Love Me Please , Uncle Camat

Love Me Please , Uncle Camat
Abang bawa hati adek sebulan


__ADS_3

Bismillah happy reading all 😘


.


.


.


.


.


Sudah ke berapa kalinya aku memeluk lelaki yang badannya bisa dikatakan lebih mirip tiang penyangga jalan tol, tapi pelukannya sungguh membuatku candu.


"Abang kalo bisa pulangnya cepetan, sehari telfon 3 kali !" ujarku cemberut.


"Iya dek, " jawabnya. Ia hanya mengiyakan saja, tak tau jika nanti. Itu panggilan telfon atau minum obat, fikirnya.


"Se sempatnya, karena bulan ini sudah masuk bulan terakhir abang pelatihan, pasti akan sibuk," jawabnya membawa rambutku ke belakang, merapikannya dan mengusapnya sayang. Pengeras suara sudah memanggil para penumpang calon keberangkatan untuk masuk layaknya toa tukang tahu bulat, bye bye Jatim, bye bye bu Surti dan yang lain.


Om Za membawa Al di pangkuannya, bayiku ini terlihat sangat nyaman di dalam pangkuan ayahnya, jangankan Al, aku saja nyaman. Om Za lebih mirip sandaran merk pribadi karen hanya aku dan Al saja pemiliknya.


Bayiku tampak terlelap memakai bantal kecil di dekapan abinya, sedangkan tangan kanan om Za menggenggam tanganku, membawa tanganku dan mengecupnya. Seakan moment ini tak ingin terlewatkan begitu saja.


"Abang jangan tebar pesona bang, Salwa ga akan ridho ! mendingan Salwa diracun aja kalo abang cari selingkuhan !" tak tau se*tan mana yang lewat lalu membisikkan kata kata itu.


"Hus !! jangan ngawur !" jawabnya.


"Apalagi yang harus abang buktikan biar adek percaya?" tanya nya dengan alis bertaut.


"Hmm, iya Salwa percaya abang, tapi Salwa tidak percaya dengan perempuan perempuan di luar sana !"


Aku menyenderkan kepalaku di lengannya yang seperti bantal, hingga aku terlelap. Untung saja aku bukan tipe perempuan jorok yang suka bikin pulau impian saat tertidur. Aku mengerjapkan mata, melihat om Za yang sama sama tertidur membuatku menarik senyuman, melihat kedua jagoanku yang seperti pinang dibelah dua sama sama terlelap, rasanya damai.


Dari jendela bulat yang ada di pesawat, sudah terlihat langit Aceh, Aceh i'm back home !!


"Cup !!" aku mengecup bibir kenyal om Za, sampai si empunya terusik dan bangun.


"Udah sampe bang, welcome home !!" tunjukku pada pemandangan di bawah.


"Hm, sudah sampai ya ?" aku mengangguk.


"Bisa tolong, pegang Al sebentar, abang mau ke toilet !" pintanya,


"Sini, Al sama umi !" aku meraih bayiku ini pelan pelan, menjaga agar tidurnya tak terganggu.


Om Za berdiri menuju toilet, sedangkan aku membuat posisi senyaman mungkin untuk Al. Saat akan kembali, om Za berpapasan dan hampir bertabrakan dengan salah satu pramugari,


"Eh, maaf..maaf pak !" ucap pramugari itu.


"Eh, saya yang minta maaf, maaf !" Om Za mengatupkan kedua tangannya. Pramugari itu terlihat menatap kagum pada om Za.


"Iya, sekali lagi maaf pak, saya yang salah, tidak hati hati !" jawabnya. Om Za berlalu tapi mata pramugari itu tak lepas dari om Za. Ia malah beberapa kali bolak balik ke kursi dimana ada aku dan om Za yang duduk, hanya untuk sekedar menawari sesuatu yang tidak penting.


"Ini yang ditawarin cuma abang aja nih mbak??!" tanyaku kesal. Apakah aku yang sebesar ini terlihat seperti upil yang nyempil.


"Eh iya, mbaknya juga mau kah?" tanya nya menyodorkan minum dan tissue.

__ADS_1


"Enggak, makasih ! udah telat !" gumamku.


"Bapak siapa namanya??!" tanya Pramugari itu. Mataku memicing sudah tak bersahabat. Dan om Za tau itu.


" Sebut saja Teuku !" jawab om Za. Aku menajamkan kilatan cahaya dimataku, dasar lelaki tak peka, di kodein biar pura pura gagu, malah dijawab, so mesra banget pake salam kenal Teuku.


"Oh baik Teuku, jika ada sesuatu yang dibutuhkan jangan sungkan !" ucapnya so so perhatian. Aku menyenderkan kepalaku manja di lengan sandarable itu


"Sayang, bisa tolong pegang Al sebentar, Salwa pengen ke toilet ?" tanyaku dengan menekankan kata sayang sengaja, membuat pramugari itu tersenyum getir.


"Sini, Al sama abi lagi !" ucapnya kembali meraih Al Fath.


"Makasih sayang ! cup !!" aku mengecup pipinya tanpa aba aba di depan si pramugari hingga ia spechless. Maaf jika anda kecewa, tapi lelaki ini sudah ada labelnya, suami orang. Aku berdiri angkuh dan berjalan menuju toilet. Si pramugari ikut pergi dari situ.


Pesawat sudah mendarat, aku dan om Za mengedarkan pandangan mencari jemputan, ternyata disana sudah ada om Mirza, dan ka Aisyah yang tengah mengandung, juga ada Afrian.


