
Bismillah happy reading all😘
.
.
.
.
.
.
Perjanjian kontrak kerja sudah di tanda tangani, akhirnya kerja sama itu tercipta. Tender besar dan kerja sama panjang ini di dapat oleh om Zaky. Menjadi suplier dan pemasok kopi sebuah perusahaan besar membuat usaha perkebunan keluarga om Zaky semakin sukses.
"Bang, ga pengen pensiun dini gitu jadi camat?" tanyaku duduk disamping om Za namun menempeli lengannya.
"Masa jabatan abang sudah akan berakhir, tidak usah mengundurkan diri juga sebentar lagi abang akan lengser !" jawabnya.
"Terus abang bakal fokus jadi pengusaha? abang ga akan nyalonin lagi kan?" tanyaku berbinar. Menjadi ibu camat bukanlah passionku.
"Abang ikut saja suara masyarakat, jika mereka menginginkan kepemimpinan abang dilanjutkan, abang siap menerima jabatan sebagai camat untuk periode selanjutnya,"jawabnya.
Aku memukul lengan om Za kencang, " ihhh ko gitu! Salwa ga mau ahhh!!" tolakku, melipat kedua tangan di dada. Jujur saja aku keberatan jika om Za mencalonkan lagi jadi camat.
"Salwa ga mau bang !!" rengekku, tapi om Za malah terkekeh melihat wajah cemberutku.
Guling disebelah, ku ambil dan dipukul pukul kearah om Za.
"Abang nyebelin...nyebelin...abi nya om bayi ngeselin !!" pekikku, om om satu ini malah tertawa puas.
.
.
Pak Jamal dan keluarganya menyeret kopernya, hari ini mereka pulang.
"Tante, om. Rayyan pulang dulu !" ucap bocah itu tersenyum.
Aku dan om Za yang mengantar sampai pintu depan menarik senyuman,
"Oke, jangan nakal ya !" pesanku sambil bertos ria dengan Rayyan.
"Jangan kangen sama Rayyan ya !!" ucap anak itu mengundang tawa.
"Idihhh engga ya ! kangennya tante udah di ambil semuanya sama om Zaky dan dede bayi. Sampe ga bersisa buat siapapun!" jawabku.
"Pak Zaky, semoga kerja sama kita membawa kesuksesan dan berkah !! untuk peresmian atas kerja sama kita, nanti akan ada undangan ke pihak pak Zaky," ucap pak Jamal.
"Insyaallah terimakasih !" jawab om Za.
"Dik Salwa,pak Zaky. Sekali lagi saya minta maaf dan berterimakasih sebanyak banyaknya sudah mau direpotkan oleh kedatangan kami !" ucap bu Miranda.
"Sepertinya dik Salwa cocok nih kapan kapan jadi model ambasador butik saya," aku tersenyum hingga menampilkan gingsul pemanis ku.
Melirik om Za seakan meminta ijin, tau sifat posesif suami matangku ini yang level keposesifannya melebihi langit ketujuh. Membuatku tak bisa menerima begitu saja tanpa persetujuannya. Yang ada aku diterkam singa lapar ini setiap hari.
"Insyaallah bu," jawab om Za.
Ketiganya masuk ke dalam mobil dan diantar om Mirza dan ka Aisyah ke bandara.
"Beneran bang? Salwa boleh jadi model ambassador butiknya bu Mira?" tanyaku mengekor di belakang om Za.
"Engga !" jawabnya singkat, wajah berbinar berubah seperti rumah yang mati lampu alias redup.
Baru saja diangkat ke awan biru nan lembut ternyata itu hanya jawaban kamuflase untuk menghargai tawaran bu Miranda. Dan inilah aslinya . Dengan sejuta alasan yang sudah basi.
__ADS_1
"Abang tidak mau adek cape, tugasmu cukup menjadi istri dan ibu yang baik saja, bersolek dan menjadi cantik hanya untuk abang," tangan tangan kekar itu memegang kedua bahuku dengan sedikit menunduk bibirnya mengecup keningku singkat. Sesingkat masa pendekatanku dengannya.
"Bang, ini ruang apa?" tanyaku. Rasanya baru kali ini aku tau ruangan ini.
"Buka saja !" jawabnya. Aku membuka pintu berwarna hitam itu.Alisku terangkat melihat isi ruangan ini.
