
Bismillah happy reading all π
.
.
.
.
.
"Peu haba, akak cut? ucap Afrian. Aku masih terbatuk, karena pizza yang kumakan ku bubuhi saus.
"Nih minum !!" Acha menyodorkan minum.
"Alhamdulillah !!" gumamku, mataku menyipit.
"Kalian sejak kapan deket ?? ko ga kasih tau gue ??" tanyaku mengintimidasi. Bisa bisanya makhluk makhluk di depanku ini jadian tanpa memberiku pajak jadian.
Afrian duduk di sebelah Acha, kini berasa aku yang jomblo. Aku merasa jadi kacang yang duduk diantara sepasang kekasih yang tengah hangat hangatnya bak serabi panas. Lain om Za lain Afrian, yang main comot saja makanan di hadapannya dan tidak pernah memilih milih makanan.
Aku menepis tangan Afrian, "punya gue tuh ! ijin dulu kek sama yang punya !! tangan loe cuci dulu baru comot !!" sarkasku.
"Elah Sal, pelitnya bumil !!" omelnya sambil mengunyah kentang goreng.
"Tangan gue bersih ya Sal, kalo loe pelit pelit gue lapor abang, kalo loe lagi makan makanan junkfood !!" ancam Afrian.
"Ihhh aduan !! jangan !!" jawabku sewot.
Keduanya terkekeh, tau kelemahanku sekarang.
"Idih istri takut suami !!" ledek Acha.
"Yang gue takutkan uang jajan gue disambit om Za, cha. Loe tau sendiri om Za tuh ga main main, nakal dikit uang jajan gue melayang, ralat bukan istri istri takut suami tapi gue istri sholeha yang takut dosa kalo ngebantah !" jelasku kembali memasukkan pizza ke mulutku.
"Enak kan om bayi ?" tanyaku mengusap perutku.
"Cihhh ampir setaun di Aceh kagak berubah, jangan jangan ntar diajarin ga bener lagi ponakan gue !!" gumam Acha.
Afrian menggelengkan kepalanya, sebenarnya ia masih memendam perasaan itu, karena ia tak dapat memungkiri melupakan tidak semudah itu, hanya ia sedang berusaha untuk move on.
"Gue ke toilet dulu deh bentar !!" ijin Acha yang berlari memegangi perut bagian bawahnya.
"Sejak kapan kalian deket?" tanyaku mengelap mulut dengan tissue. Ruang di perutku sudah mulai terisi penuh.
"Sejak loe ke Aceh, walaupun susah buat gue move on dari loe tapi gue sedang berusaha !" jawab Afrian.
"Jangan sampai loe bikin sahabat gue sakit hati, jaga Acha. Kalau loe cuma jadiin Acha sebagai pelarian loe doang lebih baik segera akhiri hubungan kalian. Gue ga mau Acha sakit !" jawabku.
"Insyaallah bakal gue jaga, setidaknya gue bisa liat loe bahagia walaupun bukan dengan gue, Sal."
"Udah ??" tanyaku pada Acha yang baru saja kembali dari toilet.
"Udah, kalian ngobrolin apa selama gue di toilet ?" tanya Acha.
"Hey peakk, loe pikir loe ke toilet berapa abad?" tanyaku. Belum apa apa sudah curigaan dan cemburuan. Calon calon om Za versi perempuan.
"Bilangin cowok loe jangan suka ancam ancam mau lapor bang Za deh," jawabku mencari cari kebohongan.
"Laporin aja ay...biar nyaho bumil yang satu ini, mana makannya banyak banget lagi kaya orang kesurupan !!" adu Acha.
Entah nalurinya yang peka, atau memang ia seakan sudah tau, seperti cenayang. Baru saja dibicarakan orangnya menghubungi.
"Mampossss gue !! abang telfon !!" aku segera minum dan membersihkan mulutku yang penuh dengan kentang goreng.
"Nah kan...nah kan...abang tau kan !!" goda Afrian.
"Assalamualaikum abang sayang !!" seruku.
Kedua makhluk di depanku tertawa geli. Mereka sedang menyaksikan seorang bunglon yang bisa sangat manis di depan suami. Semenit yang lalu mereka melihat istri nakal nan bandel pak Camat, tapi sekarang mereka melihat istri manis kesayangan pak Camat.
"Pinter banget, bunglon..bunglon...!" gumam Acha.
