Love Me Please , Uncle Camat

Love Me Please , Uncle Camat
Candle light dinner


__ADS_3

Bismillah happy reading all 😘


.


.


.


.


.


"Mbak Salwa, mumpung masih sore begini, daripada cuma diem di rumah mendingan temani saya?" tawar bu Surti. Aku yang tengah me momong Al menimang nimang ajakan bu Surti, lagipula om Za malah sibuk mengurus pekerjaannya bersama kekasih gelapnya...si laptop hitam. Percuma juga libur kalo cuma dikacangin di rumah. Udah kaya obat nyamuk bakar, dibiarin berasap.


"Kemana bu ?" tanyaku.


"Di depan sana ada pasar kaget mbak, saya mau beli dalaman Wahyu !" jawabnya merapikan penampilan dan memoleskan lipstik merah menyalanya bak mobil pemadam kebakaran, bedak yang tebal sebatas leher hingga terlihat belang seperti buah kesemek.


"Boleh deh bu, " ucapku. Aku mengetik pesan pada om Za, biar tak usah bolak balik.


"Ya " sesingkat itu jawabannya,


"Cih kalo dah sama laptopnya gue berasa jadi pelakor !" gumamku memasukkan ponsel ke dalam kantung yang ada di dalam stroller.


"Siapa yang pelakor mbak?" tanya bu Surti.


"Hehe, engga ada bu !" jawabku meraih dan memasukkan Al ke strollernya.


Mendorong stroller melewati jalanan tanah berbatu, di depan sana memang sudah ramai. Pasar kaget begini, memang selalu jadi sarana hiburan rakyat yang paling murah. Untuk memborong barang barang kebutuhan masyarakat menengah ke bawah sekaligus bertegur sapa dengan warga lain.


Bu Surti antusias memilih milih barang, ia menggeser pembeli lainnya menggunakan badannya yang gendut, ia lihai menawar dan menekan harga. Beda denganku yang tak pengalaman. Bila harga belum sesuai dengan yang ia sepakati maka ia dengan gigih menawar.


"Tuh ! begitu caranya mbak Salwa kalo beli barang, sing penting barang dapet, uang irit !" jawabnya meraih bungkusan hitam berisi barang yang ia beli, aku terkekeh, pelajaran yang wajib kucatat.


Aku hanya melirik sesekali, tidak ada barang yang ingin kubeli, mataku hanya berbinar saat melihat pedagang makanan cemilan saja.


"Mbak Salwa ndak beli apa apa?" tanya nya, aku menggeleng.


"Engga bu, Salwa lagi belum butuh apa apa !" jawabku sambil menikmati penganan manis bernama jiwel.


"Wah, maklum saja. Mbak Salwa jarang beli di pasar kaget begini, pasti kalo belanja di mall !" ucap bu Surti.


"Engga juga bu, Salwa beli dimana aja !" jawabku.


.


.


Aku menggendong Al dan menaruh stroller.


"Bang !! yuhuuu, where are you ?!" pekikku.


"Dek, abi mu ga mungkin di gondol janda kan?" tanyaku mengangkat dan berbicara dengan Al, sayangnya Al ku malah tertawa seperti menertawakan kebodohan ibunya sendiri.


" Janda bolong, nama tanaman sayang?!" hampir saja Al jatuh dari tanganku karena kaget, om Za datang dari arah belakang memelukku.


"Adek dari luar sebaiknya mandi dulu, airnya sudah abang isi !" rupanya lelakiku ini baru saja mandi, aroma sabun yang menguar menjadi buktinya, dengan handuk yang melilit bagian bawahnya.

__ADS_1


"Dedek kalo udah gede, badannya jangan di pamer pamer kaya abi, nanti dijilat tante tante nakal !" ucapku bermonolog, om Za menjiwir hidungku.


"Aduh !"


"Bukan tante tante saja yang nakal, gadis abg juga bisa jadi liar !" jawab om Za, aku mengekor om Za ke kamar menaruh Al di ranjang, membiarkannya berguling guling bebas sesuka hati.


Rambut basahnya yang acak, menjadi fantasi sendiri untuk kaum hawa, apalagi gadis sepertiku.


"Gadis abg mana tuh, bukan Salwa pastinya !" jawabku mengalungkan tanganku di lehernya. Ia mengangkat alisnya sebelah.


"Uminya Al tidak liar, tapi nakal !" ucapnya.


"Abisnya abang bisa selezat ini, kan Salwa jadi kepanasan, kaya uget uget !" jawabku, om Za tertawa renyah, ia meraih pinggangku.


"Uminya Al juga lezat, apalagi kalo sudah nakal begini !"


"Tapi sayangnya sebentar lagi magrib, sebaiknya kamu mandi, bukankah kamu menginginkan candlelight dinner?" tanya om Za, mataku berbinar,


"Beneran?? oke Salwa mandi !" jawabku melepaskan tanganku yang melingkar di leher om Za, dan segera menyambar handuk.


.


.


Aku meraih punggung tangan lelaki bersongkok ini, inilah salam terakhir di sholat magribku dengannya, sebelum besok aku pulang ke Aceh. Salamku aga lama, mengecup dan membawa tangannya ke pipiku penuh sayang. Om Za pun mencium pucuk kepalaku yang terhalangi mukena, lama.


"Baik baik disana, " ucapnya.


"Iya bang, " Al yang ditaruh di samping ku terdiam menghayati melihat kedua orangtuanya.


Selepas magrib, Al memang sudah memejamkan matanya. Om Za sedang menyiapkan meja, sedangkan aku di kamar tengah bersiap siap.


Aku memoleskan make up natural tanpa berlebihan di wajahku. Senyumku tersungging, gadis yang sedang mematut penampilannya di cermin ini ternyata sudah dewasa.


