
Bismillah happy reading all π
.
.
.
.
.
Ekspresi wajah om Za terlihat santai saja, dibandingkan denganku yang melongo.Ada perlu apa mereka mendatangi om Za, apa masalah anak semata wayang mereka yang kelakuannya mirip orang gila itu, yang membuat keduanya datang untuk menjadi tameng si pangeran yang tak tau diri.
"Mau apa bang?" tanyaku.
"Minta maaf, lalu meminta abang untuk mempertimbangkan lagi kontrak kerja sama," jawabnya. Masih santainya menikmati masakan, yang sudah kubuat dengan sepenuh hati dan penuh perjuangan ini.
Om Za menyodorkan sendok yang penuh dengan nasi ke depan mulutku, daripada aku bawel dan terus bertanya tanya lebih baik ia menjejali mulutku dengan nasi.
"Kerja sama? uhuuk..uhukk....!!" karena banyak bicara saat sedang makan, akhirnya aku tersedak dengan ulahku sendiri.
Om Za menyodorkan minum, "nah kan, makanya jangan cerewet. Makan dulu !" jawabnya, lumayan kesal. Apa sejak Tk, guru tak pernah mengajarkanku tentang adab makan.
"Alhamdulillah !!" jawabku lega.
"Kerja sama apa bang?" tanyaku masih penasaran
"Apa harus kita bahas saat sedang makan?" tanya nya. Aku diam, oke inilah suamiku dengan sejuta peraturan yang dari awal kusebutkan begitu disiplinnya ia.
Tanganku sudah gemas, menanti suapan suapan terakhir dari makanan yang ada di kotak makan siangnya.
"Udah kan??" tanyaku.
"Apa?"
"Makannya?" tanyaku. Om Za mengangguk.
"Jawab yang tadi bang, memangnya abang ada kontrak kerjasama apa sama orangtuanya Wisnu?" dengan wajah yang sudah mengharap harap cemas menunggu jawaban om Za.
"Orangtua Wisnu adalah pemilik bisnis pupuk dan alat alat pertanian, dan mereka adalah pemasok kebutuhan pertanian dari perkebunan milik abang," jelasnya.
Aku baru sadar bahayanya mencari cari masalah dengan om Za, ia dengan mudahnya membalikkan nasib bisnis seseorang.
"Jadi abang memutus kontrak ?" tanyaku, ia mengangguk mantap, " iya, masih banyak pemasok yang butuh konsumen dan berattitude baik!" jawabnya dengan santai, mengambil ponselnya.
"Terus?? " tanyaku.
"Terus..terus.. kamu pikir abang sedang parkir ??"
Om Za menelfon om Ramli, sekali bertindak tak ada kata ampun. Itulah yang terjadi sekarang.Om Za bahkan sudah menyuruh om Ramli mencari pemasok yang baru dan sudah mendapatkannya.
"Lalu nasib mereka gimana bang?" tanyaku, jika melihat begini rasa iba ku ikut turun, karena kelakuan anaknya yang tak tau diri, maka semua ikut kena imbasnya.
"Abang tak tau, itu resiko mereka. Seharusnya sebelum bertindak Wisnu harus sudah memikirkan akibatnya."
Om Za berdiri lalu berjongkok di depanku "abang tidak terima siapapun menyakiti gadis kesayangan abang, perempuan yang abang sayang !" ia mengecup punggung tanganku.
"Abang lagi ga coba buat gombal kan?" tanyaku menaikkan alisku sebelah.
"Kira kira dapet bayaran ga?" tanya nya. Aku memutar bola mata malas.
"Abang sudah membeli tiket ke Jakarta kan?" tanyaku. Ia mencebik kesal, " jadi masih berniat meninggalkan abang?"
__ADS_1
"Bukan ninggalin, tapi Salwa pengen liburan !" jawabku.
Oh ayolah, jangan bilang om Za tidak mengijinkanku untuk pulang ke Jakarta . Jika iya, betapa teganya dirimu kakanda...
"Berapa lama adek akan berada di Jakarta?" tanya nya lagi mengotak atik ponselnya.
"Seminggu saja bang, Salwa udah kangen banget sama kota Jakarta !!" seruku.
"Done, kita berangkat sore ini juga," ucapnya.
"Wahh ! ko cepet banget sihhh ??" seruku senang saking senangnya aku menangkup wajah pria matang yang masih berjongkok di hadapanku ini, dan menciumi setiap inci wajahnya, ia tergelak senang.
"Istri abang memang selalu menggemaskan," ia menjiwir hidungku.
Aku dan Om Za pulang
"Tidak usah membawa banyak baju, bang. Baju baju Salwa disana juga banyak, baju abang juga ada ko !" ucapku, hanya membawa satu tas jinjing kebutuhan dan peralatanku saja.
Aku turun bersama om Za,
"Apa sudah siap nak, jangan lama lama nanti umi kangen menantu kesayangan umi ini !" umi memelukku.
"Iya umi, nanti Salwa titip abang ya,takut nakal !" seruku.
"Insyaallah nanti umi dan abi jewer kalo nakal !" jawab umi dan abi.
" Mi, bi. Za dan Salwa berangkat dulu takutnya nanti bayi Za ngences kalo keinginan ibunya tidak di penuhi," ujar om Za. Aku mencubit lengannya," abang!!"
