
Bismillah happy reading all π
.
.
.
.
"Ibu Salwa kan?" tanya ibu itu.
"Ya?!" aku terbengong, ada yang mengenaliku sebagai bu camat.
"Sal?!"
Jangankan mereka semua, aku saja terkejut.
"Apa kabar bu, mungkin ibu lupa..ibu pernah datang bersama bapak ke kampung kami, untuk membangun sarana masyarakat. Sebelum saya pindah kesini !" serunya.
"Baik, " aku mengingat ingat mungkin saat kenangan aku bermain bola dan sepatuku nyangkut.
"Terimakasih banyak bu, ibu selalu baik dimanapun. Bapak apa kabar bu?" ia mengajakku mengobrol, sedangkan mata yang lain menatap penuh interogasi padaku.
"Alhamdulillah, bu ! abang baik, saat ini..beliau masih di Jatim, sedang masa pelatihan. Untuk masa jabatan yang baru," jawabku.
"Alhamdulillah, mainlah ke rumah bu.." ajaknya.
"Insyaallah bu, nanti Salwa main sama abang !" jawabku segera, bukannya berniat mengusir hanya saja melihat tatapan teman teman kampus padaku, apalagi Windu dan Zidan sudah seperti melihat se*tan.
"Maaf..maaf ..saya jadi ngaler ngidul..ibu sedang sibuk, nanti jika ada waktu mainlah kesini lagi bu !" pintanya.
"Sebentar bu, ibu kenal Salwa?" tanya Windu.
"Tentu saja dek, ini bu Salwa...ibu camat daerah *******, istri pak Teuku Zaky Ananta !" jawab ibu itu.
"Hah??! Teu..Teuku Zaky??!!" tanya Windu tak percaya.
"Iya, camat tampan ! " kekeh si ibu, tapi aku malah tersenyum, itu artinya mata si ibu masih normal. Hm..aku jadi merindukan om om kaku ku itu.
"Ah, ibu tau saja sama yang tampan. Nanti Salwa sampaikan sama abang,"
"Kalau begitu kami pamit dulu bu, assalamualaikum !" pamitnya.
"Waalaikumsalam, " jawabku.
"Sal??!" panggil Alisha.
"Apa?? gue mau balik sha !! capek !" jawabku tak ingin banyak bicara, biarlah nanti mereka lihat sendiri faktanya, menjelaskan hingga berbusa pun hanya buang buang tenaga sama nafas doang, mubadzir.
"Udah selesai kan?" kebetulan Afrian memang sudah kutelfon, untuk menjemputku dekat dekat sini. Yang si@*lnya lagi Afrian malah membawa mobil milik om Za, dengan alasan mobilnya masuk bengkel tadi seusai mengantarku. Dikira aku pamer lagi, batinku.
"Sal, itu sepupu loe kan?!" tunjuk Alisha.
"Oh iya, Ian !!" pekikku.
"Maaf semuanya, saya pamit duluan.." pamitku.
__ADS_1
Windu sudah benar benar mati kutu, ia tak mengeluarkan suara apapun, padahal sebelumnya ia sudah berkoar koar, bahwa aku hanyalah benalu disini.
"Loe ngapain bawa mobil abang?!" tanyaku.
"Mobil gue di bengkel ! Sal, Al Fath kayanya demam, " ujar Afrian.
"Hah??! anak gue sakit?" tanyaku.
"Iya, barusan umi bilang, "
"Ko, umi ga telfon gue ?" tanyaku.
"Mungkin umi takut ganggu loe, nah kebetulan loe minta jemput, makanya umi nyuruh gue buat sampein !" jawabnya.
"Ya udah tancap gas, hati gue ga tenang !" pintaku.
"Siap kaka ipar !!" jawabnya.
Sesampainya di rumah, aku langsung mencari dimana umi dan Al, tas pun kulempar sembarang, seperti di dalamnya tak ada barang berharga, padahal dompet dan ponsel kutaruh di tas.
"Umi, Al !!" aku mencari keduanya.
"Iya nak, Al tidur !!" jawab umi setengah berbisik.
"Mi, Al demam??" panikku.
"Sebaiknya Salwa bersih bersih dulu, " pinta umi.
"Iya umi, " kulongokkan kepala melihat malaikat kecilku tengah terbaring di tempeli kompresan instan.
Aku segera masuk kamar mandi, lalu beralih melihat Al. Kupegang badannya, memang panas.
"39, 5 derajat C "
"Ya allah ! apa tidak sebaiknya kita ke rumah sakit saja, mi ?!" tanyaku.
"Kalau sore ini belum turun juga, kita bawa !" jawab umi, aku menyentuh tangan mungilnya. Jika bisa meminta, aku akan meminta sakitnya pindahkan saja padaku. Tak ingin sedetik pun, aku beranjak dari sisi jagoan kecilku ini.
