Love Me Please , Uncle Camat

Love Me Please , Uncle Camat
Singa jantan siap menerkam


__ADS_3

Bismillah happy reading all 😘


.


.


.


.


"Abang bukan lebay Sal, terharu !" jawabnya.


"Ih itu ingusnya, lap sana !" Aku menggidikkan bahu.


"Mir, setelah orangtua Aisyah dan ibu bapakmu kesini, kami pamit.." ucap om Za.


"Iya Za, makasih ! Sal, makasih ya !" om Mirza mendekat hendak memelukku refleks, tapi om Za menjauhkanku.


"Loe peluk aja bini loe di dalem, jangan bini orang ! kasian Aisyah, nungguin loe," ucap om Za.


"Iya elah Za, pelit amat !" jawabnya lalu pamit masuk ke dalam menemani Aisyah.


"Om Mir, Salwa pamit ya, insyaallah nanti jenguk lagi, " pamitku.


"Posesifnya suami Salwa !" ujarku menangkup pipi om Za yang tidak chubby.


"Bukan muhrimnya, " jawab om Za, aku memeluk lengannya.


"Bilang aja cemburu, iya kan bang ?!" tanyaku berseru.


"Kalau abang bilang iya, mau dikasih apa?!" tanya nya, bibirku mengerucut, otak bisnis ga usah dibawa bawa kesini.


"Perhitungan !" decakku.


Aku dan om Za sampai di parkiran, "Ini bang Riski kenapa? jangan bilang abang sakit juga dan mesti masuk ke ugd!" ucapku melihat bang Riski yang tengah terkapar di dalam bangku penumpang.


"Ulah loe Sal, noh ! pasiennya nambah !" jawab Afrian. Aku tergelak, "ya Allah bang..maafin Salwa ya, abisnya kalo ga ngebut nanti keburu brojol di jalan ! emangnya kalian berdua mau jadi bidan dadakan ?!" tanyaku.


"Iya bu, saya belum terbiasa naik mobil pake mode orang kebelet gini !" jawabnya.


"Ya sudah, ayo kita pulang. Sekarang saya yang bawa, Ris !"


"Hati hati tuh bang, sekarang jangan biarin kunci mobil gletakan sembarangan !" ucap Afrian mewanti wanti.


"Apaan ? gue mah ga pernah nakal ! gue mah istri yang manut apa kata suami !" jawabku jumawa. Om Za tersedak salivanya sendiri atas ucapanku, sedangkan Afrian tertawa puas, seperti sedang mengejek. Mataku menyipit kesal, jangan sampai ban serep di belakang, ku lempar padanya untuk menyumpal mulutnya.


"Sudah, sudah ! makin ngaco ! masuk ke mobil !" pinta om Za.

__ADS_1


"Bang, Salwa mau masuk mobil Af.."


"Tak ada ! kamu duduk di depan sama abang, " potongnya.


"Iket aja bang, pake seatbelt !" ledek Afrian yang langsung masuk ke dalam mobilnya. Bang Riski masuk ke dalam mobil om Za di bangku belakang.


Mobil sampai di kantor kecamatan. Aku ikut masuk ke dalam ruang kantor.


"Ris, kamu pulang saja. Istirahat !" pinta om Za.


"Iya pak, makasih !" jawabnya.


"Minum obat puyeng, bang !" tambahku. Afrian langsung pulang ke rumah.


"Maaf ya dok, barusan ada keadaan darurat !" ucap om Za tak enak hati sudah meninggalkan kedua dokter ini begitu saja.


"Tak apa pak, maaf juga jadi merepotkan,"


Dokter laki laki itu menatapku intens, om Za yang menyadari itu terlihat tak suka.


"Oh ya kenalkan, ini Salwa..istri saya !" ucapnya, sontak saja air muka keduanya langsung berubah.


"Oh, saya kira adik..maaf !" ucap dokter Rendi.


"Salwa !" aku mengatupkan kedua tangan di dada. Begitupun dokter perempuan bernama Devi ini.


"Jadi mau kapan dokter ke pengungsian?" tanya om Za.


"Oke. Pak Tio !!!" panggil om Za.


"Iya pak, " sahutnya masuk ke ruangan.


"Segera bersiap siap, kita akan mengantar para dokter ini menuju pengungsian, " ucap om Za.


"Bang, Salwa ikut juga?!" tanyaku sedikit tak setuju, mau ketemu warga tapi penampilanku seperti habis lomba marathon, kali saja nanti disana banyak yang minta foto bareng, kan ga lucu kalo bu camatnya sudah seperti gembel.


