Love Me Please , Uncle Camat

Love Me Please , Uncle Camat
Tantangan om Za


__ADS_3

Bismillah happy reading all 😘


.


.


.


.


.


.


.


Beberapa kali om Za menghela nafasnya, matanya sesekali mendelik tajam melirikku yang tak fokus senam ibu hamil. Bagaimana bisa fokus jika godaan di depan mata begitu menggiurkan. Dada berkeringatnya tercetak jelas di t-shirt putihnya.


"Tahu susu minta digigit," gumamku.


"Dek, fokusmu pada gerakan di depan !" tunjuk om Za mengarahkanku untuk melihat gerakan yang tengah diputar di televisi.


"Iya bang, ini juga liat ko !" jawabku berdecak. Ya Rabb....laki siapa sih hot banget!! bikin yang liat ngiler netes netes.


Selesai olahraga yang tidak seberapa ini, ternyata vitamin harianku belum usai. Lukisan paling indah ciptaan Tuhan terpampang jelas, memang pemandangan laki laki sehabis mandi selalu jadi primadona imajinasi nakal para kaum hawa.


Aku memberikan pakaian pada om Za.


"Ga usah pamer gitu ! kalo mau pamer di pasar sana!!" decakku. Om Za mengernyitkan dahinya tak mengerti.


"Ck, masa ga ngerti itu tahu kotak nya, cepetan pake baju !" aku menyodorkan baju berwarna putih. Bukannya menerima baju, om Za malah menggodaku yang sudah merasa malu malu kucing melihatnya.


"Kenapa? apa gadis di depan abang ini tidak suka? kenapa harus dipamerkan di pasar, apa nanti adek rela?" tanya nya menarikku mendekat dan memeluk pinggangku yang berjarak oleh perutku.


"Lagian abang dilama lamain buat pake baju, nanti Salwa terkam baru tau rasa !!"jawabku berkelakar.


"Hihh ! istri kecil abang nakal ternyata !" ia menjiwir hidungku.


"Siapa dulu dong gurunya !! Zaky !!" jawabku.


"Oke terkam saja, sepertinya jika adek yang mendominasi akan lebih seru !" jawabnya membuatku terkejut karena tangannya malah turun ke pan* tat ku.


"Ehhh ! abinya om bayi nakal !!" cetusku. Ia malah tertawa.


.


.


Laki laki sexy itu sedang mengaduk susu hangat, aku berjalan berjinjit di belakangnya, sekali kali kukejutkan tak akan membuat om Za jantungan kan?


Tanganku sudah siap mengejutkan om Za, tapi belum juga kutepuk, sudah ketauan.


"Kalau sampai susunya tumpah, adek buat saja susu sendiri !" ucapnya menggagalkan rencanaku.


Aku menghentakkan kakiku ke lantai," abang tau darimana kalo Salwa mau ngagetin? ga seru nih !!" keluhku.


"Tuh !" tunjuknya pada gelas kaca yang berjejer tersusun rapi di depannya. Pantulan diriku terlihat jelas di dalamnya.


"Ihh ga asik ahh!!" seruku, meraih segelas susu.


.


.


"Dek, besok hari terakhir UAS kan?" tanya om Za. Aku mengangguk sebagai jawaban, karena mulutku yang tengah sibuk menyeruput susu.


Om Za merebahkan kepalanya di pa*haku, kepalanya menghadap ke perut yang sudah membuncit, ia mengusapnya dan sesekali menciuminya.


" Emang kenapa bang?" tanyaku.


"Ah, tidak apa!" jawabnya.


"Bang, abang sudah janji ya ! setelah UAS Salwa mau berkunjung ke Jakarta," ucapku menaruh gelas susu yang sudah kosong.


"Apa adek yakin? abang tidak bisa menemani?" tanya nya.


"Iya bang!" seruku yang sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan keluargaku dan juga Acha. Sudah lama sekali aku tak bertemu dengan hiruk pikuk ibukota. Beda nya statusku sekarang menjadi turis dalam negeri.

__ADS_1


"Berapa lama?" tanya nya.


"Entah!" jawabku nenggidikan bahu.


"Ko gitu? kalau abang rindu om bayi, gimana?" tanya nya.


"Bisa telfon dan video call !" jawabku lagi tak ingin ambil pusing. Gerakan gerakan kecil yang masih lemah di buat disana, hingga om Za tersenyum kecil merasakan respon dari sang calon buah hati.


