Love Me Please , Uncle Camat

Love Me Please , Uncle Camat
Personel keluarga bahagia


__ADS_3

Bismillah happy reading all 😘


.


.


.


.


"Adek duduk saja disitu, jangan kemana mana," ucapnya. Seperti bertitah pada anak kecil yang baru saja belajar berjalan.


"Bang, Salwa juga bisa bantuin !" ucapku, iya kali datang kesini cuma sebagai pajangan. Pelengkap pak camat yang sedang berjuang. Minimal bikinin kopi buat relawan kek..


"Adek jangan terlalu capek, sudah disini saja !" jawabnya. Di ruangan yang orang orangnya tengah sibuk, aku cuma diam memperhatikan.


Para relawan menurunkan beberapa kotak obat dari dalam mobil, sedangkan om Za mengantarkan kedua dokter itu ke dalam ruang pengungsian.


Aku menyodorkan minum ke arah om Za, "minum dulu, "


"Minumnya dok, " tawarku juga, dokter Rendi dan Devi menerimanya.


"Terimakasih bu, "


"Jangan panggil bu, umur Salwa masih dibawah dokter ! Salwa emang dah punya anak tapi belum ibu ibu !" jawabku akrab. Dokter Rendi tertawa renyah.


"Tidak berani saya, bu ! nanti bapak marah !" liriknya pada om Za yang sedang meneguk air dari botolnya.


Aku memasuki camp pengungsian, banyak anak kecil bahkan anak anak seumur Al yang tengah tergeletak tertidur dengan pulasnya. Tanpa dosa ataupun tau apa yang tengah terjadi. Kulihat pula ada dua anak beradik kaka, sedang berebut kue. Kudekati, asyik sepertinya jika Al memiliki adik, atau malah aku yang akan pusing seperti ibu yang disitu.


"Assalamualaikum, " sapaku.


"Eh ada bu camat !" ibu nya segera membenarkan posisi duduknya menjadi tegap dan sopan.


"Eh, ga usah tegang gitu bu..ga apa apa, santai aja !" jawabku.


"Kuenya ko rebutan? emang ga ada lagi ?" tanyaku.


Kedua anak itu malah bersembunyi di ketiak ibunya, seperti aku akan melahap dan menggigit mereka saja.


"Ga apa apa dek, ga usah takut ka Salwa ga gigit ko !" kelakarku, membuat si ibu tertawa.


"Salim dulu sama ibu Salwa !" pinta si ibu.


Aku mengeluarkan 2 bungkus coklat dari dalam tasku, yang kebetulan biasa kubeli untuk mengisi jamkos ataupun istirahat biar ga suntuk.


"Ka Salwa punya ini, tapi janji setelah ini..kalo punya apa apa berbagi ya !" ucapku ramah. Keduanya mengangguk dan meraih 2 bungkus coklat yang kuberi.


"Uhhh pengen cubit pipinya Dev, sayang udah punya laki !" gumam Rendi, Devi tertawa puas.


Ternyata ada banyak pasang mata melihat, aku menscroll tombol telfon.


Setengah jam kemudian Ian datang membawa sekotak coklat yang kuminta.


"Mau kemana?" tanya om Za.


"Ian di luar bang, bawain coklat !" jawabku, kening om Za berkerut, kini apalagi pikirnya.


"Thanks !"


"Ga bisa sejam aja Sal, gue lagi bok3r ! loe telfon," aku tertawa mendengar pengakuan dan keluhan Ian.


"Sorry, ya udah sono balik !" pintaku.


"Ya Allah, digangguin pas lagi enak enaknya cuma disuruh beliin coklat terus nganterin. Suruh masuk dulu kek..kasih minum makan dulu kek ! "


"Ya udah masuk deh duduk, ntar pulang !" jawabku membawa sekotak coklat, karena tak hati hati aku sempat tersandung hingga membuatku oleng, dokter Rendi yang kebetulan sedang berada disana, refleks membantuku.


"Hati hati bu, " ucapnya.


"Eh iya makasih, " jawabku tersenyum.


"Sini biar abang yang bawa !" ucapnya tiba tiba dari sampingku. Suasana mencekam menyelimuti, dokter Rendi yang sedang memegang kotak kini membiarkan om Za membawanya. Melihat wajah pak camat yang tak bersahabat, membuatnya mundur alon alon. Oke, salahnya ! sudah ada warning dari awal tapi tetap saja ngeyel, ternyata istri orang memang lebih menggoda !


"Setelah membagikan ini kita pulang !" ucapnya dingin.


"Abang kenapa sih kaya cewek lagi pms aja ! keep smile, abang bukan mau jarah tanah orang, mau bagiin coklat sama anak anak, yang ada anak anak takut berasa mau diculik kalo mukanya kaya gitu !" jawabku.


"Dari dulu muka abang sudah seperti ini, tidak seperti dokter Rendi !" jawabnya, aku mengerutkan dahi.


