Love Me Please , Uncle Camat

Love Me Please , Uncle Camat
Maafkan Salwa bang,


__ADS_3

Bismillah happy reading all 😘


.


.


.


.


Assalamualaimum dek, hari ini abang pulang.


Pesan yang datang dari pria matangku, tapi belum sempat kubaca. Tubuhku terlalu lelah, bahkan hanya untuk melihat sebuah pesan. Ternyata pelatihan om Za sudah selesai lebih awal dari perkiraan.


Otakku rasanya seperti kanvas rem motor yang sudah tipis. Raga pun seperti sudah tak berbentuk. Belum lagi Al Fath yang masih belum sembuh betul. Mengurus anak bayi yang sedang sakit memang bukan main perjuangannya. Sepulang kuliah kemarin, yang menjadi tujuan utamaku adalah Al Fath dan mengurusnya, sampai tak ingat kalau batre ponselku sekarat. Memang benar orang bilang, setelah memiliki anak, waktu akan tersita oleh mengurus anak, hanya menyisakan seperempatnya untuk diri sendiri.


Aku mengerjap beberapa kali, sudah subuh, aku bangun. Sebelumnya, aku meraih ponsel, lalu mengecash batrenya yang habis. Hanya terlihat sebuah pesan dari om Za, tanpa ingin kubuka. Bukannya aku tak senang om Za akan pulang, tapi sekali kali, pria itu harus dihukum.


Orang lain tau lebih awal berita kepulangannya, sedangkan aku istrinya sendiri ??! Ia menelfon beberapa kali, tapi tak kuangkat, biarkan saja..aku ingin membuat kejutan untuknya nanti setelah datang ke rumah.


"Sayang, cepet sembuh ya ! masa abi mau pulang, dede Al masih sakit," gumamku bermonolog pada Al yang masih terlelap.


"Mata gue udah kaya mata panda, " aku melihat pantulan wajahku di cermin, mengoleskan gel untuk mata pandaku.


.


.


"Sal, tidak kuliah?" tanya umi.


"Engga umi, abang pulang hari ini..Salwa mau ijin aja !" jawabku pada umi.


"Sal, loe ga bales ataupun baca chat abang?" tanya Afrian gemas, aku menggeleng.


"Biarin aja, biar sekali kali gue usil buat kasih surprise !" jawabku mencomot makanan yang ada di meja makan.


"Al belum bangun, nak?" tanya umi.


"Belum umi, mungkin udah mendingan, jadi baru enak tidur !" jawabku duduk di kursi.


"Iya nak, ya sudah kalian sarapan saja dulu. Oh iya Ian, abang mu dari sana jam berapa?" tanya umi.


"Kayanya bentar lagi deh, soalnya barusan chat ! tuh penjahatnya ! abang uring uringan, gara gara istrinya yang durhaka, ga bales chat ! di telfon ga di angkat !" wajar Afrian marah, jika aku tidak membalas ataupun tak ada kabar, sudah pasti Afrian adalah orang pertama yang akan om Za cari. Aku tertawa mendengar keluhan lelaki di sebelahku ini, sudah seperti ibu ibu yang mengeluhkan harga sembako yang semakin melambung tinggi.


"Ian, nanti anter gue ya, atau gue minta tolong deh !" pintaku.

__ADS_1


"Apa?? ogah gue ! pasti aneh aneh deh, gue takut kena amuk abang, Sal !!" jawabnya, belum apa apa sudah menolak.


"Ck, engga lah !"


.


.


.


Sesuai permintaanku, satu ranjang full...kelopak bunga mawar merah kupesan, dan sekarang sudah memenuhi ranjangku.


"Cih, so so an romantis, bang Za kan orangnya lempeng Sal," Afrian yang membantu menyebar dan merapikan mawar mawar itu, mengkritik.


"Bilang aja sirik ! cepatan halalin Acha, biar bucin kaya abang..loe nya aja yang ga tau. Abang Za kalo dah berdua sama gue, udah kaya anak kangguru ! maunya ngumpet di perut gue !" kekehku.


"Loe tau ! gue dah pernah bucin, Sal.." ucapnya tersenyum nanar, membuatku tak enak hati. Sampai kapanpun akan selalu kuingat, bahwa ia sampai berniat merebutku dari abangnya sendiri.


"Iya tau, sorry..!" jawabku.


"It's oke..ga apa apa, lagian gue udah move on !" bohongnya, beranjak dari jongkoknya, di tengah ranjang ditaruh bunga mawar utuh berwarna putih membentuk love.


