Love Me Please , Uncle Camat

Love Me Please , Uncle Camat
Charity


__ADS_3

Bismillah happy reading all 😘


.


.


.


Hampir setiap jam, aku menelfon om Za. Memastikan lelakiku ini sudah makan, minum obat dan istirahat yang cukup.


"Jagoan umi, umi berangkat ngampus dulu ya !! biar jadi umi yang pinter buat Al..ya meskipun sebenernya kepintaran umi udah kebangetan, apalagi naklukin hatinya abi," ucapan pamitku sepanjang itu pada Al. Al ku semakin lincah dan gemoy, memainkan ujung jilbab dan mendusel dusel di wajahnya.


"Yoo !! sekarang Al Fath sama ummah !!" seru umi.


"Iya ummah, " ucapku mewakili Al Fath.


.


.


Dari awal saja hatiku sudah resah, gundah gulana, bukan karena aku akan menghadapi kembali kampus, Windu ataupun Zidan. Aku hanya mengkhawatirkan om Za.


"Loe kenapa sih Sal?!" tanya Afrian.


"Abang sakit Ian, dia sendiri disana ! ga ada yang urus !" ujarku.


"Loe ga udah khawatir, abang bisa jaga dan urus dirinya sendiri, udah biasa sejak di kampus di Jakarta dulu !" jawab Afrian enteng. Beda denganku yang tak bisa tenang,


"Telfon aja kalo gitu !" suruhnya, tidak usah di suruh juga sudah berapa kali hari ini aku menelfonnya.


"Nanti aja di kampus, barusan pas sarapan, udah telfon. Abang juga lagi sarapan !" jawabku.


*********************


Sudah seminggu, sejak kejadian drama penyiraman itu. Windu ataupun yang lainnya berfikir seribu kali saat ingin membully ku. Tapi tetap saja, ada saja sikap jahat mereka, entah itu berapa sindiran ataupun kelakuan usil. Tapi sekali lagi, aku adalah mahasiswa yang tak mudah ditumbangkan.


Pihak kampus mengadakan kegiatan charity, beberapa anggota senat meminta perwakilan dari setiap kelas untuk mengikuti kegiatan itu. Dan sayangnya betapa apesnya diriku, selalu berhubungan dengan manusia manusia penuh drama seperti Zidan dan Windu.


Pesona umi nya Al.... kalau boleh bilang begitu, bahkan sampai sekarang Alisha saja masih meragukan status istri dan ibuku.


"Kita akan mengadakan bakti sosial, di kampung kampung yang memang status ekonominya kurang !" jelas Zidan. Seharusnya aku sudah pulang, tapi karena ada rapat dadakan, tentang acara yang akan diselenggarakan beberapa hari ke depan, makanya para relawan dikumpulkan disini untuk rapat.


Aku juga sudah menyiapkan beberapa bajuku yang masih layak pakai, dan sejumlah sembako.


Aku mengotak atik ponselku, mengetik pesan pada Afrian untuk menjemputku. Mungkin butuh waktu 20 menit untuk sampai di kampusku,


"Ishhh lama !!" gumamku kesal, menendang nendang batu kerikil di depanku.


"Masih belum pulang? besok harus datang awal !" ucap Zidan memakai motornya.


"Tau, ini juga lagi nunggu jemputan ! dipikir gue lagi dangdutan !"

__ADS_1


"Dimana rumahmu? kuantar pulang!" tawarnya. Aku menggidikan bahuku.


"Engga usah, nanti jadi masalah !" belum lupa dan tak akan pernah lupa, saat diantar Wisnu saja, om Za ngamuknya bukan kepalang. Jika sudah ngamuk banteng matador pun kalah garangnya. Orangnya memang tak ada disini, tapi matanya disini banyak, dan aku tak mau ambil resiko disamperin algojo benteng takeshi.


"Oh pacarmu ?!" tanya nya.


"Ga usah kepo dan ngurusin urusan orang, " jawabku jutek.


"Kenapa?!" tanya nya


"Loe ga tau kan, kepo memperpendek umur ?!" jawabku. Ia malah mengulum bibirnya. Dasar sableng !


"Titt !!" klakson mobil Afrian berbunyi,


"Tuh jemputan gue !" jawabku.


"Iya iya bawel !" dengusku memekik pada Afrian.


"Ck Lama !!" decakku.


"Loe ada hubungan apa sama cowok itu, Sal ?!" tanya Afrian penuh selidik.


"Kenapa ? loe mau ngadu? gue ga ada apa apa ahh !"


"Gue laporin abang, tau rasa loe Sal !" godanya.


