Love Me Please , Uncle Camat

Love Me Please , Uncle Camat
Terimakasih Roni


__ADS_3

"Uhukkk !!" mbak Siska terbatuk karena kunyahan makanan yang memenuhi seluruh rongga mulutnya.Tak ada batuk jaim atau menawan disini, ia keselek sampai wajahnya memerah,


"Eh, hati hati mbak makannya, pelan pelan !" ucap bu Fatma.


"Iya mbak, saya juga ga akan minta ko, ini masih banyak !" tunjuk bu Lia pada piring kue. Mbak Siska sudah berasap saking kesalnya, ia menghentakkan kaki sambil berdiri lalu pamit.


"Saya pulang bu Fatma, assalamualaikum !" ucapnya meminggir minggirkan ibu ibu yang menghalangi jalan keluar.


Tatapannya mendelik padaku, bukan aku yang membuatnya begitu, tapi dialah yang selalu mencari gara gara, dan apes sendiri.


Ibu ibu bercengkrama tentang ini dan itu,terkadang aku tidak mengerti yang mereka bicarakan, tentang harga minyak yang melonjak naik, ataupun kredit daster yang ditagih yang setiap hari Kamis. Dan cara memaksimalkan penggunaan shampoo yang di jungkirkan dan disi air bersih.


Kulirik jam di tangan, sudah hampir sejam aku disini. Bagaimana si gembulku, apa ia masih anteng bersama abi nya. Atau justru kini tengah menangis, karena sifat cuek om Za.


"Ibu ibu sudah sore, sebaiknya saya pulang, takut Al menangis !" ucapku pamit.


"Oh kalau begitu saya juga ikut pulang, " ujar bu Surti yang sibuk mengambil kue untuk bekal di jalan.


"Bu Fatma, pamit dulu ya semoga cepat pulih !" ucapku pamit.


"Terimakasih banyak mbak Salwa, "


.


.


Aku celingukan mencari dimana sandal jepitku, paling berbeda dengan yang lain, berwarna hitam dan putih. Sejauh mata memandang hanya ada sebelah saja, seperti Cinderella yang kehilangan sebelah sepatu kacanya. Seorang pemuda, mungkin seusiaku melintas dengan memakai sarung dan koko, dialah Roni, anak sulung bu Wati bila kemarin adiknya yang menagih uang kue pada mbak Siska, ini adalah kakanya bernama Roni, kuliah di kampus favorit di kota ini atas beasiswa karena kepintarannya, bila dilihat pemuda ini juga tampan, baik dan agamis.


"Cari apa mbak?" tanya nya.


"Aku mendongak, "eh engga ini cari sendal !" jawabku.


Bu Surti pun ikut mencari cari di sekitaran pot pot milik bu Fatma, namun ia tak menemukan sendalku.


"Lah aneh ya!! masa iya diumpetin kucing, masa kucing doyan sendal !!" ucapnya, aku tertawa mendengar ucapan bu Surti.


"Saya bantu cari ya mbak !" tawar Roni, melihatku kebingungan. Aku mengangguk.


"Bu !!!" pekik pak Karman melambaikan tangannya pada bu Surti,


"Iya!!"


"Ada tamu !!"


"Mbak Salwa maaf ya, saya ndak iso lama, ada tamu. Biar nak Roni saja yang bantu. Tolong ya nak Roni !" pinta bu Surti diangguki Roni.

__ADS_1


Akhirnya sambil berjalan menjauh dari rumah bu Fatma, Roni yang melihatku berjalan menginjak injak batu, merasa kasihan.


"Mbak, pakai sendal Roni saja, kasian kakinya sakit injak injak batu, kalau Roni sudah biasa, jalan ke sungai !" jawabnya menawarkan sendalnya untuk kupakai, ia melepaskan sendalnya.


"Eh, ga usah ga apa apa !!" jawabku. Ia tersenyum, "tak apa, mbak..sambil kita mencari sendal mbak nya !" jawabnya ramah.


.


.


"Salwa kemana?? sudah sangat sore !" gumam om Za, melihat Al yang tertidur ia keluar dari rumah mencari keberadaanku dari pagar, siapa tau mungkin sudah dekat. Tapi sejauh mata memandang tidak ada siapapun, hanya dari kejauhan ada seseorang yang tersenyum mengembang.


"Mas Zaky !" sapanya dengan senyuman sejuta volt nya, membuat om Za terkejut, tak tau datang dari arah mana.


"Nyariin mbak Salwa ya??!" tanya mbak Siska.


"Iya mbak, apa Salwa belum pulang dari rumah bu Fatma ?" tanya om Za.