Aku mengerjapkan mataku beberapa kali, ternyata aku ketiduran di kamar Al. Punggung tanganku menyentuh seluruh permukaan kulit Al, alisku bertaut. Secepatnya aku mencari lagi termometer, menempelkannya di antara sela sela ketiak Al Fath.
"Ya Allah masih belum turun !!" Jika menuruti kata hati, aku ingin menangis saja berging guling di jalanan dan mengadu pada om Za, astaga !! aku belum memberi kabar pada suamiku. Jangankan memberinya kabar, ingat saja tidak, aku panik dan meminta orang rumah menyiapkan mobil.
"Mi, Salwa bawa Al ke RS, panasnya belum turun turun !" ucapku pada umi.
"Ya sudah nak, coba panggil Afrian, umi lihat tadi dia sedang teleconfrence meeting, lihat saja. Apa sudah selesai?" ujar umi.
"Iya mi,"
" Ian !!! Ian !!" panggilku.
Ia tengah berada di halaman belakang,
"Apaan sih Sal, gue lagi teleconfrence ada ab..."
"Anter gue ke RS, Al demam ga turun turun !!" pintaku. Dari seberang sana, om Za yang memang sedang mengikuti rapat lewat sambungan online, terkejut.
"Ian, Al sakit??? mana Salwa??!!" terpaksa meeting itu di tunda dahulu.
__ADS_1
Om Za beberapa kali menelfonku,tapi ponselku di dalam tas. Hingga tak terdengar olehku. Afrian menyiapkan mobil, dan umi menyiapkan Al.
Dengan diantar Afrian, aku membawa Al ke RS.
"Sal, biar gue ambil nomer antri dulu !" ucap Afrian.
"Sabar ya, sayang nya umi, " ucapku bermonolog.
Aku baru tersadar jika ponselku ditinggalkan di dalam tas, dan dari siang aku belum memberi kabar pada om Za. Setelah pemeriksaan selesai, perasaanku cukup lega, dokter hanya memberi Al obat saja, jika 3 hari belum turun juga, mungkin harus kembali.
Umi dan abi pun tak kalah cemas, menunggu.
"Bagaimana nak?" tanya abi.
"Alhamdulillah abi, Al hanya di beri obat saja, kita lihat 3 hari ke depan, mudah mudahan panasnya turun !" jawabku.
"Nak, barusan abang telfon ! katanya sulit menelfon Salwa, " ucap umi.
"Iya umi, Salwa lupa. Habisnya Salwa panik !" jawabku.
"Umi, abi, Salwa ke kamar dulu tidurin Al ! om Ian thanks ya " pamitku.
Ponselku bergetar, aku terkejut melihat panggilan tak terjawab dan hampir kesemuanya adalah nama om Za.
"Assalamualaikum !"
"Waalaikumsalam, alhamdulillah..kamu kemana saja??! abang menelfonmu dari sore ?!" tanya om Za.
"Maaf bang, Salwa lupa bawa hape, baru sekarang pegang lagi,"
"Kenapa kamu tidak bilang jika Al sakit?" tanya om Za.
"Iya, maaf bang..Salwa pun dikasih tau Afrian dari umi. Padahal tadi pagi masih baik baik aja !" ada sedikit air mata menggenang, berasa tak becus jadi seorang ibu. Aku sesenggukan, melihat Al yang sakit, dengan wajah kuyu dan lemahnya, hati seorang ibuku teriris. Apa ini yang dirasakan umi atau bunda dulu, saat putra putrinya sakit.
"Dek, jangan menangis, " ucap om Za menenangkan.
"Salwa ga becus jadi ibu bang, Al sampe sakit dan Salwa baru tau setelah umi ! coba kalo Salwa ga kuliah, coba kalo Salwa ga ikutan bakti sosial !" ucapku diselingi sesenggukan.
"Tidak apa apa dek, Salwa ibu hebat !! Salwa istri hebat !!" jawab om Za.
"Sedih bang, ga tega liat wajah kuyu Al..mendingan sakitnya buat Salwa aja, bang !" sesenggukanku makin kencang.
"Sakit itu manusiawi dek, adek harus kuat disana dan tangguh untuk Al, untuk abang juga ! dan maaf abang malah tidak ada disana sekarang, " sesalnya. Aku hanya mengangguk.
"Dek, dengarkan abang, tak ada manusia yang tak pernah sakit, begitupun anak kita !" jawabnya memberikanku dukungan dari pulau yang berbeda.
"Adek harus kuat, Al bersyukur punya ibu sehebat adek !" kembali jawabnya. Sangat kentara perbedaanya, saat om Za tak ada di sisiku.
"Iya bang, " cicitku.
"Adek sudah makan?" tanya om Za,
"Sudah,"
"Ya sudah, abang tutup telfonnya, sudah waktunya adek istirahat !"
.
__ADS_1
.
.