
happy reading all π
.
.
.
.
.
bismillah
.
.
.
.
Pelukan erat ku seolah tak ingin lepas dari bunda,rasanya ingin kubawa saja bunda bersamaku.
" bun,kalo kaka kangen gimana???"
" kalo kaka direbus sama bang Za karena nakal gimana ???"
Ayah dan bunda malah tergelak mendengar penuturan ku yang seperti bocah umur 2 tahun,sedangkan Om Za sendiri hanya diam menggelengkan kepalanya .
" ga mungkin Zaky rebus kaka ,ngapain juga ga enak! " ,jawab ayah.
" kalo kaka kangen kan bisa telfon atau Videocall ,ga usah lebay !" bunda mengacak rambut beraroma strawberryku.
" hati hati sayang,kaka harus belajar jadi istri yang baik buat bang Zaky." semua pepatah ayah dan bunda seolah aku yang selalu mendzalimi padahal kan aku sebagai pihak lemah.
" ayah ,bunda ... Zaky sama Salwa pamit ya..." ucap Om Za meraih punggung tangan ayah dan bunda.
Pengeras suara sudah memanggil para penumpang untuk segera memasuki kabin pesawat,sekali lagi aku memeluk bunda dan ayah seolah meminta do'a restu akan pergi ke medan pertempuran.
Langkahku semakin menjauh dari kedua orang yang sudah membesarkanku ,dengan gaya slow motion aku dadah dadah pada mereka,seraya tangan yang satunya memeluk lengan kekar Tutankhamun ku.
.
.
.
.
" Om..kita dijemput siapa ???" tanyaku ikut celingukan saat Om Za menurunkan kacamata hitam nya dan mengedarkan pandangannya ,ternyata dari arah timur seseorang sedang melambai heboh siapa lagi kalau bukan Om Mirza tapi ia tak sendiri mataku memutar malas , seseorang yang tidak kusukai ada disini juga tersenyum manis namun kutau senyum manis itu bukan gula asli tapi manis buatan mengandung kegetiran disana , aku semakin mengeratkan pelukan tanganku di lengan Om Za, it's my.....
" yoo... Salwa....!!!" pekik Om Mirza sambil mengangkat tangannya hendak bertos ria denganku ,aku pun menyambut tangan itu dan ikut bertos bersama Om Mirza.
__ADS_1
" kesayangan gue, pindah sini...! " ucapan itu refleks keluar karena saking senangnya ,raut wajahnya menjadi pias karena mendapat tatapan laser dari orang yang ada disampingku ,aku tersenyum menahan tawa yang ingin pecah, dengan begitu aku tau kalau kini sudah berbeda ,ada rasa cemburu dari diri Om Za, perkataan Afrian tadi pagi tak terbukti,meskipun aku awalnya merasa khawatir kalau perkataan Afrian mungkin benar....
tatapan tante Cut belum berubah sedikitpun untuk Om Za,masih sama. Dan aku tak suka itu...
" Om..." aku menarik narik lengan baju Om Za,ia menoleh dan mengangkat alisnya sebelah
bisa tidak sih dijawab apa kek.. kenapa kek ..atau ada apa sayang...seakan diam itu memang benar benar emas, kata apa pun berasa mahal untuk dikeluarkan.
" itu tante Cut kenapa ngikut sih...!" , ketusku.
" memangnya kenapa ??? kamu tidak suka ??" ,tanya Om Za.
iyalah pake ditanya .
" engga apa-apa sih , Om. Kirain masih ngambek gegara patah hati ," jawabku.
" ya sudah kalau tidak masalah ," menyebalkan bukan ,rasanya aku ingin menceburkan diri ke rawa rawa berisi lintah saja kalau sudah begini.
" ga peka, "gumamku.
.
.
.
" assalamualaikum,umi..!," salamku .
"ga apa-apa,umi .Salwa suka ,umi masih wangi ko,wangi bumbu..." endusku ,aku dan umi berjalan berangkulan seraya kepalaku menyender ke bahu umi ,sudah seperti anak dan ibu yang terpisah dan sedang saling melepas rasa rindu ,meninggalkan ketiga orangtua itu .
" wahh !! salut deh Salwa bisa geser posisi anak kandung di rumah ini,yang anak kandung benerannya tersisihkan,"ucapan yang terdengar seperti godaan Om Mirza membuat Cut Fitri tersenyum kecut .
" Mir..bagaimana pendaftaran Salwa di sekolah barunya, sudah selesai ?" tanya Om Za mempersilahkan kedua tamunya duduk.
" beres bro..besok seragam dan buku bukunya gue anterin." jawab Mirza " loe yakin bro, Salwa bisa adaptasi ??" tambahnya bertanya.
" Salwa meneruskan sekolahnya disini bang ???" tanya Cut Fitri berbasa basi padahal tak perlu bertanya pun ia pasti sudah tau ,cinta terkadang membuat orang menjadi tampak bo*doh..dari arah belakang aku membawakan nampan berisi 3 cangkir kopi ,boleh tidak sih ku taruh sianida di salah satu cangkir kopinya untuk yang paling cantik.
" misi minuman datang...!!" sorak ku heboh sendiri diantara orangtua yang kalem
" makasih dek Salwa..." ucap tante Cut tersenyum,cihh senyuman manis namun penuh kepalsuan .
" thanks sal...!" ucap Om Mirza
" sama sama tante , Om Mir..." jawabku .
tante Cut masih memandang Om Za rupanya masih menunggu jawaban dari pertanyaan nya yang jelas jelas sudah tau jawabannya.