"Dek, ini makanannya mau dibawa sekarang?" om Za menaikkan kedua alisnya, sedikit terkejut melihat penampilanku.


"Abang jangan marah dulu !!" ucapku melangkahkan kakiku mendekati lelaki yang sudah memakai kemeja putih dan celana bahan ini.


Om Za diam membatu, sampai sampai aku bingung, apakah dia marah atau tidak.


Ia tersenyum, "istri kecil abang ternyata sudah dewasa !" ucapnya.


"Abang ga marah kan Salwa pake baju yang kata abang baju yang belum selesai dijahit gini?" tanyaku. Om Za meraih ku, tangannya memegang lingkar pinggangku yang tak terlalu besar, malah terkesan pas untuk ukuran tangannya.


"Jangan sekali kali memakai pakaian ini di depan orang lain selain abang, " jawabnya menatap mataku.


"Iya bang,"


Satu tangannya menangkup rahangku mendekatkan jarak wajahnya dan wajahku, mengecup lembut bibir yang terpoles lipstik. Tangan satunya mulai nakal dan tak mau diam, menarik kaki ku yang bagian bajunya terdapat belahan, hingga mengekspos bagian pa*ha. Dan mulai nakal menjelajahi kulit tanpa ada cacat sedikitpun milikku.


"Bang, Salwa lapar !"


"Abang juga lapar, ingin makan Salwa !" jawabnya sudah mengelam oleh kabut ga*ir@h.


"Bukan lapar yang itu bang, perut Salwa yang lapar !" jawabku.


Perutku harus full tank dulu sebelum nantinya aku yang akan habis dilahap om Za, asupan nutrisi Al harus terpenuhi dulu sebelum nanti akan berbagi jatah makan malam dengan abinya.

__ADS_1


Om Za menurunkan tangannya, lalu mengusap pipiku. Ia mengajakku ke halaman belakang yang tak luas, tapi disitu tak ada orang yang bisa melihat, karena terhalang tembok benteng yang cukup tinggi.


Aku tercekat, om Za sudah merubah tanah yang hanya ada untuk jemuran saja, jadi tempat yang romantis, sejak kapan ia menyiapkannya?


" Kapan abang menyiapkannya?" tanyaku.


"Saat adek pergi ke pasar kaget tadi,"


Aku duduk berhadapan dengannya, ketampanan om Za terlihat berlipat lipat malam ini.


Ia menyendokkan nasi beserta lauknya, tak tanggung tanggung, satu piring penuh sudah tersaji di depanku.


"Bang, ini kebanyakan !" ucapku.


"Biar nanti kamu kuat, biar nanti tidak ada drama kelaparan lagi !" jawabnya, aku tergelak tapi sedetik kemudian mataku menajam.


"Ga ada ! nanti Salwa kesiangan bangunnya !" jawabku, bukan aku yang memasak tapi lelaki di depanku ini yang menjadi chef nya. Memang lelaki ini paket komplit. Dan aku beruntung mendapatkannya.


"Bang, Afrian memangnya tidak kuliah?" tanyaku penasaran, mau maunya dia disuruh om Za untuk mengawasi dan menjagaku.


"Kuliah, dia kuliah di Aceh !" jawab om Za. Itu artinya Afrian dan Acha pun LDR.


Jika umumnya makan malam identik dengan hadiah atau sebuket bunga, tak ada yang diberikan oleh om Za, apalagi yang harus ia berikan ? semuanya sudah kudapatkan.


Malam ini akan menjadi malam yang panjang untukku dan abang pria matang ini, tak tunggu lama, om Za menggendongku ke arah kamar, rupanya Al sudah ia pindahkan ke kasur kecil dan terpisah dengan kasur utama. Aku tertawa, anakku sudah mirip dengan korban pengungsian banjir.


"Bang itu Al !" tunjukku.


"Biar jagoan abang tidak terganggu !" jawabnya. Aku memaklumi, ini kondisi darurat, jika di rumah, Al memiliki kamarnya sendiri, tak perlu seperti ini.


Om Za membaringkanku di ranjang, ia menanggalkan semua pakaiannya dan pakaianku. Menjamah setiap inci kulitku tanpa terkecuali, sentuhan ini yang akan kurindukan 30 hari ke depan. Tangan besarnya meraup kedua kembar sintalku membuatku hilang akal seketika. Bibir kenyalnya tak diam di satu tempat saja, semakin membuatku kehilangan arah dan mengeluarkan suara yang membuatnya semakin aktif mengecup dan menyesap. Suara binatang malam saja kalah oleh suara dua insan yang tengah saling melepas rindu. Untung saja Al terbalut oleh selimut dan topi kuncup tebal. Hingga ia tidak harus terganggu oleh aktivitas panas kedua orangtuanya.


"Love you !" bisikku.


"Too," jawabnya.


"Bang, bisa cabut yang dibawah !" pintaku. Ia malah tersenyum tapi tak mengindahkannya.


"Jangan bilang abang masih belum puas ? Salwa dah lemes !" ucapku. Bahkan makan malam Al saja ia garap.


"Abang butuh bekal untuk sebulan kedepan !" jawabnya. Ia kembali menyentuh dan menjamahku.


.


.


.


"Apa barang barang penting tak ada yang tertinggal ?" tanya om Za, aku hanya membawa satu tas sedang, kebutuhan selama di perjalanan. Om Za mungkin akan mengantarku dan Al sampai rumah di Aceh, tapi tak lama ia kembali. Pasalnya esok ia harus apel pagi.


"Ga ada kayanya bang, " jawabku.


"Barang barangmu dan Al biar nanti saja dipaketkan ke Aceh !" jawabnya.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2