"Ga usah ember plus kompor !" jawabku.


"Enak aja ! gue mah setia. Ga kaya loe ! gue tebak tiap fakultas ada cem ceman loe ! awas aja kalo sampe Acha loe sakitin, gue hajar !" ancamku.


"Sembarangan ! " jangankan untuk mengkhianati Acha, bahkan untuk mencintai Acha sepenuh hati saja belum bisa, sejujurnya masih ada nama seseorang di hati Afrian.


"Sal, bensin abis ! isiin dulu ya, gue ga bawa duit cash !" aku menaikkan alisku, calon presdir minta di beliin bensin, yang benar saja !


"Ck, repotin !" decakku.


"Nih !" aku menyodorkan uang kertas.


.


.


"Besok berangkat awal, sekalian bawain barang barang gue Ian, gue mau ada kegiatan charity !" ujarku, membuka seatbelt.


"Oke, tumben banget loe mau ikutan acara beginian Sal?!"


"Kepaksa karena dipilih, lagian ga apa apa sekalian berbagi !" jawabku.


Om Za saja yang jauh disana, saat kuberitahu aku mengikuti kegiatan bakti sosial, langsung mengirimkan sejumlah uangnya ke rekeningku, untuk selanjutnya di serahkan pada pibak kampus.


Di tempat lain.

__ADS_1


"Sore pak Zaky, " salam bu Surti.


"Sore bu, " jawab om Za.


"Ini ada sayur dan lauk untuk teman makan, lumayan lah, saya masak lebih !" ucap bu Surti.


"Terimakasih banyak bu, "


"Oh iya pak, gimana kabar mbak Salwa sekarang?" tanya bu Surti.


"Alhamdulillah baik, dan sudah lebih dari seminggu masuk kuliah !" jawab om Za, yang tengah membuang sampah.


"Oh kalo Al Fath, aduh rasanya saya kangen sama Al!" seru bu Surti.


"Alhamdulillah Al Fath sehat,"


"Oh iya bu, mungkin saya tidak akan lama lagi akan pulang ke Aceh, beberapa barang Salwa dan Al Fath sudah dipaketkan ke Aceh. Dan barang barang yang besar, saya tinggalkan saja. Pakai saja oleh bu Surti ! hitung hitung salam perpisahan," jelas om Za.


"Masyaallah, makasih banyak pak ! " jawabnya.


"Saya akan merindukan keluarga pak Zaky, kapan kapan mainlah kesini lagi bersama mbak Salwa dan Al Fath !" ucap bu Surti.


"Insyaallah bu, kalau begitu saya masuk duluan bu !" pamit om Za.


****************


"Yakin nak?? ini semua mau Salwa sumbangkan?" tanya umi, melihat pakaianku teronggok menggunung siap masuk kotak kardus.


"Insyaallah yakin mi, ini pakaian sudah ga muat di badan Salwa, " jawabku.


"Hati hati, niatkan semua karena Allah !" jawab umi. Aku mengangguk,


"Sini sayang, anak umi aus ya?!" aku mengambil Al dari tangan umi, lalu membawanya ke ranjang, memberinya ASI, seraya tanganku menepuk nepuk pan*ta*t nya.


***********


"Ini bawa kesini !!" titahnya. Lihatlah Windu, selain pemain antagonis ftv, dia pun bibit bibit pendiri romusha. Hanya bisa menyuruh nyuruh, tanpa mau ikut andil. Sekalinya mengangkat sesuatu, yang beratnya pun tak seberat beban dosanya, langsung meringis meminta perhatian yang lain, terutama Zidan. Aku hanya menggelengkan kepala, itu otot apa agar agar, sama tahu aja lebih tangguh dan kuat tahu.


"Heh, cewek bar bar ! tuh itu angkat masukkin ke bagasi mobil gue ! " titahnya.


"Bar bar tapi ada gunanya, daripada so baik tapi ga guna ! daripada cuma jadi benalu mendingan loe rebahan aja di rumah bareng bantal !" jawabku.


"Eh gue yang ngatur acara ya, lagian gue juga sumbang bawa mobil sendiri !" jawabnya angkuh, selain patrick ternyata gen squidward menurun padanya. Sombong sekali, baru dititip mobil doang udah kaya raja dunia, di sentil Tuhan baru tau rasa.


"Cobak kalo loe bantu yang lain juga, kan lebih afdol dan banyak pahalanya ! daripada cuma nyuruh nyuruh doang !!" aku menaruh beberapa kotak di tangannya untuk ia bawa. Sedangkan ia sudah menggerutu kesal.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2