Love Me Please , Uncle Camat

Love Me Please , Uncle Camat
Bakal calon ulat


__ADS_3

Bismillah happy reading all 😘


.


.


.


"Cieee, abinya Al banyak fans nya !!" seruku meledek om Za saat masuk kembali ke dalam rumah dengan keteteran memegang mangkok dan piring berisi makanan, tapi langsung membantunya.


"Ciee, uminya Al cemburu !!" jawabnya menyebalkan, semenyebalkan noda membandel. Tak tau apa yang disini lagi kegerahan.


"Sampe mandi susu tuh ! cuma buat ketemu abang, eh salah deh, mandi parfum " ucapku penuh sindiran.


"Make up juga dari jam berapa tuh ??!!" tambahku lagi. Tapi lelaki ini tak bergeming.


"Biarkan saja dek, itu urusan mereka," jawab om Za kelewat kalem.


"Banyak banget gilaak !! ck ck ck !!" decakku melihat banyaknya makanan yang dikirim, mereka terlalu baik kepada tetangga tampannya ini. Tapi semua juga tau ada udang di balik bakwan, alias ada maksud dan tujuan dibalik kebaikannya.


"Dek,," om Za memperingatkanku tentang kosa kata bad wordku, walaupun di depan baby Al yang masih lah sangat kecil, om Za selalu mewanti wanti ku dengan pelajarannya mengenai pendidikan anak dalam rumah haruslah sedini mungkin termasuk kosa kata orangtuanya di rumah.


"Maaf, kelepasan bang, padahal udah insyaf," kekehku.


"Bentar !!" aku menahan tangan om Za yang hendak menyuguhkan makanan pemberian tetangga.


"Kenapa?"


"Ini ga ada peletnya kan??" tanyaku.


"Husshh !! ga boleh suudzon, orang niatnya baik memberi malah di suudzon in."


"Biar Salwa yang coba duluan, nanti abang !" pintaku sudah seperti pengawal setia saja, mau jadi kelinci percobaannya. Tidak lucu saja kan kalau nanti tiba tiba cinta om Za berpaling, auto guling guling di jalan tol akunya.


"Astagfirullah !!"


"Iya bang, Salwa cuma becanda," jawabku melihat sorot mata tajam menusuk, kalau saja mataku balon pasti sudah pecah ditatapnya.


.


.


"Abang pergi dulu, hati hati di rumah. Jangan buat masalah dengan tetangga !" wanti wantinya.


"Engga, paling juga berantem jambak jambakan ya dek ??" tanyaku mencari pembelaan dari baby Al, wajahku dibuat sekonyol mungkin untuk menghibur baby Al yang dari tadi aktif menggerakan saraf motoriknya.


"Ck, abang tidak mau adek terlibat masalah dengan siapapun, berbaur lah dengan tetangga dan jadilah gadis baik !" jawab om Za.

__ADS_1


"Abang lupa ya ? Salwa udah bukan gadis lagi bang !" kelakarku tersenyum lebar, membuat om Za mencubit pipiku gemas bak memainkan squishy.


"Ya sudah jadi ibu dan istri yang baik, jangan nakal !" ucapnya.


"Iya Salwa paham bang, abang cerewet banget sih kaya ibu kost yang lagi nagih uang kost an !" jawabku.


"Iya nya kamu itu patut dicurigai, kalo gampang bilang iya itu mencurigakan !" jawab balik om Za.


"Dihh, suka suudzon sama istri sendiri !!" ketusku.


"Abang pergi dulu, abi pergi dulu Al. Jaga umi jangan sampai nakal !!" ucapnya pada bayi 2 bulan ini, yang tersenyum senyum melihat om Za, memang like father like son, ikatan batin yang kuat membuat Al tersenyum mengenali sosok ayahnya.


"Al doang nih yang dikasih sun ??" manyunku, walaupun sudah menjadi seorang ibu, namun manjanya ibunya Al Fath ini melebihi manjanya Al pada abinya.


"Uminya mau di sun juga nih?" tanya om Za. Aku mengangguk cepat, seraya menyodorkan pipi kananku. Tapi om Za tak buru buru mengecup pipi yang dari tadi nganggur ini.


"Ihhh abang nyebelin banget sih !!" kesalku merajuk. Om Za malah meraih tasnya lalu memberikannya padaku untuk dibawa ke depan. Dengan wajah yang ditekuk aku membawakan tasnya ke depan.


"Nih, " aku menyodorkan tasnya, ia terkekeh lalu terulur meraih kepalaku dan mengecup mesra keningku.


"Abang pergi dulu, jangan nakal, jangan macem macem, ga usah niat buat usilin tetangga !" ucapnya panjang kali lebar kali tinggi jadinya bervolume.


"Iya bang, cuman maen maen doang ko ke rumah bu Surti, bosen di rumah !" jawabku memang berniat untuk ke rumah bu Surti.


"Abang !!" saat di ambang pintu, ia berbalik, aku mengalungkan tanganku di lehernya dan mengecup bibir lelaki matang ini lembut.