Sore ini dengan diantar oleh om Ramli, aku dan om Za berangkat menuju bandara.
"Abang kalo memang sibuk ga usah anter Salwa, Salwa bisa sendiri ko!" ucapku di ruang tunggu, sudah seperti tuan puteri saja kemana mana selalu dikawal. Rasanya Lady Diana saja kalah saing denganku.
"Engga, abang ingin memastikan keselamatan istri dan calon anak abang, lagipula pekerjaan masih bisa menunggu !" tangannya mengelus elus perutku, laki laki yang cuek dan kaku ini malah terlihat seperti bucin, tak tau malu dengan mengusap usap perutku di depan umum seperti ini. Urat malu om Za sudah putus rupanya, jika dulu image adalah segalanya, sekarang ibarat kata dunia hanya miliknya seorang aku dan yang lain hanya pesuruhnya.
Pesawat berangkat pukul 2 siang, bunda yang sudah mengetahui kedatanganku sudah sibuk memasak.
Aku melirik ke luar kaca mobil, kota yang sudah hampir setahun kutinggalkan ini tak banyak berubah. Kini aku tak perlu menyembunyikan lagi statusku, cincin nikah pun kupakai.
"Yakin dipake?" tanya om Za meraba jemari tanganku yang sudah melingkar manis cincin nikah.
"Yakin !!" jawabku mantap.
.
.
"Assalamualaikum!!"
"Waalaikumsalam !! Kaka !!" seru wanita yang cantiknya tak pernah pudar di mataku ini.
"Ciee....perutnya udah gede nih !!" godanya.
"Ihhh bunda, belum gede juga ko !" ucapku tak terima. Tangan bunda terulur menerima salam dari anak dan menantunya ini.
"Kangennnn !!" rengekku seperti anak kecil,
"Ihhh udah mau punya anak juga masih kaya bocah !!" seru seseorang dari belakang ku, rupanya adikku Yusuf baru saja datang dari sekolah.
"Ihhh datang datang bukannya salam, darimana? jam segini baru pulang? pacaran ya?" tanyaku menahan adikku dan merangkulnya dari samping. Kata kata kami selalu saling sarkas namun, sikap kami saling menyayangi.
"Ihh perut loe udah ngalangin, awas ponakan gue kepencet tuh gara gara emaknya yang keganjenan sama om nya !!" seru Yusuf sedikit hati hati.
Padahal ukuran perutku belum membesar layaknya orang yang busung lapar.
__ADS_1
Aku menginjakkan kembali kaki di kamar ku, tak ada yang berubah sedikit pun disini. Tiba tiba aku merasa terharu karena rindunya.
"Kamar gue !!! kangen!!" aku segera duduk di tepian ranjang dan membaringkan badanku menyamping.
Om Za menyusul di belakang, lalu ikut berbaring.
"Seneng?"
"Makasih !" ucapku. Tapi raut wajah om Za sedikit tertekuk dan bingung.
"Kenapa bang?" tanyaku.
Om Za bangun dan duduk bersila, akupun ikut bangun.
"Dek, kalau abang tidak bisa menemani adek selama disini, apa adek tidak apa apa?" tanya nya.
"Salwa ga apa apa bang, Salwa kan di rumah," jawabku memegang tangannya.
"Janji kalau kemana mana harus ditemani??"
" Iya "
"Janji jika kemanapun dan dimanapun harus kasih kabar??"
Aku menghela nafasku lelah sikap posesif nya datang lagi "iya abang."
"Abang barusan di telfon Ramli jika banyak yang harus abang kerjakan dengan segera, belum lagi Mirza yang mengatakan jika ada beberapa agenda kota Aceh yang harus diikuti,"
Mendengar jadwalnya saja kepalaku sudah pusing 7 keliling, jika aku yang ada di posisi om Za mungkin aku sudah muntah duluan dan segera membuat surat pengunduran diri pada Walikota.
"Iya abang," lain di mulut lain di hati, mulutku mengatakan iya tapi hatiku rasanya sedih, terbiasa dengan kehadiran om om Hitler romantis ini membuatku menjadi tergantung padanya.
"Abang kapan mau pulang?" tanyaku.
"Mungkin besok siang saja, abang sedikit lelah !" jawabnya.
"Temani abang tidur dek," om Za menarikku untuk berbaring.
"Jika seminggu tidak bertemu maka abang harus minta bekal !!" bisiknya yang sudah berhasil menarikku dan memelukku menyamping.
"Bekal apa?" tanyaku polos.
"Bekal rindu pada om bayi !!" jawabnya.
Aku berdecih ria,
"Maafkan abang yang selalu sibuk dan lebih mementingkan pekerjaan juga warga," sesalnya.
"Iya bang, Salwa paham ko,"
"Maafkan abang yang tidak bisa menemani adek dan om bayi liburan disini," ucapnya lagi sambil mengusap usap perutku, dan mendapat respon dari calon anaknya.
"Baik baik kalian disini, nanti abang jemput !" lirihnya.
" Iya bang, kaya mau pergi lama aja !!" mataku menyipit, ternyata lebay nama tengah om Za.
.
.
.
.
__ADS_1