
Bismillah happy reading all π
.
.
.
.
.
Om Za kembali ke rumah setelah mencari cari keliling sekitaran rumah tetangga mungkin barangkali saja aku tiba tiba nyangkut di rumah tetangga sebelah kaya daun kering. Beberapa kali jemarinya memencet tombol hijau pada beberapa orang di lain tempat, om Mirza dan om Ramli sedang disibukkan mencari cari gadis yang tak tau dimana rimbanya ini bagai mencari jarum ditumpukkan jerami, mengikuti perintah dari seorang calon ayah yang tengah menjadi budak cinta istrinya dan kenyataan pahitnya ia adalah teman sekaligus atasannya sendiri.
Mobil abi memasuki pekarangan rumah, keluarlah dua sosok orangtua dari dalam mobil itu.
"Assalamualaikum," ucapnya.
"Waalaikumsalam," jawab om Za.
"Abi, umi ," gumam om Za.
"Za, gendong Salwa dari mobil kasian mungkin kecapean jadi di jalan dia tidur," ucap abi lalu melenggang masuk ke dalam rumah.
"Salwa, bi??!!!" kaget om Za.
"Iya kasian istrimu tidurnya tertekuk begitu."
Hati om Za lega bukan main ternyata dugaannya jika aku kabur salah besar.Ia mendekat ke arah bangku belakang mobil membuka pintu dan voalahhhh !! gadis manis yang sedang dicarinya sampai ia pusing 7 keliling sedang tenang dalam mimpinya.
Tak sulit untuk om Za mengangkat tubuhku dengan latihan rutin setiap hari menggendongku ke ranjang ia sudah terbiasa. Ia menggelengkan kepalanya, bagaimana bisa rasa bucinnya ini mengalahkan otak warasnya, ia merasa kali ini ia setuju dengan ungkapan cinta memang gila..segila dirinya yang sudah menyusahkan kedua orang teman sekaligus rekan kerjanya.
Setelah menaruhku di ranjang dan mengecup keningku ia merogoh ponselnya mengingat mungkin kedua orang ini sedang berkeliling mencariku tak tentu arah.
"Hallo, assalamualaikum Salwa sudah di rumah, kembali saja ke rumah terimakasih dan maaf sudah merepotkan!" ucap om Za datar tanpa merasa berdosa. Jika tidak sayang dan memiliki banyak uang mungkin ponsel mereka sudah menjadi korban mutilasi karena dibanting saking menyebalkannya si penelfon diujung sana.
"Amsyong ! sal..sal...kalo mau kabur bilang bilang gue sal...laki loe emang ngeselin!!" omel om Mirza, mungkin mereka sudah menjadi seorang oembunuh sekarang kalau yang meminta tolong pada mereka bukanlah om Za karena saking gemasnya hingga ingin mendorongnya ke jurang saat itu juga.
Tengah malam aku terbangun karena haus, rupanya aku sudah ada di kamar dengan sebuah tangan memeluk perutku. Tangannya saja berat belum lagi ia yang memeluk badanku sudah seperti ketempelan gorilla yang sedang manja manjanya.
"Bang, awas dulu Salwa haus !" gumamku membangunkan laki laki satu ini yang tidur dengan tenangnya tak tau apa kalau yang sedang dipeluk merasa sesak dan tak bisa bergerak.
Ia membuka matanya,bukannya mengangkat tangannya dan menggeser tubuhnya ia malah menatapku lekat.
"Kenapa? awas Salwa mau ambil minum!" ucapku.
"Dek, jangan tinggalkan abang!" ucapnya membuatku mengernyit, apalah laki laki ini tiba tiba mengeratkan pelukannya bisa bisa tulangku remuk dibuatnya. Tubuh kecil dipeluk badan besar macam hulk bikin sesak saja.
"Abang kenapa sih?" aku menempelkan punggung tangan di keningnya namun biasa saja hangat karena memang makhluk hidup.