Ini kenapa lagi si ganteng kalemku,


"Kenapa jadi bawa bawa dokter Rendi?" tanyaku. Cemburunya kaya abg baru netes, gemes gemes jengkelin.


"Abang ga usah mulai deh, Salwa cubit juga nih ginjalnya !"

__ADS_1


**************************


Tumben sekali si ganteng kalemku ini malah bermalas malasan, jam segini saja masih nemplok memelukku, jatohnya bukan kaya cicak nemplok di tembok. Tapi kaya cicak di kekepin komodo.


"Bang, awas ! Salwa mau bangun !" ucapku.


"Abang masih ingin berlama lama,"


"Abang ga kerja apa? "


"Hari ini abang cuti, mau seharian sama Al Fath !" jawabnya.


"Ya udah awas, Salwa mau bangun..ada kuliah pagi !" ucapku. Bukannya menjauh tapi ia malah semakin mengeratkan pelukannya, terpaksa aku harus menggunakan jurus yang terakhir, agar bayi gorrila ini mau melepaskan pelukannya.


Grekkk !!!!


"Awwww !! dek, kamu mau makan daging tapi ga abang juga !" ucapnya mengaduh saat tangannya ku gigit. Secepat mungkin aku langsung bangun.


"Makanya awas !" jawabku, aku langsung melengos menuju kamar Al Fath, melihat si kecil gemoyku sudah bangun. Ku sus*ui dahulu jagoanku ini.


"Sini nak minum dulu, mumpung masih fresh, setelah ini Al mandi ya !" aku mengeluarkan sumber kehidupan bayi yang sudah memasuki umur 8 bulan.


Om Za ikut bangun, sebenarnya aku dan om Za sudah bangun untuk shalat subuh tadi hanya kembali membaringkan tubuh lagi setelahnya. Ia menyenderkan badannya di ambang pintu, tersenyum melihatku dan Al, kemudian ia masuk dan duduk di tepian ranjang sampingku.


"Enak ga dek? sayangnya itu sisa abi semalam !" ucap om Za.


"Dih !! enak aja, bukanlah !" jawabku.


"Kalo bukan, mana jatah pagi abang ?!" tanyanya tak tau malu.


"Jatah pagi abang di meja makan, secangkir kopi !" jawabku.


*********************


Al sudah ganteng maksimal, aku pun sudah siap pergi ke kampus.


"Oke done, kita gemparkan dunia dengan kecantikanmu !" gumamku.


"Abang jadi anterin Salwa ke kampus kan?" tanyaku, ia mengangguk.


"Nanti pulangnya kita jalan, abang jemput bersama Al, " jawabnya lagi.


"Jomblo harap nepi, keluarga bahagia mau lewat, " bisikku mencondongkan badan ke arah Afrian.


"Njir ! bentar lagi gue susul, tenang aja !" jawabnya.


"Tanya aja abang, gue udah minta abang buat jadi pembicara dari keluarga kita, " jawab Afrian.


"Ko kalian diem diem aja !" manyunku, baik om Za, Afrian, maupun Acha tak ada yang bilang padaku.


"Nanti kalau sudah dekat dek, abang baru saja memberitahukan om dan tante, orangtua Afrian."


"Jadi kapan kita lamaran Acha?" tanyaku.


"Sepertinya liburan semesteran, " jawab om Za.


"Masih sebulanan lebih lagi dong ?!" Afrian mengangguk.


"Sudah siang, nanti kamu telat..ayo !" ajaknya.


"Al, umi berangkat ngampus dulu ya !" pamitku pada Al, begitupun pada umi dan abi.


Zidan berada di depan parkiran, ia melihatku keluar dari mobil diantar om Za, belum lagi kelakar dan tawaku bersama om Za.


"Ayo bang, anterin sampe kelas !" pintaku manja menggelayuti lengannya. Terpaksa om Za menuruti jika tak mau aku sampai ngamuk disini, tapi baru saja sampai koridor depan, kebetulan saja Rektor kampus melintas.


"Zaky !" panggilnya. Aku dan om Za menoleh.


"Ahmad, "


"Apa kabar ? antar Salwa?" tanya nya menjabat tangan.


"Iya, Alhamdulillah, kamu sendiri?"


"Ya beginilah, Zaky..makin sibuk saja, terimakasih masih selalu jadi donatur kampus ! bagaimana kalau kita ngopi ngopi dulu seraya mengobrol di ruanganku ?" tanya nya, om Za meminta ijin padaku, dan aku mengangguk.


"Salwa, saya pinjam dulu Zaky sebentar !" ucapnya.


"Boleh pak, "


"Dek, masuk ke kelas..belajar yang bener !" aku meraih punggung tangannya dan mengecupnya.


Beberapa lama mereka mengobrol, termasuk aku yang sudah dihadang Zidan.


"Kenapa lagi? drama apa lagi yang mau loe mainkan ?!" tanyaku sinis.