"Takut ketauan dia tuh..!!" kembali Acha berkomentar, seperti komentator acara sepakbola.
Yang ditakutkan akhirnya terjadi, om Za tau jika aku sedang makan makanan junkfood. Tidak lain dan tidak bukan manusia yang sedang di depanku yang melapor. Alhasil aku kena semprot dan dikuliahi oleh om Za.
__ADS_1
Bibirku manyun dan pipiku menggembung.
"Aduan !!" desisku, Afrian hanya tersenyum menampilkan susunan giginya yang rapi.
"Sorry kaka ipar, bang Za yang nyuruh gue buat jadi bodyguard loe, disuruh laporan !!" kekehnya.
Kebiasaan lama om Za memang tak bisa dihilangkan, ku kira akan bebas, tapi ternyata ia memerintahkan seseorang untuk menjaga dan mengikutiku.
"Emangnya ga bisa loe skip apa pas bagian makannya ??" tanyaku kesal.
"Oh iya ya !! gue lupa !!" jawabnya dengan tanpa dosanya.
"Elah udah kali Sal, sekali kali mungkin om Za ngerti ko !!" lirih Acha.
"Nonton yuu !!" ajak Acha.
"Yukk !!" disetujui Afrian.
Aku merasa jadi love di tengah tengah mereka.
"Gue pulang ahhh takut jadi kacang !!" jawabku menolak, tiba tiba moodku mendadak malas dan tak semangat, melihat orang orang berpasangan aku jadi merindukan abinya om bayi.
" Ya ilah bumil baperan banget!!" decih Acha. Memang sebaper ini jika lelaki kaku itu tidak di sampingku.
"Mendadak gue kangen bang Za !!" jawabku.
"Baru juga sehari ditinggal dah kangen aja !!" goda Afrian.
"Ya udah gini deh ay, kita anter dulu nih bumil pulang lanjut nonton !!" usul Afrian.
"Ga usah kalian nonton aja deh, gue bisa pulang sendiri," jawabku tak enak mengganggu acara dating Acha dan Afrian.
"Engga Sal, ntar kalo loe ilang atau kenapa napa auto gue yang digorok abang nanti !!" jawab Afrian.
.
.
Sudah beberapa hari aku di Jakarta menghabiskan waktu seperti yang kuinginkan, jalan jalan entah itu dengan Acha ataupun bunda. menikmati masakan bunda yang kurindukan sampai menemani bunda ke salon dan sebagainya. Bunda layaknya emak emak pada umumnya memamerkan anak yang tengah berbadan dua dan akan segera memiliki cucu. Betapa bangganya ia, apalagi memiliki menantu seperti om Za.
Wajahku masih saja kecut, padahal ku kira dengan ikut bunda arisan bisa sedikitnya mengurangi rasa kesalku. Dari kemarin abinya om bayi tidak ada kabar hanya sekali saat pagi hari itupun singkat kata, berpamitan bekerja. Tak tau apa jika disini ada yang resah menunggu kabar. Tak tau apa jika rindu yang dipupuk itu terasa berat, seberat kiloan badanku yang semakin bertambah.
"Kenapa kak?" tanya bunda.
"Ini bun, kaka lupa lusa itu sekolah nyuruh buat cap 3 jari !!" jawabku, sambil mengotak atik ponsel bingung mencari kontak nama siapa yang harus kuhubungi.
"Terus gimana? hubungi Zaky saja, ka !" pinta bunda.
"Justru itu bun, abang susah sekali dihubungi,"
"Bun, kayanya besok kaka mendadak harus pulang ke Aceh deh bun," sesalku.
"Sebaiknya hubungi dulu Zaky, ka " pinta bunda.
Otak absurdku berputar, senyumku tersungging bagai menemukan harta karun. Aku menscroll nama Afrian dan menyuruhnya datang ke rumah.
.
.
"Karena loe dah laporin gue dan bikin gue jadi kena semprot abang, sekarang loe mesti bantuin gue !!" ucapku.
"Bantuin apa ?" tanya Afrian,
"Gue mau pulang besok ke Aceh, tapi abang ga tau. Loe bisa anterin gue kan?" tanyaku.
"Kenapa gak minta jemput abang saja sih?" tanya nya.
"Gue mau kasih kejutan buat abang !" jawabku.
