
Bismillah happy reading all π
.
.
.
.
.
Aku yang sudah gemas dengan sepasang kekasih gelap ini mengetatkan pegangan tanganku di garpu, cake yang indah pun menjadi korban keganasanku karena emosi yang meluap luap melihat tingkah menjijikkan dan membuat hati sakit ini. Ingin rasanya menghampiri keduanya dan kurebus dalam kuali bersama kentang. Tapi apalah daya, aku hanya manusia biasa, apalagi orang di sampingku ini berhati malaikat, alias pemaaf dan rendah hati, jauh dari sifat nyinyir dan cinta damai.
Tak lama, pak Jamal memanggil nama om Zaky. Suamiku ini yang kerennya sampai tumpah tumpah dan bikin banjir sungai Citarum maju ke depan podium. Semua mata penghuni yang ada di dalam ruangan ini menatap padanya.
"Abang ke depan dulu," tangannya terulur mengusap kepala yang tertutup jilbab.
"Semangat abinya om bayi !!" jawabku.
Benar kata om Za, ada saatnya ia menarik perhatian orang tanpa harus menghampiri satu persatu. Kerennya om Za memang kebangetan. Ia menyampaikan sepatah dua patah katanya di depan podium.
.
.
"Abang keren !" bisikku saat om Za sudah kembali.
"Makasih, tapi saya sudah punya istri," kelakarnya. Aku tertawa lepas, "istrinya ga ada disini kan,bang? bolehlah ajak neng jalan !!" jawabku membalas kelakarnya.
"Boleh, neng juga cantik !" jawabnya membuatku malah memukul lengannya keras.
"Abang ihhh !!" aku merengut, tapi lelaki ini malah tertawa dan menjiwir hidungku. Banyak diantara mereka mendekati om Za, bahkan ada beberapanya mengajak bekerja sama.
Kehamilan yang sudah membesar membuatku menjadi sering bolak balik ke kamar mandi untuk sekedar buang air kecil.
"Bang, Salwa ke toilet dulu, ya !" ijinku.
"Perlu abang antar?" tanya nya. Aku menggeleng, apa jadinya jika om Za mengantarku yang ada wanita wanita yang ada di toilet sana dengan suka rela ingin diintip om Za.
"Ga perlu, nanti yang ada mereka minta diintip abang !" tawaku, lalu beranjak dan berjalan menuju toilet. Melihat pasangan yang dibawa oleh masing masing tamu, kebanyakan mereka memakai sepatu hak tinggi. Sedangkan aku, hanya flatshoes. Om Za mengatur dan tak memperbolehkan aku memakai sepatu macam itu untuk saat ini. Kenapa tidak sekalian saja aku bekal sendal jepit tadi, takutnya licin.
__ADS_1
Aku masuk salah satu bilik, di toilet perempuan. Setelah selesai buang hajat aku mematut diri sambil mencuci tangan di wastafel yang sudah disediakan termasuk cermin besar yang ada disini, tapi ini bukanlah adegan horor dimana saat aku bercermin akan muncul sosok astral secara tiba tiba. Yang ada di sebelahku adalah seorang wanita lumayan cantik, dan aku tak asing dengan wajahnya.
"Ehhh, kamu wanitanya pak Zaky kan??" ia berbicara padaku dari pantulan cermin sambil menebalkan lagi bibirnya dengan gincu merah mudanya, aku melirik sinis.
"Wanita??" tanyaku mengangkat kedua alis.
"Iya ! sampai hamil ?? berapa bulan usia kandunganmu?" tanya nya.
"Saya istri sah pak Zaky !" jawabku "kenalkan nama saya Salwa, tante !" tambahku.
"Wow !! hebat, bisa sampai dinikahi secara hukum !" jawabnya, aku membulatkan mataku.
"Maksud tante apa? saya dan abang memang dari awal menikah secara hukum dan agama !" tensiku mulai meninggi, aku tau kemana arah pembicaraannya, sudah banyak yang menganggapku sugar babynya om Za.
"Kamu simpanan pak Zaky kan?Pintar juga kamu, pak Zaky tampan, sukses, pak Zaky cukup pintar mencari sugar baby nya ya ! bagi tips dong biar dinikahin secara hukum?" tanya nya. Kepalan tanganku semakin mengetat, jika tidak mengingat ada malaikat Atid yang mencatat amal buruk, mungkin kepalan tangan sebesar bola kasti ini akan melayang di mulut tak tau diri itu.
"Saya ataupun bang Zaky tidak seperti yang tante pikirkan, alhamdulillah saya tidak harus merebut abang dari siapapun. Abang seorang yang sendiri begitupun saya. Abang meminta saya pada kedua orangtua saya, menikahi saya secara agama dan hukum, insyaallah apapun yang kami lakukan halal dimata Allah maupun manusia !" jawabku panjang lebar.
" Oh ya ??? saya justru akan berfoto bersama pak Jamal dengan mesra lalu akan saya kirimkan pada istri sah nya," ucapnya berbangga diri.
"Ayolah, para pengusaha itu wajar jika memiliki simpanan, dan pada acara acara seperti ini. Mereka lebih memilih membawa simpanannya !" ia tersenyum bangga. Apa yang harus dibanggakan dari seorang wanita perebut suami orang, dia bahagia diatas penderitaan seorang wanita juga ibu.
"Saya tidak meminta tante untuk percaya saya, karena percaya selain kepada Allah musyrik hukumnya. Permisi !" jawabku berjalan angkuh.
" Kamu tidak berhak mengatur hidup saya, yang jelas bagi saya selama uang dan keinginan saya terus mengalir, tidak masalah mau itu istri sah ataupun hanya simpanan !!" jawabnya.