__ADS_1


"Sal, jujur sama gue..apa loe bahagia sama pak Zaky? loe bukan dipaksa kan? apa hidup loe tertekan?" tanyanya beruntun.


"Apa urusannya sama loe ? udah kaya petugas sensus tau ga, nanya nanya ! i'm happy, very happy ! puas ?!" jawabku.


"Jujur gue suka sama loe Sal, gue pengen loe bahagia, bilang kalo loe merasa tertekan..biar gue perjuangin loe !" jawabnya. Apa dia salah makan pagi ini? atau dia kesambet jin pebinor? makanya kalo lewat pemakaman umum mbokk ya permisi.


"Zi, mendingan loe ke RS sana, cek kejiwaan loe !" jawabku.


"Tapi Sal, " ia menahan tanganku.


"Salwa !!!"


Aura kelam kembali menyelimuti seisi kampus, kan apa kubilang. Aku menepis tangan Zidan.


"Zi, sorry..gue mohon sama loe ! loe bisa cari cewek lain, please jangan gue !" jawabku.


"Zidan kan? bisa bicara sebentar, sebagai sesama lelaki !" pinta om Za.


"Bang, " aku melirik pak Ahmad yang sudah terkikik geli. Om Za dan Zidan melengos mencari tempat mengobrol.


"Ga nyangka saya, Zaky dulu banyak digandrungi perempuan, teman teman mahasiswi banyak yang menyukainya. Tapi ia menjatuhkan pilihannya pada Salwa, bahkan sejak Salwa masih duduk di bangku smp."


Ternyata pak Ahmad pun tau kisahku.


"Kira kira abang mau ngapain Zidan ya pak ?" tanyaku, jangan sampai nanti mereka gontok gontokan di sini.


"Zaky orangnya bijak, tidak akan mungkin mengajak Zidan untuk duel. Tapi tak tau kalau sekarang, melihat istri di goda orang, mungkin beberapa luka lebam cukup !" kelakar pak Ahmad. Sontak saja aku langsung kepo dan mendekati keduanya.


"Jangan dong pak !"


"Saya dan Salwa sudah bahagia, kamu masih muda kamu juga tampan, akan lebih sempurna jika tidak menjadi perusak rumah tangga orang. Carilah perempuan di luar sana dengan status lajang. Jangankan kamu, jika Salwa memang tidak bahagia bersama saya, maka saya sendiri yang akan melepaskannya."


Tepukan di bahu Zidan sebagai penyabar untuknya dari om Za.


Windu yang melihat hampir meledakkan tangisannya, kenapa Zidan tak pernah melihatnya, bahkan setelah menerima kenyataan pahit jika aku sudah bersuami saja, ia masih mengejarku.


"Windu, " sapaku di belakangnya yang tengah mengintip om Za dan Zidan.


"Sorry, dari dulu gue ga pernah benci sama loe, gue juga maklum kalo loe bersikap begini selama ini sama gue ! wajar, loe udah lama suka sama Zidan..loe berhak dapetin Zidan, berjuang ya, semangat !" ucapku.


Windu mulai meruntuhkan sifat egoisnya, meskipun tak terang terangan menerimaku, setidaknya ia sudah tak mengganggu hidupku.


********************


"Sal, dua kesayangan dah jemput tuh !" tunjuk Alisha pada seorang pria tampan nan keren yang sedang menggendong bayi gembul di depannya.


"Hayyy dua gantengku !!! pekikku.


"Laki loe keren banget sih ! anak loe juga ganteng, gemesin ! boy..tungguin aunty ya jodoh !!" jawab Alisha.


"Cih, masa anak gue kawin ma nene nene !" decihku.


"Sha, gue duluan ya ! tuh keluarga bahagia kurang personelnya satu !" jawabku, Alisha tergelak.


"Hay ganteng !!!" tanganku mencolek pipi Al tapi mataku memandang om Za.


"Modus dek, umi mu modus !"


"Mau kemana kita hari ini ?"


"Kita keliling Aceh saja, " jawabnya, tak ada mall tak apa, Aceh memiliki tempat tempat iconic yang bisa jadi referensi untuk jalan jalan, dengan sejuta pesonanya.


"Kuyyyy !!!! umi yang bawa mobil !" ajakku.


"Engga ! biar abi saja !" tolak om Za.


"Salwa aja bang, Al udah nyaman sama abinya !" rengekku.


"Engga, Al bisa sawan kalo uminya yang bawa, lagipula uminya tidak punya SIM, " jawab om Za.


.


.


.


.


.


.


TAMAT.....


Benar benar tamat ya guys.......Makasih banyak buat readers yang sudah mengikuti dan mendukung karya receh Salwa dari awal, maaf jika banyak sekali typo bertebaran ataupun kata kata absurd tidak sesuai ekspektasi....mimin sayang kalian 😘😘😘😘😍

__ADS_1


JANGAN LUPA MAMPIR JUGA KARYA MIMIN LAINNYA YANG GA KALAH SERU DARI KISAH SALWA.


__ADS_2