Love Me Please , Uncle Camat

Love Me Please , Uncle Camat
Tindakan om Za


__ADS_3

Bismillah happy reading all 😘


.


.


.


.


Terhitung sudah lewat 3 hari dari hari pertemuan terakhirku dengan Wisnu, ia tak segera menarik dan mengonfirmasi kabar bohong itu,malah kabar ini semakin meluas pada para orangtua siswa. Langkahku menghentak di koridor sekolah yang masih sepi, menuju kelas Wisnu.


"Wisnu !!" pekikku memanggil pemuda yang ingkar itu.Tak ada lagi rasa ingin menghargai laki laki itu.


Tak habis pikir oleh sikapnya, kalau tidak takut di viralkan orang sudah kucekik saja lehernya.


"Segera cabut berita itu dan konfirmasi !!!" ucapku mengancam. Tatapan kilat bak kilat petir terarah pada laki laki yang malah tersenyum meremehkan ini.


"Kalo gue ga mau, loe mau apa?" tanya nya malah menantang.


"Loe ya !!!" aku menunjuk lalu membuang muka ku. Kenapa aku harus berurusan dengan tipe manusia macam sampah seperti ini.


"Ternyata kemurahan dan kebaikan suami gue sama loe, ga loe anggap ya ?" menyesal aku tidak mengompori om Za untuk menjebloskannya lagi ke dalam penjara, sepertinya penjara tidak membuatnya jera, kalau bukan belas kasihan om Za mungkin sampai detik ini Wisnu masih berada di penjara.


"Kenapa? loe mau nuntut gue lagi? gue ga takut ! buktinya gue bisa disini lagi karena ortu gue bisa jamin kebebasan gue !" ucapnya angkuh menyampirkan jaketnya di bahu.


Sikapnya ini membuatku muak, ortu loe ga ada sangkut pautnya, lagi pula aku sangat membenci orang yang memanfaatkan orangtua demi kepentingan pribadi.


"Loe ga lebih rendah dari sampah !!" sarkasku.


" Apa loe bilang ?! dan loe ga lebih dari pel*cur, berapa pak Zaky beli loe buat di nikahin??" balas Wisnu.


Deg....


Kata kata itu membuatku sakit teramat, "jaga ucapan loe !!" aku menampar Wisnu.


Rasanya saat ini yang kubutuhkan adalah pelukan pria matang itu. Untung saja kelas Wisnu sepi karena kelas belum masuk. Aku sengaja datang lebih awal untuk menemui Wisnu yang memang bagian piket di kelasnya.


" Apa yang dimiliki seorang camat dibandingkan gue Sal??" tanya nya memekik.


"Loe ga ada seujung kuku pun dibandingkan bang Za !!" air mata yang sudah turun sulit untuk diraup kembali.


Apa dipikiran setiap orang jika pernikahan terpaut umur yang jauh harus selalu negatif thinking??


"Orangtua gue tajir Sal, kalo cuma kebutuhan loe juga pasti bisa gue penuhin !!" jawabnya.


" Yang tajir ortu loe kan, terus loe bangga? jadi tutup mulut ga guna loe," jawabku mengusap air mata. Percuma saja aku bicara dengan manusia macam Wisnu. Hanya membuang buang tenaga saja.


"Dahlah, ga ada gunanya ngomong sama loe ! gue tunggu sampe besok kalo loe ga ada konfirmasi tentang berita ini dan menghapus foto foto itu maka loe akan tanggung sendiri akibatnya !" jawabku.


Namun saat aku berbalik ternyata seseorang berdiri di ambang pintu melihat semua kejadian ini.


"Abang ??!" gumamku. Begitupun Wisnu, pemuda yang lapisan sombongnya mengalahkan lapisan jantung pisang ini tercekat.


"Ternyata kamu masih mau main main dengan saya !!" ucap om Za.


"Dek, ponselmu tertinggal di dashboard. Nanti abang tidak tau kapan harus menjemputmu, jadi abang menyusulmu," jelas om Za.


"Kamu juga sudah menyebut istri saya seorang pel*cur. Untung saja ini di sekolah dan saya masih bisa menahan kesabaran saya !"


"Bang, Salwa pengen pulang aja!" aku memegang perutku.

__ADS_1


"Kamu sudah menyebut seorang calon ibu dengan sebutan hina itu, terlebih itu adalah calon ibu anak saya!" om Za menarikku. Beberapa siswa kelas sudah mulai masuk.


Om Za menarikku masuk ke dalam ruang Kepsek, ia meminta ijin mulai detik ini sampai hari kelulusan yang tinggal sebulan lagi aku akan cuti sekolah.


"Bang, Salwa mau ikut abang saja !!" ucapku di mobil.


"Kenapa tidak istirahat saja di rumah, kan ada umi dan abi,"jawabnya. Kejadian barusan sedikit mengganggu moodku. Aku hanya ingin mencari udara segar saja.


" Pengen cari udara segar aja ! bosen di rumah," jawabku.


"Abang akan ke perkebunan, ada meeting dengan Ramli dan Mirza," jawabnya.


"Abang tidak ke kecamatan?" tanyaku.


"Nanti mungkin aga siangan, ada hal yang harus abang urus !" jawabnya lagi.


"Salwa ikut bang," rengekku.


"Ya sudah, boleh !" ia mengangguk.