Ia menyunggingkan senyumnya, "mbak Salwa sudah pulang tapi lagi mojok sama Roni, upsss !!" ucapnya.


"Tapi maaf nih mas Zaky, memang pendapat saya mbak Salwa kan masih muda seumur sama Roni, cocok !" jawab mbak Siska. Om Za mengeratkan tangannya, urat urat mulai terlihat di kulit putihnya.


"Maaf loh mas Zaky, saya bukan mengompori atau mengadu, biar mas Zaky tau saja, memang mbak Salwa darah muda sedang masa masa nya, wajar mas, beda sama kita yang sudah sama sama dewasa !" ucapnya.


.


.


Duk.. !! kepalaku dan Roni beradu menunduk mencari cari sendal.


"Aduh, maaf mbak,"


"Itu bukan mbak !!" tunjuk Roni.


"Ketemu !!!" seruku berjingkrak jingkrak dengan suara tap sendal jepit milik Roni yang kupakai, kebesaran di kaki ku yang sedikit lebih kecil ukurannya.


Roni ikut tertawa, tak sia sia ia nyeker alias bertel*@nj@ng kaki, ia menaikkan sarungnya dan meraih ranting, sandalku tersangkut di semak semak sebrang selokan.


"Hati hati, Roni !" ucapku.


"Iya mbak, "


"Happ !!" sendalku berhasil diambil dengan sedikit perjuangan Roni.


"Yeee,makasih Roni !!" ucapku.

__ADS_1


"Oh jadi benar, abang kira adek masih menjenguk bayi !" ucap seseorang dengan aura kelam bak cuaca mendung.


"Pulang !!" om Za menarik tanganku kasar. Menatap tajam pada pemuda yang terbengong bengong tak mengerti dengan sikap pria matang di depannya ini.


Om Za melihat kakiku yang masih memakai sendal milik Roni, "Wahhh, sweet nya sampai kamu memakai sendal miliknya !" ucap om Za.


"Cepat lepas, pakai sendalmu !! apa sendal yang abang belikan kurang nyaman dibanding sandal miliknya ??" tanya nya dingin, aura dingin ini kembali lagi.


Karena responku dianggap lamban, om Za berjongkok dan melepas sendalnya lalu memakaikan sendal milikku. Menarikku meninggalkan Roni, "Maaf ya Ron, makasih !!" pekikku.


.


.


Om Za membuka pintu, "Abang kira kamu masih bersama ibu ibu yang lain, jadi rupanya ijin keluar menjadi kesempatan untuk bisa tebar pesona pada lelaki lain?" tuduhnya.


"Bukan gitu bang, tadi sendal Salwa ilang, ada yang ngumpetin !" terangku diangguki Roni.


"Ga usah banyak alesan, pake nuduh orang lain segala, buat apa orang ngumpetin sendal kamu !" ucapnya tak percaya.


"Ya Salwa ga tau lah bang !! untung aja ada Roni yang mau bantuin, kalo engga sampe maghrib juga ga akan ketemu. Ditambah kaki Salwa sakit gara gara nginjekin batu !" jawabku.


"Bilang saja kamu sudah menemukan daun muda yang lebih segar, apa abang sudah cukup membosankan buatmu?" tanya nya.


"Hah??!" ini ceritanya pria matang di depanku ini tengah cemburu nih?? ko gemesin sih.


"Apa sih bang?? ga usah ngaco deh !!" jawabku masuk ke kamar mandi untuk bersih bersih, sebelum memegang Al.


Sesorean ini pria matang itu hanya diam, sesekali melirik marah padaku, ditanya tak menjawab bahkan seperti tak menganggapku ada.


"Udah dong bang marahnya !!" tak tau apa si cantik ini lagi pengen dimanja. Niat tulus menengok tetangga malah berujung apes, sendal diumpetin, ehhh pulang pulang dicemburuin sama si ganteng gemeshin satu ini.


"Bang, "aku menusuk nusuk lengannya, tapi tak direspon.


"Idih, kaya anak abg saja marahnya ! iya maaf, tapi denger dulu penjelasan Salwa, abang harus percaya. Ada saksinya ko, bu Surti malah abang bisa tanya Roni sendiri !! abang utang ucapan terimakasih juga loh, sama Roni !!" jawabku.


"Makasih Roni, sudah mulai serong sama istri abang !" ucapnya, aku menghela nafas, ternyata ada masanya pria matang nan bijak seperti om Za bersikap childish.


"Terserah abang aja lah, Salwa capek jelasinnya !" aku memilih masuk kamar saja, meninggalkan om Za di ruang tengah sendirian.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2