"Semarah apapun kamu jangan pernah berfikir untuk pergi dari abang," ucapnya.
"Salwa mau ambil minum ke dapur bang, bukan mau ambil air minum langsung ke gunung Rinjani ga usah lebay!" jawabku. Om Za melepaskan pelukannya lalu aku melangkah keluar kamar menuju dapur dan kembali ke kamar. Bukannya tidur kembali rupanya om Za malah ikut terbangun.
"Ko abang ga tidur lagi?" tanyaku.
"Abang belum mengantuk lagi dek!" jawabnya sambil berlalu masuk kamar mandi.
Mataku memicing dan sontak terkejut melihat satu bucket mawar merah muda dan satu keranjang coklat dikemas begitu cantik berada di atas ranjang tempat tidurku tanpa kata tanpa moment romantis tapi cukup membuatku berbunga. Moment langka ini langsung saja kuabadikan di ponsel lalu ku kirim ke sosmed dengan menyertakan tag nama sosmed bapak camat tercinta,
__ADS_1
"Biar orang lain ngiri !!" gumamku berseru.
Om Za kembali melihatku tersenyum senyum dengan sebuket mawar yang sedang kusesap aromanya. Sepertinya laki laki ini akan beralih profesi menjadi tukang kebun di hatiku, karena sudah menanam benih benih bunga dan benih benih cintanya.
"Suka?" tanyanya.
"Banget !" jawabku " makasih ya bang!"
"Kembali kasih, sayang."
"Abang ko romantis sihhh, sengaja siapin buat Salwa?" tanyaku. Pertanyaan yang tak memerlukan jawaban sebenarnya, masa iya buat abi, sal..sal..dasar otak cetek.
"Hem.." gumamnya sebagai jawaban, deheman ala salah satu penyanyi band gambus keluar dari mulutnya, ini dia deheman khas orang suku eskimo alias dingin om Za. Memang dasar aku nya yang sudah terbiasa jadi jawaban berupa deheman begini kuanggap jawaban mesra suamiku.
.
.
Pagi cerah kuawali dengan bismillah, om Za yang sedang bersiap siap dengan baju kebesarannya tampak gagah bercermin. Ponselnya bergetar ada sebuah panggilan masuk ke nomernya, bertuliskan Susan. keningku berkerut sejak kapan om om satu ini sering bergaul dengan kaum hawa selain ibu ibu pkk..aku mengambil ponsel itu dan memberikannya pada om Za.
"Bang, Susan telfon!" jawabku sedikit kesal.Ia pun mengangkat sebelah alisnya
"Susan??" tanyanya. Ia langsung mengambil ponselnya cepat.
"Siapa Susan, bang ?" tanyaku melihat om Za tidak menggubris panggilan itu.
"Hanya teman lama dek," jawab om Za masih bersikap tenang.
"Teman lama apa alumni hati?" pertanyaan itu lolos begitu saja dari mulutku.
"Teman dek," jawabnya lagi. Aku merasa kurang yakin dengan jawaban om Za. Bisa saja kan om Za menganggapnya teman tapi si wanita berbeda. Mulai timbul rasa curiga dariku pada om om hot satu ini, tau saja aku fans abinya om bayi kan dari sabang sampai merauke. Berjajar di setiap tikungan layaknya minimarket.
"Ndalem, yang mulia!" setelah mengusap perutku yang masih rata dan mengecupnya ia pergi.
Seharian ini selain mantengin wa grup kelas yang menurutku kurang asik kegiatanku membantu umi memasak dan membuat cemilan, kapan lagi aku belajar menjadi istri seutuhnya bukankah suami akan senang jika dimanjakan oleh masakan hasil tangan istri sendiri.
"Umi, abang itu suka masakan umi yang mana?" tanyaku sambil mengupas keluarga besar bawang.