"Tante boleh memuja harta, tidak munafik saya pun tidak bisa hidup tanpa uang, tapi jangan dengan cara merendahkan harga diri, jujur saya malu mengaku wanita jika definisi wanita serendah itu !" ucapku semakin terbawa emosi.
"Saya yakin nantinya pak Zaky juga akan seperti itu, pak Zaky lebih mudah mencari, siapapun wanita akan rela menjadi simpanannya," ucapnya memancing mancing emosiku.
Aku berbalik dan mendekat sampai hanya beberapa cm lagi jarakku dengannya, " kalau memang begitu, saya sudah tidak sabar lagi menjambak rambutnya dan menyeret simpanan abang ke atas rel kereta api !!" jawabku.
Aku melenggang pergi keluar kamar mandi tapi sebelumnya, aku memutar kunci toilet dari luar.
"Rasain tuh !!! tua, tua deh disana !!" kikikku.
Aku kembali dari toilet, lalu menghampiri suami tampanku.
"Sudah dek?" tanya nya.
"Udah,"
__ADS_1
Sudah saatnya acara puncak memotong pita sebagai simbolis, pak Jamal gelisah menunggu sekertarisnya. Sampai lebaran gajah juga tuh sekertaris ga akan datang, kalo pintu kamar mandi ga ada yang buka. Senyum usilku sekali lagi tersungging. Om Za melihat ku yang tersenyum senyum sendiri,
"Kenapa dek?" tanya nya, aku menggeleng.
"Semuanya baik baik saja pak?" tanya om Zaky pada pak Jamal. Elah om, pake ditanya lagi, ya engga lah orang selingkuhannya Salwa kunci di kamar mandi. Aku terkikik sendiri, itu belum seberapa jika dibandingkan sakit hatinya seorang istri dan ibu, apalagi saat ini ia sedang berjuang merawat anaknya yang sedang sakit, sedangkan sang suami sekaligus ayahnya malah enak enakan berselingkuh ria disini.
"Sebentar, sekertaris saya belum kembali pak, di hubungi tidak diangkat !!" ucap pak Jamal.
"Sebaiknya sekarang saja pak, masalahnya sudah terlambat beberapa belas menit!" jawab om Ramli, waktu adalah uang, jangan pernah mendebat asisten pribadi om Zaky yang satu ini, telat dikit dah ditinggal nyampe Arab kayanya. Pasal waktu om Ramli lah si orang yang tepat waktu, pantang untuknya jam karet.
Mau tidak mau akhirnya pak Jamal dan om Za memotong pita berdua ditemani olehku,
"Om Ramli jangan lupa fotoin,ya !! mau Salwa kirim ke bu Miranda dan Rayyan !!" pintaku.
"Baik,bu."
Beberapa jepret foto sudah di dapat, acara potong pita selesai dengan pak Jamal yang di dampingi oleh asistennya yang lain. Maka foto inilah yang akan beredar dimana mana.
Sudah hampir satu jam sekertaris pak Jamal tidak kembali, baru saja pak Jamal ingin mencarinya, wanita ular berbisa ini datang dengan gaun yang basah.
"Sayang," panggilnya. Bukannya mendapat sambutan hangat pak Jamal malah memarahinya yang tidak ada saat acara puncak peresmian.
"Pfffttt !!!" aku menahan tawaku yang hampir meledak.
"Sayang, aku dikunciin sama orang di toilet !!" rengeknya seperti bayi, bila bayi pada umunya akan diam saat mulutnya disumpali susu, beda halnya dengan yang satu ini, dia akan diam jika disumpali uang. Mataku memutar malas, melihat wanita ular yang so so tak berdaya di depan umum, membuatku ingin memasukkannya ke dalam toples tape ketan biar difermentasi sekalian.
"Siapa yang ngunciin kamu?" tanya pak Jamal, aku melemparkan mata menajam pada wanita ini, ia ingat betul siapa om Zaky, ia akan bisa melakukan apa saja pada siapa saja, ditambah lagi bonusnya yang dijanjikan satu set perhiasan dari pak Jamal akan hangus jika kerjasama ini batal hanya karena istri kesayangan om Za ngadu.
"Ga tau !!" ucapnya, karena matamu merasa di nodai oleh racun di depanku, aku dengan sengaja berdehem.
"Ekhemmm, kalo bukan muhrim dilarang mepet mepet, soalnya ini bukan bus angkutan antar kota !!" ucapku. Mereka langsung menjauh. Pak Jamal membawa sekertarisnya dari ruang pesta, untuk berganti pakaian.
"Dek, jujur sama abang. Apa tadi kamu yang ngunciin sekertaris pak Jamal di toilet??" tanya om Za membuatku tersedak oleh salivaku sendiri.
"Engga !! kata siapa ?" tanyaku mengelak. Namun, bukan om Za namanya jika percaya begitu saja gelagat anehku.
"Oke, kalau adek tidak mau jujur pada abang, kalau begitu abang pun sama," jawabnya mengancam.
"Ihhh engga gitu, iya deh iya.. Salwa ngaku !! iya Salwa yang ngunciin !!" jawabku pasrah,jika om Za sudah mengeluarkan tatapan mautnya ini siapa yang tak takut, semut saja yang akan keluar sarangnya untuk mencari makan sampai balik lagi masuk dan libur mencari makan saking seramnya.
"Astagfirullah !!!" Om Za menggelengkan kepalanya, kembali tingkah magic ku membuatnya mengurut dada.
__ADS_1
"Salwa cuman belain kaum istri, bang !" kilahku.