"Thanks ya Ian, loe selalu ada buat gue !" ucapku tulus.


Aku sudah selesai dengan kegiatanku, seharian meliburkan kupingku dari panasnya ucapan Windu dan antek anteknya, membuatku sedikit relax, sshari meliburkan mataku dari wajah Zidan membuat mataku segar.


Aku beralih ke ponselku, tapi tak ada satupun pesan darinya.


"Umi, abang ko belum sampai juga ke rumah ya?!" tanyaku, mengambil Al dari gendongan umi dengan hati hati.


"Nak, sebenarnya...."


"Sal, tadi pesawat abang mengalami CAT clear air turbulence, cukup kencang dan ternyata membuat salah satu mesin tidak berfungsi secara optimal !" Jantungku terasa di hantam oleh beribu ribu kilo beban.


"Apa??!" tanyaku kaget,


"Insyaallah abamg tidak apa apa Salwa, abi yakin Zaky akan pulang dengan keadaan baik baik saja !" abi pun memegang tanganku.


"Iya, sampai saat ini belum ada kabar lagi dari abang, karena ponselnya tiba tiba tidak aktif," sesal Afrian.


Air mata lolos dari pelupuk mata.


"Bilang kalo abang ga apa apa Ian ??!!" tanyaku, umi menatap nanar dan mengusap bahuku.


"Sabar nak, kita sedang berusaha mencari tau !" jawab umi.

__ADS_1


Aku segera menscroll mencari nomor om Mirza dan om Ramli. Keduanya pun masih belum tau kabar om Za.


Badanku lemas seketika,


"Ya Allah !" umi menangkupku dan mendudukanku di kursi.


"Sal !!" Afrian segera mengambil air minum.


"Do'a kan suamimu nak, semoga dia baik baik saja. Abi sedang berkoordinasi dengan pihak bandara, untuk info lebih lanjut."


Aku sesenggukan, mengingat sejak kemarin..aku mendiamkan om Za, aku bahkan tidak berniat, membaca satupun, pesan dari lelaki yang sudah menjadi imamku itu.


"Abang, " gumamku parau, sudah menangis. Umi memelukku. Air mata tak berhenti mengeluarkan amunisi airnya. Seakan penyesalan dan kehilangan bercampur menjadi satu,


"Ga mungkin abang kan, umi?" tanyaku. Tak ada jawaban dari umi.


"Banyak berdo'a saja sayang, "


"Abang jangan tinggalin Salwa sama Al, bang.." gumamku.


"Salwa nyesel mi, dari kemarin Salwa diemin abang !" ucapku lagi.


"Abang pasti pulang kan, mi ?!" tanyaku.


"Pasti nak, " jawab umi.


"Sebaiknya Salwa istirahat saja, bersama Al..." pinta umi. Sudah beberapa lama aku menangis, bahkan sampai air mata saja hampir kering.


"Mirza dan Ramli sudah berada di bandara, kita tunggu saja kabar dari mereka !" jawab umi seraya meninggalkanku di kamar, agar aku bisa memberi Al ASI, sedari tadi baby gemoyku menangis entah menangis karena haus atau lapar..atau karena tau ayahnya, yang sedang tak tau bagaimana kabarnya.


"Ga mungkin abang tega ninggalin Salwa sama Al," aku menatap nanar Al Fath.


"Abi baik baik aja kan dek ?" tanyaku pada Al yang melihat terbengong ke arahku.


"Abi ga akan tega ninggalin kita kan dek?" tanyaku lagi.


Aku memeluk Al dengan hangat, merasai kehadiran om Za dari Al.


"Umi nyesel dek, " sesalku kembali menangis.


Sampai aku ikut tertidur di kamar Al sambil sesenggukan, mengharapkan lelaki matangku pulang dengan segera, kembali memelukku posesif seperti biasanya.


.


.

__ADS_1


.


Hay hay guys, maaf baru update, jangan kaget ya kalau nanti di pojok kanan atas bakal nemu bacaan the end, cerita ini sengaja ku kasih status end, karena aku yang ga bisa up rutin setiap saat... tapi tenang, cerita ini akan lanjut sampai selesai dan ga gantung gini ko...hanya menjaga biar ga dapet surat cinta dari NT dan penurunan level aja. Tetap simpan di fav. ya biar tetep tau jalan ceritanya sampai benar benar berakhir.


__ADS_2