"Abang itu tidak pemilih orangnya apapun dia suka, tapi dia paling suka sama ayam tangkap dan sayur pliek u. "
Aku mengernyit seketika tertawa kecil mendengar namanya yang unik," ini kita sedang membuat sayur pliek u," jawab umi lagi. Aku hanya berohria sambil mengucek mataku karena perih oleh si jahat bawang merah.
.
.
Masakan sudah siap tinggal bau badanku saja yang sudah bercampur aroma rempah, untung saja tidak bersatu dengan ayam dan dimasak jadi makanan kesukaan om Za, tapi aku adalah hidangan penutupnya nanti malam.
"Om bayi, come on mandi ! Abi sebentar lagi pulang jangan sampai nanti abi menganggap kita keluarga bawang!" ucapku bermonolog membuat umi dan bu Inah tersenyum kecil.
Mesin mobil om Za sudah terdengar di halaman itu tandanya abi om bayi sudah datang,
"Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam, ehh..." aku menyambut namun bukan hanya om Za saja yang datang tapi om Mirza dan om Ramli juga ada.
"Assalamualaikum sal...!" sapa om Mirza.
"Waalaikumsalam om..! masuk deh."
__ADS_1
Aku meraih tas laptop yang dibawa om Za, " abang mau disiapin air panas ?"tawarku.
"Tidak usah sayang, abang pake air dingin saja!" jawabnya mengusap kepalaku.
"Ekhemmm! gue sama Ramli balik aja kalo gitu!" deheman om Mirza.
"Kalo gitu waalaikumsalam, pintu masih kebuka ko om," jawabku. Om za dan om Ramli tertawa kecil.
"Asem si Salwa, masa baru datang udah disuruh balik !" ia duduk di sofa.
.
.
"Mir, Ram ..mari ikut makan dulu!" pinta umi dan om Za.
" Ini dia yang gue demen, umi emang baik ga kaya mantunya!" kekeh om Mirza.
"Dihhh, emang ini masakan siapa ?" tanyaku berdebat di meja makan.
"Umi lah !"jawab om Mirza.
"Salwa juga!!" jawabku.
"Masa sih, seenak ini paling Salwa cuma liatin doang."
Ini dia jika aku dan om Mirza bertemu memang perdebatan tak pernah terelakkan.
"Engga ya, ga apa apa doa Salwa semoga nanti om Mirza keselek!" ucapku.
Sepanjang makan yang dihiasi perdebatanku dengan sahabat suami om Za ini membuat suasana makan menjadi lebih hidup.
Keduanya datang ke rumah untuk membahas pekerjaan di perkebunan dan mengurus beberapa cabang usaha milik om Za termasuk cafe milikku di Medan.
"Sayang, abang minta tolong bawakan 3 cangkir kopi ke ruang kerja ya!" pinta om Za.
3 cangkir kopi terhidang dan kubawakan ke dalam ruangan kerja om Za.
"Baik banget bu bos kita ini," kekeh om Mirza, berbeda dengan om Mirza yang banyak omong terkesan cerewet jika om Ramli lebih mirip om Za yang tak terlalu banyak bicara. Hidup memang adil kalo yang kalem dipasangkan dengan yang banyak omong biar dunia ga terlalu sepi sepi amat, entah itu pasangan hidup ataupun teman.
"Terimakasih, bu!" ucap om Ramli.
"Sama sama om, btw punya om Mirza udah Salwa kasih sianida tuh!" aku tertawa kecil
"Uhukkk uhukkk !!" om Mirza yang sedang minum tersedak, sedangkan om Za dan om Ramli hanya tertawa, om Za menggelengkan kepalanya kapan istri dan sahabatnya bisa akur sebentar.
"Cihh bini loe Za, awas loh Sal ntar ilang ga kan abang cariin lagi!" jawabnya. Aku mengernyit
"Kapan Salwa ilang om?" tanyaku.
Om Za langsung membekap mulut ember om Mirza.
.
.
.
.
__ADS_1