"Bang, ini seriusan ?!" tanyaku.
"Kyaaa !!" aku masuk, om Za mengekor di belakang. Sebuah ruangan karaoke lengkap dengan sofa panjang. Ku kira tidak akan ada yang seperti ini di antah berantah macam rumah perkebunan. Seperti menemukan oase di padang pasir, aku tak menyianyiakan hal ini.
Segera aku menghidupkan pemutar musik,om Za yang duduk di sofa hanya memperhatikanku yang sibuk memilih milih lagu. Memang tak ada manusia yang sempurna di muka bumi ini, termasuk aku. Wajahku cantik, periang juga namun sayang suaraku tak sebagus penyanyi penyanyi yang sering wara wiri di televisi Nasional. Aku menyanyi dengan suara yang ala kadarnya.
Aku menyanyi nyanyi bak artis pantura di depan om Za tanpa malu, om Za hanya menggelengkan kepalanya. Tak habis pikir dengan kepedean istri magicnya yang setinggi langit ini.
Om Mirza datang bersama ka Aisyah, mereka masuk ke dalam ruangan karaoke.
"Astaga Sal, ckck....mau alih profesi jadi biduan pantura?" tanya om Mirza tertawa. Aku mengajak ka Aisyah untuk bernyanyi dan memilih lagu. Ka Aisyah yang merasa tertantang ikut bernyanyi denganku, sedangkan kedua laki laki itu duduk di sofa. Memilih menjadi penonton setia. Hanya jangan lupa saja sawerannya.
Keduanya asik menatap dua biduan dadakan dengan kemampuan abal abal, walaupun suara sumbang tapi bagi keduanya mungkin itu anugrah. Memang betul selain buta cinta itu tuli.
"Ampun ampun Salwa, " keluh om Mirza.
"Senyum itulah yang harus selalu ku jaga sampai kapanpun, Mir!" ucap om Zaky dengan mata yang menatapku lekat, bola matanya tak lepas dariku yang tengah cekikikan bersama ka Aisyah. Dengan perut membuncit aku tetap pede menari nari walaupun tak bisa berjingkrak jingkrak.
"Salut gue sama loe Za, gue pikir loe ga bakal pernah nemuin seseorang dan bisa segininya sama perempuan," lirih om Mirza.
"Salwa memang terlahir cuma buat gue ..." ucapnya arogan.
"Ucapan dari seseorang yang kelewat bucin," jawab om Mirza yang ikut bergabung denganku dan ka Aisyah.
Aku memilih duduk, setelah cukup melepas rada bosan dan berkeringat. Ternyata hanya bernyanyi tak jelas begitu saja cukup menguras tenaga.
Aku mengipasi wajahku yang sedikit berkeringat, meraih segelas jus di depan yang tadi om Za minta dari asisten rumah tangga.Tangan om Za terulur mengelap keringat di dahiku.
"Umi nya om bayi jangan terlalu cape !!" ucap om Za.
"Bang," panggilku ingin menyampaikan sesuatu pada om Za, yang memang sudah beberapa lama ini selalu ada di hatiku namun belum sempat kusampaikan pada om Za.
"Hem ?" mata tegasnya menatapku lekat.
"Salwa kangen Jakarta, setelah UAS Salwa ingin ke Jakarta bang," pintaku.
"Tapi mungkin kita tak bisa lama, atau menunggu weekend saja saat abang libur?" jawabnya dengan pertanyaan lagi.
"Ga apa apa, biar Salwa sendiri saja."
"Tidak," jawabnya dingin, menggeleng. Apa harus kurendam dalam air panas agar ia hangat sedikit saja.
"Bang, Salwa rindu Jakarta. Salwa kangen Acha," pintaku dengan singguh sungguh. Sudah hampir setahun aku meninggalkan Jakarta.
Ia tetap diam. "Abang antarkan saja Salwa, kalau memang tidak bisa ikut menginap disana," jawabku lagi memberikan option. Ia menghela nafasnya "akan abang pertimbangkan nanti," jawab om Za.
Aku diam dan lebih memilih menyenderkan punggungku di sofa dan menonton the next Anang Ashanty di depanku.
.
.