"Salwa !!!" pekik ka Aisyah, melambaikan tangannya.


"Ka Aisyah !!" balasku.


"Uhhh kangen !" aku memeluk ka Aisyah, meninggalkan om Za yang menggendong Al dan membawa tas berukuran sedang.


"Widihhh, kaka ipar makin subur nih !!" ucap Afrian, mataku memicing, ini dia laki laki yang diutus suamiku, untuk menguntitku kemana saja.


"Dih, apa kabar loe??!" tanyaku.


"Baik Sal, bukannya bantuin, laki loe tuh bawa anak ya tas pula ! dasar istri durhakim !" sarkas Afrian.


"Abang sendiri yang ga bolehin gue bawa tas ko !" Om Za malah menyerahkan tas itu pada Afrian.


"Assalamualaikum bro !!" salam om Mirza.


"Gimana, bapak camat kita sehat?? oh iya Sal, maaf ya abang tidak menjengukmu kemarin!" ucap om Mirza.


"Ga apa apa om, Salwa udah punya abang Za ko, suami ddngan paket komplit. Ga butuh yang lain !" jawabku.


"Idih lebay !" sarkas Afrian.


"Sirik aja !!" jawabku.


"Hay ponakan om, gimana perjalanannya??" Afrian mengajak Al bicara, bayi gemoyku ini tertawa tawa, memang ia murah senyum, sepertiku.


"Untung aja ga kaya bapaknya ! bikin minder orang yang ngajak ngobrol, berasa lagi ngomong sendiri !" ledek Afrian membuatku tertawa, dan yang dibicarakan menjitak kepala Afrian.


Al Fath mulai rewel, ia tak mau diam dan merengek terus.


"Iya sayang, jangan nangis ya !!" rayuku.


"Dek, Al rewel, mungkin dia haus !" ucap om Za.


"Engga bang, kayanya gara gara popok nya udah penuh !" jawabku.


"Terus gimana nih?" tanya om Mirza.


"Cari pom bensin atau tempat singgah dulu saja Mir, " pinta om Za,


Akhirnya om Mirza, menghentikkan mobil di sebuah rumah makan.

__ADS_1


"Ko di rumah makan?" tanyaku.


"Sekalian makan Sal, ini sudah masuk jam makan siang !" jawab om Mirza.


"Bang, Salwa gantiin dulu popok Al, kalian duluan aja !" ucapku.


"Ya sudah, abang juga dzuhur dulu, lalu kita makan !" jawab om Za, aku mengangguk.


Tak lama hanya beberapa menit saja sudah selesai. Aku menutup pintu mobil, dan menggendong Al mencari dimana om Za dan yang lain.


Dua orang perempuan melintas, mungkin seumuran denganku, keduanya sudah selesai makan. Melihatku yang sedang menggendong bayi, keduanya menatap merendahkan, aku sudah tau apa yang ada di pikiran keduanya, tapi jangan lupa juga, aku adalah Salwa si gadis dengan sejuta masa bod*ohnya.


.


.


"Ian, abang titip Salwa...! abang harap kamu bisa amanah ! dan hati hati, istri abang ini banyak akalnya untuk lepas dari pengawasan !" entah itu termasuk pujian ataukah menyindir.


"Iya bang, abang tak usah khawatir..abang disana tenang saja !" jawab Afrian jumawa.


"Al, abi berangkat lagi ! Al yang sholeh ya, tunggu abi pulang, jaga umi mu yang cengeng ini !" ucapnya.


Baru juga beberapa jam sampai di Aceh, om Za sudah harus mengejar penerbangan kembali ke Jatim. Salut dengan rasa tanggung jawab lelaki satu ini, yang mau dengan lelah mengantarkan ku dan Al selamat sampai rumah, meskipun ia harus bolak balik dalam satu hari, baginya itu adalah sebuah tanggung jawab dan kewajiban utamanya sebagai seorang suami dan ayah. Semkga lelahmu menjadi ibadah, bang...


"Za, hati hati...jangan khawatirkan Salwa dan Al. Ada abi dan umi juga yang lain !" om Zaky mengangguk.


"Zaky pamit umi, abi, assalamualaikum !"


"Waalaikumsalam !"


.


.


"Abang, tunggu !!" pekikku, berlari menyusulnya keluar. Tak terasa air mata menetes di pipi.


"Abang jaga kesehatan, abang jangan nakal !! balik cepet !!" rengekku yang sudah menangis sambil meringsek ke pelukannya.


Om Za mengecup keningku berkali kali.


"Iya dek, jangan macam macam, setelah kuliah langsung pulang, tunggu abang pulang, " jawabnya.


"Ga usah nangis, abang bukan mau pergi buat selamanya, hanya 30 hari saja !" lanjutnya.


Aku mendongak dengan mata yang sudah berlinang, baru kali ini aku merasakan benar benar sedih ditinggalkan om Za, ternyata dibuat galau rasanya memang se amsyong ini.


"Udah, malu sama Al, masa Al saja tidak menangis, tapi liat ! uminya nangis kejer kaya abis dirampok gini !" rayu om Za.


"Iya abis dirampok, hati Salwa dirampok abang, dibawa sama abang !! makanya cepet balik, bawa hati Salwa lagi !!" jawabku terisak, dengan tak melepaskan tautan tanganku di pinggang om Za. Tapi pria kaku ini malah tertawa.


"Abang bawa hati adek sebulan ya, belum juga pergi udah disuruh balik lagi !" jawabnya menghapus jejak jejak air mataku.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2