Sesampainya disana om Mirza dan om Ramli sudah menunggu. Ketiganya masuk ke dalam ruangan kerja, sedangkan aku hanya ingin berdiam di halaman belakang.


Aku menscroll nama kontak di ponsel dan mencoba menghubungi Acha. Ngaler ngidul bareng Acha bisa melepas semua masalahku, betapa aku merindukan temanku yang satu ini, kudengar ia sudah memiliki kekasih. Disini sepi apalagi setelah UAS, Afrian pulang ke Jakarta untuk menemui kedua orangtuanya, walaupun ia berjanji akan kembali secepatnya karena masih harus dibimbing om Za pasal bisnis.


.


.


.


Tidak sekolah membuatku sepagi ini hanya diam dan membantu umi saja di rumah, menyiapkan sarapan.


"Umur kandungan 5 bulan sudah terlihat nak, sudah membuncit !" ucap umi sambil menata piring.


"Makan terus, katanya tak mau dibilang gendut," sela om Za di tengah tengah obrolan ku dan umi.


"Kan kata abang bukan gendut, tapi sexy.." jawabku membuat umi tertawa.


"Abang ga ngantor?" tanyaku.


"Ngantor, tapi ada adek di rumah jadi pengennya males malesan," aku nya, terang saja dia mengakui karena umi sudah melengos ke dapur.


" Abi mana?" tanya om Za.


"Abi lagi jalan jalan keliling komplek katanya, selain lari pagi sambil nyapa tetangga," jawabku. Jika om Za lebih senang berolahraga secara private beda dengan abi yang senang bersosialisasi. Perbedaan yang signifikan. Om Za berohria.


"Abi mah orangnya ramah, ga kaya abang penyendiri !" kataku.


"Bukan penyendiri lebih senang ketenangan biar lebih fokus olahraga bukan yang lain lain, lagipula abang tidak mau sombong mengumbar umbar bentuk badan pada orang !" jawabnya . Aku menyendokkan nasi di piring om Za.


Benar juga apa katanya, aku pun tak ridho jika tahu kotakku di lihat oleh orang lain.


"Abang hati hati, nanti Salwa kirim makan siang ke kecamatan !" seruku bersemangat.


"Tidak usah biar abang yg pulang saja!" jawabnya.


" Engga engga, ibu hamil harus banyak gerak!" jawabku.


"Ya sudah, terserah adek saja."


Untung saja jarak rumah ke kecamatan tidak terlalu jauh, hanya naik angkutan umum seperti labi labi, becak ataupun taksi online ataupun angkutan umum sekali saja sudah sampai.

__ADS_1


.


.


Siangnya aku sudah bersiap dengan kotak makan siang yang kumasukkan di dalam tas kain, hanya tinggal memakai jilbab saja aku siap berangkat.


" Beuh... the best wife in this year !!" seruku saat bercermin.


"Umi, abi ...Salwa ke kantor dulu ya!" ijinku.


"Sama siapa nak?" tanya abi.


"Sendiri bi, naik angkutan umum, tak tau labi labi !" jawabku.


"Hati hati kalau begitu nak, apa mau abi antar?" tanya nya.


"Tidak usah, bi..dekat ko. Salwa bisa bi, biar di anggap bu camat yang ga kolokan !" jawbaku berkelakar.


"Hati hati nak," jawab umi dan abi.


Aku pamit dan berjalan sedikit ke depan kompleks rumah mencari angkutan umum.


Setelah sampai aku langsung saja berjalan masuk menuju ruangan om Za. Karena terbiasa datang kesini, para pegawai kecamatan juga sudah mengenalku.


"Assalamualaikum bu," sapa mereka.


"Waalaikumsalam," jawabku.


"Hallo bang Rizky," sapaku.


"Eh assalamualaikum dek Salwa !! mau ke ruang bapak?" tanyanya, aku mengangguk.


"Tapi bapak lagi ada tamu dek," jawabnya.


"Oh, ga apa apa Salwa tunggu aja," aku duduk di kursi depan meja bang Rizky.


"Tamu darimana bang?" tanyaku penasaran.


"Kurang tau dek, tapi sepertinya itu tamu klien bisnis, bukan tamu kecamatan!" jawab bang Rizky yang sedang mengerjakan laporan.


Lumayan lama aku menunggu, bisa bisa aku jamuran kelamaan disini, atau makanannya keburu dingin.


Akhirnya tak lama setelah itu, pintu ruangan om Za terbuka, sepasang suami istri yang tampak lesu keluar dari sana, mereka memandangku lekat. Tak lama mereka berlalu.


Aku masuk ke dalam ruangan om Za, mendapati lelakiku ini tengah berkutat dengan berkas.


"Assalamualaikum, abinya om bayi !!" seruku sambil sedikit berlari menyongsong om Za.


"Waalaikumsalam, dek..jangan berlari !!" jawabnya.


"Nih, makan siangnya..! Salwa bawain !" ucapku.


"Alhamdulillah, makasih sayang," jawabnya.


"Kembali kasih sayangkuhh cintakuhh..!" seruku lagi.


"Maaf kalo ga terlalu anget, abisnya abang lama banget ! mereka siapa sih??" tanyaku cemberut.


"Orangtua Wisnu !!" jawab om Za santai.


Mataku membelalak.

__ADS_1


"Apa ??!!"


__ADS_2