uncle Camat
welcome home baby Al


__ADS_3

Bismillah happy reading all 😘


.


.


.


.


.


Terhitung sudah 3 hari aku di ruang rawat inap, sebenarnya sudah bosan dengan bau etanol, dan obat. Namun, apalah daya titah paduka suami tak dapat dibantah.


"Bang, Salwa mau pulang ! dokter juga sudah menginjikan hari ini pulang kan!!" interupsiku.


Heran saja, orang lain menghindari rawat inap, selain karena tak nyaman dan memakan biaya yang cukup mahal, apalagi ruang rawatku VVIP pastinya semalam saja habis memakan jutaan. Tapi lelaki matang di sampingku ini malah dengan senang hati menghamburkan brangkasnya, meningan dipakai untukku membeli tiket konser boyband atau tidak beli kerupuk satu gudang.


"Iya hari ini kita pulang," jawabnya, senyum manis tersungging di bibirku. bye bye makanan lembek yang membuat selera makanku berkurang.


Om Mirza membantu memasukkan barang barangku ke dalam mobil, setelah sebelumnya ia beralih profesi menjadi supir barang, membawa kado hasil pemberian orang orang yang menjenguk layaknya orang pindahan.


"Bang, Salwa boleh tanya ngga?" tanyaku, yang sudah duduk di bangku belakang mobil.


"Yakin?" tanya nya ikut duduk melindungiku dan baby Al, yang tertidur pulas di dalam gendonganku dari goncangan saat mobil mulai melaju.


"Yakin??" aku mengernyitkan dahi.


"Yakin cuma mau nanya doang?" tanya nya.


"Iya," jawabku jadi ikut ikutan bingung.


"Ga mau sekalian sun atau peluk gitu?" tanya nya.


Idih receh !! Please deh jangan suka mancing mancing di air keruh, om Mirza yang ada di bangku supir terlihat bergidik geli mendengar kebucinan om Za. Orang kaku kalo gombal jatuhnya seperti pelawak yang ga laku. Dan anehnya, aku menyukainya.


"Sampai kapan kita di Medan?" tanyaku.


"Hanya sampai kamu dan baby Al pulih," jawabnya.


Sama halnya tradisi warga Indonesia lainnya, tak ada yang berbeda dengan adat lainnya di nusantara, hanya berbeda namanya saja. Adoe atau yang biasa kita sebut placenta atau ari ari bayi milik Al Fath sudah dibawa duluan oleh umi dan abi ke rumah di Medan, dimasukkan dalam sebuah kanöt atau periuk dari tanah liat, kemudian dibubuhi oleh zat asam garam dan abu dapur agar mengering dan tak membusuk. Tak ketinggalan berbagai warna bunga bungaan dan wewangian, sebagai simbolik bayi yang tadi tau kepada kebersihan dan kecantikan.


Kanöt tadi kemudian di tanam di bawah seurayueng (cucuran atap), jika bayinya perempuan adoe tersebut ditanam di bawah tangga. Tempat penanaman ini dikaitkan hubungannya dengan kedudukan laki laki sebagai pencari nafkah dan perempuan sebagai ratu tumah tangga.


Bayi Al bergerak menggeliat geliat, jemarinya yang terbungkus oleh sarung tangan bayi bergerak ingin merasakan kebebasan.


Mobil sudah sampai di halaman depan rumah yang tidak terlalu besar, karena memang rumah di Medan ini hanya sebagai rumah jika kami liburan saja.


"Welcome home !!!!" Semua orang orang kesayanganku ada disini.

__ADS_1


"Yeee, udah resmi jadi mahmud !"ucap Acha, aku sebal dengan panggilan itu.


"Hay baby Al, jodohnya aunty !!" ujarnya.


"Amit amit jabang bayi !" sarkasku duduk di ruang tengah.


"Dihhh, emangnya loe ga mau punya mantu cantik dan baik hati gini ?" tanya Acha.


"Big no, apa kabar anak gue kalo istrinya serombeng mulut loe yang ga ada filternya, belum akhil baligh udah diracunin sama pikiran pikiran jahat, cukup Afrian aja, yang terima segala kekurangan loe," jawabku,


"Enak aja, emangnya loe engga, bang Za juga kaya gitu dong, harus banyak ngelus dada ngadepin kelakuan bar bar istrinya!! iya ngga bang?? tiap hari harus banyak banyak sabar ngadepin loe !" Acha meminta pembelaan.


"Hey, ibu ibu..giliran jauh kangen giliran deket malah maen gontok gontokan!" lerai bunda.


"Sayangnya kita ini mah bun," lirih Acha dan aku.


"Akhirnya dapet Salwa kw, " bisik om Za pada Afrian. Afrian terbatuk mendengar ucapan om Za.


"Dek, sebaiknya istirahat dulu, bawa Al ke kamar," pinta om Za.