Hari ini aku UAS, setelah kemarin kami kembali dari rumah perkebunan. Kulapisi seragam dengan jaket.
"Jangan lupa ucap bismillah, kerjakan soal dengan benar!" ucapnya seraya tanganku yang mengancingkan kancing seragam safarinya. Sudah seperti pak guru yang sedang memberikan wejangan pada muridnya.
"Iya, ga usah dikasih tau juga Salwa tau, sudah !!" seruku, lalu mengambilkan jam tangan dan memberikannya pada om Za.
"Dek, semakin montok saja," kekehnya. Mataku memutar jengah.
"Bilang aja gendut," mungkin untuk beberapa ke depan masalah berat badan akan menjadi topik sensitif untukku.
__ADS_1
"Adek tidak gendut, sexy !" jawabnya meralat ucapannya.
Memang iya berat badanku naik walaupun tidak sampai membuat daguku bertumpuk dan masih berisi yang sewajarnya saja. Tapi tetap saja membuatku risih.
.
.
"Assalamualaikum bumil !" bisik Nur dan Uni menyambutku dari gerbang.
"Waalaikumsalam jomblo!" jawabku di balas sengum kecut mereka. Sekecut belimbing wuluh.
"Ga usah ditekankan pas bagian jomblonya juga kali !" omel mereka. Aku terkekeh.
"Sal, apa sudah tau gosip yang beredar di sekolah kita?" tanya mereka, aku menggeleng. Mana aku tau, karena terlalu sibuk belajar menjadi istri yang baik dan teladan, aku sudah pensiun dari kepoin hidup orang.
"Kabarnya Vita akan segera dinikahkan selulus SMA," jawab mereka.
"Hah??! ko bisa?" tanyaku terkejut.
"Katanya ia kepergok berduaan dengan laki laki sampai diarak warga!!" jawab Uni, si akun receh gosip sekolah.
"Masa jalan berdua bareng cowok aja sampe diarak?" tanyaku yang tak tau budaya masyarakat sini.
"Disini memang begitu Sal, tidak boleh jalan berduaan dengan yang bukan makhrom apalagi di malam hari," jawab Nur.
Aku baru tau, untung saja aku dan om Mirza sudah menikah mau diarak pun tak masalah.
"Siapa laki laki itu?" tanyaku, kini tingkat penasaranku semakin menjadi jadi, siapa kira kira laki laki yang mau jalan dengan cewek bak nene lampir baru keluar dari akademi stand up comedy seperti Vita.
"Kamu kenal ko!"
" Siapa?" tanyaku lagi.
"Wisnu, Sal!!" jawab Uni. Belum mulut Uni kering orang yang sedang dibicarakan ada dibelakang menarik tanganku dan menariknya untuk mengikutinya.
"Eh....." pekikku.
"Sal...!!"pekik kedua temanku.
"Aku pinjam Salwa sebentar !!" ucap Wisnu.
Sudah gila saja laki laki ini, sudah akan dinikahkan masih saja menarik narik tangan istri orang.
"Lepas !! bukan makhrom !!" aku menarik tanganku.
"Sal, katakan kalo kamu belum menikah dengan pak Zaky dan aku akan membatalkan perjodohanku dengan Vita !!" ucapnya dengan mata menatap tajam. Apa lelaki satu ini sudah tidak waras atau perlu ku tampol dengan bakiak agar otak di dalam tempurung kepalanya ini bekerja sedikit saja.
"Apa??!" tanyaku. Apa saat bermasalah kemarin tak cukup membuktikan padanya hubunganku dengan om Zaky pada laki laki satu ini.
" Udah gila kamu Nu, udah mau nikah juga masih ngejar ngejar orang lain !" sarkasku.
"Cepat katakan Sal !!" sentaknya.
"Sayangnya perkiraanmu salah, karena gue memang istri pak Zaky !!" jawabku.
"Pak Zaky bukanlah om atau abangku, tapi suamiku !" aku sudah muak dengan lelaki satu ini.
Bel berbunyi tanda Ujian akan segera dimulai.
"Udah bel, gue ga mau telat ujian!" aku ingin beranjak pergi dari situ,
"Sal, katakan itu bohong kalo engga gue sebar berita itu pada satu sekolah !!" ucapnya berhasil membuatku menghengikan langkahku.
.
.
__ADS_1
.