"Hanya sebentar dek, ikut mengantarkan saja. Nanti setelah disana, ada tim relawan yang akan menyambut mereka, " jawab om Za.


"Salwa keringetan bang, masa mau liat warga, Salwa bau asem !" bisikku.


"Adek wangi, " jawabnya singkat. Bibirku mengerucut, bohongnya kebangetan..hanya agar aku tak banyak permintaan bilang aku masih wangi.


"Abang siap siapin aja dulu peralatan sama barang yang mau dibawa dulu deh, Salwa mau mandi sambil touch up dulu di kamar mandi, tenang aja bentaran ko, Salwa pake mode kilat aja dulu !" tunjukku pada kamar mandi di dalam kantor om Za. Seingatku, aku ada menyimpan baju ganti di dalam mobil om Za.


"Jangan lama !" pintanya.


"Iya, Salwa tau. Abang udah kaya tentara mau perang aja, mesti tepat waktu !" dumelku.

__ADS_1


"Kalau begitu mari siap siap dok !" ajak om Za.


Sekitar 15 menit aku menghabiskan waktu di kamar mandi, dan mengganti pakaianku.


"Eh, dek..eh bu. Maaf saya pikir tak ada orang !" ucapnya menunduk tak enak. Dokter Rendi masuk ke dalam kantor om Za untuk mengambil ponselnya yang tertinggal, saat aku baru saja beres dari kamar mandi.


"Ah tidak apa apa dok,"


"Tak enak rasanya memanggil bu, masih muda soalnya," ucap dokter Rendi


"Tak apa dok, panggil aja Salwa. Ga usah terlalu formal, Salwa mah santuy ko orangnya !" jawabku menyunggingkan senyuman. Baru di senyumin aja udah merona, apalagi kalo gue gombalin, auto meleleh.


"Kalau begitu mari, bareng saja dek Salwa !" pintanya.


"Pak dokter saja duluan, biar Salwa berjalan di belakang !" ucapku, setiap bersama lelaki lain, otakku memang se ibu peri ini, selalu saja mengingatkan bayangan wajah om Za yang menatap elang, seakan memberikan peringatan, bahwa aku jangan macam macam, jaga jarak dengan lelaki lain.


"Tak apa dek, jangan sungkan !" jawabnya. Bapak dokter ini tak tau saja, aku tak pernah sungkan pada siapapun, tapi ia tak tau amukan murkanya suamiku seperti apa, batu pondasi saja ia cemil, kalau sedang ngamuk. Apalagi cuma dokter yang baperan kaya gini. Baru disenyumin sudah semerah jambu air yang matang. Auto digiling sama adonan baso.


"Silahkan pak, duluan !" pintaku tanpa tawar menawar.


"Jangan panggil saya pak, panggil saja abang. Mungkin umur kita tidak beda jauh, " jawabnya ramah.


"Bod*o amat..ga nanya juga !" benakku. Sumpah demi apapun, aku tak ingin berlama lama dengannya berbasa basi, karena di depan singa jantanku sudah siap menerkam, jika melihat aku berjalan berdua dengan lelaki selain dirinya.


"Iya bang, sepertinya kita harus cepat bang dokter, takut keburu ujan !" ucapku.


"Oh iya, "


Aku duduk di bangku depan, sedangkan kedua dokter itu di bangku kedua, dan pak Tio bersama satu lainnya di bangku belakang bersama kardus obat obatan.


"Awas kepalamu dek, " om Za melindungi kepalaku saat akan masuk mobil, seperti biasanya. Lalu memasangkan seatbelt,


"Bang, Salwa bisa sendiri !" cicitku. Pemandangan ini tak luput dari penglihatan kedua dokter ini.


Sepanjang jalan, bukannya menemani dokter ini mengobrol, aku malah asyik menutup mata, lumayan lelah hari ini.


"Wah dek Salwa tertidur?" ucap dokter Rendy.


"Dek?!" tanya om Za mulai memicingkan matanya. Melihat aura menggelap om Za, hanya dengan mengucapkan kata dek saja, membuat dokter ini langsung mengerti kenapa aku tadi menjaga jarak. Ia tidak bo*doh.


"Maksud saya bu, bu Salwa tertidur. Pasti sangat kelelahan, " jawabnya gugup.


"Oh iya, istri saya mahasiswi, seorang ibu satu orang anak juga yang masih menyu*sui," jawab om Za melirikku dan mengusap lembut pipiku.


Dokter Revi langsung terdiam, tak berani lagi membuka obrolan apalagi topiknya istri camat yang ada di depannya, sepertinya aku akan masuk ke dalam list topik yang tabu untuk dibicarakan.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2