Aku masuk ke kamar dengan membawa baby Al , aku sedikit terkejut, kamar yang terakhir kutinggalkan nampak normal saja. Kini berhiaskan balon biru dengan tulisan welcome home momy and baby Al. Jangan bilang ini semua ulah lelaki ini, dan dapet ide ini dari mbah google. Om Za berjalan meraih baby Al, dan menaruhnya di tempat tidur bayi. Ia lalu mengambil sebucket bunga.


"Makasih dek, kamu sudah mau menjadi istri dan ibu dari anak abang, kamu sudah berjuang. Walaupun perjuangan kita belum selesai, malah baru saja akan dimulai."


Manis banget, pria matang ini. Bukannya menerima bucket bunga tersebut, tapi aku malah meringsek masuk ke dalam pelukan hangat lelaki ini. Aku lebih rindu memeluknya.


"Engga dek," jawabnya.


"Ko manis banget sih??!!" kekehku.


"Abang memang terlahir manis dek, " jawabnya dengan tingkat kepedean yang tinggi layaknya pucuk pohon cemara, aku mendongak sejak kapan jin narsis nemplok di om Za.


.


.


Ini dia yang menjadi tantangan dan ujianku kali ini, menyu*sui si kecil Al, gayaku yang jumawa memberikan ASI eksklusif mendadak jatuh ke dasar laut, ternyata memberikan susu pada bayi tak seasyik yang kulihat di youkiub, p*ut!ng yang kulit arinya mulai mengelupas itu terasa perih rasanya, sampai sampai ingin rasanya menangis, saat Al dengan rakusnya menyedot sumber kehidupannya itu, aku sampai harus meremas bantal. Mataku sedikit berair menahan nikmatnya meny*usu!.


"Sakit ya dek ?" tanya om Za yang selalu menjadi saksi hidup, perjuanganku memberikan makan untuk anaknya.


"Banget bang, " jawabku meringis.


"Adek ibu yang hebat, dan abang bangga akan itu !" ucapnya mengusap usap pipiku.


Beruntung Al Fath bukan bayi rewel dan susah untuk tertidur, besok kami sudah harus pulang ke Aceh. Karena dirasa sudah pulih, ditambah om Za yang harus bekerja. Ia tak bisa terlalu lama mangkir dari tugasnya.


"Kita harus kembali ke Aceh dek," ucap om Za.


"Iya bang, "

__ADS_1


"Umi akan mengadakan acara syukuran sekaligus cukur rambut untuk Al, abang juga tidak bisa berlama lama cuti," ujarnya.


"Iya bang, Salwa ngikut aja !"


Al Fath sudah tertidur, om Za ikut berbaring di sebelahku. Membelai rambutku lembut,


"Apakah adek masih berniat untuk kuliah?" tanya nya.


Memang ada keinginanku untuk meneruskan kuliah, ditambah di rumah pun ada umi yang bisa membantuku mengurus Al Fath.


"Pengen sih bang, tapi Al ?" aku mendongak.


"Anak bukan halangan untuk adek belajar, nanti jika sudah pulih betul, abang akan carikan universitas yang cocok ," jawabnya.


Aku mengangguk setuju, meskipun nantinya tertinggal satu semester dari angkatanku yang seharusnya, tak masalah buatku.


Hari ini om Za mengecek cafe sebelum siang nanti kami semua pulang ke Aceh, kebetulan om Mirza masih disini. Justru, ia sering berada di sini ketimbang di rumahnya sendiri, sungguh tangan kanan dan teman paling loyal.


"Ada yang mau di pesan? sekalian abang keluar?" tanya nya, biasanya jika aku masih mengandung selalu saja ada barang atau makanan yang kuinginkan dan kupesan dari om Za, selama aku mengandung Al Fath, lelaki tampan ini merangkap jadi ojek online ,hanya bedanya dibayarnya memakai cinta dan sayang.


"Emmhh ! engga ! cuma pesen laki laki ini pulang dengan selamat dan masih cinta sama Salwa !!" jawabku. Om Za mengangkup pipiku.


"Always !! tidak perlu diminta," serunya membuat hatiku bersorak menyalakan kembang api.


"Om Mirza nunggu di depan tuh !" ucapku, melihat teman om Za yang satu itu sudah mirip kekasih yang tak dianggap karena menunggu lama di ruang tamu bersama deretan toples cemilan.


"Abang ke bawah dulu, " jawabnya.


"Lama banget, nih papa baru !! ga tau apa yang disini udah jamuran nungguin !!" omelnya seraya menyeruput kopi yang dibuat asisten rumah tangga.


"Jamuran katanya, itu keripik satu toples abis !!" sarkasku.


"Abisnya kelamaan, nanti abang kelaparan !!" jawabnya.


"Ya sudah dek, abang pergi dulu..takut nantinya keburu siang !" aku mengangguk meraih punggung tangannya.


.


.


.


"Za, apa email yang gue kirim sudah sampai?" tanya om Za di mobil.


"Sudah !"


"Terus, apa keputusanmu?" tanya om Mirza.


"Sedang saya pikirkan dahulu, " jawabnya menatap lurus ke arah jalanan.

__ADS_1


__ADS_2