"Abang ga usah manis gini, nanti Salwa berubah pikiran !!" jawabku, om Za menautkan alisnya bingung.


"Iya berubah pikiran, ga jadi ijinin abang buat kerja, mau kunciin abang aja seharian di rumah !!" jawabku. Dia hanya tersenyum.


"Beuhhh ada nampan ga? soalnya Salwa udah meleleh nih butuh di tampung liat senyum abinya Al !" om Za menggelengkan kepalanya, predikat ibu muda malah membuatku semakin pintar menggombal.


"Assalamualaikum !"


"Waalaikumsalam ! titi dj, bang !!" alis om Za bertaut,


"Hati hati di jalan abang !!" pekikku. Mataku memicing, melihat tongkrongan ibu ibu yang bergeser bebeberapa meter lebih menjorok ke arah rumah kontrakan ku.


Sejak kapan tukang sayur mangkalnya di depan pager rumah, sudah dipastikan kerjaannya ibu ibu yang ingin melihat om Za berangkat kerja. Sejak kapan pula membeli sayur harus memakai baju pergi dan ber make up ria, aku bergidik melihatnya.


"Al, ikut umi ke depan yuu, kita belanja !!" aku meraih dan menggendong baby Al ke depan menyapa mentari yang nongol mencolek colek hidungku, juga para tetangga yang sudah berubah menjadi biduan kampung dadakan karena kedatangan om om tampanku.


"Assalamualaikum ibu ibu, " sapaku tersenyum lebar menampilkan gingsulku.


"Waalaikumsalam mbak Salwa, " jawab mereka.


"Wahhh Al Fath ikut belanja nih," ucap bu Surti.

__ADS_1


"Iya bude," jawabku mewakili Al.


"Mbak Salwa jika tidak keberatan ikutlah ibu ibu kampung kalo lagi kumpul kumpul arisan, biar kenal !" ajak bu rt disitu.


"Kenalkan saya bu Dibyo, bu rt disini," aku mengangguk. "Iya bu, insyaallah nanti bilang dulu sama abang, terinakasih sambutannya bu,"


"Iya mbak Salwa, jangan sungkan sungkan. Pak Zaky juga bisa ikutan bapak bapak kalo lagi kumpul kumpul ronda dan main catur," jawab bu Minah.


"Iya bu terimakasih, nanti saya sampaikan sama abang,"


"Mbak Salwa pak Zaky itu PNS ?" tanya mbak Siska, dialah janda kembang di kampung ini, ku dengar dia memang seorang biduan dangdut yang menyanyi dari kampung ke kampung, entah bagaimana kehidupan rumah tangganya masih berusia 20 tahunan sudah mendapat predikat janda.


"Iya mbak, sebenarnya abang mau melanjutkan jabatannya sebagai camat di Aceh, namun harus mengikuti pelatihannya disini untuk bebebrapa waktu !" jawabku.


"Wah, jadi pak Zaky camat di Aceh ya mbak?" sela kang sayur, aku mengangguk.


"3 bulan ibu ibu !!" tambah bu Surti,


"Mbak, mampir ke rumah saja jika bosan bawa Al Fath, biar main sama Wahyu !" ajak bu Surti, Wahyu adalah anak laki lakinya berusia 8 tahun.


"Iya bu, nanti kalau sudah beres di rumah !"


Dari tadi mata mbak Siska menelitiku dari ujung rambut sampai ujung kaki, apakah ia sedang membandingkan diriku dengan dirinya?? sinyal radarku menyala, mungkin ini dia bakal bakal calon ulat bulu yang perlu kusingkirkan selanjutnya.


"Nah nanti hari minggu kebetulan kami mengadakan acara makan makan warga saja sambil kerja bakti membersihkan jalanan sini mbak, sampaikan pada pak Zaky jika berkenan mengikuti acara kerja bakti warga," ajak bu rt.


"Insyaallah bu, nanti saya sampaikan...kalau begitu saya boleh ikut menyumbang sekedar konsumsi saja, sebagai tanda perkenalan saya dan keluarga?" tanyaku.


Para ibu mengangguk angguk, "tentu saja boleh mbak, kami dengan senang hati," jawab bu Rt dan ibu ibu lainnya.


Yupp ! poin penting manusia jika tentang konsumsi pasti akan nyambung. Bila urusan perut teratasi maka silaturahmi jalan.


"Kalau begitu saya juga akan membawakan konsumsi untuk bapak bapak, itung itung saya tak bisa membantu dengan tenaga !" ucap mbak Siska.


Seakan tak mau kalah olehku, biduan ini ingin ikut berpartisipasi juga, fix ia minta disawer, disawer pake pasir satu mobil truk.


"Wah, sepertinya kerja bakti kali ini akan kenyang bu rt," seru bu Rani.


Aku mengambil beberapa sayuran dan lauknya, "Mas ini saja !"


"Oh siap mbak, saya hitung dulu ya !" jawabnya.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2