Biar kesal sekalian, siapa suruh tidak memberi kabar, dihubungi tak diangkat. Aku bahkan mematikan ponselku dari tadi siang. Biar om om pria hot itu tau rasanya merindu dan di buat kesal tanpa kabar.
Beberapa kali Afrian melirik ponselnya, panggilan dari om Za, ia biarkan begitu saja karena pintaku.
"Kalo gue sampe ikut kena semprot abang. Loe mesti tanggung jawab, Sal !!" ucap Afrian.
"Iya loe tenang aja," jawabku jumawa.
__ADS_1
"Gue minta traktiran abis pulang ke Aceh !!" pintanya.
"Oke , mau traktir apa ? gue jabanin !!" kembali jawabku.
Di tempat lain
Om Za menghempaskan ponselnya ke meja, kesal tak mendapatkan jawaban dariku, malah nomorku yang tak aktif.
"Ya Allah dek kamu kemana?" ia mengusap wajahnya kasar. Kembali ia menyambar ponselnya dan menscroll nama lain.
"Si*al !!! Kemana bocah tengil ini dihubungi tidak diangkat !!" kesal om Za.
Ia sedikit uring uringan karena Afrian tak mengangkat panggilan, begitupun aku yang malah mematikan ponsel.
"Mungkin dia sibuk Za !!" kekeh om Mirza, melihat temannya ini uring uringan tak jelas, wajahnya kusut seperti baju yang tidak di setrika.
"Oh ya, besok PT. Maju Jaya akan datang kesini memberikan proposal pengajuan kerja sama !!" ucap om Mirza, om Za hanya menyenderkan badannya di kursi, rasanya tidak bersemangat dan khawatir. Rasa rindu yang semakin memuncak semakin memperkeruh suasana hatinya.
.
.
Aku tersenyum usil membayangkan sekarang om Za pasti sedang uring uringan tak jelas.
"Suruh siapa sibuk dan ga ngabarin, gue bales aja."
Aku menarik selimutku bersiap siap, besok aku akan pulang ke Aceh memberikan kejutan untuk lelaki kesayangan.
Rencana menghabiskan seminggu di Jakarta jadinya hanya 4 hari saja.
"Hati hati, apa yakin ga akan ngabarin dulu Zaky?" tanya ayah.
"Yakin yah, mau kasih kejutan. Lagian kan kaka sama Afrian."
"Afrian titip Salwa," pinta bunda.
"Beres bun, Afrian juga takut kalo Salwa kenapa napa bukan cuma bunda dan ayah yang marah tapi Rian yang bakal di sikat abang," jawab Afrian.
Aku dan Afrian berangkat menuju bandara, sudah tak sabar rasanya mengejutkan om Za dengan kedatanganku yang tiba tiba.
"Pegangan sama gue Sal, takut loe ilang" ucapnya saat berjalan di bandara.
"Ihhh kaya gue udah jompo aja !!" jawabku namun aku langsung membelitkan tangan di lengan Afrian.
"Loe jangan baper ya !!" ucapku menunjuk Afrian.
"Engga, tapi udah deg degan !!" kekehnya. Tanganku memukul lengan Afrian ia langsung tergelak.
2 jam aku dan Afrian mengudara, kami sengaja naik taksi online menuju rumah perkebunan, sekaligus kantor perkebunan. Aku mendapat kabar dari Afrian jika lelaki kesayanganku itu hari ini tidak ke kantor kecamatan.
Tap..tap langkah kakiku tak sabar mengejutkan om Za.
Aku mencari keberadaan om Za, dan bertanya pada asisten rumah tangga. Aku sangat bersemangat untuk mengejutkannya, membayangkan wajah datarnya terkejut.
Ceklek ...
Aku membuka pintu
deg....
Bukan hanya om Za yang terkejut melainkan aku pun ikut terkejut, raut wajahku berubah drastis.
"Abang," gumamku.
"Dek !!"
Hatiku memanas, jantungku berdegup kencang. Aku segera berbalik dan jalan dengan cepat melewati om Mirza yang kembali dari toilet.
"Salwa ??!" gumamnya.
"Sal ??!!" pekik Afrian yang mengernyit melihatku malah kembali keluar rumah.
Tanganku ditahan Afrian "hey, kenapa ??" tanya nya khawatir.
Om Za berlari menyusul dari belakang, "Dek !!"
.
__ADS_1
.
.