Love Me Please , Uncle Camat

Love Me Please , Uncle Camat
Belajar bijak


__ADS_3

Bismillah happy reading😘


.


.


.


.


.


"Assalamualaikum, bagaimana kabarmu Zaky?"


Sebuah kata biasa tapi mampu membuat hatiku ngebul kaya air panas yang lagi mendidih, enak tuh buat nyiram perempuan perempuan gagal move on.


Tak ada balasan dari om Za sendiri, aku hanya tersenyum kecil, semakin melayang saja hatiku dibuatnya setelah tadi ada drama drama yang membuat om Za malu dan blushing untuk pertama kalinya di depanku. Laki laki itu ketauan bucin akut.


flashback on


"Yahh..bibi sama paman udah mau balik ya ," aku merengut.


"Sal, abi dan umi mau mengantar paman dan bibi ke bandara sebentar," ijin umi dan abi.


Daripada hanya bosan di rumah lebih baik aku ikut mereka lumayan lah bisa lihat lihat pepohonan dan suasana jalanan.


"Abi, Salwa boleh ikut kan? bosan di rumah," pintaku, diiyakan abi dan umi dengan segera aku mengambil tas selempang lalu duluan ke mobil yang disana sudah ada abi, paman dan bibi.


"Bu, kami keluar sebentar mengantar tamu ke bandara !" ucap umi pada bu Inah.


"Iya bu,"


.


"Astagfirullah, sebentar abi lupa ponsel abi tertinggal!" abi segera turun lalu mencari ponselnya yang ia ingat tergeletak di meja ruang tengah.


"Abi kenapa balik lagi?"tanya umi.


"Ini ponsel abi tertinggal, mi. Kalau begitu ayo mi takut keburu telat."


Keduanya kembali ke mobil dan melajukan mobil keluar dari rumah.


flashback off.


Aku mengulum bibirku menahan lengkungan yang ingin tercipta, saat om Za duduk di ranjang di sebelahku.


"Cieee yang nyariin istrinya!" godaku menusuk nusuk lengan lelaki tampan satu ini.


"Diem dek, lagipula kenapa ga ngomong kalo adek ikut sama abi dan umi?" ucap om Za.


"Ponsel Salwa mati bang alias KO," jawabku.

__ADS_1


"Cieee sampe ngerjain orang, saking khawatirnya," kembali godaku menaik turunkan alisku.


"Sudah, adek tidur sudah malam!" terlihat sekali ia sedang mengalihkan perhatian padahal wajahnya sudah seperti kepiting rebus. Tapi sesaat kemudian raut wajahku berubah drastis, serasa dipukul dengan palu hingga terasa sesaknya.


"Kenapa, abang mau chat Susan?" tanyaku hingga membuat om Zaky menghentikan tangannya yang sedang menepuk nepuk bantalku agar nyaman. Sebelah alisku terangkat ingin tau reaksi laki laki idola kaum hawa gagal move on ini.


"Susan?" tanyanya balik.


"Susan ada chat abang kan? abang ga bales karena masih ada Salwa kan? nanti ujung ujungnya abang ketemuan terus balikan?" tuduhku tak tau racun apa yang menyerang otak suciku ini hingga berfikiran yang tidak tidak pada om Za. Yang jelas melihat dan mendengar nama Susan sudah seperti jamur yang harus kubasmi sampai ke akar akarnya.


"Yang namanya alumni suka reunian bang," tuduhku lagi.


Ia menghela nafas lelah, apakah wanita memang selalu harus mendapatkan penjelasan sampai ia jungkir balik, tak bisakah hanya berkata sekali bahwa ia adalah teman.


"Kenapa adek bisa berkata jika Susan adalah alumni hati abang?" tanya om Zaky.


Tak sengaja sebelum benar benar pergi dengan nampan aku sedikit mendengar pembicaraan ketiga lelaki dewasa dengan 3 cangkir kopi mereka.


"Za, ga nyangka gue loe bisa setakluk ini oleh Salwa, bahkan saat bersama Susan saja,kau malah cuek saja seperti menganggap dia bukan pacarmu," ucap om Mirza,Jantungku berasa ditusuk belati milik mak dugong di film little mermaid namun bedanya jika aku ditusuk tidak mungkin berubah menjadi manusia duyung yang ada aku langsung masuk rs atau mungkin menyatu kembali dengan tanah.


Aku semakin menempelkan telinga di daun pintu, kepo tidak akan membuatku cepat mati kan?


"Ralat dia memang bukan siapa siapa ku Mir..tidak pernah ada apa apa antara aku dan Susan," om Za masih terfokus pada laptopnya dengan Ramli sementara sahabatnya yang satu itu tetap membahas Susan.


"Hahahahah bukankah Susan memberitahukan pada seisi kampus kalo loe dan dia memiliki hubungan spesial?" tanya nya kembali.


Dadaku sudah sakit dan mati rasa, rupanya seperti ini sakitnya jika mendengar seseorang yang kita sayang berhubungan dengan orang lain walaupun aku tau itu masa lalunya.Aku memilih pergi saja demi kesehatan jiwa dan raga.


"Kamu kan tau Mir..bagaimana kejadiannya? tidak usah diungkit lagi!" jawab om Za.


"Mau bahas ini sampai pagi atau sampai Salwa mendengar dan loe tinggal gue cincang?" tanya om Za tatapannya menajam om Ramli hanya diam mengulum bibirnya mendengar kedua sahabat ini berdebat sudah makanan sehari harinya jika ia hanya jadi penonton setia di tengah tengah mereka.