"Kalo abang rindu tengok om bayi?" tanya nya lagi. Mataku menyipit, Laki laki ini !! selalu ada mesum dibalik pertanyaan.


"Puasa dulu sampe Salwa kembali !!" jawabku enteng. Tak tau saja sesuatu yang ditahan itu tidak baik bagi kesehatan, terlebih lagi sesuatu itu adalah rindu....


"Abang akan susul ke Jakarta kalo gitu !" ucap om Za. Apa yang tidak mungkin untuk camat serba bisa ini.


.


.


Aku meraih punggung tangan om Za dan mengecupnya.


"Assalamualikum!!"


"Waalaikumsalam"


Tampak aneh memang melihat tatapan sebagian siswa di koridor yang memandangku lekat dari atas sampai bawah.


"Kenapa sih?? aneh deh!! ga pernah liat cewek cantik dateng apa!!" gumamku menaikkan alis sebelah.


"Ga nyangka ya !!" ucap mereka yang terdengar olehku.


"Sal !! ikut aku !!" ajak Adam, ia menarikku ke kelas. Di kelas Uni dan Nur melihatku dengan tatapan khawatir,


"Kenapa sih? ada apa?" tanyaku. Baru juga datang sudah pada heboh.


"Berita yang sudah tersebar??" tanya Pian.


"Berita apa? Berita kalau kamu dan Wisnu berpacaran sampai melakukan hal yang terlarang?" tanya Pian.


"Hah??!" ternyata dugaanku salah, Wisnu benar benar cari mati.


"Siapa yang bilang ?" tanyaku.


"Ian, Dam..tak mungkin Salwa seperti itu ! kita kan tau kalau Salwa sudah..." alis Nur terangkat mengisyaratkan jika aku tidak mungkin ada main di belakang om Za.


Aku merogoh ponsel dan membuka forum sekolah, betapa terkejutnya aku melihat foto fotoku saat dulu yang kebetulan memang berdua bersama Wisnu, seperti pulang sekolah tak sengaja Wisnu menghampiriku yang sedang menunggu om Za, mengantarkanku ke kantor kecamatan, dan kemarin saat bicara berdua. Selalu ada kontak tangan walaupun tanganku yang tertutup seragam.


"Shitttt !" gumamku.Aku yang sudah berada di puncak kemarahan harus menelan pil pahit, menunda amarahku yang sudah menggunung karena bel masuk.


Pikiranku tak tenang, konsentrasiku terbagi dengan soal ujian yang tengah ku kerjakan. Rasanya waktu 90 menit sudah seperti setahun, lama...!!


Beberapa kali aku melirik ke arah jam di dinding, tanganku sudah gatal ingin segera merobek dan mencincang Wisnu.


.


.


"Sal !!" pekik Nur dan Uni, tapi aku sudah keburu melengos duluan, menuju kelas dimana laki laki tak berakhlak itu berada.


"Susul Nur," pinta Uni.


"Apa perlu kita hubungi pak Zaky?" tanya Pian.


"Hubungi saja !" jawab Nur sambil berlari.


.


.


Brakkk !!!


Rasa nyut nyutan di telapak tanganku tak kupedulikan, aku menggebrak meja tempat Wisnu duduk.


"Hapus foto foto yang ga nunjukin bukti apa apa itu !!" pintaku.


Dia tersenyum menyebalkan, wajah tampan sayang kelakuan kaya se*tan.


"Gue ga main main Salwa," ucapnya berdiri.

__ADS_1


"Loe ga ada kapok kapoknya bikin masalah sama bang Zaky !!"


"Justru dengan ini pak Zaky akan liat seberapa besar sayang gue sama keponakan kesayangannya !" jawabnya masih menganggap aku dan om Za paman dan keponakan. Ingin sekali membawa toa masjid dan meneriakan di telinganya kalau aku istri sah om Za bukan keponakannya. Tak mungkin juga aku menunjukkan perutku yang membuncit di depan umum yang selalu kututupi dengan baju kurung dan jaket.


"Heh !! cewek kegatelan !! cewek murahan !!" pekik Vita yang matanya sudah sembab. Kabar bohong ini membuatnya menangis seharian.


Plakkk !!!


Perih, pipiku memerah tiba tiba di tampar Vita.


"Aww, sini loe gue cincang loe idup idup !!" pekikku menarik kerudung Vita hendak mengoyak ngoyak wajah judes itu, namun di halangi Uni.