" iya .." jawab Om Za singkat ,kali ini aku tertawa senang walaupun hanya bisa kusuarakan dalam hati,denganku saja cueknya kebangetan apalagi dengan orang lain ,kalo seandainya orang yang menghadapinya baperan mungkin Om Za sudah ditimpuk ramai ramai...
" bagaimana kabar desa xxxx , Mir??" tanya Om Za , baru juga datang ,sudah pekerjaan saja yang ia tanyakan ,hey pak camat tak tau apa para bawahanmu ini butuh istirahat dan refreshing ,gaji yang tidak seberapa tak cukup sepadan dengan tenaga ,waktu dan fikiran yang dikeluarkan,demi sebuah pengabdian terhadap tanah kelahiran.
" kita bakal ngadain blusukan ,pak ! agar mengetahui sejauh mana desa itu tertinggal," jawab om Mirza,bila mengenai pekerjaan ia mencoba profesional dengan memanggil secara sopan pada Om Za ,mengesampingkan rasa persahabatan yang sudah terjalin begitu dekat sejak lama.
__ADS_1
Kalau Om Za dipanggil bapak camat lah apa kabar gue ???ibu camat???ibu camat yang pecicilan ??? please deh ,namaku saja minder dengan gelar itu .
" kapan ??" tanya Om Za lagi seraya tangannya meraih cangkir kopi dan menyeruputnya.
" Cut sudah jadwalkan lusa,bang..." jawab tante Cut seraya tersenyum semanis mungkin ,siapa tau dengan senyuman itu fikirnya mampu meluluhkan hati Om Za yang beku ,setidaknya hanya rasa iba.
" berapa hari?, lalu apa saja agenda nya ??" tanya nya lagi
" sekitar 3 hari ,agendanya meninjau kesehatan,sanitasi,dan teknologi ,bang.." jawabnya sekali lagi tersenyum meminta perhatian,apa dia tak bisa membedakan yang mana pribadi dan keprofesionalan ,abang ..abang..dikira tukang ojek.
Om Za menyimak dan mengangguk paham.,daripada mataku sakit melihat senyuman kesemsem milik tante Cut yang tak pernah mengalihkan pandangannya dari Om Za ,lebih baik aku pamit masuk kamar jangan sampai nanti jari telunjuk dan tengah ku mendarat di matanya karena jelalatan mandangin terus laki orang.
" baiklah kalau begitu bapak dan ibu ,juga bapak suami yang terhormat ,saya yang tidak mengerti dengan arah pembicaraan anda semua lebih baik undur diri ke belakang."ucapku menunduk membawa nampan , Om Mirza langsung tergelak melihat tingkah laku ku ,kentara sekali rasa kesalku dimata Om Mirza.
" hahahaha astagfirullah...!! maaf ..maaf...!!" serunya lalu berdehem, yang tak bisa menahan tawanya
" Za..salwa lucu sekali .." ucap Om Mirza.
Sedangkan yang diajak bicara menggelengkan kepala seraya tatapan matanya yang menyoroti ku melangkah ke lantai atas.
Dari segi manapun aku yang selalu mendapat perhatian entah karena sengaja maupun tidak,tante Cut selalu kalah start denganku matanya menatap tak suka kepergianku.
.
.
.
kubuka jendela kamar membiarkan sirkulasi udara lancar keluar masuk kamar ini ,kujatuhkan tubuhku di ranjang ,menatap langit-langit kamar yang mulai sekarang akan menjadi kamarku ,harus ada sedikit perubahan disini ,lama lama aku akan menjadi rabun warna jika yang kulihat hanya hitam dan putih udah kaya jaman G30S PKI aja hitam putih .... semilir angin terasa sejuk di kulitku di tengah tengah cuaca Aceh yang memang panas ,lama kelamaan kelopak mataku menjadi berat mengantarkanku menuju tidur siang yang tenang.
" sal... Salwa...." entah cape atau memang aku yang tidur seperti ******...
" splash...splash....!!"
cipratan air membasahi wajahku ,sontak aku terbangun ,tak adakah cara yang lebih manusiawi lagi ???
" ihhh Om Za ,ga ada cara yang lebih sadis lagi gitu buat bangunin ???" aku merengut ,
" biar seger! bukannya masuk kamar mandi dulu malah langsung tidur ! lihat sudah jam berapa ,cepat bersih bersih ! abang tunggu untuk shalat ashar !!" mataku memang segar apalagi melihat pemandangan di depanku sekarang ini ,jangan sampai tante Cut melihat ini aku tidak rela untuk berbagi....
" okok Om...." jawabku yang beringsut turun dari ranjang ,malas sebenarnya untuk segera turun setidaknya berilah aku waktu untuk mengumpulkan kepingan nyawaku dulu , namun karena aku masih sayang nyawaku dan uang jajanku ,makanya walaupun dengan hati yang sedikit tidak ikhlas segera kulakukan perintah yang mulia paduka suami si titisan Tutankhamun ini ,kini aku berada di kawasannya makanya aku harus pintar pintar menjaga diri salah salah aku bertindak ,bisa dipastikan kehidupanku lah jadi taruhannya.
dahi nya membuat beberapa kerutan" okok ??" tanyanya
" oke , Om...ga gaul banget sih...!" aku melengos ke dalan kamar mandi sebelum aku di ceramahi karena sebagai pemuda harapan bangsa aku sudah menyalahi kamus besar bahasa Indonesia
.
.
.
.
__ADS_1