"Oke oke..hahahaha ingat saja gue saat si Susan sampai nekat datang ke rumah om Tedi dan dia hanya menemukan gadis yang dikira adik Salwa??" om Mirza tergelak.


"Padahal dialah Salwa yang baru puber dan loe uber uber," gelaknya membuat om Ramli kali ini ikut tertawa kecil.


"Ram..besok saja kita teruskan makhluk satu ini harus diberi pelajaran dahulu agar berhenti bicara !" ucap om Za datar om Ramli mengangguk.


"Oke gue diem sekarang ," om Mirza benar benar menutup mulutnya.Hanya sekarang sudah terlanjur basah, aku sudah mendengarnya dan lebih celakanya hanya separuh yang kudengar.


.


"Adek tidak mendengar semuanya," om Za berusaha meralat. Bersamaan ponselnya bergetar dan panjang umur orang yang sedang dibicarakan memanggil.


"Siapa? Susan lagi ?" tanyaku sudah benar benar jengah.


Susan sudah besar ternyata bukan jadi dokter tapi jadi pelakor.


"Angkat saja bang, nanti dia menunggu kekasih yang tlah lama hilang !!" kesalku. Padahal lain di mulut lain di hati, aku berharap om Za membiarkannya seperti biasanya dia tak pernah mengangkat panggilan tak penting dari siapapun apalagi dari perempuan. Tapi dia benar benar mengangkatnya kali ini ...sungguh mengejutkan, om Za menloudspeaker nya.


"Assalamualaikum Zaky, akhirnya kamu mengangkat panggilanku setelah sekian lama."

__ADS_1


"Waalaikumsalam," hati yang sudah terlanjur sakit membuatku beranjak pergi, namun om Za menahan tanganku untuk tetap berada bersamanya.


"To the point saja ada apa, san?" tanya om Za.


"Ahh tidak hanya ingin menanyakan kabar, kulihat tempo hari di media sosial seseorang men tag namamu dan membagikan foto bunga dan coklat apa sekarang kamu sedang bersama seseorang lagi Za?" tanya nya.Om Za menatapku ia mengerti kenapa Susan menghubunginya lagi, dan ini alasannya.


"Alhamdulillah, san saya sudah menikah dan akan segera memiliki anak!" jawab om Za. Membuat seseorang di sebrang sana terdiam lama.


"Bahkan sekarang saja istri saya sedang mendengarkan kita berbicara, san ..apa kamu ingin menyapa istri saya?" pertanyaan telak itu membuat orang disebrang sana semakin gugup dan gelagapan.


"Say assalamualaikum dong sayang!" pinta om Za padaku.


Kemarahanku akhirnya dibumi hanguskan oleh kata kata telak om Za.


"Assalamualaikum ka Susan, salam kenal saya Salwa..." ucapku tergagap.


"Waalaikumsalam, Za...selamat ya untuk kalian kalau begitu aku tutup telfonnya," jawab Susan.


"Terimakasih Susan, baik.."


"Assalamualaikum.."


tuut..tuut....


"Lalu sekarang masih tidak percaya juga pada abang?" tanya nya.


"Engga ! yang tadi belum menjelaskan bahwa Susan itu siapa berarti abang bohong jika hanya ada Salwa dari dulu di hati abang, dasar pembohong...!" tetap tak mau kalah.


"Abang tidak akan menjelaskannya pada adek, karena adek tau dari Mirza kan? dan adek dengar baru separuh maka tanyakanlah pada Mirza minta ia menjelaskan ceritanya sampai selesai."


"Kenapa ga dari abang saja?" tanya ku.


"Apa adek akan percaya? sepertinya tidak!" jawab om Za.


"Ada baiknya adek tanyakan langsung pada mulut orang yang sudah membuat adek tidak percaya abang lagi, kemarin abang sudah mengatakan bahwa Susan hanya teman biasa tapi adek tetap tak percaya kan?"


Cihhh bapak camat satu ini pintar sekali membalikkan keadaan dan perkataan.


"Lebih baik sekarang adek ambil air wudhu redakan emosinya, karena jika adek hanya mendengar penjelasan abang, adek hanya akan semakin tidak percaya, jawaban abang akan tetap sama Susan hanya teman abang sewaktu kuliah dulu,"


Om Za meraih kepalaku dan mencium keningku lembut lalu pindah ke perutku "Abang tidur menyusul, masih ada pekerjaan. Selamat malam 2 kesayangan abi, jangan terlalu dipikirkan, assalamualaikum!" jawabnya kembali ke ruang kerja untuk menyelesaikan sisa pekerjaannya.


Om Za membiarkanku bergelut dengan pikiranku sendiri, membiarkan aku belajar mendewasakan diri dengan caranya, membiarkanku belajar agar lebih bijaksana dalam menentukan sikap tanpa mencampur adukkan emosi di dalamnya.


"Memang benar yang dikatakan abang, bagaimanapun ia menjelaskan, otakku sudah di racuni dengan amarah apapun yang akan dia jelaskan main seat otakku akan berfikir jika abang sedang membela dirinya sendiri,"


Aku menghela nafas kasar, benar juga memang amarah sudah membutakan mata dan hatiku atas kepercayaanku pada om Za. "Gue bakal minta jelasin sama om Mirza" gumamku.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2