" Vita !!! jaga sikapmu !!" bentak Wisnu, ia menarik dan membawa Vita keluar kelas, lalu menghempaskan tangan Vita dengan kasar. Tak tau apa yang mereka bicarakan. Yang jelas aku merasa kacau. Teman temanku menghampiri. Mendadak kelas menjadi riuh oleh siswa siswa yang menyaksikan adegan sinetron ikan terbang ini. Dan aku berada di posisi yang serba salah kali ini, kenapa orang baik selalu terdzolimi?? siapa yang berulah siapa juga yang kena.


"Sal.." Nur memelukku.


"Pak Zaky sebentar lagi datang, Sal !" jawab Adam, sontak saja semua yang mendengar menoleh pada Adam yang datang bersama Pian, menyusulku.


"Kamu hubungi bang Zaky, dam?" tanyaku. Ia mengangguk.


Kepala Sekolah pun yang tau kabar ini memanggil kami bertiga.


"Ada apa lagi ini Salwa, Wisnu, Vita?" tanya pak Kepala Sekolah.


"Tanya saja pada mereka berdua !!" sarkasku, masih memegangi pipiku yang nyut nyutan.


"Bapak liat ada beberapa foto mu bersama Wisnu di forum sekolah, apa benar ?" tanya pak Damar.


"Sini loe nene sihir !!! dasar cewek ga guna!!" kembali ucapku masib merasa dendam, hendak meraih Vita namun ditahan bu Kamila.


Ceklek


Dari arah ambang pintu datang om Za dengan om Ramli yang menemaninya. Karena memang setauku hari ini om Za tidak ke kantor melainkan meeting bertemu klien. Stelan camat yang bikin panas dingin kaum wanita ia tanggalkan, berganti dengan kemeja dan jas bak CEO CEO muda nan arogan tapi tampan, mendadak para perempuan yang melihat berubah jadi mentega di atas teflon panas kalo liat om Za, meleleh.....


"Assalamualaikum " ujarnya dingin. Mata menusuk bak elang ia arahkan pada Wisnu dan Vita, sedangkan tatapan yang berbeda ia tunjukkan padaku.


Rasa berani dan nekatku berubah, takut jika om Za akan salah paham lagi.


"Waalaikumsalam, pak Zaky.."


Om Za duduk di sampingku sedangkan om Ramli di kursi sampingnya.


"Hey, kenapa nangis?" tanya om Za. Aku langsung menghambur saja ke pelukannya.


"Salwa ga apa apa bang, " cicitku.


Mata om Za melirik arah pipiku yang merah "Adek ditampar?" tanya nya, ia tau bekasan merah seperti ini adalah bekas tamparan. Ia mengusapnya lembut. Namun, aku meringis. Rahangnya mengeras.


"Siapa yang berani tampar adek?" tanya om Za. Belum aku menjawab om Za sudah bertanya pada Kepsek.


"Ada masalah apa lagi pak, yang membawa bawa Salwa?" tanya om Za melepaskan satu kancing jasnya.


Pak Damar lalu menjelaskan semua yang terjadi.


"Mohon maaf om, disini memang saya yang salah. Saya sangat menyayangi keponakan om. Maaf atas kecerobohan dan tindakan kekanakan saya, tadinya saya hanya ingin menggertak dan membuat Salwa jujur pada saya," jelas Wisnu dengan mantapnya ingin menunjukkan kalau ia adalah lelaki sejati.


"Jujur?? gertakan?? keponakan??" tanya om Za.


"Mana ponselmu? abang ingin melihat ada apa disana?" pinta om Za. Aku menyerahkan ponselku, om Za membuka forum sekolah. Ia tersenyum melihat semua berita berita dan foto di dalamnya.


"Jadi maksud kamu Salwa berpacaran denganmu dan sudah melakukan hubungan yang serius denganmu?" tanya om Za pada Wisnu.


"Dan foto foto ini buktinya ?"


"Maksud saya foto itu bukti jika saya dan Salwa memang berpacaran bahkan sampai kontak fisik," kilah Wisnu. Padahal kabar yang berhembus jadi merembet kemana mana. Memang mulut manusia terkadang ucapan yang disampaikan itu dilebihkan dan dikurangi.


"Maaf saya tidak tau kalau gosipnya sampai mengatakan saya dan Salwa sampai pernah melakukan hubungan yang terlarang ," ucap Wisnu.


"Apa kamu tadi bilang menyayangi Salwa??" tanya om Za.


"Abang !!" panggilku menoleh pada om Za.


"Jika kamu memang menyayangi Salwa saya tantang kamu!" ucap om Za.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2